Tanjung, BPost
Hujan deras yang mengguyur Kabupaten Tabalong selama sepekan terakhir menenggelamkan
sejumlah desa di daerah tersebut. Dua warga dilaporkan tewas setelah perahu yang
ditumpanginya terbalik dan terbawa arus sungai Tabalong.
Jasad kedua korban warga Desa Duyun Kecamatan Haruai, masing-masing Hj Ila (31) dan
Enur (35) baru berhasil ditemukan, Minggu (9/1). Fatimah (28) yang ikut satu perahu dengan
kedua korban berhasil selamat setelah berhasil berpegangan pada sebatang kayu yang hanyut.
Sementara itu, hujan deras juga menyebabkan daerah aliran sungai (DAS) Balangan naik.
Kota Amuntai, ibukota kabupaten Hulu Sungai Utara, kembali terendam akibat limpahan air
DAS Balangan.
Banjir juga merendam sejumlah desa di Kecamatan Kelua, Kabupaten Tabalong. Satu-satu
pusat perekonomian, Pasar Kelua, tak bisa berfungsi maksimal. Puluhan hektare sawah di
Desa Jirak terancam rusak akibat tergenang banjir.
Dari catatan BPost, Kelua dan daerah sekitarnya setiap tahun menjadi langganan
banjir. H Fadli, salah satu warga di daerah itu mengharapkan pemerintah daerah membuat
siring dan mengeruk sungai sehingga limpahan air tidak lagi menjadi derita berkepanjangan
bagi warga.
Bupati Tabalong Rachman Ramsy dihubungi, Senin (10/1), mengatakan akan segera membangun
dam di sungai Tabalong Kiwa. Dam itu, jelas dia, guna mengantisipasi banjir yang selalu
terjadi di kawasan kota Tanjung.
"Rencana pembuatan dam itu telah kita sampaikan ke Dewan Perwakilan Daerah (DPD)
Kalsel. Mereka berjanji segera mengusulkannya ke pemerintah pusat," kata Ramsyi.
Terpisah Kepala Dinas Kesejahteraan Sosial Saberan mengaku telah mendapat laporan tewas
dua warga Desa Duyun di Sungai Tabalong. "Saat ini kami menunggu laporan dari
kecamatan. Kalau memang keduanya tewas karena banjir maka santunan akan kita berikan
kepada keluarga korban," jelas Saberan.
Saksi mata mengungkapkan, dua warga Desa Duyun itu hanyut terbawa luapan sungai
Tabalong setelah perahu yang ditumpangi menabrak batang kayu yang terbawa arus, Jumat
(7/1). Satu orang, yakni Fatimah, berhasil selamat setelah berhasil berpegangan pada
sebatang kayu.
Sedangkan kedua rekannya, Nur dan Ila, meski berusaha berenang namun tak kuasa melawan
derasnya sungai hingga akhirnya tenggelam. Jasad Enur ditemukan beberapa saat kejadian,
sementara jasad Ila ditemukan di Desa Jabang, desa tetangga, Minggu dinihari.
Fatimah hingga kemarin masih trauma atas peristiwa yang dialaminya akhir pekan lalu.
Ditemui BPost di kediamannya, kemarin, wanita ini menolak mencerita tragedi
tersebut. "Saya masih trauma. Tidak bisa cerita apa-apa," tutur wanita itu.
Keterangan yang diperoleh BPost, sebelum musibah terjadi ketiga wanita warga
Desa Duyun itu berniat menoreh karet di kebun yang terletak berseberangan dengan desa
mereka. Meski tahu air sungai sedang meluap akibat hujan lebat di bagian hulu, ketiganya
tetap berangkat dari rumah dengan menggunakan perahu, usai Shalat Subuh.
Karena hari masih gelap, ketiga wanita itu tidak menyadari derasnya air sungai yang
meluap membawa sampah berupa potongan-potongan kayu gelondongan. Perahu yang ditumpangi
ketiganya terbalik dihantam kayu gelondongan besar.
Mulai Surut
Sementara banjir yang sempat menenggelamkan puluhan rumah di Murung, Pasar Tanjung,
kemarin, mulai surut. Puluhan warga tampak sibuk membersihkan lumpur dan sampah sisa
banjir.
Meski demikian, warga Murung yang kebanyakan pedagang libur berjualan. Begitu pula
terlihat banyak pegawai negeri sipil terpaksa bolos karena disibukkan membersihkan rumah
mereka.
Namun, puluhan rumah yang berada di bantaran Sungai Tabalong hingga kemarin terendam
air. Sejumlah warga terpaksa mengungsi ke tetangga yang tidak terkena banjir atau ke rumah
keluarga.
"Kami terpaksa masih mengungsi ke rumah tetangga karena air masih tinggi dan
barang-barang kami amankan di bagian loteng," tutur satu warga Murung yang kebetulan
tinggal di pinggir sungai.
Kota Amuntai, HSU, yang bertetangga dengan Tabalong, masih terendam air. Meskipun tak
separah banjir November 2004, sejumlah ruas jalan dan perkampungan tergenang air dengan
ketinggian sekitar 50-75 sentimeter.
Tergenangnya Kota Amuntai karena guyuran hujan lebat di DAS Balangan yang membuat air
sungai naik, dan merendam ibukota kabupaten HSU tersebut.
Pantauan BPost Senin (10/1), setidaknya ruas Jalan Basuki Rahmat sekitar RS
Pambalah Batung tergenang air sekitar 30 cm. Demikian pula Jalan Muhajirin sekitar
Mapolres HSU. Sedangkan perkampungan yang terendam adalah Kota Raja. Bahkan Di kawasan itu
air mulai masuk ke rumah-rumah penduduk.
Begitu juga yang terjadi di kelurahan Murung Sari, yang pada kejadian beberapa waktu
lalu termasuk kawasan terparah dilanda banjir. "Dua jari lagi banjir masuk ke rumah
kami," kata satu penduduk jalan Kuripan, Murung Sari.
Menurutnya, naiknya air Sungai Balangan karena dua hari lalu terjadi hujan lebat, namun
tidak sepanjang hari dan malam. "Jika hujannya seperti November lalu siang malam dan
berturut-turut sampai sepekan, maka kemungkinan akan terjadi banjir besar lagi. Untungnya
hujan lebat beberapa jam itu diselingi panas sehingga luapan air Sungai Balangan
biasa-biasa saja," ujarnya.
Namun arus air Sungai Balangan yang ketinggian lebih dari duapertiga kedalaman sungai
tampak cukup deras. Arus tak membawa banyak limbah sebagaimana banjir November lalu yang
membuat beberapa kawasan permukiman menjadi kurang bersih.
Jurubicara Pemkab HSU Hasmi Rivai mengatakan, rencana jangka panjang penanganan banjir
masih mengharapkan bantuan pemeritah propinsi dan pusat, yakni pengerukan sungai dan
penyodetan Sungai Tabalong dan Balangan untuk mengalihkan arus kedua aliran sungai itu.mia/han/ant