:: Kompas Cyber Media ::

[::] Portal Berita Daerah [::]

Metro Banjar • Serambi Ummah • BëBAS • Diafragma • PASAR

Berita Cetak
MAIN PAGE
Berita Utama
Nusantara
B O R N E O
+Trans Kalimantan
Banjarmasin Plus

Persona
BELI@
Olahraga
Keluarga & Gaya Hidup
Internasional
Berita Kemarin
Info Data & Media
Banjarmasin Post
Susunan Redaksi

Pasang Iklan
Order Cetak
Berlangganan
Supporting By

Minggu, 23 Januari 2005 01:40


SHARING
HM Bachriar H SH MSi
Kadinkensos Prov Kalsel

Tepis Anggapan Terdahulu

SALAH satu hikmah yang bisa diambil dari musibah gempa dan gelombang tsunami yang melanda Aceh dan Sumetera Utara akhir Desember 2004 tadi adalah bukti kesetiakawanan sosial yang masih melekat pada diri rakyat Indonesia.

Sebelum adanya musibah ini, banyak pihak yang menilai bangsa Indonesia kehilangan rasa kesetiakawanan, saat itu belum ada satu pun cara yang bisa membuktikan kebenaran anggapan itu sampai akhirnya musibah tsunami datang melanda Aceh dan Sumut.

Musibah datang secara spontan Indonesia berkabung, secara spontan rakyat Indonesia peduli, secara spontan rakyat Indonesia menyisihkan hartanya untuk membantu saudaranya di sana.

Anggapan miring Indonesia kehilangan rasa kesetiakawanan itupun dapat ditepis. Bagaimana mungkin rakyat Indonesia kehilangan rasa kesetiakawanan jika sampai detik ini sumbangan peduli Aceh dan Sumut masih mengalir dengan derasnya.

Bahkan tidak mengenal waktu dan tempat, dari desa sampai kota semua peduli, semua masih memiliki rasa setiakawan, dan gugurlah anggapan yang mengatakan bangsa Indonesia kehilangan rasa itu.

Satu hal yang sangat membanggakan, suara peduli saudara sebangsa ini juga muncul dari mulut para generasi penerus bangsa, anak kecil dan remaja. Hal ini menunjukkan solidaritas mereka tinggi untuk menyelamatkan bangsa ini, sebuah perwujudan tanggung jawab.

Apabila seorang remaja sudah mengatakan sangat peduli terhadap nasib saudaranya di Aceh dan Sumut, yang dibuktikannya dengan ikut nyumbang dan berdoa. Sudah bisa tergambar sebuah paradigma berpikir para remaja yang memiliki rasa kepedulian sosial yang tinggi.

Selain itu, dari penilaian saya saat ini mereka sudah mampu memilah-milah bentuk sumbangan yang menurut mereka paling sesuai. Bentuk sumbangan yang sejalan dengan keinginan dan harapan para pengelola bantuan bencana.

Uang, bentuk sumbangan seperti itulah yang paling diharapkan para pengelola bantuan bencana. Sekaligus menjadi momentum bagi para pengelola dana untuk menjaga citra dalam menjunjung tinggi tanggung jawab amanah rakyat yang dititipkan padanya.

Bentuk uang dianggap paling mudah dan cepat dalam penyalurannya, tidak seperti bentuk barang. Sampai hari ini saja bantuan dalam bentuk barang masih banyak menumpuk di Jakarta, Medan bahkan Banjarmasin sendiri.

Untuk penyalurannya masih terkendala transportasi. Perusahaan penerbangan sudah membantu, hanya saja mereka bisa menerbangkan sampai Jakarta saja. dari Jakarta ke Aceh tidak ada yang membawanya.m5

Bagian terakhir yang tidak kalah membanggakan adalah pelajar yang ingin jadi relawan. Pernyataan mereka ini menunjukkan mereka peduli, mereka tidak ingin saudaranya di Aceh dan Sumut larut dalam kesedihan berkepanjangan.

Dan mereka paham bahwa ini teguran dari Allah kepada umatnya agar kita rakyat Indonesia senantiasa introfeksi diri dari segala kesalahan yang telah diperbuat. m5

 

Copyright © 2003 Banjarmasin Post


B E L I @
Tangisan Aceh dan Sumatera Utara Duka Kami Rakyat Indonesia

Pingin Jadi Sukarelawan


SHARING - Tepis Anggapan Terdahulu


Close Up - Kumenangis Karenanya


Banjarmasin Post Group Jl Haryono MT 143/54 Banjarmasin 70111 Phone: +62-511-54370 Fax: +62-511-66123