Banda Aceh, BPost
Meski baru dua hari di Banda Aceh, Propinsi Nangroe Aceh Darussalam (NAD), tim relawan
Kalimantan Selatan telah melakukan banyak aktivitas kemanusiaan. Bahkan, Minggu (16/1),
relawan Palang Merah Indonesia (PMI) Kalsel --bagian dari tim Satkorlak PBP-- berhasil
mengevakuasi 50 mayat korban gempa dan badai tsunami.
Puluhan mayat itu, seperti dilaporkan wartawan BPost, Dony Harjo Saputro
yang ikut bersama tim relawan ditemukan di pinggiran kota Banda Aceh. Mayat-mayat itu
umumnya ditemukan di bawah reruntuhan gedung dan rumah-rumah yang rubuh diterpa gempa dan
tsunami pada 26 Desember lalu.
Kondisi mayat sendiri sudah sangat rusak. "Kondisinya sangat rusak dan sulit
dikenali identitasnya," jelas Rizali, pimpinan tim PMI Kalsel.
Tim PMI Kalsel bergabung dengan beberapa tim PMI dari Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah
dan Jawa Barat. Mereka menyisiri pantai Olele di daerah Gampung Baso, Kecamatan Meraksa,
Banda Aceh.
Untuk mencapai daerah tersebut, para relawan berjumlah sekitar 100 orang, diangkut
menggunakan tiga truk. Setelah menempuh perjalanan sekitar 20 menit, sekitar pukul 10.00
WIB, relawan diturunkan pada masing-masing titik untuk setiap tim. Rombongan PMI Kalsel
masuk tim 1.
Tim PMI Kalsel yang berjumlah 4 orang dilengkapi masker, sepatu bot, kantong mayat,
tali dan peralatan logistik lainnya. Terlihat kawasan perumahan di Meraksa, rata dengan
tanah. Bau mayat juga masih begitu menyengat.
Sebelum menjalankan operasi evakuasi, Rizal selaku ketua tim PMI Kalsel memberikan
pengarahan praktis tiga anggotanya. Tak lupa, mereka melakukan doa bersama sebelum
beraksi.
Usai berdoa, para relawan mulai membuat rute evakuasi, mencari mayat. Memasuki kawasan
operasi, hanpir setiap lima meter terlihat mayat dengan beragam posisi, mulai telentang,
telungkup, bahkan ada yang terjepit di bawah pohon.
Anggota PMI Kalsel langsung memberikan kode kepada anggota lainnya memberikan bantuan
evakuasi. Satu per satu mayat dengan kondisi sudah membusuk dan ada yang kehilangan bagian
tubuhnya, diangkat dan dimasukkan ke kantong mayat untuk dibawa ke pinggir jalan. Para
relawan kembali bergerak mencari mayat lainnya.
"Kendala kita saat ini adalah kawasan yang sulit ditempuh. Banyaknya bahan
bangunan berserakan menyulitkan kami mengangkat mayat-mayat tersebut. Belum lagi bila
mayat sulit dijangkau, kami harus mempertimbangkan risikonya," ucap Rizali, di
sela-sela evakuasi.
Berdasarkan informasi yang diperoleh BPost di lapangan, dari 6.000 warga di
daerah pesisir itu, hanya 250 orang yang berhasil selamat. Sedangkan lainnya dinyatakan
mati dan hilang saat gempa serta badai tsunami 26 Desember lalu.
Sementara tim relawan dari beberapa daerah juga menemukan beberapa mayat di Taman Sari,
di pusat kota Banda Aceh. Mayat-mayat itu ditemukan di antara puing-puing dan sampah yang
menumpuk di taman yang terletak di dekat Masjid Raya Baiturrahman.
Di sekitar Taman Sari, tepatnya di lokasi bekas hotel Aceh, tiga alat berat masih terus
bekerja menyingkirkan sampah dan puing dari genangan lumpur hitam. Sebuah mobil sedan
buatan Jepang yang kaca-kacanya sudah hancur belum diangkat dari tempat tersebut.
Pemandangan serupa juga terlihat di sekitar Pasar Aceh. Alat-alat berat seperti deco
masih mondar-mandir di tempat yang sebelum tsunami merupakan tempat tersibuk di Banda
Aceh. Bau busuk masih tercium di sini.
Data yang diperoleh dari posko penanggulangan bencana, korban gempa bumi dan tsunami
yang meninggal dan sudah dimakamkan hingga Minggu (16/1) sebanyak 84.637 orang. Sementara
jumlah orang yang hilang bertambah menjadi 132.172 orang.
Jumlah pengungsi tercatat sebanyak 394.285 jiwa dan tersebar di 64 lokasi pengungsian.
Sedangkan evakuasi mayat dan pemakaman yang sudah dilakukan di Banda Aceh dan Aceh Besar
sebanyak 2972 orang.
Tim relawan Kalsel sendiri terpaksa menghentikan operasi pencarian mayat sekitar pukul
14.00 WIB. Hal ini karena turun hujan deras menyapu seluruh daerah tersebut. Hari itu, tim
relawan PMI Kalsel berhasil mengevakuasi 50 mayat.
Sterilisasi
Sepulang proses evakuasi, semua anggota diwajibkan mandi sterilisasi sebanyak tiga
kali. Proses mandi sterilisasi itu dimaksudkan mencegah virus dari mayat yang melekat di
pakaian dan tubuh para relawan.
Tim Satkorlak PBP Kalsel lainnya seperti RAPI dan Satgasus PBP Kalsel, di hari kedua
melakukan pembersihan di sekitar kantor gubernur NAD. Bahkan, tim melakukan pengecetan
beberapa gedung seperti mesjid gubernuran dan beberapa ruangan. Diharapkan setelah
dilakukan pembersihan ruangan dalam waktu dekat gedung tersebut bisa dipakai lagi.
Keadaan kota Banda Aceh sendiri hingga tiga minggu pascabencana, masih mencekam. Di
daerah-daerah tertentu seperti di seputar kantor gubernur di atas pukul 22.00 WIB, tak
satu pun ada kendaraan melintas. Bahkan, para pengemudi becakmotor tidak bersedia melintas
di daerah itu.
Seorang pengemudi becakmotor menuturkan kepada BPost, kawasan seputar kantor
gubernuran kini angker. Tidak jelas memang angker apa yang dimaksudkannya. "Pokoknya
angker di daerah itu, mas," ucap dia.
Terbukti, memang para relawan Kalsel yang menginap di kantor gubernur NAD tidak
diperbolehkan keluar dari kawasan kantor, karena tidak adanya jaminan keamanan. Akhirnya
malam hari, para relawan Kalsel lebih banyak menghabiskan waktu dengan beristirahat di
posko, karena seharian telah melakukan kerja keras.
Kota Banda Aceh, ibukota propinsi sejak pagi sudah mulai hidup. Masyarakat juga mulai
melakukan aktivitasnya, meski dengan berbagai kekurangan yang ada.
Beberapa tempat perniagaan seperti pasar juga mulai dikunjungi warga. Akses berbagai
jalan di Banda Aceh juga mulai terbuka, dan beberapa pengendara sepeda motor lalu-lalang.
Hanya memang, kondisi ini sangat jauh saat sebelum terjadi gempa. Kota Banda Aceh
sebagai pusat pemerintahan yang praktis tak henti dari berbagai kegiatan, kini tampak
terlihat lumpuh.
Yang terlihat kini justru banyaknya tenda-tenda darurat tempat para pengungsi berdiri
di tengah atau sudut-sudut kota. Bekas-bekas gedung-gedung megah dan permanen, terlihat
porak-poranda. *