:: Kompas Cyber Media ::

[::] Portal Berita Daerah [::]

Metro Banjar • Serambi Ummah • BëBAS • Diafragma • PASAR

Berita Cetak
MAIN PAGE
Berita Utama
Nusantara
B O R N E O
+Trans Kalimantan
Banjarmasin Plus

Persona
BELI@
Olahraga
Keluarga & Gaya Hidup
Internasional
Berita Kemarin
Info Data & Media
Banjarmasin Post
Susunan Redaksi

Pasang Iklan
Order Cetak
Berlangganan
Supporting By

Minggu, 23 Januari 2005 01:40


Tangisan Aceh dan Sumatera Utara
Duka Kami Rakyat Indonesia

BUKA MULUT

Nisa Saputry, 15, SMKN 1 Martapura
Sumbangan paling tepat untuk korban tsunami di Aceh dan Sumut adalah uang. Uang memiliki beberapa kelebihan dibandingkan barang, selain mudah dibawa, penggunaannya juga bisa disesuaikan dengan kebutuhan para korban gem-pa saat itu. m5

Budhi Santosa, 17, SMKN 1 Martapura
Bencana ini ada-lah teguran dari Allah bagi bangsa Indonesia. Kita harus bantu mereka dengan ikut me-nyumbang, khu-susnya tenaga. Dengan menjadi relawan kukira akan lebih bermanfaat karena bantuan kita lang-sung dirasakan para korban bencana. m5

Nugraheni Ariati, 17 SMAN 1 Banjarbaru
Bencana merupa-kan petunjuk, kita ini hanya manusia biasa, tidak ada yang perlu dibanggakan karena se-gala sesuatu yang diinginkan Allah bisa saja terjadi tanpa sepengatuan kita. Kita ini kecil dibanding kekuasaanNya yang serba maha. m5

Bencana gempa dan gelombang tsunami yang melanda Aceh dan Sumetera Utara beberapa waktu yang lalu beritanya masih hangat dibicarakan banyak orang, tak terkecuali para pelajar. Berbagai tanggapan dan komentar mengalir dari mulut para responden Beli@.

Ada yang menanggapinya dengan ikut nyumbang, ada yang turut memanjatkan do’a dan ada lagi yang gak ikut merayakan tahun baru kemarin. Sementara itu ada lagi responden yang menilai musibah ini teguran, sebagian lagi cobaan yang bahkan ada yang mengatakan ini hukuman.

Dari total 105 responden, 73 (69,52 persen) responden menyikapi musibah yang melanda saudara sebangsanya di Aceh dan Sumut dengan ikut nyumbang. 26 (24,76 persen) lagi menyikapinya dengan turut mendo’akan.

Lessyana Yulita, 17, yang skul di SMAN 1 Banjarbaru mengatakan partisipasi kita dalam ikut nyumbang mengandung arti kalau kita ikut berusaha mengurangi penderitaan yang dialami para korban.

"Ikut membantu saudara kita dengan memberikan sedikit dari apa yang kita punya adalah sesuatu yang indah. Musibah ini bukan apa-apa, hanya perantara penyampai pesan bahwa kita harus selalu ingat akan kebesaran dan kekuasaan-Nya," timpal Selvika M, 17, temannya.

Bagi Sudarsi, 17, anak SMKN 1 Martapura, do’a juga merupakan pilihan bagi kita yang tidak bisa membantu harta benda. Melalui do’a kita bisa memohon keharibaan-Nya, agar saudara-saudara kita yang dilanda gempa diberi ketabahan, kekuatan iman, dan kesabaran.

"Itulah, gara-gara terjadi bencana itu, Indonesia dirundung kesedihan. Untuk ikut berbela sungkawa, kemarin aku lewati tahun baru biasa-biasa saja," kisah Dewi Damayanti, 17, anak SMKN 1 Martapura.

Atas komentarnya itu pula Dewi bergabung dengan jawaban 5 (4,76 persen) responden yang mengaku gak ikut merayakan tahun baru karena ingin menghormati Indonesia yang sedang berkabung akibat musibah tsunami yang melanda Aceh dan Sumatera Utara.

Sayang komentar cewek yang tinggal Danau Salak ini tidak sejalan dengan yang dilakukan oleh Cindy Stasia SK, 17, temannya di Banjarbaru. Menurut Cindy, ia tetap merayakan pesta tahun baruan dengan diselingi kegiatan dompet peduli aceh.

"Ngerayain tahun baru dalam suasana duka akibat bencana tsunami itu gak masalah, asalkan dalam perayaan itu ada kegiatan pengumpulan dana untuk korban bencana di sana," ujarnya.

Menurut Ristanti Prita Puspita, 17, warga Jl Keruing Banjarbaru, bencana tsunami ini merupakan teguran dari Allah SWT, karena banyak manusia yang telah lalai dan merasa bangga dengan dosa-dosa.

"Karena Allah SWT sayang sama semua umat-Nya, maka Allah memberikan teguran atas segala kelalaian manusia sehingga ia sadar kalau gak ada yang perlu disombongkan di dunia ini," ujarnya mewakili 63 (60 persen) responden yang mengatakan musibah ini teguran dari Tuhan.

Lain lagi dengan Novika Gita Safitri, 18, pelajar SMAN 1 Banjarbaru, cewek manis ini menilai musibah yang menimpa Aceh dan Sumut beberapa waktu yang lalu merupakan cobaan. Cobaan yang menuntut kesabaran orang yang ditimpanya.

Sebagai salah satu responden yang mewakili jawaban 38 (36,19 persen) responden, Novi menilai bencana itu memang maha dahsyat, tapi sebagai orang yang beriman kita gak boleh berputus asa apalagi sampai menyalahkan Tuhan.

"Tuhan bukan jahat, justru saking sayangnya dengan kita, Tuhan menurunkan bencana ini, bukan hanya untuk rakyat Aceh tapi untuk bangsa Indonesia yang mungkin sudah banyak lupa pada Tuhannya. Karena itu mari kita ambil hikmahnya," ujarnya.

Sedangkan 3 (2,85 persen) responden menjawab musibah ini sebagai suatu hukuman. "Masyarakat Aceh tidak pernah damai, dari dulu sampai saat ini GAM terus menerus tuntut kemerdekaan. Melalui inilah Allah mau membuktikan kalau bersatu itu lebih baik ketimbang memisahkan diri," ujar Purji S, 16, urang Mataraman menutup pembicaraan. m5

Copyright © 2003 Banjarmasin Post


B E L I @
Tangisan Aceh dan Sumatera Utara Duka Kami Rakyat Indonesia

Pingin Jadi Sukarelawan


SHARING - Tepis Anggapan Terdahulu


Close Up - Kumenangis Karenanya


Banjarmasin Post Group Jl Haryono MT 143/54 Banjarmasin 70111 Phone: +62-511-54370 Fax: +62-511-66123