BIODATA |
Nama |
Untung Sunaryo Bc IP SH MBL |
Lahir |
Semarang, 17 April 1951 |
Hobi |
Karate dan musik |
Agama |
Islam |
Pendidikan |
SD 1964 di Semarang, SMPN2 1967 di Semarang, SMAN2 1970 di
Semarang, AKIP 1974 di Jakarta, S1 1997 di Serang, S2 2002 di Semarang. |
Isteri |
Nurhayati Tilaar |
Anak |
Wahyu Nurhayanto (PNS Rutan Sidoarjo) |
|
Donni Isa Dermawan PNS LP Khusus Narkoba Cipinang |
|
Bonni Alim Hidayat Mahasiswa Fak Hukum Undip Smrg |
Riwayat Pekerjaan |
Kasi Pembinaan Pas di Ternate 1978 |
|
Kasi Pembinaan Pas di Pekalongan 1980 |
|
Kasi Pembinaan Nadik LP Klas 1 Pekalongan 1984 |
|
Kepala Lapas di Brebes 1985 |
|
Ka Rutan Muara Enim Sumatera Selatan 1986 |
|
Ka Rutan Pandeglang 1990 |
|
Ka Rutan Klas 1 Cirebon 1994 |
|
Kalapas di Sidoarjo 1998 |
|
Kabid Pas Kanwil Dephukum-Perundang2an Kalbar 2000 |
|
Kalapas Palangka Raya 2002 |
|
Kalapas Banjarmasin 2004 |
Menjadi aparat penegak hukum adalah keinginannya sejak kecil, makanya begitu mengetahui
Departemen Kehakiman di Jakarta memerlukan taruna baru, selepas SMA langsung masuk ke AKIP
meski awal mulanya tidak tahu akan menjadi apa. Yang saya tahu, begitu lulus dapat
langsung kerja dan dapat mengamalkan ilmu yang didapat. Dan memang benar adanya, begitu
lulus pendidikan langsung mendapat pekerjaan meski bukan sebagai polisi atau tentara.
Yang jelas, pekerjaan yang ditekuninya amatlah mulia membina orang-orang yang bersalah
ke jalan yang benar. Makanya sistem yang diterapkan adalah pendekatan secara kekeluargaan.
Pengalaman menarik yang tak terlupakan, ketika bertugas di lapas Ternate sekitar tahun
1976. Ketika itu ada satu napi yang masih muda namun sudah masuk lapas ke 9 kalinya dalam
kasus pencurian. Padahal orang tersebut dari keluarga mampu, namun karena pengaruh
lingkungan akhirnya orang tuanya tak bisa membina lagi.
Saya tertarik untuk memperbaiki jalan hidupnya. Makanya, begitu keluar dari lapas saya
titipkan keluarga di Jakarta agar dicarikan pekerjaan. Setelah itu tak tahu lagi kabar
beritanya.
Ketika saya mengikuti Sepadya di Pandeglang Banten tahun 1993, saya bersama rombongan
makan di satu restoran hotel berbintang di Jakarta, ketika mau membayar ternyata sudah ada
yang membayarinya. Setelah ditanya ke kasir, ternyata yang membereskan chief security hotel
tersebut. Karena penasaran, saya menemui orang tersebut dan tak mengenalnya, namun begitu
ia menyebut bapak angkat, saya baru teringat ia bekas binaan yang dihijrahkan ke Jakarta
tahun 1976 lalu. "Rasanya bangga sekali warga binaannya bisa menjadi orang,"
kata Untung.
Hal itu menambah semangat untuk membina napi lainnya agar dapat hidup ke jalan yang
benar setelah keluar dari lapas. Makanya penanaman Imtaq terus digalakkan dengan
pendekatan secara kekeluargaan.
Di samping kesibukannya membina lapas, hobi olah raga tetap digelutinya, terutama
sebagai pelatih karate pemegang sabuk DAN IV dengan melatih para petugas lapas. Pihaknya
juga bersedia menularkan ilmunya melatih para satpam dan lainnya yang menginginkannya.