:: Kompas Cyber Media ::

[::] Portal Berita Daerah [::]

Metro Banjar • Serambi Ummah • BëBAS • Diafragma • PASAR • INTECH

Berita Cetak
HOME
Berita Utama

Nusantara
Banjarmasin Plus
Banjarmasin Bungas
BISNIS
Sport Vaganza
Opini-Hot Line

Kalimantan Selatan
Kalimantan Timur
Kalimantan Tengah

Hiburan-Gaya Hidup
Internasional
Berita Kemarin
Info Data & Media
Banjarmasin Post
Susunan Redaksi

Pasang Iklan
Order Cetak
Berlangganan
Supporting By

Sabtu, 22 Januari 2005 01:36:54


RI-GAM Ingin Berdamai

Banda Aceh, BPost
Meski kontak senjata masih berlangsung, namun pemerintah RI dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) tampaknya berkeinginan untuk berdamai. Pemerintah RI mengklaim sudah melakukan kontak-kontak pendekatan dengan GAM di lapangan di wilayah propinsi Nanggroe Aceh Darussalam, menyusul seruan-seruan rujuk dan pemberian amnesti dari RI.

"Sudah ada kontak-kontak di lapangan dengan mereka (GAM)," kata jurubicara presiden, Dr Dino Patti Djalal, seusai penyerahan sapi qurban oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang melaksanakan shalat Idul Adha 1425 Hijriyah di Masjid Baiturrahman, Banda Aceh, Jumat.

Sementara mantan Gubernur Propinsi Aceh Prof DR Ibrahim Hasan MA, menyatakan, musibah besar yang melanda NAD, Minggu 26 Desember 2004, harus dijadikan momentum untuk menghentikan permusuhan di antara semua kalangan di NAD.

"Musibah ini membawa hikmah kepada kita semua untuk menghentikan permusuhan di antara kita," ujarnya di hadapan sekitar 20.000 jemaah sambil sesunggukan, ketika bertindak sebagai khatib Shalat Idul Adha di masjid kebanggaan rakyat Aceh itu.

Dino mengatakan, Presiden Yudhoyono sejak hari kedua setelah bencana gempa dan tsunami pada 26 Desember 2004 langsung menyampaikan pesan perdamaian dan mengajak kaum separatis itu untuk meletakkan senjata, agar operasi bantuan terhadap korban bisa dilakukan seluas-luasnya.

"Presiden Yudhoyono lah yang sejak hari kedua mengajak mereka berdamai demi rakyat Aceh," kata Dino. Ditambahkannya, apa pun yang kemudian terjadi di lapangan, bukan pemerintah atau tentara (TNI) yang memulainya. Dino tidak merinci apa yang disebutkannya sebagai "kontak-kontak di lapangan" dengan kaum separatis itu.

Pegawai karier dari Deplu yang menjadi jurubicara Kepresidenan di bidang urusan luar negeri itu juga menolak untuk mengungkapkan langkah-langkah yang sedang dilakukan Departemen Luar Negeri terhadap para petinggi GAM di Swedia, negara tempat mereka bermukim.

Seperti diketahui, petinggi GAM di Swedia lewat pers telah menyatakan melakukan gencatan senjata dengan pihak pemerintah, sehubungan dengan bencana gempa dan tsunami serta operasi-operasi kemanusiaan untuk membantu para korban.

Sayangnya, seruan petinggi GAM itu tak diindahkan oleh para anggotanya di lapangan. Hal itu diakui oleh Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal Ryamizard Ryacudu. "Dalam dua minggu ini, kita terpaksa membunuh sedikitnya 120 anggota GAM, dan menyita senjata-senjatanya," kata Ryamizard di Banda Aceh, Kamis.

Ryamizard menekankan, TNI terpaksa menembak mati anggota-anggota GAM karena bukan hanya mengganggu kelancaran distribusi bantuan tsunami, tetapi juga merampok barang-barang yang diperlukan para pengungsi di Aceh.

"Presiden, Panglima TNI, dan dirinya sendiri sudah mengajak anggota GAM untuk turun gunung, menyerahkan senjata, dan bersama-sama membangun Aceh, dan bukannya melakukan perampokan bahan makanan," kata KSAD.

Mengenai rencana rekonsiliasi dengan GAM, Ryamizard mengatakan itu urusan politik, bukan urusannya. Jika, GAM menyerah dan meletakkan senjata, maka permasalahan Aceh sudah selesai.

"Selama GAM masih pegang senjata, bahkan malah mencari senjata baru, maka masalahnya tidak akan selesai-selesai. Kuncinya adalah GAM turun gunung, meletakkan senjata, dan bersama-sama membangun Aceh," katanya.

Karenanya, ia menegaskan bahwa perdamaian di Aceh tergantung pada GAM, karena sejak dahulu pemerintah mengajak berdamai.

"Dalam ajaran agama Islam ada islah sampai tiga kali. Kalau tidak mau islah, ya kita perangi. Tidak ada negara di dalam negara, itu namanya bughot (melawan negara)," tukas Ryamizard.

Hentikan Permusuhan

Suasana Shalat Id di Masjid Baiturrahman sendiri berlangsung dalam duka yang mendalam. Sepertinya tak ada wajah ceria di antara puluhan ribu masyarakat yang berbondong-bondong menuju masjid terakbar di Negeri Serambi Mekkah itu. Semua dengan wajah tertunduk dan sebagian besar berlinang air mata.

Ibrahim Hasan yang mantan Gubernur Aceh, dalam khutbahnya di antaranya menyatakan, musibah gempa dan gelombang tsunami itu hendaknya juga diartikan sebagai peringatan Allah SWT kepada manusia yang rakus, tamak, suka mengambil hak orang lain, korupsi, dan suka membuat kerusakan di muka bumi. "Rasulullah telah memberikan isyarat bencana kepada suatu bangsa jika tidak konsisten menjalani ajaran agama," katanya.

Dia juga mengingatkan agar peristiwa tersebut hendaknya dapat menggugah hati nurani semua kalangan yang suka melanggar larangan Allah SWT dan kembali ke jalan yang benar.

Dalam kaitan penghentian permusuhan, Ibrahim Hasan dengan terbuka mengkaitkan konflik yang kini terus merentang di NAD. Yaitu yang melibatkan GAM dengan pemerintah. Bagi Ibrahim Hasan, konflik Aceh harus diselesaikan dengan damai dan bermartabat. Hanya dengan itu akan tercapai kehidupan yang damai, kekuatan yang sinergis di NAD.

Mantan Rektor Unsyiah itu mengutip pendapat Ilmuan Samuel Hurtington yang mengatakan, konflik tidak hanya bermuatan ekonomis dan idiologis, tapi juga bermuatan kultural. "Justru ini jauh lebih rumit," kata Ibrahim Hasan.

Dalam kaitan penyelesaian konflik Aceh itu, Ibrahim Hasan menawarkan lima strategi dasar, yaitu berdebat, mengalah untuk menang, pemecahan masalah, menarik diri dari konflik fisik dan psikologis, karena ada tawaran amnesti, serta langkah ke lima berupa langkah diam. Strategi kelima dapat ditempuh bila perundingan lamban dan keputusan yang tidak tegas.

Menatap Ke Depan

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengajak warga Aceh menatap ke depan untuk membangun kembali tanah rencong demi masa depan yang lebih baik.

"Saya meminta saudara-saudara untuk melihat ke depan, untuk membangun kembali Aceh demi masa depan yang lebih baik," katanya, usai Shalat Id di Masjid Baitturrahman Banda Aceh, kemarin.

Dijelaskan, dirinya merayakan Idul Adha di Aceh untuk menunjukkan solidaritas, kesatuan, dan kebersamaan untuk mengatasi masalah setelah Aceh dilanda bencana tsunami yang menewaskan lebih 100 ribu orang.

Usai Salat Id, Yudhoyono menyaksikan pemotongan hewan qurban sebanyak 84 ekor sapi dan 548 ekor kambing di masjid kebanggaan masyarakat Aceh itu.

Turut bersama presiden, istrinya Ny Kristiani Yudhoyono, Kapolri Jenderal Da’i Bachtiar, Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto, KSAD Jenderal Ryamizard Ryacudu, Meneg BUMN Sugiharto, Menko Polhukam Widodo AS. Selain itu, mantan Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan istrinya Sinta Nuriyah ikut merayakan Idul Adha di Masjid Baitturrahman.

Suasana Shalat Idul Adha di Masjid Raya Baiturrahman, kemarin, sedikit spesial. Inilah shalat id di tengah prahara dan duka lara yang sedang melanda rakyat Aceh. Selain itu, kehadiran langsung Presiden Susilo Bambang Yudhoyono serta rombongan termasuk Gus Dur, membuat prosesi shalat hari raya itu menjadi konsumsi media manca negara.

Puluhan bahkan seratusan wartawan serta kameramen media cetak dan elektronik meliput shalat itu. Sementara ratusan petugas keamanan termasuk yang bersenjata lengkap berjaga-jaga di seputaran masjid.ant/SI/her/nur


Copyright © 2003 Banjarmasin Post


Berita Utama
RI-GAM Ingin Berdamai

Shalat Ied Diwarnai Tangis


Utang Untuk Bayar Utang


Bush Peringatkan Sejumlah Rezim


Lebaran Idul Adha Bersama Pengungsi Aceh Biar Tak Hilang Anak Dirantai


Fikrah: Luruskan Niat


Korupsi Capai Rp500 T


Popularitas Yudhoyono Melorot


Rayakan Idul Adha Di Aceh


Pilkada Dipercepat 3 Bulan


Diminta Pimpin PAN Lagi


570 Calhaj RI Sakit


Banjarmasin Post Group Jl Haryono MT 143/54 Banjarmasin 70111 Phone: +62-511-54370 Fax: +62-511-66123