Jakarta, BPost
Sejumlah kawasan di ibukota Jakarta sepanjang Rabu (19/1) lumpuh akibat dilanda
banjir mencapai setinggi lutut hingga 3,5 meter. Sejumlah jalan protokol dan jalan tol
menuju ke Bandara Soekarno-Hatta, Bekasi, Tangerang, Bogor, macet total akibat terendam.
Banjir juga mengancam Istana Negara di Jl Medan Merdeka Utara dan perumahan elit di
kawasan Menteng, Jakarta Pusat yang kebanyakan dihuni para pejabat dan duta besar negara
asing.
Istana Negara dan kawasan elit di sekitarnya yang pada banjir besar Januari-Februari
2002 lalu termasuk kawasan aman, kali ini diperkirakan terendam. Itu jika Gubernur DKI
Jakarta Sutiyoso benar-benar menepati janjinya membuka pintu air Singai Ciliwung yang
menuju kawasan Lapangan Banteng, Tugu Tani dan Cikini.
Pembukaan pintu air ke tiga kawasan tersebut akan diputuskan jika ketinggian air di
Pintu Air Utama Manggarai telah menyentuh ambang batas Siaga I, yakni 950 cm atau lebih.
Hingga tadi malam, ketinggian air mencapai 945 cm. Ini, berarti 5 cm lagi Istana Negara
juga kebanjiran.
Gubernur Sutiyoso menyatakan, pihaknya terpaksa akan membuka pintu air arah Menteng dan
Istana Negara jika luapan Ciliwung benar-benar tak mampu lagi ditahan dengan melakukan
pembuangan ke tempat lain. Sejauh ini, pintu pembuangan yang menuju Menteng dan Istana
Negara baru dibuka setinggi 40 cm.
Di belakang kompleks Istana Negara terdapat sungai kecil yang menuju Kota. Sungai ini
merupakan anak Sungai Ciliwung yang dimanfaatkan untuk saluran pembuangan limbah warga
Jakarta. Pada masa Soeharto, kawasan Istana dan Menteng selalu disterilkan dari ancaman
banjir dengan melarang keras Pemprop DKI membuka pintu air yang menuju kawasan ini.
Caranya dengan mengorbankan kawasan lain di Jakarta yang lebih rendah seperti Senen,
Kampung Melayu.
Kawasan Menteng banyak diisi dengan perumahan pejabat tinggi negara. Di antaranya rumah
dinas Wakil Presiden Jusuf Kalla, rumah pribadi mantan presiden Megawati, keluarga
Soeharto dan rumah Sutiyoso sendiri. Kawasan ini juga padat dengan hunian para duta besar
negara sahabat.
Banjir yang melanda Jakarta itu diakibatkan meluapnya Sungai Ciliwung yang membelah
ibukota, menyusul hujan terus-menerus semenjak Selasa hingga Rabu pagi.
Banjir paling dahsyat melanda kawasan Cawang Jakarta Timur. Sekitar 600 Kepala Keluarga
mengungsi karena ketinggian air mencapai 3,5 meter. Perahu-perahu karet pun sampai harus
diterjunkan oleh tim SAR untuk mengevakuasi warga yang terjebak banjir. Sayangnya, jumlah
perahu-perahu karet tak sebanding dengan jumlah warga yang harus dievakuasi. Padahal
tampak begitu banyaknya warga yang bertahan di atas genting karena terus meningginya air.
Tak jauh dari Cawang, banjir setinggi 1,5 meter melanda kawasan Kramat Jati. 30 KK
diungsikan ke kantor RW. Dapur umum langsung dibuka agar anak-anak balita yang kelaparan
dan kedinginan segera bisa menyantap makanan. "Sejak pukul 03.30 WIB sampai sekarang,
air bukannya turun, malah makin tinggi aja," kata seorang warga kepada BPost,
kemarin.
Ribuan warga lainnya, seperti yang tinggal di Kelurahan Jatinegara, Kampung Melayu,
Bidaracina, Manggarai, Jl Bukit Duri, Tebet, juga terpaksa mengungsi karena rumah mereka
terendam.
Jalan Utama Lumpuh
Jalan-jalan utama Jakarta dilanda kelumpuhan total. Kebijakan mobil harus berpenumpang
minimal tiga orang (three in one) yang diberlakukan di jalan-jalan utama Jakarta
tiap harinya mulai pukul 07.00 - 10.00 ditiadakan pada hari itu.
Jalur three in one di kawasan Jl Gatot Subroto pun tampak macet total hingga
mencapai Jl MT Haryono. Demikian halnya ruas jalan tol menuju Cikampek dari arah Gatot
Subroto.
Rute lalu lintas dari Tanah Abang ke arah Pondok Kopi terpaksa ditutup karena banjir
menutupi badan jalan di kawasan Casablanca. Kawasan Casablanca yang biasanya macet pada
hari biasa kemarin berubah menjadi seperti jalur sungai. Ini karena tak tampak mobil dan
kendaraan umum berani melewati kawasan perkantoran itu karena genangan air mencapai 1
meter lebih.
Hingga tadi malam ketinggian air di sekitar Jl Casablanca, Jakarta, sudah mencapai 1,5
meter. Sedikitnya empat perahu karet terlihat masih beroperasi untuk mengevakuasi warga
yang masih terjebak di dalam rumah.
Sementara itu, ratusaan pengendara sepeda motor yang hendak menuju ke Kampung Melayu
terpaksa mencari jalur alternatif lain. Bagi mereka yang tidak mau mencari jalur
alternatif, maka mereka nekat menyewa tukang gerobak yang siap menyeberangkan mereka
dengan imbalan Rp5.000 sampai 10.000.
Kemacetan total di Jl MT Haryono, Pancoran, Cawang, terus berlangsung hingga tadi
malam. Petugas mengarahkan pengendara yang hendak ke Jl Grogol agar melewati Pangedegan.
Suasana serupa juga terjadi di kawasan Pejompongan, Tanah Abang, Menteng, Sahardjo,
Salemba hingga Matraman.
Tidak hanya jalan-jalan protokol saja yang padat akibat banjir. Jalan tol yang menuju
ke Bandara Soekarno-Hatta, Bekasi, Tangerang, Bogor, juga mengalami kemacetan. Seperti
terlihat di pintu tol Jl Gatot Subroto, arus lalin berjubel tak bergerak.
Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso tampak dibuat kelabakan akibat banjir tersebut. Sepanjang
hari kemarin, Sutiyoso keliling-keliling menyusuri pintu-pintu air Sungai Ciliwung di
berbagai tempat.
Sutiyoso yang pada pagi harinya masih menetapkan Jakarta siaga tiga akibat banjir, pada
siang harinya meningkatkan status menjadi siaga dua. Ini karena ketinggian di pintu air
Manggarai jauh melebihi batas normal. Pukul 10.00 WIB, ketinggian air mencapai titik
tertinggi yakni 920 cm di atas permukaan air laut (ketinggian normal 700 cm).
"Jika limpahan air dari arah Depok terus meninggi, maka statusnya akan
ditingkatkan menjadi Siaga satu," kata Sutiyoso.
Bila statusnya sudah mencapai Siaga I, dengan terpaksa, kata Sutiyoso, dia akan
memerintahkan pintu Ciliwung Kota segera dibuka untuk menurunkan ketinggian air.
Konsekuensinya, kawasan jalan-jalan utama Jakarta seperti kawasan Thamrin, Istana
Negara, Cikini dan kota akan dilanda banjir. "Tapi saya prediksi ketinggian air di
pintu air Manggarai tak sampai menyentuh 950 cm," katanya.
Sutiyoso mengaku takkan membiarkan banjir terfokus menimpa di salah satu wilayah
sementara di sisi lain lain terbebas banjir. Oleh karena itu, pembukaan pintu-pintu air
secara bergantian diharapkan akan memeratakan ketinggian air di seluruh penjuru kota.
Menurut Sutiyoso, pada saat ketinggian air di pintu air Manggarai masih sekitar 950 cm,
Istana Negara belum akan banjir. "Tetapi andaikata situasi yang sangat luar biasa,
misalnya ketinggian air di pintu air tersebut mencapai 10 meter, maka saya akan membuka
pintu air dan mungkin istana akan basah. Saya rasa presiden akan mengerti
langkah itu karena tindakan itu diambil untuk masyarakat yang lebih luas," kata
Gubernur DKI itu.JBP/abs/bec/fin/ant