:: Kompas Cyber Media ::

[::] Portal Berita Daerah [::]

Metro Banjar • Serambi Ummah • BëBAS • Diafragma • PASAR • INTECH

Berita Cetak
MAIN PAGE
Berita Utama
Nusantara
B O R N E O
+Trans Kalimantan
Banjarmasin Plus

Persona
BELI@
Olahraga
Keluarga & Gaya hidup
Internasional
Berita Kemarin
Info Data & Media
Banjarmasin Post
Susunan Redaksi

Pasang Iklan
Order Cetak
Berlangganan
Supporting By

Minggu, 23 Januari 2005 01:33


Di Balik Perdagangan Karbon Untuk Pelestarian Lingkungan (2-Habis)

Masyarakat Adat Masih Ragu

PERDAGANGAN karbon yang diimplementasikan dengan pola adopsi pohon, meski memiliki banyak potensi yang dapat diraih, masih memunculkan keraguan masyarakat adat di sekitar virgin forest. Mereka belum percaya program ini nanti dapat mereka nikmati.

"Katanya memang untuk pemberdayaan masyarakat adat. Tapi, terus terang kami belum bisa percaya seratus persen. Karena hutan itu masuk dalam hutan adat. Kalau akhirnya merugikan bagi kami, ya tidak kami setujui. Kita lihat-lihat dulu lah. Tidak langsung menerima," kata Abdilis, seorang tokoh adat Kedayang yang cukup vokal.

Dia menuturkan banyak keperawanan alam masyarakat adat rusak karena program-program yang ujung-ujungnya hanya mengejar proyek. Hasilnya, bukan bertambah baik, masyarakat adat justru semakin terbelakang.

Kekhawatiran dan ketidakpercayaan masyarakat adat ini cukup beralasan. Pada saat ekspose yang diselenggarakan sehari sebelum adopsi pohon ke lokasi, di pendopo Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS) perwakilan masyarakat ini telah mendengar secara langsung laporan Dishutbun setempat yang memaparkan potensi ekonomi dari karbon yang diperdagangkan pada seluruh areal kajian lahan tertutup tanaman di dusun Kedayang sangat besar.

Pada potensi yang dimiliki sebesar 34.586,57 ton karbon, Pemkab akan mendapatkan hibah sebesar 345. 865,7 dolar Amerika. Dengan perhitungan kurs satu dollar sama dengan Rp9.0000, berarti HSS akan mendapatkan hibah sebesar Rp3.112.791.099. Jumlah tersebut belum lagi ditambah dengan nilai adopsi pohon yang digagas antara Rp100.000 sampai Rp350.000.

Abdilis dan sejumlah masyarakat yang hadir pada pencanangan adopsi pohon, hanya menggantung harapan agar program ini benar-benar transparan. Kalau mereka menginginkan kemajuan adalah wajar, ungkap mereka, apalagi hutan yang memang mereka jaga ini adalah titipan untuk kelangsungan anak cucu mereka nanti.

Menanggapi hal tersebut, Pemkab berjanji akan menata hal ini setransparan mungkin. Termasuk pengawasannya. Masyarakat akan terlibat langsung yang nantinya akan tergabung dalam mitra Kelompok Kerja Pengawasan Masyarakat (Pokwasmas).

Apa yang dilakukan pada Pokwasmas ini, di antaranya mengawasi agar si anak adopsi yakni pohon-pohon penyangga kelestarian lingkungan ini masih berdiri tegak, tidak ditebang sembarangan. Pun, dirawat agar keberadaannya memberikan nilai fungsi yang besar dalam pengaturan tata air di dalam kawasan sub Daerah Aliran Sungai (DAS) Amandit.

Apa komentar mereka tentang ini? Lagi-lagi, mereka hanya dapat menghantar harapan agar komitmen yang sudah sangat bagus ini dapat terwujud.

"Kalau kami, tidak akan menebang untuk dijual. Paling untuk keperluan kami sendiri. Tapi, bagaimana timbal baliknya jika kami juga mengawasi? Mudahan semua ini berguna bagi kemajuan masyarakat sekitar ini," ucap Abdilis.

Sekarang, tutur dia dengan bahasa sederhana, niat baik sudah ada, tinggal seperti apa mencegah kerusakan alam itu sendiri. anita k wardhani

Copyright © 2003 Banjarmasin Post


B O R N E O
Razak Calon Tunggal Golkar

Setahun DPO - Polisi Desersi Dipecat


Masyarakat Adat Masih Ragu


KANDIDAT - Tunggu Kepastian PDIP


INSIDEN - Rumah Kami Jadi Arang


Banjarmasin Post Group Jl Haryono MT 143/54 Banjarmasin 70129 Phone: +62-511-54370 Fax: +62-511-66123