"Kapal (PLTD) itu menahan tsunami dan menyelamatkan ratusan nyawa"
ADA banyak kisah di balik dahsyatnya gempa dan gelombang tsunami yang
memporandakan Aceh, 26 Desember lalu. Salah satu bukti dahsyatnya gelombang tsunami adalah
terhempasnya PLTD (pembangkit listrik tenaga diesel) Apung (terapung) milik PLN seberat
200 ton (225 ton termasuk BBM) dari tambatannya di komplek dermaga Ulelheu Banda Aceh.
PLTD berbentuk kapal itu terbawa arus gelombang hingga ke kawasan Punge Blang Cut yang
jaraknya (perhitungan garis lurus) tidak kurang 2,5 kilometer. Masya Allah!
Hingga kemarin --empat pekan pascabencana-- PLTD Apung itu masih teronggok di antara
puing-puing bangunan.
Kawasan Punge Blang Cut sebelum bencana terjadi merupakan kawasan padat penduduk.
Hebatnya, meski terlempar hampir tiga kilometer, PLTD itu tetap utuh.
"Tak ada kerusakan apa-apa. Kalaupun sekarang difungsikan, masih bisa," kata
Subaktian, koordinator Posko Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) kepada, di pendopo Gubernur
Nangroe Aceh Darussalam (NAD), Banda Aceh, Sabtu (22/1).
Kisah PLTD Apung tak sebatas menjadi simbol dahsyatnya gelombang tsunami. Pembangkit
listrik itu juga menjadi simbol heroik di tengah bencana dahsyat tersebut.
Setidaknya pengakuan satu keluarga dari kawasan Punge Blang Cut yang selamat dari
hantaman gelombang tsunami, karena bantuan PLTD Apung.
Menyusul gempa dahsyat pada Minggu (26/12) pagi, semua orang cemas dan takut. Semua ke
luar rumah mencari tempat-tempat yang dinilai aman untuk berlindung dari reruntuhan
bangunan.
Adalah keluarga Midun (46) bersama istrinya, Idah (40) dan beberapa anaknya. Ketika
bencana itu mengguncang Desa Punge Blang Cut, Banda Aceh, sebagaimana orang-orang lainnya,
Midun bersama anak-istrinya serta menantu perempuan yang sedang hamil tua berkumpul di
luar rumah.
Belum lagi hilang panik akibat gempa, tiba-tiba terdengar jeritan hiksteris air laut
naik. Semua berlarian mencari selamat, termasuk keluarga besar Midun.
Menurut cerita keluarga Midun yang bertempat tinggal di kawasan Lambhuk Ulee Kareng, di
tengah kejaran gelombang tsunami maha dahsyat itu, mendadak para korban melihat sebuah
kapal diseret gelombang. Kapal itu diseret posisi melintang. Dengan posisi kapal seperti
itu, gelombang dari arah belakang tertahan di badan kapal, sehingga ada celah air kosong
di bagian depan.
"Terbentuk seperti parit besar tanpa air di bagian depan kapal. Di situlah
orang-orang berlarian menyelamatkan diri. Lengah sedikit akan digilas kapal dan gelombang
yang datang dari kiri-kanan," ungkap satu korban yang selamat dari amukan tsunami.
Tidak gampang memang menyelamatkan diri dari terkaman tsunami dahsyat itu. Tapi kalau
Allah SWT berkehendak seseorang itu selamat, maka tak ada yang bisa mencegahnya. Itulah
yang dialami keluarga Midun. Seluruh anggota keluarganya luput dari maut setelah dikejar,
bukan hanya oleh gelombang tetapi juga oleh kapal (yang ternyata PLTD Apung). Bahkan,
menantu perempuannya yang sedang hamil tua selamat, dan kini dilaporkan sudah melahirkan
di sebuah rumah sakit di Medan.
Lalu, bagaimana kondisi PLTD Apung sendiri?
Menurut Subaktian, koordinator Posko ESDM di pendopo Gubernur NAD, meski terhempas
sejauh 2,5 kilometer dari tambatannya namun PLTD itu tak kurang suatu apapun. Menurut
seorang relawan dari UNDP (United Nations Development Programme), Phill Elders,
butuh waktu sebulan mengangkat kembali PLTD Apung itu ke tempat semula, di Ulelheu.
Perusahaan yang dilaporkan mampu untuk tugas itu adalah Kellihers Electrical.
"Kami mengatakan pihak PLN oke-oke saja kalau mereka punya donatur untuk tugas
tersebut, karena program penempatan kembali PLTD Apung ke tempat semula belum termasuk
prioritas untuk sementara ini," ucap Subaktian. SI/nasir nurdin