IZIN mudik ke kampung halaman benar-benar dimanfaatkan oleh Gubernur nonaktif
Abdullah Puteh. Sabtu (22/1), Puteh --tersangka kasus tindak pidana korupsi pembelian
helikopter-- tiba di Banda Aceh.
Tanpa diborgol, namun dengan penjagaan ekstra ketat dari beberapa anggota Brimob, Puteh
ke Aceh untuk melihat sanak saudara dan kerabat serta ratusan ribu warganya yang menjadi
korban gempa dan tsunami, 26 Desember silam.
Ratusan orang menyambut kedatangan Puteh di Lapangan Blang Bintang. Puteh juga
melakukan Shalat Ghaib bersama di Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh.
Isak tangis kerabatnya menyambut kehadiran Puteh di pendopo gubernuran. "Kita
ikhlaskan semuanya karena itu adalah kehendak Allah," tutur Puteh menghibur keluarga
dan kerabatnya.
Musibah gempa dan tsunami telah merenggut tujuh anggota keluarganya.
Sejumlah politisi, ulama, dan kerabatnya, terlihat antre ingin bertemu dengan Puteh.
Namun karena keterbatasan waktu, dan banyaknya tamu, Puteh hanya sempat melayani beberapa
orang.
"Beliau ingin sekali mengelilingi Banda Aceh dan melihat pengungsi. Namun entah
mengapa urung dilakukan. Ada kabar aktivitas beliau dibatasi," kata satu kerabatnya.
Ketika meninjau pengungsi di seputar halaman gedung TVRI Banda Aceh, Puteh
berbincang-bincang dan menanyakan kondisi mereka. Puteh minta agar pengungsi diperlakukan
sesuai budayanya.
"Kepada saya mereka mengungkapkan kebutuhan pangan dan sandang sudah cukup. Kini
mereka butuh bantuan uang kontan atau uang pelipur lara untuk belanja kebutuhan yang belum
tersedia di pengungsi," kata Puteh.
Uang kontan itu, sebut dia, untuk belanja harian jajan anak-anak mereka di pengungsian.
Misalnya, untuk jajan es, bombon, roti dan sebagainya. Sedangkan bagi orangtua untuk beli
rokok dan kebutuhan lainnya.
"Pmberian uang kontan bagi orang yang sedang susah, merupakan bagian budaya Aceh
yang sulit ditinggalkan," jelas Puteh.
Kecuali itu, Puteh menyarankan menu makanan pengungsi perlu ada kombinasi. Mi instan
dan sarden yang disalurkan ke kamp-kamp pengungsi, sudah sangat baik.
"Orang Aceh itu lebih suka makan ikan asin atau ikan teri, daripada mi instan atau
sarden," ungkapnya.
Dia meminta warganya tidak larut dalam kesedihan, melainkan bangkit membangun kembali
negeri yang sudah rusak dan hancur untuk menata masa depan yang lebih baik, serta
meningkatkan rasa persaudaraan yang tinggi, dan keimanan kepada Allah SWT.
Puteh juga menyarankan masyarakat Aceh tidak perlu terlalu curiga kehadiran organisasi
badan-badan dunia, dan negara-negara adidaya.
Kewaspadaan dalam menerima bantuan perlu, namun kecurigaan terhadap bantuan yang
diberikan tidak perlu berlebihan.
Dia mengucapkan terima kasih kepada pemerintah pusat, TNI/Polri, badan-badan
oraganisasi Internasional, relawan luar dan lokal, serta pihak lainnya yang telah membantu
penanganan kemanusian bagi rakyat NAD yang tertimpa bencana tsunami. si/mal/her