Banda Aceh, BPost
Hingga Sabtu (15/1) hampir seluruh sekolah yang layak pakai di Banda Aceh
masih tertimbun puing dan lumpur tsunami. Target memulai proses belajar mengajar pada 26
Januari 2005, diperkirakan sulit diwujudkan.
Sementara sejumlah sekolah yang laik pakai juga sulit dijadikan tempat kegiatan belajar
mengajar. Hal ini mengingat gedung-gedung sekolah itu dipakai untuk tempat penampungan
pengungsi.
Kalangan pendidik di Aceh menyangsikan target kegiatan proses belajar bisa dilaksanakan
pada 26 Januari. Mereka menilai Pemprop NASD mengabaikan penanganan sekolah-sekolah yang
masih layak pakai untuk sarana belajar.
"Mestinya ada matriks kerja pemda, mana yang prioritas mana yang tidak," kata
Gunawan, satu guru di Banda Aceh.
Pemerintah, lanjut dia, maunya tidak sekedar menargetkan 26 Januari proses
belajar-mengajar sudah harus aktif kembali. "Target boleh saja, tapi mana langkah
konret untuk mengondisikan agar sekolah-sekolah itu layak pakai pada 26 Januari,"
cetus dia.
Sebelumnya, Plh Kadis Pendidikan NAD, Anas M Adam mengaku pihaknya sudah menyurati
Dinas Kimpraswil dan Pengairan untuk membantu pembersihan lumpur, sampah, dan puing
bangunan yang menumpuk di pekarangan sekolah-sekolah. Namun hingga kini,
Kata Anas, untuk membersihkan lumpur dan puing tsunami tersebut, tidak mungkin
dikerjakan secara manual, karena lumpurnya tebal dan di antaranya terdapat patahan beton
dan pepohonan yang tumbang. "Untuk menyedot lumpur maupun mengangkat puing, harus
menggunakan alat berat," tuturnya.
Anas mengaku pihaknya sudah melaporkan kondisi fisik sekolah-sekolah dalam rapat
terpadu dengan Menko Kesra Alwi Shihab, menyusul surat yang dia sampaikan kepada Dinas
Kimpraswil dan Pengairan untuk segera menangani hal itu.
Selain, banyaknya gedung sekolah rusak berat dan masih tertimbun lumpur, hingga kini
sekitar 1.500 guru dari berbagai tingkatan hilang akibat musibah gempa dan tsunami.
Sedangkan, sekityar 1.000 guru mengalami cedera luka dan cacat.
Kepala Staf Tim Nasional Penanggulangan Bencana Aceh Budi Atmadi Adiputro mengakui
upaya mewujudkan proses belajar-mengajar di lokasi bencana masih menghadapi berbagai
kendala.
"Banyak gedung sekolah yang rusak. Meski masih bisa digunakan, namun belum
dibersihkan dari puing, lumpur, dan mayat. Gedung sekolah banyak yang terpaksa masih
digunakan untuk menampung pengungsi," ungkap Atmadi.
Sementara itu, Wakil Gubernur Provinsi NAD Azwar Abubakar mengatakan setiap kepala
keluarga yang mengungsi akan mendapat rumah permanen dari pemerintah sebagai pengganti
rumahnya yang rusak total, hanyut, atau tak mungkin lagi dihuni.
Namun untuk memiliki rumah itu, tidaklah gratis. Namun menurut Azwar, harga rumah itu
masih terjangkau. Dikatakan, harga rumah itu antara Rp10 juta hingga Rp 20 juta per unit.
Tekad pemerintah
Wagub Azwar Abubakar ditanyai terpisah mengatakan, Pemda NAD sudah membulatkan tekad
pada 26 Januari --sebulan sejak terjadinya bencana tsunami-- semua sekolah yang layak
pakai sudah aktif kembali.
"Kepala sekolah dan para guru harus ikut aktif mendorong agar tekad ini berhasil
kita wujudkan," kata Azwar menjelang berangkat ke Jakarta, siang kemarin.
Menurut dia, dandim di wilayah Banda Aceh dan Aceh Besar telah memobilisir para relawan
untuk membersihkan sekolah-sekolah. Dia tetap meminta partisipasi masyarakat agar ikut
bergotong royong membersihkan sekolah yang masih berlumpur.
Jurubicara Diknas NAD Boestamam Aly pesimis sekolah-sekolah dapat diaktifkan pada 26
Januari jika pembersihannya tidak diprioritaskan dan ditangani serius.
Pihak Diknas sudah meminta langsung kepada menko kesra serta menyurati Dinas Kimpraswil
dan Pengairan menangani masalah tersebut. Soalnya, di kimpraswil tersedia alat berat,
sedangkan di dinas pengairan tersedia kompresor.
"Setelah lumpur dan puing diangkut, seharusnya disiram dengan air menggunakan
kompresor," kata Boestamam.
Dikatakan, kalau pembersihan sekolah-sekolah itu harus dikontrakkan, dinas pendidikan
tidak punya anggaran. "Maka, mesti ditangani dari atas, dalam artian harus ada
perintah langsung dari pemerintah," ujar Boestamam.
Berdasarkan pantauan, sekitar 26 gedung sekolah (mulai SD hingga SLTA) di Banda Aceh
yang masih layak pakai. Namun, hampir seluruhnya masih tertimbun puing dan lumpur, kecuali
beberapa sekolah yang mulai dibersihkan, antara lain, sebuah SD di kawasan Lampineung,
SMUN 3, dan SMU Inshafudin yang kemarin mulai dikeruk.
Adapun SMUN 4 Banda Aceh di kawasan Lampineung, terlihat halamannya masih berlumpur
setebal 50 Cm. Barang-barang yang sudah tak tentu bentuknya berserakan di dalam lokasi dan
hingga belum tersentuh sama sekali.
Keadaan serupa terlihat di SMUN 8 yang bersebelahan dengan SMUN 4, SMK 1 (SMEA), SMK 2
(STM), SMKK, dan SMP 6, yang semua berlokasi di Lampineung. Selain tertimbun lumpur dan
puing sebagian sekolah acak-acakan. Bahkan di SMEA yang selama ini menjadi pusat pelatihan
pembelajaran multimedia, dikabarkan banyak peralatan komputer di sekolah itu telah
dijarah. Begitu juga peralatan STM Banda Aceh yang banyak hilang karena dijarah.
Sekolah lain yang sampai kemarin masih tertimbun lumpur adalah SMUN 1, SD 25, MTsn dan
MAN, dan MIN Jambo Tape. Padahal, jalan ke sekolah-sekolah itu sudah bisa dilalui
kendaraan roda empat.
"Kita tak mungkin kerja dengan tenaga orang, harus pakai alat berat. Apalagi
banyak guru dan wali murid yang terkena musibah, dan ada yang masih mengungsi," ujar
kepala SMUN 3 Lukman yang mengaku sebanyak 24 guru di sekolah itu hilang/meninggal dunia.
Beberapa sekolah yang tak terkena musibah umumnya berlokasi di pinggiran Banda Aceh,
antara kain di kompleks Bungcala Kuta Baro Aceh Besar. Sekolah-sekolah itu selama ini
dijadikan tempat penampungan pengungsi. Akibatnya, kegiatan belajar-mengajar tidak bisa
dilaksanakan.
Untuk menampung pengungsi, terutama mereka yang selama ini menumpang di
sekolah-sekolah, UNICEF (badan dunia PBB) seperti diakui Plh Kadis Pendidikan NAD,
berjanji akan mengirim 1.500 tenda. Selain itu, dinas pendidikan saat ini memiliki sekitar
100 unit tenda yang siap digunakan. si/puh/dik/muh