Banda Aceh, BPost
Meski kontak senjata masih berlangsung, namun pemerintah RI dan Gerakan Aceh
Merdeka (GAM) tampaknya berkeinginan untuk berdamai. Pemerintah RI mengklaim sudah
melakukan kontak-kontak pendekatan dengan GAM di lapangan di wilayah propinsi Nanggroe
Aceh Darussalam, menyusul seruan-seruan rujuk dan pemberian amnesti dari RI.
"Sudah ada kontak-kontak di lapangan dengan mereka (GAM)," kata jurubicara
presiden, Dr Dino Patti Djalal, seusai penyerahan sapi qurban oleh Presiden Susilo Bambang
Yudhoyono yang melaksanakan shalat Idul Adha 1425 Hijriyah di Masjid Baiturrahman, Banda
Aceh, Jumat.
Sementara mantan Gubernur Propinsi Aceh Prof DR Ibrahim Hasan MA, menyatakan, musibah
besar yang melanda NAD, Minggu 26 Desember 2004, harus dijadikan momentum untuk
menghentikan permusuhan di antara semua kalangan di NAD.
"Musibah ini membawa hikmah kepada kita semua untuk menghentikan permusuhan di
antara kita," ujarnya di hadapan sekitar 20.000 jemaah sambil sesunggukan, ketika
bertindak sebagai khatib Shalat Idul Adha di masjid kebanggaan rakyat Aceh itu.
Dino mengatakan, Presiden Yudhoyono sejak hari kedua setelah bencana gempa dan tsunami
pada 26 Desember 2004 langsung menyampaikan pesan perdamaian dan mengajak kaum separatis
itu untuk meletakkan senjata, agar operasi bantuan terhadap korban bisa dilakukan
seluas-luasnya.
"Presiden Yudhoyono lah yang sejak hari kedua mengajak mereka berdamai demi rakyat
Aceh," kata Dino. Ditambahkannya, apa pun yang kemudian terjadi di lapangan, bukan
pemerintah atau tentara (TNI) yang memulainya. Dino tidak merinci apa yang disebutkannya
sebagai "kontak-kontak di lapangan" dengan kaum separatis itu.
Pegawai karier dari Deplu yang menjadi jurubicara Kepresidenan di bidang urusan luar
negeri itu juga menolak untuk mengungkapkan langkah-langkah yang sedang dilakukan
Departemen Luar Negeri terhadap para petinggi GAM di Swedia, negara tempat mereka
bermukim.
Seperti diketahui, petinggi GAM di Swedia lewat pers telah menyatakan melakukan
gencatan senjata dengan pihak pemerintah, sehubungan dengan bencana gempa dan tsunami
serta operasi-operasi kemanusiaan untuk membantu para korban.
Sayangnya, seruan petinggi GAM itu tak diindahkan oleh para anggotanya di lapangan. Hal
itu diakui oleh Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal Ryamizard Ryacudu. "Dalam
dua minggu ini, kita terpaksa membunuh sedikitnya 120 anggota GAM, dan menyita
senjata-senjatanya," kata Ryamizard di Banda Aceh, Kamis.
Ryamizard menekankan, TNI terpaksa menembak mati anggota-anggota GAM karena bukan hanya
mengganggu kelancaran distribusi bantuan tsunami, tetapi juga merampok barang-barang yang
diperlukan para pengungsi di Aceh.
"Presiden, Panglima TNI, dan dirinya sendiri sudah mengajak anggota GAM untuk
turun gunung, menyerahkan senjata, dan bersama-sama membangun Aceh, dan bukannya melakukan
perampokan bahan makanan," kata KSAD.
Mengenai rencana rekonsiliasi dengan GAM, Ryamizard mengatakan itu urusan politik,
bukan urusannya. Jika, GAM menyerah dan meletakkan senjata, maka permasalahan Aceh sudah
selesai.
"Selama GAM masih pegang senjata, bahkan malah mencari senjata baru, maka
masalahnya tidak akan selesai-selesai. Kuncinya adalah GAM turun gunung, meletakkan
senjata, dan bersama-sama membangun Aceh," katanya.
Karenanya, ia menegaskan bahwa perdamaian di Aceh tergantung pada GAM, karena sejak
dahulu pemerintah mengajak berdamai.
"Dalam ajaran agama Islam ada islah sampai tiga kali. Kalau tidak mau islah, ya
kita perangi. Tidak ada negara di dalam negara, itu namanya bughot (melawan negara),"
tukas Ryamizard.
Hentikan Permusuhan
Suasana Shalat Id di Masjid Baiturrahman sendiri berlangsung dalam duka yang mendalam.
Sepertinya tak ada wajah ceria di antara puluhan ribu masyarakat yang berbondong-bondong
menuju masjid terakbar di Negeri Serambi Mekkah itu. Semua dengan wajah tertunduk dan
sebagian besar berlinang air mata.
Ibrahim Hasan yang mantan Gubernur Aceh, dalam khutbahnya di antaranya menyatakan,
musibah gempa dan gelombang tsunami itu hendaknya juga diartikan sebagai peringatan Allah
SWT kepada manusia yang rakus, tamak, suka mengambil hak orang lain, korupsi, dan suka
membuat kerusakan di muka bumi. "Rasulullah telah memberikan isyarat bencana kepada
suatu bangsa jika tidak konsisten menjalani ajaran agama," katanya.
Dia juga mengingatkan agar peristiwa tersebut hendaknya dapat menggugah hati nurani
semua kalangan yang suka melanggar larangan Allah SWT dan kembali ke jalan yang benar.
Dalam kaitan penghentian permusuhan, Ibrahim Hasan dengan terbuka mengkaitkan konflik
yang kini terus merentang di NAD. Yaitu yang melibatkan GAM dengan pemerintah. Bagi
Ibrahim Hasan, konflik Aceh harus diselesaikan dengan damai dan bermartabat. Hanya dengan
itu akan tercapai kehidupan yang damai, kekuatan yang sinergis di NAD.
Mantan Rektor Unsyiah itu mengutip pendapat Ilmuan Samuel Hurtington yang mengatakan,
konflik tidak hanya bermuatan ekonomis dan idiologis, tapi juga bermuatan kultural.
"Justru ini jauh lebih rumit," kata Ibrahim Hasan.
Dalam kaitan penyelesaian konflik Aceh itu, Ibrahim Hasan menawarkan lima strategi
dasar, yaitu berdebat, mengalah untuk menang, pemecahan masalah, menarik diri dari konflik
fisik dan psikologis, karena ada tawaran amnesti, serta langkah ke lima berupa langkah
diam. Strategi kelima dapat ditempuh bila perundingan lamban dan keputusan yang tidak
tegas.
Menatap Ke Depan
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengajak warga Aceh menatap ke depan untuk membangun
kembali tanah rencong demi masa depan yang lebih baik.
"Saya meminta saudara-saudara untuk melihat ke depan, untuk membangun kembali Aceh
demi masa depan yang lebih baik," katanya, usai Shalat Id di Masjid Baitturrahman
Banda Aceh, kemarin.
Dijelaskan, dirinya merayakan Idul Adha di Aceh untuk menunjukkan solidaritas,
kesatuan, dan kebersamaan untuk mengatasi masalah setelah Aceh dilanda bencana tsunami
yang menewaskan lebih 100 ribu orang.
Usai Salat Id, Yudhoyono menyaksikan pemotongan hewan qurban sebanyak 84 ekor sapi dan
548 ekor kambing di masjid kebanggaan masyarakat Aceh itu.
Turut bersama presiden, istrinya Ny Kristiani Yudhoyono, Kapolri Jenderal Dai
Bachtiar, Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto, KSAD Jenderal Ryamizard Ryacudu,
Meneg BUMN Sugiharto, Menko Polhukam Widodo AS. Selain itu, mantan Presiden Abdurrahman
Wahid (Gus Dur) dan istrinya Sinta Nuriyah ikut merayakan Idul Adha di Masjid
Baitturrahman.
Suasana Shalat Idul Adha di Masjid Raya Baiturrahman, kemarin, sedikit spesial.
Inilah shalat id di tengah prahara dan duka lara yang sedang melanda rakyat Aceh. Selain
itu, kehadiran langsung Presiden Susilo Bambang Yudhoyono serta rombongan termasuk Gus
Dur, membuat prosesi shalat hari raya itu menjadi konsumsi media manca negara.
Puluhan bahkan seratusan wartawan serta kameramen media cetak dan elektronik meliput
shalat itu. Sementara ratusan petugas keamanan termasuk yang bersenjata lengkap
berjaga-jaga di seputaran masjid.ant/SI/her/nur