INI kabar gembira bagi masyarakat Kalsel yang gemar mengonsumsi ikan. Jelawat
sebagai ikan khas Kalimantan yang kini terancam punah, berhasil dikembangkan oleh Loka
Budida Air Tawar (BAT) Mandiangin.
Upaya yang dilakukan selama ini tidak sia-sia, kata kepala Loka BAT Mandiangin Sarifin,
didampingi Teknisi Budidayanya Khairul Anwar, Sabtu (22/1).
Puluhan ribu benih ikan jelawat memenuhi ruang pembenihan di Loka BAT Mandiangin
tersebut. Benih jelawat tampak sehat dan berenang aktif, seakan menunjukkan kegembiraan
karena keberhasilan pembenihannya yang berarti populasinya tidak akan punah.
Memang dalam dekade ini, kebutuhan protein hewani terutama yang bersumber dari ikan dan
hewan air lainnya, semakin meningkat. Menurut Sarifin, hal ini disebabkan selain semakin
bertambahnya jumlah penduduk juga meningkatnya kesadaran masyarakat untuk mengonsumsinya.
Berdasarkan hal itu, budidaya perikanan terus dikembangkan sehingga mampu diandalkan,
untuk memenuhi kebutuhan protein hewani di masa akan datang.
Budidaya ikan ini semakin mendesak, mengingat produksi ikan dari hasil tangkapan di
perairan umum cenderung menurun. Akibatnya, selain terjadinya kelangkaan hewan air, juga
membahayakan kelestarian alan dan plasma nuftah.
Sebagai ikan asli perairan Indonesia terutama terdapat di sungai dan perairan umum
lainnya di Kalimantan dan Sumatera, Jelawat mempunyai nilai ekonomis yang cukup tinggi dan
memiliki prospek yang bagus sebagai ikan budidaya.
Sebagai salah satu jenis ikan lokal, harga ukuran konsumsi ikan jelawat cukup
menjanjikan. Di tingkat pembudidaya berkisar antara Rp25.000-35.000 per kilogram.
Bisa dibayangkan, berapa harganya per porsi kalau ikan yang dagingnya sangat lezat dan
gurih ini tersaji di rumah makan atau restoran.
Keberhasilan pembenihan ikan jelawat ini disambut gembira oleh pembudidaya ikan. Usaha
pembesaran yang selama ini terkendala karena sulitnya mendapatkan benih, sudah
terpecahkan.
Sebagaimana diungkapkan H Arman, seorang pembudidaya ikan dari Banua Lawas Tabalong,
yang mempunyai puluhan karamba sebagai usahanya.
Menurut ia, jelawat sangat cocok dikembangkan di daerah ini. Selain sebagai ikan
spesifik lokal, jelawat menjadi alternatif pengganti ikan introduksi seperti mas, yang
saat ini terkendala akibat mewabahnya penyakit Koi Herves Virus (KHV) di beberapa
daerah.
Menurut Sarifin, selain untuk memenuhi kebutuhan lokal, saat ini terdapat permintaan
benih jelawat dari Riau, Sumatera yang memerlukan kiriman secara rutin tidak kurang dari
50.000 ekor per bulan.
Ditambahkannya, melihat tingginya permintaan benih untuk kegiatan pembesaran,
penguasaan teknologi pembenihan mutlak dilakukan. Oleh karena itu, Loka BAT Mandiangin
terus berupaya mengembangkan teknologi pembenihannya. ima