:: Kompas Cyber Media ::

[::] Portal Berita Daerah [::]

Metro Banjar • Serambi Ummah • BëBAS • Diafragma • PASAR • INTECH

Berita Cetak
HOME
Berita Utama

Nusantara
Banjarmasin Plus
Banjarmasin Bungas
BISNIS
Sport Vaganza
Opini-Hot Line

Kalimantan Selatan
Kalimantan Timur
Kalimantan Tengah

Hiburan-Gaya Hidup
Internasional
Berita Kemarin
Info Data & Media
Banjarmasin Post
Susunan Redaksi

Pasang Iklan
Order Cetak
Berlangganan
Supporting By

Selasa, 18 Januari 2005 02:26:23


Banda Aceh Banjir

Banda Aceh, BPost
Setelah dihantam gempa dan gelombang tsunami, Kota Banda Aceh kini dilanda banjir. Hujan yang mengguyur Banda Aceh, ibukota Propinsi Nangroe Aceh Darussalam (NAD) dan sekitarnya seminggu terakhir, membuat beberapa tenda pengungsi dan relawan tergenang.

Berdasarkan pantauan, Senin (17/1) petang kemarin, aliran sungai menjadi deras dan naik beberapa centimeter. Derasnya air hujan juga mengakibatkan beberapa titik jalan raya tergenang air lumpur, lantaran sisa-sisa pascabencana masih banyak yang belum dibersihkan. Hal ini membuat aktivitas masyarakat agak tersendat.

Sejumlah pengungsi terpaksa harus meninggalkan tenda mereka akibat digenangi air. Sebagai alternatif, mereka memilih tidur di masjid dan gedung-gedung sekolah.

Tumpukan sampah, lumpur dan puing-puing yang masih menutupi sebagian besar wilayah kota termasuk saluran got, membuat air menggenang hingga setinggi mata kaki.

Beberapa ruas jalan yang tergenang air antara lain Jalan Alaidin Mahmudsyah, Jalan Ratu Saiffuddin, Jalan Teuku Daud Beureuh dan sebagian jalan di kawasan Neusu.

Genangan air dengan ketinggian mencapai lutut kaki orang dewasa juga terjadi di daerah-daerah yang mengalami kerusakan cukup parah akibat gempa dan tsunami, seperti kawasan Ulee Lheue, terus ke arah Lampulo, Lampaseh, Kampung Jawa, hingga ke Krueng Raya.

Suasana kota makin suram dengan padamnya sejumlah alat penerangan jalan di beberapa lokasi di kota Banda Aceh. Akibatnya tak banyak pula warga yang lalu lalang di jalan-jalan kota tersebut.

Hal itu berbeda dengan suasana kota Banda Aceh, sehari sebelumnya, yang telah mulai semarak oleh aktivitas masyarakat tidak saja pagi hingga sore hari tetapi juga malam hari.

Hampir tiga pekan setelah gempa dan tsunami menghantam wilayah pesisir barat Sumatera, Kota Banda Aceh dan sekitarnya masih kotor oleh tumpukan sampah, lumpur, dan puing.

Di sejumlah tempat pengungsian di Banda Aceh seperti Lampeuneurut, Ulee Kareeng, dan Blang Bintang tak luput dari genangan air hujan, baik di dalam maupun sekitar tenda mereka.

Di Lampeuneurut misalnya, meski air hujan telah surut, namun genangan masih ada di sekitar tenda mereka. Para penghuninya terpaksa minggat untuk sementara, karena tanah di dalam tenda becek.

Air Sungai Naik

Hujan yang cukup deras akhir-akhir ini, juga membuat air di sejumlah sungai di Banda Aceh mengalami kenaikan. Sungai yang melintang di tengah kota Banda Aceh, di Simpang Surabaya misalnya, terlihat cukup deras hanya sekitar satu meter dari badan jalan. Berbeda dengan hari sebelum hujan, kondisi air masih jauh dari badan jalan.

Demikian pula Sungai Krungcut, Aceh Besar, mengalami kenaikan serupa. Derasnya aliran sungai ini setidaknya membuat tumpukan sampah pascatsunami dibawa arus sungai.

Selain di Kota Banda Aceh dan sejumlah sungai besar dan kecil di kawasan Kabupaten Aceh Besar, airnya juga mulai naik dibandingkan sebelumnya.

Tingginya air di sejumlah sungai kecil dan besar seperti Krueng (Sungai) Aceh dan Krueng Daroy akibat guyuran hujan itu, kini menjadi ancaman terjadinya banjir besar di daerah tersebut.

Kota Banda Aceh dan sebagian wilayah Aceh Besar, pernah diterjang banjir bandang yang airnya mencapai sekitar dua hingga tiga meter pada Nopember 2000, setelah hujan mengguyur daerah itu berturut-turut selama tiga hari tiga malam.

Cuaca buruk dan mendung tebal juga cukup memberi hambatan pada operasi distribusi bantuan oleh helikopter-helikopter militer asing.

Sementara itu, genangan air lumpur ditemui di sekitar Jl T Panglima Polim, Jelingke, dan Simpang Lima Banda Aceh. Genangan ini mengakibatkan beberapa alat berat yang dipakai untuk membersihkan kota terlihat kesulitan beroperasi, karena air lumpur susah diangkat.

Tidur Di Masjid

Ibrahim (48), seorang pengungsi di Lampeuneurut, mengatakan, mereka terpaksa harus meninggalkan tenda pengungsian dan memilih masjid. Selain, karena kedinginan, selimut tidur basah akibat hujan. "Yah dari dapa sakit, Pak, lebih baik saya tidur di masjid. Kalau hujan terus, mau tidur di mana lagi kami, Pak," katanya.

Untungnya, kata Ibrahim, tidak semua tenda pengungsi kena genangan air. Hanya tenda yang terletak di atas tanah yang lebih rendah yang terendam. Meski demikian, ia menegaskan masjid pada malam hari selalu penuh dengan pengungsi yang tidur, karena mereka kedinginan dalam tenda.

Apa yang dialami Ibrahim juga dirasakan Siti (28). Namun, perempuan beranak satu yang menjadi pengungsi di Blang Bintang, Banda Aceh ini mengaku tidak tidur di masjid, tapi memilih gedung sekolah, yang tak jauh dari tempat pengungsiannya.

"Saya terpaksa tidur di sekolah lantaran kedinginan di dalam tenda. Di dalam masjid, sulit tidur karena sudah dipenuhi banyakan orang," jelas Siti.

Air yang menggenangi sejumlah tenda pengungsian di Banda Aceh tersebut, kini mulai dikhawatirkan para penghuninya. Siti misalnya, khawatir penyakit akan bermuculan, karena air yang tergenang sangat kotor dan bau.

"Air genangan itu sangat kotor dan berbau anyir. Kami takut nanti munculkan penyakit lagi," katanya.

Berdasarkan pantauan, di beberapa daerah seperti belakang kediaman Polda NAD, Pungee, lokasi yang tergenang menimbulkan bau anyir mayat yang cukup menyengat. Di belakang rumah tersebut memang masih banyak mayat yang belum dievakuasi, karena terjepit di reruntuhan bangunan.

Lumpur yang dibawa tsunami dan bercampur dengan air hujan menyebabkan daerah sekitar tempat itu sangat becek. Hingga kemarin, beberapa warga dan relawan terus berupaya melakukan evakuasi terhadap mayat-mayat korban tsunami, meski terkendala medan yang cukup berat.

Genangan bercampur lumpur hitam juga tampak tak jauh dari Kantor Gubernur NAD, Banda Aceh. Genangan lumpur ini membuat lalu lintas sekitar tempat itu terhambat, karena harus berjalan perlahan. Bau mayat di lokasi itu juga tetap membuat sejumlah orang yang berlalu lalang menutup hidungnya.

Korban Tewas

Sementara itu, jumlah korban meninggal akibat gempa dan tsunami hingga tiga pekan ini 26 Desember 2004 - 17 Januari 2005) di NAD dan Sumut sebanyak 115.229 orang. Demikian data Posko Penanggulangan Bencana Depsos di Jakarta, Senin sore.

Dari 115.229 korban meninggal itu antara lain berasal di Krueng Mane sebanyak 117 orang, Bireun (594), Aceh Timur (894), Aceh Utara (2.386), Banda Aceh (20.141), Lhokseumawe (189), Pidie (2.686), Sabang (12), Nagan Raya (1.338), Aceh Jaya (19.661), Calang (5.000), Meulaboh (28.251), Aceh Besar (17.564), Simeulue (8), Pulau Aceh (4.000), Aceh Selatan (6), Aceh Barat (11.982), Aceh Barat Daya (3), Aceh Tengah (132) dan Gayo Luwes (4).

Korban meninggal di Sumut sebanyak 261 orang yang berasal dari Kabupaten Nias (227), Pantai Cermin (8), Tapanuli Tengah (1), Deli Serdang (8), Kab. Sergai (4), Kab.Madina (2) dan meninggal d RSU H Adam Malik Medan (11).

Sementara itu, sebanyak 12.132 orang dilaporkan hilang NAD dan Sumut, jumlah pengungsi mencapai 603.518 orang dan yang sakit dirawat di rumah sakit (RS) 925 orang dan sebanyak 30.258 unit rumah rusak berat. JBP/SI/ant


Copyright © 2003 Banjarmasin Post


Berita Utama
Banda Aceh Banjir

Sjachriel Juga Lamar PAN


"Nihin Malu-Malu"


Tim RAPI Kalsel Belum Divaksin


Banyak Pengungsi Aceh Stres Gendong Monyet Dikira Anak


Adjie Dan Reza Resmi Cerai


Undang Bocah Aceh


Idul Adha Tetap Jumat


Saudagar Emas Daha Selatan Dirampok


Mega Pertimbangkan Jadi Saksi Ba’asyir


Nenek Lahirkan Bayi Kembar


Banjarmasin Post Group Jl Haryono MT 143/54 Banjarmasin 70111 Phone: +62-511-54370 Fax: +62-511-66123