RUHUL Arafah (4) tampak duduk termenung di reruntuhan bangunan rumahnya di Dusun
Bubuh, Desa Lampuuk, Aceh Besar, sementara matanya tidak lepas-lepas memandang ke arah
laut yang tampak tenang dan damai.
Gadis kecil yang kini sebatang kara itu masih sulit diajak berbicara, dan lebih suka
berdiam diri. Sementara itu, dua orang yang mengaku masih sebagai keluarga sepupunya,
Asnawi dan Asnoni, tampak mencuci karpet atau mencari sisa-sisa barang yang masih bisa
dipakai.
Ruhul Arafah ketika teringat ibunya akan selalu menangis, dan kemudian meminta Asnawi
atau Asnoni, membawanya ke reruntuhan rumahnya dari kamp pengungsian Posko Raya yang
jaraknya sekitar 8 Km.
"Ketika teringat ibunya, Ruhul akan bilang antarkan saya kepada Bunda. Kami
kemudian pergi ke reruntuhan rumahnya. Setelah melihat puing-puing rumahnya, ia kemudian
akan bilang Bunda tidak ada lagi, sudah diambil air," kata Asnoni.
Ruhul sebelum gempa dan tsunami itu terjadi telah kehilangan ayahnya, dan tinggal
bersama ibunya di rumah kakek-neneknya. Setelah tsunami datang, ia kehilangan ibu dan
kakek-neneknya.
Ruhul sendiri bisa selamat karena sempat dinaikkan Asnoni ke sepeda motornya. Padahal,
gelombang air saat itu diperkirakan tingginya sekitar 20 meter, dan menghancurkan kampung
mereka, termasuk desa-desa berdekatan, seperti Ueraya, Lam Krueng, dan Moni Krueng,
Kabupaten Aceh Besar.
Menurut Asnoni, ketika orang berteriak-teriak tentang datangnya gelombang air, Ruhul
langsung keluar rumah sebagaimana dilaksanakan penduduk lainnya, sementara ia sendiri saat
itu tengah di atas sepeda motornya. Ia kemudian mengejar Ruhul, dan langsung menaikkannya
ke atas sepeda motornya, dan segera memacunya ke arah pebukitan.
"Ibunya Ruhul saat itu tengah berada di rumahnya, sebagaimana juga ibu saya. Saya
tidak sempat lagi memanggil keluarga, karena air sudah seatap rumah. Karenanya, motor
langsung saya larikan. Saya kemudian melihat Ruhul berlari, dan ia langsung saya naikkan
ke sepeda motor saya," katanya.
Ruhul kini tinggal di Posko Raya bersama Asnawi dan Asnoni dengan kondisi sangat
memprihatinkan. Sebagaimana anak-anak pengungsi lainnya, ia juga sempat sakit, seperti
diare dan demam.
Jumlah penduduk keempat kampung itu diperkirakan lebih dari 8 ribu orang, dan sebagian
besar adalah anak- anak. "Mayat yang ditemukan baru setengah, sehingga kami tidak
tahu kemana yang setengahnya lagi," katanya.
"Kami tidak nyangka air sedahsyat itu, dan korbannya juga besar sekali, padahal
air naik hanya sekitar 20 menit. Gelombang air hampir setinggi pohon kelapa. Warga di tiga
kampung ini nyaris habis seluruhnya," katanya.
Ia menyebutkan banyak nama yang satu keluarga tewas atau hilang semuanya di desanya.
"Dengan kata lain, satu generasi habis semuanya," katanya.
Misalnya, Mohammad Labi yang tewas bersama istri, 8 anaknya, mertua, dan 4 orang
adiknya. Adik istrinya yang menikah dan rumahnya berdekatan dengannya juga meninggal
bersama suami dan 6 anaknya.
Menurut PBB, lebih dari setengah korban tsunami di Asia adalah anak-anak. Pemerintah
Indonesia sendiri menyebutkan korban gempa dan tsunami di Aceh diperkirakan lebih dari 166
ribu orang, sementara penemuan mayat hingga hari ke-28 pasca gempa dan tsunami masih terus
berlangsung, seperti di Lhok Nga, Lampulo, atau Melabuoh.ant