:: Kompas Cyber Media ::

[::] Portal Berita Daerah [::]

Metro Banjar • Serambi Ummah • BëBAS • Diafragma • PASAR • INTECH

Berita Cetak
MAIN PAGE
Berita Utama
Nusantara
B O R N E O
+Trans Kalimantan
Banjarmasin Plus

Persona
BELI@
Olahraga
Keluarga & Gaya hidup
Internasional
Berita Kemarin
Info Data & Media
Banjarmasin Post
Susunan Redaksi

Pasang Iklan
Order Cetak
Berlangganan
Supporting By

Minggu, 23 Januari 2005 02:19


Pengungsi Perlu Uang Kontan

IZIN mudik ke kampung halaman benar-benar dimanfaatkan oleh Gubernur nonaktif Abdullah Puteh. Sabtu (22/1), Puteh --tersangka kasus tindak pidana korupsi pembelian helikopter-- tiba di Banda Aceh.

Tanpa diborgol, namun dengan penjagaan ekstra ketat dari beberapa anggota Brimob, Puteh ke Aceh untuk melihat sanak saudara dan kerabat serta ratusan ribu warganya yang menjadi korban gempa dan tsunami, 26 Desember silam.

Ratusan orang menyambut kedatangan Puteh di Lapangan Blang Bintang. Puteh juga melakukan Shalat Ghaib bersama di Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh.

Isak tangis kerabatnya menyambut kehadiran Puteh di pendopo gubernuran. "Kita ikhlaskan semuanya karena itu adalah kehendak Allah," tutur Puteh menghibur keluarga dan kerabatnya.

Musibah gempa dan tsunami telah merenggut tujuh anggota keluarganya.

Sejumlah politisi, ulama, dan kerabatnya, terlihat antre ingin bertemu dengan Puteh. Namun karena keterbatasan waktu, dan banyaknya tamu, Puteh hanya sempat melayani beberapa orang.

"Beliau ingin sekali mengelilingi Banda Aceh dan melihat pengungsi. Namun entah mengapa urung dilakukan. Ada kabar aktivitas beliau dibatasi," kata satu kerabatnya.

Ketika meninjau pengungsi di seputar halaman gedung TVRI Banda Aceh, Puteh berbincang-bincang dan menanyakan kondisi mereka. Puteh minta agar pengungsi diperlakukan sesuai budayanya.

"Kepada saya mereka mengungkapkan kebutuhan pangan dan sandang sudah cukup. Kini mereka butuh bantuan uang kontan atau uang pelipur lara untuk belanja kebutuhan yang belum tersedia di pengungsi," kata Puteh.

Uang kontan itu, sebut dia, untuk belanja harian jajan anak-anak mereka di pengungsian. Misalnya, untuk jajan es, bombon, roti dan sebagainya. Sedangkan bagi orangtua untuk beli rokok dan kebutuhan lainnya.

"Pmberian uang kontan bagi orang yang sedang susah, merupakan bagian budaya Aceh yang sulit ditinggalkan," jelas Puteh.

Kecuali itu, Puteh menyarankan menu makanan pengungsi perlu ada kombinasi. Mi instan dan sarden yang disalurkan ke kamp-kamp pengungsi, sudah sangat baik.

"Orang Aceh itu lebih suka makan ikan asin atau ikan teri, daripada mi instan atau sarden," ungkapnya.

Dia meminta warganya tidak larut dalam kesedihan, melainkan bangkit membangun kembali negeri yang sudah rusak dan hancur untuk menata masa depan yang lebih baik, serta meningkatkan rasa persaudaraan yang tinggi, dan keimanan kepada Allah SWT.

Puteh juga menyarankan masyarakat Aceh tidak perlu terlalu curiga kehadiran organisasi badan-badan dunia, dan negara-negara adidaya.

Kewaspadaan dalam menerima bantuan perlu, namun kecurigaan terhadap bantuan yang diberikan tidak perlu berlebihan.

Dia mengucapkan terima kasih kepada pemerintah pusat, TNI/Polri, badan-badan oraganisasi Internasional, relawan luar dan lokal, serta pihak lainnya yang telah membantu penanganan kemanusian bagi rakyat NAD yang tertimpa bencana tsunami. si/mal/her

Copyright © 2003 Banjarmasin Post


Berita Utama
Mina Diterjang Badai

Pengungsi Perlu Uang Kontan


Chelsea Makin Tak Terkejar


20 Tahun Tak Tidur


Hari ini Sjachriel Diuji


Nilainya Baru 6 Minus


PLTD Itu Terbawa Hingga 2,5 km


Puisi-Puisi Aceh


Sudah 100 Ribu Mayat Dikubur


Amien Mundur, Oposisi Kendor


Tak Ada Kejadian Di Jamarot


Ambulan Meledak Di Pesta Pernikahan


Departemen Kominfo Jangan Jadi ‘Deppen’


Banjarmasin Post Group Jl Haryono MT 143/54 Banjarmasin 70111 Phone: +62-511-54370 Fax: +62-511-66123