:: Kompas Cyber Media ::

[::] Portal Berita Daerah [::]

Metro Banjar • Serambi Ummah • BëBAS • Diafragma • PASAR • INTECH

Berita Cetak
HOME
Berita Utama

Nusantara
Banjarmasin Plus
Banjarmasin Bungas
BISNIS
Sport Vaganza
Opini-Hot Line

Kalimantan Selatan
Kalimantan Timur
Kalimantan Tengah

Hiburan-Gaya Hidup
Internasional
Berita Kemarin
Info Data & Media
Banjarmasin Post
Susunan Redaksi

Pasang Iklan
Order Cetak
Berlangganan
Supporting By

Senin, 17 Januari 2005 01:51:59


PMI Kalsel Evakuasi 50 Mayat

Banda Aceh, BPost
Meski baru dua hari di Banda Aceh, Propinsi Nangroe Aceh Darussalam (NAD), tim relawan Kalimantan Selatan telah melakukan banyak aktivitas kemanusiaan. Bahkan, Minggu (16/1), relawan Palang Merah Indonesia (PMI) Kalsel --bagian dari tim Satkorlak PBP-- berhasil mengevakuasi 50 mayat korban gempa dan badai tsunami.

Puluhan mayat itu, seperti dilaporkan wartawan BPost, Dony Harjo Saputro yang ikut bersama tim relawan ditemukan di pinggiran kota Banda Aceh. Mayat-mayat itu umumnya ditemukan di bawah reruntuhan gedung dan rumah-rumah yang rubuh diterpa gempa dan tsunami pada 26 Desember lalu.

Kondisi mayat sendiri sudah sangat rusak. "Kondisinya sangat rusak dan sulit dikenali identitasnya," jelas Rizali, pimpinan tim PMI Kalsel.

Tim PMI Kalsel bergabung dengan beberapa tim PMI dari Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah dan Jawa Barat. Mereka menyisiri pantai Olele di daerah Gampung Baso, Kecamatan Meraksa, Banda Aceh.

Untuk mencapai daerah tersebut, para relawan berjumlah sekitar 100 orang, diangkut menggunakan tiga truk. Setelah menempuh perjalanan sekitar 20 menit, sekitar pukul 10.00 WIB, relawan diturunkan pada masing-masing titik untuk setiap tim. Rombongan PMI Kalsel masuk tim 1.

Tim PMI Kalsel yang berjumlah 4 orang dilengkapi masker, sepatu bot, kantong mayat, tali dan peralatan logistik lainnya. Terlihat kawasan perumahan di Meraksa, rata dengan tanah. Bau mayat juga masih begitu menyengat.

Sebelum menjalankan operasi evakuasi, Rizal selaku ketua tim PMI Kalsel memberikan pengarahan praktis tiga anggotanya. Tak lupa, mereka melakukan doa bersama sebelum beraksi.

Usai berdoa, para relawan mulai membuat rute evakuasi, mencari mayat. Memasuki kawasan operasi, hanpir setiap lima meter terlihat mayat dengan beragam posisi, mulai telentang, telungkup, bahkan ada yang terjepit di bawah pohon.

Anggota PMI Kalsel langsung memberikan kode kepada anggota lainnya memberikan bantuan evakuasi. Satu per satu mayat dengan kondisi sudah membusuk dan ada yang kehilangan bagian tubuhnya, diangkat dan dimasukkan ke kantong mayat untuk dibawa ke pinggir jalan. Para relawan kembali bergerak mencari mayat lainnya.

"Kendala kita saat ini adalah kawasan yang sulit ditempuh. Banyaknya bahan bangunan berserakan menyulitkan kami mengangkat mayat-mayat tersebut. Belum lagi bila mayat sulit dijangkau, kami harus mempertimbangkan risikonya," ucap Rizali, di sela-sela evakuasi.

Berdasarkan informasi yang diperoleh BPost di lapangan, dari 6.000 warga di daerah pesisir itu, hanya 250 orang yang berhasil selamat. Sedangkan lainnya dinyatakan mati dan hilang saat gempa serta badai tsunami 26 Desember lalu.

Sementara tim relawan dari beberapa daerah juga menemukan beberapa mayat di Taman Sari, di pusat kota Banda Aceh. Mayat-mayat itu ditemukan di antara puing-puing dan sampah yang menumpuk di taman yang terletak di dekat Masjid Raya Baiturrahman.

Di sekitar Taman Sari, tepatnya di lokasi bekas hotel Aceh, tiga alat berat masih terus bekerja menyingkirkan sampah dan puing dari genangan lumpur hitam. Sebuah mobil sedan buatan Jepang yang kaca-kacanya sudah hancur belum diangkat dari tempat tersebut.

Pemandangan serupa juga terlihat di sekitar Pasar Aceh. Alat-alat berat seperti deco masih mondar-mandir di tempat yang sebelum tsunami merupakan tempat tersibuk di Banda Aceh. Bau busuk masih tercium di sini.

Data yang diperoleh dari posko penanggulangan bencana, korban gempa bumi dan tsunami yang meninggal dan sudah dimakamkan hingga Minggu (16/1) sebanyak 84.637 orang. Sementara jumlah orang yang hilang bertambah menjadi 132.172 orang.

Jumlah pengungsi tercatat sebanyak 394.285 jiwa dan tersebar di 64 lokasi pengungsian. Sedangkan evakuasi mayat dan pemakaman yang sudah dilakukan di Banda Aceh dan Aceh Besar sebanyak 2972 orang.

Tim relawan Kalsel sendiri terpaksa menghentikan operasi pencarian mayat sekitar pukul 14.00 WIB. Hal ini karena turun hujan deras menyapu seluruh daerah tersebut. Hari itu, tim relawan PMI Kalsel berhasil mengevakuasi 50 mayat.

Sterilisasi

Sepulang proses evakuasi, semua anggota diwajibkan mandi sterilisasi sebanyak tiga kali. Proses mandi sterilisasi itu dimaksudkan mencegah virus dari mayat yang melekat di pakaian dan tubuh para relawan.

Tim Satkorlak PBP Kalsel lainnya seperti RAPI dan Satgasus PBP Kalsel, di hari kedua melakukan pembersihan di sekitar kantor gubernur NAD. Bahkan, tim melakukan pengecetan beberapa gedung seperti mesjid gubernuran dan beberapa ruangan. Diharapkan setelah dilakukan pembersihan ruangan dalam waktu dekat gedung tersebut bisa dipakai lagi.

Keadaan kota Banda Aceh sendiri hingga tiga minggu pascabencana, masih mencekam. Di daerah-daerah tertentu seperti di seputar kantor gubernur di atas pukul 22.00 WIB, tak satu pun ada kendaraan melintas. Bahkan, para pengemudi becakmotor tidak bersedia melintas di daerah itu.

Seorang pengemudi becakmotor menuturkan kepada BPost, kawasan seputar kantor gubernuran kini angker. Tidak jelas memang angker apa yang dimaksudkannya. "Pokoknya angker di daerah itu, mas," ucap dia.

Terbukti, memang para relawan Kalsel yang menginap di kantor gubernur NAD tidak diperbolehkan keluar dari kawasan kantor, karena tidak adanya jaminan keamanan. Akhirnya malam hari, para relawan Kalsel lebih banyak menghabiskan waktu dengan beristirahat di posko, karena seharian telah melakukan kerja keras.

Kota Banda Aceh, ibukota propinsi sejak pagi sudah mulai hidup. Masyarakat juga mulai melakukan aktivitasnya, meski dengan berbagai kekurangan yang ada.

Beberapa tempat perniagaan seperti pasar juga mulai dikunjungi warga. Akses berbagai jalan di Banda Aceh juga mulai terbuka, dan beberapa pengendara sepeda motor lalu-lalang.

Hanya memang, kondisi ini sangat jauh saat sebelum terjadi gempa. Kota Banda Aceh sebagai pusat pemerintahan yang praktis tak henti dari berbagai kegiatan, kini tampak terlihat ‘lumpuh’.

Yang terlihat kini justru banyaknya tenda-tenda darurat tempat para pengungsi berdiri di tengah atau sudut-sudut kota. Bekas-bekas gedung-gedung megah dan permanen, terlihat porak-poranda. *


Copyright © 2003 Banjarmasin Post


Berita Utama
PMI Kalsel Evakuasi 50 Mayat

Relawan Militer Asing Dikurangi


Hari Ini, Daftar Kader Golkar


Konser Peter Pan Rusuh


Kisah Wartawan NST Jadi Relawan Di Aceh Meski Buntung, Ahmad Evakuasi Mayat


Indonesia Spesial Runner-Up


Supermodel Bergantung Di Pohon


Tentara Asing Cari Sapi Qurban


Singapura Bakal Ekstradisi Koruptor


Di Balik Kisah Pemalsuan Uang Teman Sendiri Akhirnya Dimakan


Teroris Ancam Ibadah Haji


Sinetron 2 Negara


Banjarmasin Post Group Jl Haryono MT 143/54 Banjarmasin 70111 Phone: +62-511-54370 Fax: +62-511-66123