MENDEKATI 100 hari pertama pemerintahan, kinerja pemerintahan Susilo Bambang
Yudhoyono-M Jusuf Kalla masih jauh dari harapan. Kalangan pengamat politik memberi nilai
kinerja pemerintahan belum sampai angka enam, tapi di atas angka lima.
"Persisnya, enam minus," kata pengamat politik dari Center for Stretegi and
International Studies (CSIS), j Kristiadi di sela diskusi membedah topik Kinerja
Kabinet Indonesia Bersatu, di Jakarta, Sabtu (22/1). Ikut hadir dalam diskusi Sarwono
Kusumaatmadja dan Menkominfo Sofyan Djalil.
Kristiadi memakai dua kriteria untuk menilai kinerja pemerintahan duet Yudhoyono-Kalla.
Pertama, dari segi substansial, dan kedua dari usaha (apa yang selama ini telah mereka
perbuat).
"Kalau dari usahanya, saya menilai delapan. Angka delapan ini diberikan karena
ketika, pemerintahan kabinet ini harus menangani tsunami, cukup banyak figur menteri di
kabinet yang menunjukkan upaya serius menangani para korban," jelas Kristiadi.
Namun, dari segi substansial, yakni esensi serta hasil akhir dari seluruh upaya yang
telah diperbuat kabinet, dia menilai hanya enam minus.
Senada dengan Kristiadi, Sarwono Kusumaatmadja juga menilai, kinerja kabinet
Yudhoyono-Kalla masih jauh dari memuaskan. Secara administratif, sebut dia, ada banyak
kecerobohan yang dilakukan pemerintahan kabinet Yudhoyono. Contohnya, terbitnya SK Wapres
tentang tim penanggulangan bencana tsunami di Aceh dan Nias.
"Cuma saya tidak bisa kasih angka berapa buat mereka karena angkanya nggak
ada," kelakar mantan anggota kabinet di masa Soeharto berkuasa ini.
Kristiadi sendiri mengamati 90 hari terakhir, pemerintahan Yudhoyono-Kalla belum
memiliki program prioritas yang jelas. Langkah awal cukup baik yakni adanya menteri
melakukan gebrakan dengan memindahkan koruptor ke Nusakambangan.
"Namun kelanjutan penangkapan terhadap koruptor kakap lain masih jadi tanda
tanya," cetus Kristiadi.
Belum ganti dirjen
Menteri Informasi dan Komunikasi Sofyan Djalil sendiri tak menampik bahwa belum semua
ekspektasi (harapan) masyarakat saat awal Yudhyono terpilih menjadi presiden, telah
dipenuhi dalam kurun hampir tiga bulan pertama pemerintahan. Namun dia berkilah, istilah
gebrakan 100 hari pemerintahan telah banyak disalahtafsirkan.
"Saat awal terpilih, ekspektasi masyarakat memang luar biasa besar. Istilah 100
hari saya nilai sudah banyak disalahtafsirkan. Tidak ada miracle (keajaiban) yang
bisa diperbuat hanya dalam tempo 100 hari. Tapi apa yang sudah dicapai selama ini telah
dilakukan kabinet Indonesia Bersatu dengan kerja keras," paparnya.
Di kalangan kabinet sendiri, jelas dia, hari Minggu tak beda dengan hari biasa, di mana
semua anggota kabinet terus menerus bekerja.
"Itu sebannya, berilah kesempatan karena masa kerja kabinet ini masih akan
berlangsung empat tahun lebih," ucap Sofyan.
Dia juga menyatakan, pemerintahan Yudhyono masih belum akan mengganti pejabat setingkat
menteri dan direktur jenderal (dirjen) dalam waktu dekat. "Karena kabinet kami butuh
kesinambungan," ungkap Sofyan JBP/fin