PERTAMA kali aku menyaksikan berita musibah
gempa dan gelombang tsunami yang melanda Aceh dan Sumatera Utara, termasuk beberapa negara
lain dilayar kaca, adalah sepulangnya aku dari skul dihari kedua kejadian. Aku baru
mengetahui pada hari itu karena waktu kejadian aku agak sibuk jadi gak begitu
memperhatikan berita.
Seperti biasa, setiap sore aku bersama keluargaku nonton televisi bareng di ruang
keluarga. Secara gak sengaja kami mendengar berita yang menyebutkan Indonesia menangis,
Aceh dan Sumut dilanda tsunami, ribuan orang jadi korban. Mendengar itu spontan kami jadi
tegang.
Berbagai tayangan yang menggambarkan sesaat sesudah tsunami datang melanda Aceh
benar-benar membuat aku terbawa perasaan. Bagaimana tidak, tayangan itu penuh dengan
jerit, penuh dengan tangis dan penuh dengan suara yang menyayat hati.
Dalam pikirku waktu itu, Allah telah memberikan teguran bagi umatNya. Allah ingin
tunjukkan kekuasaaNya, dan Allah sayang, karena itu ia ingin sadarkan manusia dengan
kuasaNya. Bagaimana tidak Aceh yang cantik molek dalam hitungan menit rata dengan tanah
disapu gelombang tsunami.
Sakit rasanya hatiku, teriris rasanya jiwa ini saat melihat jeritan anak kecil mencari
orang tuanya, jeritan seorang ibu yang kehilangan anaknya dan tangisan seorang ayah yang
tak bisa menyelamatkan anak istrinya. Tak terasa air mata ini mengalir menyaksikan tragedi
yang menimpa saudaraku di sana.
Masih terngiang sampai saat ini suara itu, suara takbir diiringi jeritan minta tolong.
Gak terbayang kalau aku yang berada di sana, gak terbayang kalau aku yang merasakan
akibatnya, dan gak terbayang kalau aku yang kehilangan orang tua. Kehilangan segalanya,
dan gak tahu harus kemana.
Sekolah mereka telah tiada, guru mereka telah menghadap Yang Maha Esa, adakah mungkin
yang bisa menggantikan mereka, seorang pendidik yang sabar mengajar, seorang pendidik yang
ikhlas beramal, dan orang tua kedua yang ingin anak-anaknya pintar.
Perasaan itu senantiasa menyentuh relung hati ini, hingga tak terasa airmata membasahi
pipi, aku kasihan, aku turut berduka, aku ingin mereka kembali bisa sekolah dan tertawa,
menimba ilmu, meningkatkan wawasan, persiapan untuk menyongsong masa depan.
Namun, saat ini aku hanya bisa berdoa dan berdoa, meski niat jadi relawan tetaplah ada.
Semoga teman-temanku yang ada di Aceh dan Sumatera Utara diberikan ketabahan, kekuatan dan
kesabaran. Petiklah hikmah dari ini semua, karena itu pastilah lebih besar dibandingkan
sisi penderitaan dan kerugian semata.
Kita hanyalah manusia, gak ada apa-apanya dibadingkan kekuasaanNya, melalui musibah itu
Allah telah memberikan pertanda. Jika seseorang telah menjadi mayat diantara gelimpangan
mayat yang ada, meskipun wajahnya tercantik sedunia, meskipun ia terkaya sejagat raya,
kalau sudah begitu orang pun enggan mendekatinya. Karena itu marilah kita merenunginya. m5