:: Kompas Cyber Media ::

[::] Portal Berita Daerah [::]

Metro Banjar • Serambi Ummah • BëBAS • Diafragma • PASAR • INTECH

Berita Cetak
MAIN PAGE
Berita Utama
Nusantara
B O R N E O
+Trans Kalimantan
Banjarmasin Plus

Persona
BELI@
Olahraga
Keluarga & Gaya hidup
Internasional
Berita Kemarin
Info Data & Media
Banjarmasin Post
Susunan Redaksi

Pasang Iklan
Order Cetak
Berlangganan
Supporting By

Minggu, 23 Januari 2005 02:20


Sudah 100 Ribu Mayat Dikubur

Banda Aceh, BPost
Hingga saat ini sudah hampir 100 ribu mayat dimakamkan pascagempa dan tsunami di Propinsi Nangroe Aceh Darussalam (NAD). Sebanyak 132.172 orang masih dinyatakan hilang pascatragedi gempa dan tsunami 26 Desember lalu.

Menurut Media Center Lembaga Informasi Nasional yang diterima Sabtu (22/1), laporkan total korban meninggal di Aceh mencapai 166.520 orang. Sedangkan korban meninggal di Sumatera Utara akibat bencana itu mencapai 240 orang.

Hingga kemarin relawan masih terus menemukan mayat-mayat korban gempa dan tsunami di sejumlah kabupaten di Aceh. Bahkan, jumlah temuan mayat dari hari ke hari semakin bertambah. Mayat-mayat itu ditemukan di bawah reruntuhan gedung atau rumah dan semak belukar.

Posko Penanggulangan Bencana melaporjan, tim evakuasi dan relawan yang bertugas dalam jangka waktu satu hari bisa menemukan dan menguburkan secara massal sebanyak 731 mayat. Mayat-mayat itu umumnya ditemukan di Kota Banda Aceh dan Aceh Besar.

Menurut Posko Penanggulangan Bencana, jumlah korban selamat yang menetap di lokasi pengungsian hingga kini sebanyak 394.285 jiwa. Mereka ditampung tersebar di 64 lokasi pengungsiana di 16 kabupaten.

Kegiatan evakuasi dan penguburan massal terhadap mayat-mayat korban gempa dan tsunami, menurut Menko Kesra Alwi Shihab, akan terus berlangsung. Diakui, kegiatan evakuasi jenazah masih banyak menghadapi kendala. Antara lain, medan (lokasi jenazah) yang sulit dijangkau, lokasi masih tergenang air, berlumpur dan banyak sampah yang belum berhasil dibersihkan.

"Lokasi yang diperkirakan masih ada jenazah hingga kini masih banyak air, lumpur dan tumpukan sampah," jelas Alwi.

Namun demikian, sebut dia, pemerintah dan sularelawan lainnya tetap berupaya keras untuk mengatasi kendala yang terjadi.

Pengungsi Di-mark-up

Sementara itu, Government Watch (GOWA) menemukan indikasi terjadinya penggelembungan jumlah pengungsi korban gempa bumi dan tsunami di Banda Aceh dan Meulaboh, Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) hingga mencapai 20 kali lipat.

"Kita telah menemukan mark up jumlah pengungsi yang nanti bisa menimbulkan praktik korupsi," kata Farid R Fakih, koordinator lembaga swadaya masyarakat, itu di Banca Aceh.

Kata Farid, Pemda Banda Aceh menyebut jumlah pengungsi di kantor walikota lebih dari 18.000 orang. Namun setelah dicek aparat korem setempat, ternyata jumlah pengungsi hanya 900 orang.

"Hal yang sama juga terjadi di Pemda Meulaboh dimana pemda setempat melaporkan jumlah pengungsi di SMA 1 Meulaboh sebanyak 10.000. Namun ketika diperiksa dinas kesehatan setempat, jumlah pengungsi hanya sekitar 500 orang," bebernya.

Karenanya, sebut dia, terjadi mark up data pengungsi 20 kali lebih banyak dari jumah sebenarnya. Menurut Farid, terjadinya penggelembungan jumlah pengungsi itu akan rawan terhadap korupsi pada bantuan dan proyek, terutama setelah memasuki tahap rehabilitasi dan konstruksi.

Misalnya, jumlah pengungsi hanya 900 orang kemudian dilaporkan ada 20.000 orang agar dana yang dicairkan untuk membangun rumah sebanyak pengungsi yang dilaporkan.

Relawan Prancis Meninggal

Sementara itu, jenazah Alain Richard Patrick (59), relawan asal Peruqueox, Perancis yang meninggal dunia di Kabupaten Nias, Sumatera Utara, Kamis (20/1) lalu, masih terbujur kaku di ruang mayat rumah sakit (RS) Pirnga Medan.

Alain meninggal saat menjalankan tugas kemanusiaan di lokasi bencana gempa dan tsunami. Hingga tadi malam belum diketahui penyebab kematian pria yang sehari-hari bekerja sebagai pengacara ini.

Jenazah Alain dikirim ke RS Pirnga Medan Jumat (21/1) untuk keperluan otopsi. Namun hingga kini, mayatnya masih terbujur di ruang mayat karena dokter rumah sakit tak berani melakukan otopsi tanpa persetujuan keluarga Alain dan Kedutaan Perancis di Jakarta.

"Meski kepolisian di Nias meminta korban diotopsi, namun tim dokter belum melakukannya. Sebab, otopsi hanya bisa dilakukan apabila tim dokter sudah menerima persetujuan dari pihak keluarga atau setidaknya persetujuan dari Kedutaan Perancis," kata petugas jaga kamar mayat RS Pirngadi Medan, dr Nurbama Syarif, Sabtu.

Kapolres Nias Ajun Komisaris Besar Janner HR Pasaribu dikonfirmasi melalui sambungan telepon seluler mengatakan, polisi di Nias belum mengetahui penyebab kematian korban. Namun dugaan sementara, korban meninggal akibat serangan jantung.si/lau/ant

Copyright © 2003 Banjarmasin Post


Berita Utama
Mina Diterjang Badai

Pengungsi Perlu Uang Kontan


Chelsea Makin Tak Terkejar


20 Tahun Tak Tidur


Hari ini Sjachriel Diuji


Nilainya Baru 6 Minus


PLTD Itu Terbawa Hingga 2,5 km


Puisi-Puisi Aceh


Sudah 100 Ribu Mayat Dikubur


Amien Mundur, Oposisi Kendor


Tak Ada Kejadian Di Jamarot


Ambulan Meledak Di Pesta Pernikahan


Departemen Kominfo Jangan Jadi ‘Deppen’


Banjarmasin Post Group Jl Haryono MT 143/54 Banjarmasin 70111 Phone: +62-511-54370 Fax: +62-511-66123