Bencana gempa dan gelombang tsunami yang melanda Aceh dan
Sumetera Utara beberapa waktu yang lalu beritanya masih hangat dibicarakan banyak orang,
tak terkecuali para pelajar. Berbagai tanggapan dan komentar mengalir dari mulut para
responden Beli@.
Ada yang menanggapinya dengan ikut nyumbang, ada yang turut memanjatkan doa dan
ada lagi yang gak ikut merayakan tahun baru kemarin. Sementara itu ada lagi responden yang
menilai musibah ini teguran, sebagian lagi cobaan yang bahkan ada yang mengatakan ini
hukuman.
Dari total 105 responden, 73 (69,52 persen) responden menyikapi musibah yang melanda
saudara sebangsanya di Aceh dan Sumut dengan ikut nyumbang. 26 (24,76 persen) lagi
menyikapinya dengan turut mendoakan.
Lessyana Yulita, 17, yang skul di SMAN 1 Banjarbaru mengatakan partisipasi kita dalam
ikut nyumbang mengandung arti kalau kita ikut berusaha mengurangi penderitaan yang dialami
para korban.
"Ikut membantu saudara kita dengan memberikan sedikit dari apa yang kita punya
adalah sesuatu yang indah. Musibah ini bukan apa-apa, hanya perantara penyampai pesan
bahwa kita harus selalu ingat akan kebesaran dan kekuasaan-Nya," timpal Selvika M,
17, temannya.
Bagi Sudarsi, 17, anak SMKN 1 Martapura, doa juga merupakan pilihan bagi kita
yang tidak bisa membantu harta benda. Melalui doa kita bisa memohon keharibaan-Nya,
agar saudara-saudara kita yang dilanda gempa diberi ketabahan, kekuatan iman, dan
kesabaran.
"Itulah, gara-gara terjadi bencana itu, Indonesia dirundung kesedihan. Untuk ikut
berbela sungkawa, kemarin aku lewati tahun baru biasa-biasa saja," kisah Dewi
Damayanti, 17, anak SMKN 1 Martapura.
Atas komentarnya itu pula Dewi bergabung dengan jawaban 5 (4,76 persen) responden yang
mengaku gak ikut merayakan tahun baru karena ingin menghormati Indonesia yang sedang
berkabung akibat musibah tsunami yang melanda Aceh dan Sumatera Utara.
Sayang komentar cewek yang tinggal Danau Salak ini tidak sejalan dengan yang dilakukan
oleh Cindy Stasia SK, 17, temannya di Banjarbaru. Menurut Cindy, ia tetap merayakan pesta
tahun baruan dengan diselingi kegiatan dompet peduli aceh.
"Ngerayain tahun baru dalam suasana duka akibat bencana tsunami itu gak masalah,
asalkan dalam perayaan itu ada kegiatan pengumpulan dana untuk korban bencana di
sana," ujarnya.
Menurut Ristanti Prita Puspita, 17, warga Jl Keruing Banjarbaru, bencana tsunami ini
merupakan teguran dari Allah SWT, karena banyak manusia yang telah lalai dan merasa bangga
dengan dosa-dosa.
"Karena Allah SWT sayang sama semua umat-Nya, maka Allah memberikan teguran atas
segala kelalaian manusia sehingga ia sadar kalau gak ada yang perlu disombongkan di dunia
ini," ujarnya mewakili 63 (60 persen) responden yang mengatakan musibah ini teguran
dari Tuhan.
Lain lagi dengan Novika Gita Safitri, 18, pelajar SMAN 1 Banjarbaru, cewek manis ini
menilai musibah yang menimpa Aceh dan Sumut beberapa waktu yang lalu merupakan cobaan.
Cobaan yang menuntut kesabaran orang yang ditimpanya.
Sebagai salah satu responden yang mewakili jawaban 38 (36,19 persen) responden, Novi
menilai bencana itu memang maha dahsyat, tapi sebagai orang yang beriman kita gak boleh
berputus asa apalagi sampai menyalahkan Tuhan.
"Tuhan bukan jahat, justru saking sayangnya dengan kita, Tuhan menurunkan bencana
ini, bukan hanya untuk rakyat Aceh tapi untuk bangsa Indonesia yang mungkin sudah banyak
lupa pada Tuhannya. Karena itu mari kita ambil hikmahnya," ujarnya.
Sedangkan 3 (2,85 persen) responden menjawab musibah ini sebagai suatu hukuman.
"Masyarakat Aceh tidak pernah damai, dari dulu sampai saat ini GAM terus menerus
tuntut kemerdekaan. Melalui inilah Allah mau membuktikan kalau bersatu itu lebih baik
ketimbang memisahkan diri," ujar Purji S, 16, urang Mataraman menutup pembicaraan.
m5