Banda Aceh, BPost
Setelah dihantam gempa dan gelombang tsunami, Kota Banda Aceh kini dilanda
banjir. Hujan yang mengguyur Banda Aceh, ibukota Propinsi Nangroe Aceh Darussalam (NAD)
dan sekitarnya seminggu terakhir, membuat beberapa tenda pengungsi dan relawan tergenang.
Berdasarkan pantauan, Senin (17/1) petang kemarin, aliran sungai menjadi deras dan naik
beberapa centimeter. Derasnya air hujan juga mengakibatkan beberapa titik jalan raya
tergenang air lumpur, lantaran sisa-sisa pascabencana masih banyak yang belum dibersihkan.
Hal ini membuat aktivitas masyarakat agak tersendat.
Sejumlah pengungsi terpaksa harus meninggalkan tenda mereka akibat digenangi air.
Sebagai alternatif, mereka memilih tidur di masjid dan gedung-gedung sekolah.
Tumpukan sampah, lumpur dan puing-puing yang masih menutupi sebagian besar wilayah kota
termasuk saluran got, membuat air menggenang hingga setinggi mata kaki.
Beberapa ruas jalan yang tergenang air antara lain Jalan Alaidin Mahmudsyah, Jalan Ratu
Saiffuddin, Jalan Teuku Daud Beureuh dan sebagian jalan di kawasan Neusu.
Genangan air dengan ketinggian mencapai lutut kaki orang dewasa juga terjadi di
daerah-daerah yang mengalami kerusakan cukup parah akibat gempa dan tsunami, seperti
kawasan Ulee Lheue, terus ke arah Lampulo, Lampaseh, Kampung Jawa, hingga ke Krueng Raya.
Suasana kota makin suram dengan padamnya sejumlah alat penerangan jalan di beberapa
lokasi di kota Banda Aceh. Akibatnya tak banyak pula warga yang lalu lalang di jalan-jalan
kota tersebut.
Hal itu berbeda dengan suasana kota Banda Aceh, sehari sebelumnya, yang telah mulai
semarak oleh aktivitas masyarakat tidak saja pagi hingga sore hari tetapi juga malam hari.
Hampir tiga pekan setelah gempa dan tsunami menghantam wilayah pesisir barat Sumatera,
Kota Banda Aceh dan sekitarnya masih kotor oleh tumpukan sampah, lumpur, dan puing.
Di sejumlah tempat pengungsian di Banda Aceh seperti Lampeuneurut, Ulee Kareeng, dan
Blang Bintang tak luput dari genangan air hujan, baik di dalam maupun sekitar tenda
mereka.
Di Lampeuneurut misalnya, meski air hujan telah surut, namun genangan masih ada di
sekitar tenda mereka. Para penghuninya terpaksa minggat untuk sementara, karena tanah di
dalam tenda becek.
Air Sungai Naik
Hujan yang cukup deras akhir-akhir ini, juga membuat air di sejumlah sungai di Banda
Aceh mengalami kenaikan. Sungai yang melintang di tengah kota Banda Aceh, di Simpang
Surabaya misalnya, terlihat cukup deras hanya sekitar satu meter dari badan jalan. Berbeda
dengan hari sebelum hujan, kondisi air masih jauh dari badan jalan.
Demikian pula Sungai Krungcut, Aceh Besar, mengalami kenaikan serupa. Derasnya aliran
sungai ini setidaknya membuat tumpukan sampah pascatsunami dibawa arus sungai.
Selain di Kota Banda Aceh dan sejumlah sungai besar dan kecil di kawasan Kabupaten Aceh
Besar, airnya juga mulai naik dibandingkan sebelumnya.
Tingginya air di sejumlah sungai kecil dan besar seperti Krueng (Sungai) Aceh dan
Krueng Daroy akibat guyuran hujan itu, kini menjadi ancaman terjadinya banjir besar di
daerah tersebut.
Kota Banda Aceh dan sebagian wilayah Aceh Besar, pernah diterjang banjir bandang yang
airnya mencapai sekitar dua hingga tiga meter pada Nopember 2000, setelah hujan mengguyur
daerah itu berturut-turut selama tiga hari tiga malam.
Cuaca buruk dan mendung tebal juga cukup memberi hambatan pada operasi distribusi
bantuan oleh helikopter-helikopter militer asing.
Sementara itu, genangan air lumpur ditemui di sekitar Jl T Panglima Polim, Jelingke,
dan Simpang Lima Banda Aceh. Genangan ini mengakibatkan beberapa alat berat yang dipakai
untuk membersihkan kota terlihat kesulitan beroperasi, karena air lumpur susah diangkat.
Tidur Di Masjid
Ibrahim (48), seorang pengungsi di Lampeuneurut, mengatakan, mereka terpaksa harus
meninggalkan tenda pengungsian dan memilih masjid. Selain, karena kedinginan, selimut
tidur basah akibat hujan. "Yah dari dapa sakit, Pak, lebih baik saya tidur di masjid.
Kalau hujan terus, mau tidur di mana lagi kami, Pak," katanya.
Untungnya, kata Ibrahim, tidak semua tenda pengungsi kena genangan air. Hanya tenda
yang terletak di atas tanah yang lebih rendah yang terendam. Meski demikian, ia menegaskan
masjid pada malam hari selalu penuh dengan pengungsi yang tidur, karena mereka kedinginan
dalam tenda.
Apa yang dialami Ibrahim juga dirasakan Siti (28). Namun, perempuan beranak satu yang
menjadi pengungsi di Blang Bintang, Banda Aceh ini mengaku tidak tidur di masjid, tapi
memilih gedung sekolah, yang tak jauh dari tempat pengungsiannya.
"Saya terpaksa tidur di sekolah lantaran kedinginan di dalam tenda. Di dalam
masjid, sulit tidur karena sudah dipenuhi banyakan orang," jelas Siti.
Air yang menggenangi sejumlah tenda pengungsian di Banda Aceh tersebut, kini mulai
dikhawatirkan para penghuninya. Siti misalnya, khawatir penyakit akan bermuculan, karena
air yang tergenang sangat kotor dan bau.
"Air genangan itu sangat kotor dan berbau anyir. Kami takut nanti munculkan
penyakit lagi," katanya.
Berdasarkan pantauan, di beberapa daerah seperti belakang kediaman Polda NAD, Pungee,
lokasi yang tergenang menimbulkan bau anyir mayat yang cukup menyengat. Di belakang rumah
tersebut memang masih banyak mayat yang belum dievakuasi, karena terjepit di reruntuhan
bangunan.
Lumpur yang dibawa tsunami dan bercampur dengan air hujan menyebabkan daerah sekitar
tempat itu sangat becek. Hingga kemarin, beberapa warga dan relawan terus berupaya
melakukan evakuasi terhadap mayat-mayat korban tsunami, meski terkendala medan yang cukup
berat.
Genangan bercampur lumpur hitam juga tampak tak jauh dari Kantor Gubernur NAD, Banda
Aceh. Genangan lumpur ini membuat lalu lintas sekitar tempat itu terhambat, karena harus
berjalan perlahan. Bau mayat di lokasi itu juga tetap membuat sejumlah orang yang berlalu
lalang menutup hidungnya.
Korban Tewas
Sementara itu, jumlah korban meninggal akibat gempa dan tsunami hingga tiga pekan ini
26 Desember 2004 - 17 Januari 2005) di NAD dan Sumut sebanyak 115.229 orang. Demikian data
Posko Penanggulangan Bencana Depsos di Jakarta, Senin sore.
Dari 115.229 korban meninggal itu antara lain berasal di Krueng Mane sebanyak 117
orang, Bireun (594), Aceh Timur (894), Aceh Utara (2.386), Banda Aceh (20.141),
Lhokseumawe (189), Pidie (2.686), Sabang (12), Nagan Raya (1.338), Aceh Jaya (19.661),
Calang (5.000), Meulaboh (28.251), Aceh Besar (17.564), Simeulue (8), Pulau Aceh (4.000),
Aceh Selatan (6), Aceh Barat (11.982), Aceh Barat Daya (3), Aceh Tengah (132) dan Gayo
Luwes (4).
Korban meninggal di Sumut sebanyak 261 orang yang berasal dari Kabupaten Nias (227),
Pantai Cermin (8), Tapanuli Tengah (1), Deli Serdang (8), Kab. Sergai (4), Kab.Madina (2)
dan meninggal d RSU H Adam Malik Medan (11).
Sementara itu, sebanyak 12.132 orang dilaporkan hilang NAD dan Sumut, jumlah pengungsi
mencapai 603.518 orang dan yang sakit dirawat di rumah sakit (RS) 925 orang dan sebanyak
30.258 unit rumah rusak berat. JBP/SI/ant