:: Kompas Cyber Media ::

[::] Portal Berita Daerah [::]

Metro Banjar • Serambi Ummah • BëBAS • Diafragma • PASAR • INTECH

Berita Cetak
MAIN PAGE
Berita Utama
Nusantara
B O R N E O
+Trans Kalimantan
Banjarmasin Plus

Persona
BELI@
Olahraga
Keluarga & Gaya hidup
Internasional
Berita Kemarin
Info Data & Media
Banjarmasin Post
Susunan Redaksi

Pasang Iklan
Order Cetak
Berlangganan
Supporting By

Minggu, 16 Januari 2005 03:12


Gedung Sekolah Masih Tertimbun

Banda Aceh, BPost
Hingga Sabtu (15/1) hampir seluruh sekolah yang layak pakai di Banda Aceh masih tertimbun puing dan lumpur tsunami. Target memulai proses belajar mengajar pada 26 Januari 2005, diperkirakan sulit diwujudkan.

Sementara sejumlah sekolah yang laik pakai juga sulit dijadikan tempat kegiatan belajar mengajar. Hal ini mengingat gedung-gedung sekolah itu dipakai untuk tempat penampungan pengungsi.

Kalangan pendidik di Aceh menyangsikan target kegiatan proses belajar bisa dilaksanakan pada 26 Januari. Mereka menilai Pemprop NASD mengabaikan penanganan sekolah-sekolah yang masih layak pakai untuk sarana belajar.

"Mestinya ada matriks kerja pemda, mana yang prioritas mana yang tidak," kata Gunawan, satu guru di Banda Aceh.

Pemerintah, lanjut dia, maunya tidak sekedar menargetkan 26 Januari proses belajar-mengajar sudah harus aktif kembali. "Target boleh saja, tapi mana langkah konret untuk mengondisikan agar sekolah-sekolah itu layak pakai pada 26 Januari," cetus dia.

Sebelumnya, Plh Kadis Pendidikan NAD, Anas M Adam mengaku pihaknya sudah menyurati Dinas Kimpraswil dan Pengairan untuk membantu pembersihan lumpur, sampah, dan puing bangunan yang menumpuk di pekarangan sekolah-sekolah. Namun hingga kini,

Kata Anas, untuk membersihkan lumpur dan puing tsunami tersebut, tidak mungkin dikerjakan secara manual, karena lumpurnya tebal dan di antaranya terdapat patahan beton dan pepohonan yang tumbang. "Untuk menyedot lumpur maupun mengangkat puing, harus menggunakan alat berat," tuturnya.

Anas mengaku pihaknya sudah melaporkan kondisi fisik sekolah-sekolah dalam rapat terpadu dengan Menko Kesra Alwi Shihab, menyusul surat yang dia sampaikan kepada Dinas Kimpraswil dan Pengairan untuk segera menangani hal itu.

Selain, banyaknya gedung sekolah rusak berat dan masih tertimbun lumpur, hingga kini sekitar 1.500 guru dari berbagai tingkatan hilang akibat musibah gempa dan tsunami. Sedangkan, sekityar 1.000 guru mengalami cedera luka dan cacat.

Kepala Staf Tim Nasional Penanggulangan Bencana Aceh Budi Atmadi Adiputro mengakui upaya mewujudkan proses belajar-mengajar di lokasi bencana masih menghadapi berbagai kendala.

"Banyak gedung sekolah yang rusak. Meski masih bisa digunakan, namun belum dibersihkan dari puing, lumpur, dan mayat. Gedung sekolah banyak yang terpaksa masih digunakan untuk menampung pengungsi," ungkap Atmadi.

Sementara itu, Wakil Gubernur Provinsi NAD Azwar Abubakar mengatakan setiap kepala keluarga yang mengungsi akan mendapat rumah permanen dari pemerintah sebagai pengganti rumahnya yang rusak total, hanyut, atau tak mungkin lagi dihuni.

Namun untuk memiliki rumah itu, tidaklah gratis. Namun menurut Azwar, harga rumah itu masih terjangkau. Dikatakan, harga rumah itu antara Rp10 juta hingga Rp 20 juta per unit.

Tekad pemerintah

Wagub Azwar Abubakar ditanyai terpisah mengatakan, Pemda NAD sudah membulatkan tekad pada 26 Januari --sebulan sejak terjadinya bencana tsunami-- semua sekolah yang layak pakai sudah aktif kembali.

"Kepala sekolah dan para guru harus ikut aktif mendorong agar tekad ini berhasil kita wujudkan," kata Azwar menjelang berangkat ke Jakarta, siang kemarin.

Menurut dia, dandim di wilayah Banda Aceh dan Aceh Besar telah memobilisir para relawan untuk membersihkan sekolah-sekolah. Dia tetap meminta partisipasi masyarakat agar ikut bergotong royong membersihkan sekolah yang masih berlumpur.

Jurubicara Diknas NAD Boestamam Aly pesimis sekolah-sekolah dapat diaktifkan pada 26 Januari jika pembersihannya tidak diprioritaskan dan ditangani serius.

Pihak Diknas sudah meminta langsung kepada menko kesra serta menyurati Dinas Kimpraswil dan Pengairan menangani masalah tersebut. Soalnya, di kimpraswil tersedia alat berat, sedangkan di dinas pengairan tersedia kompresor.

"Setelah lumpur dan puing diangkut, seharusnya disiram dengan air menggunakan kompresor," kata Boestamam.

Dikatakan, kalau pembersihan sekolah-sekolah itu harus dikontrakkan, dinas pendidikan tidak punya anggaran. "Maka, mesti ditangani dari atas, dalam artian harus ada perintah langsung dari pemerintah," ujar Boestamam.

Berdasarkan pantauan, sekitar 26 gedung sekolah (mulai SD hingga SLTA) di Banda Aceh yang masih layak pakai. Namun, hampir seluruhnya masih tertimbun puing dan lumpur, kecuali beberapa sekolah yang mulai dibersihkan, antara lain, sebuah SD di kawasan Lampineung, SMUN 3, dan SMU Inshafudin yang kemarin mulai dikeruk.

Adapun SMUN 4 Banda Aceh di kawasan Lampineung, terlihat halamannya masih berlumpur setebal 50 Cm. Barang-barang yang sudah tak tentu bentuknya berserakan di dalam lokasi dan hingga belum tersentuh sama sekali.

Keadaan serupa terlihat di SMUN 8 yang bersebelahan dengan SMUN 4, SMK 1 (SMEA), SMK 2 (STM), SMKK, dan SMP 6, yang semua berlokasi di Lampineung. Selain tertimbun lumpur dan puing sebagian sekolah acak-acakan. Bahkan di SMEA yang selama ini menjadi pusat pelatihan pembelajaran multimedia, dikabarkan banyak peralatan komputer di sekolah itu telah dijarah. Begitu juga peralatan STM Banda Aceh yang banyak hilang karena dijarah.

Sekolah lain yang sampai kemarin masih tertimbun lumpur adalah SMUN 1, SD 25, MTsn dan MAN, dan MIN Jambo Tape. Padahal, jalan ke sekolah-sekolah itu sudah bisa dilalui kendaraan roda empat.

"Kita tak mungkin kerja dengan tenaga orang, harus pakai alat berat. Apalagi banyak guru dan wali murid yang terkena musibah, dan ada yang masih mengungsi," ujar kepala SMUN 3 Lukman yang mengaku sebanyak 24 guru di sekolah itu hilang/meninggal dunia.

Beberapa sekolah yang tak terkena musibah umumnya berlokasi di pinggiran Banda Aceh, antara kain di kompleks Bungcala Kuta Baro Aceh Besar. Sekolah-sekolah itu selama ini dijadikan tempat penampungan pengungsi. Akibatnya, kegiatan belajar-mengajar tidak bisa dilaksanakan.

Untuk menampung pengungsi, terutama mereka yang selama ini menumpang di sekolah-sekolah, UNICEF (badan dunia PBB) seperti diakui Plh Kadis Pendidikan NAD, berjanji akan mengirim 1.500 tenda. Selain itu, dinas pendidikan saat ini memiliki sekitar 100 unit tenda yang siap digunakan. si/puh/dik/muh

Copyright © 2003 Banjarmasin Post


Berita Utama
Gedung Sekolah Masih Tertimbun

AS Belum Mau Cabut Embargo Militer


Relawan Kalsel Tiba Di Banda Aceh Langsung Evakuasi Mayat


Tim Ukhuwwah Bentrok Dengan Penculik Anak Aceh Dibujuk Ke Luar Masjid, Lalu Dibawa


Singapura vs Indonesia Mukjizat Withe


Debut Negatif Matador


Kasetnya Diserbu


Belum Hamil Juga


119 Negara Siap Bantu Aceh


ANALISIS - BIN-Polri Sama-Sama Terjebak


"Ini Bukan Penghianatan"


Banjarmasin Post Group Jl Haryono MT 143/54 Banjarmasin 70111 Phone: +62-511-54370 Fax: +62-511-66123