:: Kompas Cyber Media ::

[::] Portal Berita Daerah [::]

Metro Banjar • Serambi Ummah • BëBAS • Diafragma • PASAR • INTECH

Berita Cetak
MAIN PAGE
Berita Utama
Nusantara
B O R N E O
+Trans Kalimantan
Banjarmasin Plus

Persona
BELI@
Olahraga
Keluarga & Gaya Hidup
Internasional
Berita Kemarin
Info Data & Media
Banjarmasin Post
Susunan Redaksi

Pasang Iklan
Order Cetak
Berlangganan
Supporting By

Minggu, 23 Januari 2005 01:17


Bunda Sudah Diambil Air

RUHUL Arafah (4) tampak duduk termenung di reruntuhan bangunan rumahnya di Dusun Bubuh, Desa Lampuuk, Aceh Besar, sementara matanya tidak lepas-lepas memandang ke arah laut yang tampak tenang dan damai.

Gadis kecil yang kini sebatang kara itu masih sulit diajak berbicara, dan lebih suka berdiam diri. Sementara itu, dua orang yang mengaku masih sebagai keluarga sepupunya, Asnawi dan Asnoni, tampak mencuci karpet atau mencari sisa-sisa barang yang masih bisa dipakai.

Ruhul Arafah ketika teringat ibunya akan selalu menangis, dan kemudian meminta Asnawi atau Asnoni, membawanya ke reruntuhan rumahnya dari kamp pengungsian Posko Raya yang jaraknya sekitar 8 Km.

"Ketika teringat ibunya, Ruhul akan bilang antarkan saya kepada Bunda. Kami kemudian pergi ke reruntuhan rumahnya. Setelah melihat puing-puing rumahnya, ia kemudian akan bilang Bunda tidak ada lagi, sudah diambil air," kata Asnoni.

Ruhul sebelum gempa dan tsunami itu terjadi telah kehilangan ayahnya, dan tinggal bersama ibunya di rumah kakek-neneknya. Setelah tsunami datang, ia kehilangan ibu dan kakek-neneknya.

Ruhul sendiri bisa selamat karena sempat dinaikkan Asnoni ke sepeda motornya. Padahal, gelombang air saat itu diperkirakan tingginya sekitar 20 meter, dan menghancurkan kampung mereka, termasuk desa-desa berdekatan, seperti Ueraya, Lam Krueng, dan Moni Krueng, Kabupaten Aceh Besar.

Menurut Asnoni, ketika orang berteriak-teriak tentang datangnya gelombang air, Ruhul langsung keluar rumah sebagaimana dilaksanakan penduduk lainnya, sementara ia sendiri saat itu tengah di atas sepeda motornya. Ia kemudian mengejar Ruhul, dan langsung menaikkannya ke atas sepeda motornya, dan segera memacunya ke arah pebukitan.

"Ibunya Ruhul saat itu tengah berada di rumahnya, sebagaimana juga ibu saya. Saya tidak sempat lagi memanggil keluarga, karena air sudah seatap rumah. Karenanya, motor langsung saya larikan. Saya kemudian melihat Ruhul berlari, dan ia langsung saya naikkan ke sepeda motor saya," katanya.

Ruhul kini tinggal di Posko Raya bersama Asnawi dan Asnoni dengan kondisi sangat memprihatinkan. Sebagaimana anak-anak pengungsi lainnya, ia juga sempat sakit, seperti diare dan demam.

Jumlah penduduk keempat kampung itu diperkirakan lebih dari 8 ribu orang, dan sebagian besar adalah anak- anak. "Mayat yang ditemukan baru setengah, sehingga kami tidak tahu kemana yang setengahnya lagi," katanya.

"Kami tidak nyangka air sedahsyat itu, dan korbannya juga besar sekali, padahal air naik hanya sekitar 20 menit. Gelombang air hampir setinggi pohon kelapa. Warga di tiga kampung ini nyaris habis seluruhnya," katanya.

Ia menyebutkan banyak nama yang satu keluarga tewas atau hilang semuanya di desanya. "Dengan kata lain, satu generasi habis semuanya," katanya.

Misalnya, Mohammad Labi yang tewas bersama istri, 8 anaknya, mertua, dan 4 orang adiknya. Adik istrinya yang menikah dan rumahnya berdekatan dengannya juga meninggal bersama suami dan 6 anaknya.

Menurut PBB, lebih dari setengah korban tsunami di Asia adalah anak-anak. Pemerintah Indonesia sendiri menyebutkan korban gempa dan tsunami di Aceh diperkirakan lebih dari 166 ribu orang, sementara penemuan mayat hingga hari ke-28 pasca gempa dan tsunami masih terus berlangsung, seperti di Lhok Nga, Lampulo, atau Melabuoh.ant

Copyright © 2003 Banjarmasin Post


Nusantara
Dijenguk Istri, Adiguna Tersenyum

Jamaah Boleh ‘Absen’ Shalat Jumat


Lari 10 K Dilirik Guiness Book


Bunda Sudah Diambil Air


Swedia Terus Proses Petinggi GAM


Pelecehan Seksual Aceh Diselidiki


Banjarmasin Post Group Jl Haryono MT 143/54 Banjarmasin 70111 Phone: +62-511-54370 Fax: +62-511-66123