SEBANYAK 64 (60,95 persen) penjawab menginginkan jadi relawan. Hal ini didasari
perasaan duka yang mendalam atas musibah yang menimpa saudaranya di sana. Munculah
keinginan untuk dapat membantu langsung disamping membantu melalui sumbangan dan
doa.
"Saya merasa sangat prihatin dengan derita rakyat Aceh dan Sumut yang kini
dirundung duka. Seandainya saya boleh meminta dan seandainya permintaan saya dikabulkan
lalu diberi jalan, saya ingin jadi relawan," harap H Ahmad Sanjaya, 15, anak SMKN 1
Martapura.
Begitu juga yang diakui Annisa Fitria, 17. Cewek ayu pelajar SMAN 1 Banjarbaru ini
ingin jadi relawan karena ingin membangkitkan semangat warga aceh agar tidak larut dalam
kesedihan.
"Ini bukan saatnya lagi kita bersedih, yang harus kita lakukan saat ini adalah
kembali tegar, hadapi ini sebagai sebuah teguran dari Allah, benahilah diri kita, tataplah
kedepan dan mari kita mulai dari awal," paparnya.
Shinta P, 16, warga Banua Permai juga sempat terpikir untuk ikut jadi relawan. Hanya
saja setelah ia mempertimbangkan kondisinya saat ini yang masih berstatus pelajar ia
mengurungkan niatnya itu. "Menurutku, pelajar seperti kita mendoakan dan turut
menyumbang, soalnya klo jadi sukarelawan bakal repot, khan kita masih skul, ketinggalan
pelajaran donk," cerocos M Redhagima, 17, temannya yang tinggal di Jl Sukarelawan 1
Loktabat Banjarbaru. Kendati sebagian besar mengaku ingin menjadi sukarelawan, ada 23
(21,91 persen) penjawab mengaku gak tahu dan 14 (13,33 persen) menjawab gak pingin.
"Pada awalnya sich aku tertarik untuk jadi relawan, tapi, setelah kutahu ada 3
relawan yang diamputasi tangannya akibat terinfeksi penyakit, saya jadi takut, dan
membatalkan niat saya itu," kisah Hana R, 17, anak SMAN 1 Banjarbaru.
Bagaimana dengan bentuk sumbangan yang ingin diberikan pada rakyat Aceh dan Sumatera
Utara?
Sebanyak 44 (41,91 persen) penjawab menganjurkan dalam bentuk uang. 31 (29,52 persen)
penjawab menganjurkan barang makanan dkk, hanya 18 (17,14 persen) yang mengajurkan
doa serta 9 (8,58 persen) yang menganjurkan tenaga.
"Dengan uang dapat dibelikan barang yang pasti berguna bagi mereka saat itu,
dibandingkan barang atau yang lainnya belum tentu dapat termanfaatkan secara maksimal oleh
mereka," komentar Adam, 17, cowok SMANSA Kota Idaman.
Sebuah penyataan yang dimentahkan oleh Komaruddin, 17, anak SMKN 1 Martapura. Menurut
cowok ini, sumbangan yang tepat bagi korban tsunami adalah barang makanan. Jika diberikan
uang dimana juga mereka beli makanan, yang jual gak ada.
"Selain itu uang juga membuka kesempatan bagi tangan-tangan setan yang ingin
menyalah gunakan uang tersebut. Bisa-bisa uang para dermawan yang ingin peduli dijadikan
kesempatan bagi mereka yang ingin korupsi," tambah Gt Emelda Winda W, 16, temannya.
Akhirnya Siti Mariana, 17, berucap, "Apapun sumbangan yang kita berikan selama
niatnya bersih untuk membantu korban pastilah uang akan jadi barang yang berguna dan dalam
meyerahkan sumbangan tersebut kuyakin ada doa yang tersirat untuk kebangkitan Aceh
dan Sumut. Semoga bencana ini dapat menambah ketaqwaan kita kepada Allah SMT. Amin. m5