:: Kompas Cyber Media ::

[::] Portal Berita Daerah [::]

Metro Banjar • Serambi Ummah • BëBAS • Diafragma • PASAR

Berita Cetak
MAIN PAGE
Berita Utama
Nusantara
B O R N E O
+Trans Kalimantan
Banjarmasin Plus

Persona
BELI@
Olahraga
Keluarga & Gaya Hidup
Internasional
Berita Kemarin
Info Data & Media
Banjarmasin Post
Susunan Redaksi

Pasang Iklan
Order Cetak
Berlangganan
Supporting By

Minggu, 23 Januari 2005 01:40


Close Up
Risna Novariana (18)
Pelajar SMAN 1 Banjarbaru

Kumenangis Karenanya

PERTAMA kali aku menyaksikan berita musibah gempa dan gelombang tsunami yang melanda Aceh dan Sumatera Utara, termasuk beberapa negara lain dilayar kaca, adalah sepulangnya aku dari skul dihari kedua kejadian. Aku baru mengetahui pada hari itu karena waktu kejadian aku agak sibuk jadi gak begitu memperhatikan berita.

Seperti biasa, setiap sore aku bersama keluargaku nonton televisi bareng di ruang keluarga. Secara gak sengaja kami mendengar berita yang menyebutkan Indonesia menangis, Aceh dan Sumut dilanda tsunami, ribuan orang jadi korban. Mendengar itu spontan kami jadi tegang.

Berbagai tayangan yang menggambarkan sesaat sesudah tsunami datang melanda Aceh benar-benar membuat aku terbawa perasaan. Bagaimana tidak, tayangan itu penuh dengan jerit, penuh dengan tangis dan penuh dengan suara yang menyayat hati.

Dalam pikirku waktu itu, Allah telah memberikan teguran bagi umatNya. Allah ingin tunjukkan kekuasaaNya, dan Allah sayang, karena itu ia ingin sadarkan manusia dengan kuasaNya. Bagaimana tidak Aceh yang cantik molek dalam hitungan menit rata dengan tanah disapu gelombang tsunami.

Sakit rasanya hatiku, teriris rasanya jiwa ini saat melihat jeritan anak kecil mencari orang tuanya, jeritan seorang ibu yang kehilangan anaknya dan tangisan seorang ayah yang tak bisa menyelamatkan anak istrinya. Tak terasa air mata ini mengalir menyaksikan tragedi yang menimpa saudaraku di sana.

Masih terngiang sampai saat ini suara itu, suara takbir diiringi jeritan minta tolong. Gak terbayang kalau aku yang berada di sana, gak terbayang kalau aku yang merasakan akibatnya, dan gak terbayang kalau aku yang kehilangan orang tua. Kehilangan segalanya, dan gak tahu harus kemana.

Sekolah mereka telah tiada, guru mereka telah menghadap Yang Maha Esa, adakah mungkin yang bisa menggantikan mereka, seorang pendidik yang sabar mengajar, seorang pendidik yang ikhlas beramal, dan orang tua kedua yang ingin anak-anaknya pintar.

Perasaan itu senantiasa menyentuh relung hati ini, hingga tak terasa airmata membasahi pipi, aku kasihan, aku turut berduka, aku ingin mereka kembali bisa sekolah dan tertawa, menimba ilmu, meningkatkan wawasan, persiapan untuk menyongsong masa depan.

Namun, saat ini aku hanya bisa berdoa dan berdoa, meski niat jadi relawan tetaplah ada. Semoga teman-temanku yang ada di Aceh dan Sumatera Utara diberikan ketabahan, kekuatan dan kesabaran. Petiklah hikmah dari ini semua, karena itu pastilah lebih besar dibandingkan sisi penderitaan dan kerugian semata.

Kita hanyalah manusia, gak ada apa-apanya dibadingkan kekuasaanNya, melalui musibah itu Allah telah memberikan pertanda. Jika seseorang telah menjadi mayat diantara gelimpangan mayat yang ada, meskipun wajahnya tercantik sedunia, meskipun ia terkaya sejagat raya, kalau sudah begitu orang pun enggan mendekatinya. Karena itu marilah kita merenunginya. m5

Copyright © 2003 Banjarmasin Post


B E L I @
Tangisan Aceh dan Sumatera Utara Duka Kami Rakyat Indonesia

Pingin Jadi Sukarelawan


SHARING - Tepis Anggapan Terdahulu


Close Up - Kumenangis Karenanya


Banjarmasin Post Group Jl Haryono MT 143/54 Banjarmasin 70111 Phone: +62-511-54370 Fax: +62-511-66123