Irak, BPost
Setelah bom mobil meledak di Masjid Al-Taf di Bahgdad barat daya menewaskan 18
dari kelompok Syiah yang lagi merayakan hari raya Idul Adha, bom kembali menggungcang
Irak, Jumat malam. Sekurangnya 12 orang tewas dan 25 orang lainnya luka-luka dalam
serangan bunuh diri terhadap satu pesta pernikahan Syiah sebelah selatan Baghdad, kata
kepala desa tempat terjadinya ledakan Sabtu.
"Empat anak, seorang wanita dan tujuh pria tewas dalam satu serangan ke rumah Zayd
Abbas al-Amiri di desa Albu Amer di Yusufiyah sekitar 20 km sebelah selatan ibukota
Irak," kata kepala desa itu dengan syarat namanya tidak disebutkan.
Serangan itu dilakukan dengan memasang bom dalam mobil ambulan yang dikemudikan pelaku
bom bunuh diri Jumat malam, kata polisi.
"Bom bunuh diri meledak pukul 19.55 (pukul 23.55 WIB) di sebuah tempat di mana
pesta pernikahan sedang berlangsung dan banyak tamu," katanya. Ledakan itu, jelasnya,
terjadi di sebuah daerah gerilyawan Mahmudiyah.
Sementara di kota Nasiriyah, seorang anggota kontingen militer Italia di Irak tewas di
kota tersebut, Jumat. Ia tewas ketika helikopter yang membawanya diserang tembakan.
Prajurit itu dibawa ke sebuah rumah sakit di mana ia tewas akibat luka-luka yang
dideritanya.
Menteri Pertahanan Antonio Martino mengatakan sangat sedih dengan peristiwa ini.
Helikopter itu sedang berpatroli di sepanjang sungai Efrat sebelah selatan Nasiriyah
ketika diserang tembakan. Keadaan sangat tegang di kota itu di mana patroli Portugal
ditembaki sebelum serangan terhadap pasukan Italia tersebut.
Italia menempatkan sekitar 3.000 prajurit di Irak selatan. Martino mengatakan, daerah
itu di bawah kendali pasukan Italia sangat tidak aman dari upaya-upaya kelompok yang
menentang pemerintah (Irak) dan koalisi (pimpinan AS) untuk mengacaukan proses pemilihan
umum di Irak.
Peristiwa lain, kelompok tokoh Al-Qaeda di Irak Abu Musab al-Zarqawi menyiarkan sebuah
rekaman video di Internet, Jumat, yang memperlihatkan pemenggalan kepala dua orang Irak
setelah mereka "mengaku" bekerja di sebuah pangkalan Amerika di negara tersebut.
Orang-orang itu mengidentifikasi diri mereka sebagai Ali Hussein Jassem Mohammad
al-Zubaidi dan Ahmad Alwan Hussein al-Mahmadawi, keduanya warga Kota Sadr, sebuah kawasan
kumuh Syiah di Baghdad.
Mereka menyatakan bekerja di sebuah pangkalan AS di Ramadi, kota yang menjadi benteng
gerilyawan muslim Sunni yang terletak sebelah barat Baghdad.
Zubaidi mengatakan, ia mengira akan bekerja untuk sebuah perusahaan Lebanon yang
bernama Safwan namun kemudian mendapati dirinya bekerja di pangkalan AS.
Baik ia maupun Mahmadawi, yang mengatakan bahwa ia seorang "supir truk
minyak", mendesak mereka yang bekerja untuk pasukan Amerika untuk berhenti atau
menghadapi kematian.
Setelah "pengakuan" mereka di depan sebuah spanduk yang bertuliskan Kelompok
Jihad Al-Qaeda di Tanah Dua Sungai yang dipimpin Zarqawi, rekaman video itu menunjukkan
masing-masing dari kedua orang itu dipenggal kepalanya.
Kepala yang terputus ditenteng oleh pelaku pemenggalan dan kemudian ditempatkan di
punggung kedua orang itu dengan teriakan Allahu Akbar (Allah Maha Besar).
Tayangan pemenggalan itu, yang melibatkan empat orang, diikuti dengan sebuah peringatan
tertulis dari kelompok tersebut yang mengatakan "siapa pun yang membantu pasukan
pendudukan musuh dalam cara apa pun" akan menemui nasib yang sama.ap