Jakarta, BPost
Sikap keras Gerakan Aceh Merdeka (GAM) melunak. Ajakan damai dan penghentian konflik
senjata di Aceh yang ditawarkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono direspon Perdana Menteri
GAM Malik Mahmud. Pemimpin kelompok separatis ini bersedia melakukan gencatan senjata dan
melakukan perundingan dengan pemerintah Indonesia.
"Kami siap bertemu menyetujui secara maksimal kesepakatan guna menjamin suksesnya
gencatan senjata. Dengan demikian akan dapat mengurangi penderitaan rakyat Aceh,"
kata Malik Mahmud, di Swedia seperti diberitakan AFP, Kamis (13/1).
Menurut dia, perundingan gencatan senjata juga bertujuan menghapus kekhawatiran atas
keamanan relawan asing yang kini melakukan pekerjaan kemanusiaan di Aceh.
Sekadar diketahui, saat ini ada ribuan relawan dari luar dan dalam negeri bertugas
dalam misi kemanusiaan menyusul terjadinya gempa bumi dan badai tsunami, 26 Desember lalu.
Sekitar 106 ribu warga Aceh tewas, 127 ribu lainnya hilang dan 337.500 menjadi pengungsi.
Malik Mahmud mengatakan, pihaknya berkeinginan duduk bersama dengan pemerintah
Indonesia guna mengurangi ketakutan relawan kemanusiaan. Pihaknya juga menjamin keamanan
pengiriman bantuan kemanusiaan di seluruh Aceh.
Wakil Presiden Jusuf Kalla menyambut baik pernyataan PM GAM Malik Mahmud yang bersedia
melakukan gencatan senjata. "Kita sambut upaya-upaya tersebut, pemerintah juga
melakukan upaya yang sama ke arah itu," ujar Jusuf Kalla, di Istana Wapres, kemarin.
Meski begitu, Kalla belum menjelaskan langkah-langkah apa yang akan diambil terkait
keinginan gencatan senjata dari GAM maupun pemerintah Indonesia. Hanya dikatakan, semua
upaya akan dilakukan untuk mewujudkan gencatan tersebut.
"Yang penting penyelesaian yang bermartabat tidak ada lagi permusuhan antara GAM
dengan kita di Aceh. Artinya sama-sama mengelola perdamaian kemudian menjalankan
rehabilitasi di Aceh," tambahnya.
Sebelumnya, Presiden Yudhoyono melalui teleconference dengan para menteri dan
pejabat tinggi di Banda Aceh, baru-baru ini secara terbuka mengajak GAM untuk bahu-membahu
membantu para korban.
Bahkan PBB, memberi warning kepada GAM menghentikan konflik dan mengimbau agar
musibah tsunami dijadikan momen untuk meraih perdamaian.
Atas tawaran damai dan penghentian konflik bersenjata, Menhan Juwono Sudarsono
mengungkapkan di dalam tubuh GAM sendiri belum dicapai kata sepakat.
"Kelompok-kelompok GAM di lapangan belum mencapai kesepakatan untuk menerima atau
menolak tawaran damai tersebut," kata Juwono.
Menurut catatan, dua minggu pasca bencana tsunami, telah terjadi 34 kali kontak senjata
antara pasukan TNI dan anggota GAM. Dari kontak senjata itu, 101 anggota GAM dan 1 anggota
TNI tewas.
Saat ini, ada sekitar 54 ribu anggota TNI di Aceh. Kapuspen TNI Mayjen Syafrie
Syamsuddin mengatakan sebanyak 12 batalyon TNI telah dikirim ke Aceh untuk bergabung
dengan pasukan yang ada.
Namun menurut Syafrie, keberadaan ribuan personel TNI selain mengamankan daerah konflik
tersebut juga untuk membantu rehabilitasi dan rekonstruksi Aceh pascabencana gempa dan
gelombang tsunami melalui program Tentara Manunggal Masuk Desa (TMMD) atau biasa disebut
Bakti TNI.
Ketua Komisi I DPR RI Theo Sambuaga berharap bencana di Aceh menjadi momentum
rekonsiliasi TNI dengan GAM. "Stop perang, stop permusuhan! Mari kita fokus membantu
korban bencana," kata Sambuaga usai rapat intern komisi I di DPR.
Dia mengimbau pemerintah menindaklanjuti upaya rekonsiliasi itu dengan mengirim tokoh
agama, tokoh HAM, tokoh LSM, dan tokoh masyarakat Aceh sebagai mediasi dialog antara TNI
dan GAM. "Dialoglah, ajak mereka kembali ke ibu pertiwi," cetusnya.
Kerugian Rp15 triliun
Lebih jauh Wakil Presiden Jusuf Kalla memperkirakan kerugian yang dialami akibat
bencana di Aceh mencapai Rp15 triliun. Penghitungan kasar itu dihitung berdasarkan lahan
dan jumlah rumah yang hancur akibat gelombang besar itu.
"Kita belum menghitung secara detail. Tapi kalau ditaksir secara sederhana, dari
rumah-rumah yang hancur dan areal yang rusak berat, maka diperkirakan kerugian mencapai
Rp15 triliunan," kata Kalla.
Dia mengakui kalau angka itu masih belum valid karena masih ditaksir secara sepihak,
juga belum dapat referensi dari Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) dan
Departemen Pekerjaan Umum (DPU).
"Kalau sudah dihitung dari Bappenas, DPU, World Bank, ADB (Asian Development
Bank) dan negara lainnya, itu baru bisa dikatakan valid. Tapi perkiraan kita ya memang
sekitar itu," cetus Kalla.
Sedangkan, sebut dia, bantuan yang mengalir masih jauh di bawah angka tersebut.
Meskipun belum dihitung berapa yang cair, beberapa negara sepakat memberi bantuan tahap
awal selama enam bulan sebesar 900 juta dolar AS. "Sedangkan bantuan yang dijanjikan
seluruhnya, apa 1 miliar atau 2 miliar dolar AS," kata Kalla.
78.395 dikubur
Sementara itu, Sekda Propinsi NAD Thanthawi Ishak mengakui hingga minggu ketiga,
pihaknya belum berhasil merekap selengkapnya jumlah korban yang tewas, hilang dan
mengungsi, termasuk kerugian fisik akibat bencana gempa dan tsunami se-Aceh pada 26
Desember lalu.
Namun, jelas Thanthawi, dari hasil kompilasi data sementara yang dilaporkan para
bupati/walikota, Rabu (12/1), jumlah mayat yang sudah dimakamkan mencapai 78.395 orang.
Sebanyak 35.160 orang dikebumikan di wilayah Aceh Besar.
Sedangkan jumlah warga yang terdata mengungsi, mencapai 337.500 orang, yang hilang
127.054 orang. Selain itu, rumah rusak mencapai 59.770 unit, sedangkan ruko/toko yang
rusak 951 unit. Gedung sekolah yang rusak total maupun rusak berat tercatat 120 unit,
sedangkan kantor pemerintahan yang rusak 96 unit.
Masjid yang rusak 44 unit, mushalla 85 unit dan pesantren 77 unit. Jalan rusak parah
akibat gempa dan tsunami mencapai 207 kilometer, jembatan yang rusak 49 unit.
Selain itu, Puskesmas yang dilaporkan lenyap maupun rusak 35 unit, pasar dan terminal
empat unit, tempat pendaratan ikan (TPI) 10 unit, tambak penduduk 29.767 hektare,
boat/kapal yang hancur hampir 1.000 unit.
Sementara itu, hingga mendekati minggu ketiga sejak peristiwa gempa dan gelombang
tsunami di Aceh, evakuasi mayat belum ada tanda-tanda akan tuntas. Sampai saat ini
ditemukan sejumlah mayat baik dari sungai maupun di tumpukan bangunan-bangunan.
Mayat di sungai bermunculan begitu saja dari dasar sungai. "Mayat itu muncul bukan
karena terlantar, tapi muncul tiba-tiba dari dasar sungai setelah sebelumnya tenggelam.
Ini bukan karena dibiarkan, tetapi mayat itu muncul setelah beberapa hari ini banjir
karena hujan," kata Pangdam Iskandar Muda Mayjen TNI Endang Suwarya.
Karena masih ditemukan banyak mayat, berbagai usaha evakuasi terus berlangsung.
Demikian juga di daratan, mayat-mayat yang sudah membusuk, terus diangkat dari
puing-puing. JBP/ewa/nuh/dik