SALAH satu hikmah yang bisa diambil dari musibah gempa dan gelombang tsunami
yang melanda Aceh dan Sumetera Utara akhir Desember 2004 tadi adalah bukti kesetiakawanan
sosial yang masih melekat pada diri rakyat Indonesia.
Sebelum adanya musibah ini, banyak pihak yang menilai bangsa Indonesia kehilangan rasa
kesetiakawanan, saat itu belum ada satu pun cara yang bisa membuktikan kebenaran anggapan
itu sampai akhirnya musibah tsunami datang melanda Aceh dan Sumut.
Musibah datang secara spontan Indonesia berkabung, secara spontan rakyat Indonesia
peduli, secara spontan rakyat Indonesia menyisihkan hartanya untuk membantu saudaranya di
sana.
Anggapan miring Indonesia kehilangan rasa kesetiakawanan itupun dapat ditepis.
Bagaimana mungkin rakyat Indonesia kehilangan rasa kesetiakawanan jika sampai detik ini
sumbangan peduli Aceh dan Sumut masih mengalir dengan derasnya.
Bahkan tidak mengenal waktu dan tempat, dari desa sampai kota semua peduli, semua masih
memiliki rasa setiakawan, dan gugurlah anggapan yang mengatakan bangsa Indonesia
kehilangan rasa itu.
Satu hal yang sangat membanggakan, suara peduli saudara sebangsa ini juga muncul dari
mulut para generasi penerus bangsa, anak kecil dan remaja. Hal ini menunjukkan solidaritas
mereka tinggi untuk menyelamatkan bangsa ini, sebuah perwujudan tanggung jawab.
Apabila seorang remaja sudah mengatakan sangat peduli terhadap nasib saudaranya di Aceh
dan Sumut, yang dibuktikannya dengan ikut nyumbang dan berdoa. Sudah bisa tergambar sebuah
paradigma berpikir para remaja yang memiliki rasa kepedulian sosial yang tinggi.
Selain itu, dari penilaian saya saat ini mereka sudah mampu memilah-milah bentuk
sumbangan yang menurut mereka paling sesuai. Bentuk sumbangan yang sejalan dengan
keinginan dan harapan para pengelola bantuan bencana.
Uang, bentuk sumbangan seperti itulah yang paling diharapkan para pengelola bantuan
bencana. Sekaligus menjadi momentum bagi para pengelola dana untuk menjaga citra dalam
menjunjung tinggi tanggung jawab amanah rakyat yang dititipkan padanya.
Bentuk uang dianggap paling mudah dan cepat dalam penyalurannya, tidak seperti bentuk
barang. Sampai hari ini saja bantuan dalam bentuk barang masih banyak menumpuk di Jakarta,
Medan bahkan Banjarmasin sendiri.
Untuk penyalurannya masih terkendala transportasi. Perusahaan penerbangan sudah
membantu, hanya saja mereka bisa menerbangkan sampai Jakarta saja. dari Jakarta ke Aceh
tidak ada yang membawanya.m5
Bagian terakhir yang tidak kalah membanggakan adalah pelajar yang ingin jadi relawan.
Pernyataan mereka ini menunjukkan mereka peduli, mereka tidak ingin saudaranya di Aceh dan
Sumut larut dalam kesedihan berkepanjangan.
Dan mereka paham bahwa ini teguran dari Allah kepada umatnya agar kita rakyat Indonesia
senantiasa introfeksi diri dari segala kesalahan yang telah diperbuat. m5