:: Kompas Cyber Media ::

[::] Portal Berita Daerah [::]

Metro Banjar • Serambi Ummah • BëBAS • Diafragma • PASAR • INTECH

Berita Cetak
MAIN PAGE
Berita Utama
Nusantara
B O R N E O
+Trans Kalimantan
Banjarmasin Plus

Persona
BELI@
Olahraga
Keluarga & Gaya hidup
Internasional
Berita Kemarin
Info Data & Media
Banjarmasin Post
Susunan Redaksi

Pasang Iklan
Order Cetak
Berlangganan
Supporting By

Minggu, 23 Januari 2005 01:38


Rekaman Pengalaman Hidup Seorang Skizofrenia

Cerita di dalam buku ini adalah kisah nyata yang telah dlalui oleh penulis ceritanya menjadi istimewa karena penulis adalah mantan penghuni Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Pakem Yogyakarta, ia menderita skizofrenia lebih dari lima tahun, sejak 1997 dan dikatakan sembuh oleh dokter tahun 2002.

Semua pengalamannya selama "gila" dituangkan dalam buku berupa pengalaman yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya: lucu, unik, bodoh dan menakutkan.

Buku ini oleh editor dibagi menjadi tiga bagian, sehingga pembaca lebih memahami dan menikmati buku ini. Bagian pertama berisi tuturan penulis tentang latar belakang cinta dan rumah tangga sang penulis yang kandas terhempas kemudian menjadi sebab mula terampasnya kewarasan sang penulis.

Bagian kedua berkisah tentang pengalaman-pengalaman penulis pada saat gila. Pada bagian inilah penulis mengajak pembaca memasuki alam dunianya sebagai seorang pengidap skizofrenia yang mengalami waham kebesaran atau dalam bahasa psikiatri dikenal sebagai delusion of grandeur. Kisah-kisah pengembaraan penulis di suatu alam khayali tapi asli, sebuah alam majinasi tapi nonfiksi yang sungguh berbeda dengan alam manusia biasanya. Bagian tiga berisi proses pulihnya kewarasan sang penulis.

Penulis adalah anak kelima dari enam bersaudara dilahirkan di Probolinggo, Jawa Timur, pada tanggal 11 September 1974. Sebelum sampai pada pengalaman tragis penulis yang merenggut kewarasannya, penulis menceritakan rentetan kisah yang mendahuluinya. Cerita hidupnya inilah yang memicu penulis menderita skizofrenia.

Pengalaman merajut rasa kangen dan malu sudah dirasakan penulis sejak kelas 6 SD. Cinta pertama yang sebagian orang menyebutnya ‘cinta monyet’ dialami saat menghabiskan liburan panjang di Yogyakarta, di tempat kakak penulis. Cinta pertama dengan Hanafi, sebut saja namanya demikian, anak seorang tokoh pimpinan organisasi keagamaan terbesar di Yogyakarta.

Menyadari tidak lagi mudah untuk bertemu langsung dengan Hanafi, sementara rasa rindu begitu menggebu, Hanafi mengirim surat cinta yang pertama. Penulis sangat gembira dan segera membalas dengan gempita. Hanafi pun membalas dengan surat cinta yang kedua, tidak kalah suka citanya. Saat itu penulis baru duduk di kelas satu SMP.

Kebahagian rupanya tidak bertahan lama. Suatu ketika penulis disesaki rasa kesal, mangkel, dan sebal pada teman-teman dan juga Hanafi. Sederhana kata, penulis diserang api cemburu pada teman-temannya, karena takut kehilangan Hanafi.

Sampai, suatu hari, api cemburu itu terlalu panas hingga membakar hati saat melihat Hanafi berduaan dengan Desy. Terbesit di hati untuk membalas dendam. Tidak kuat menahan hawa ‘panasnya’ tinggal di Yogyakarta gara-gara prahara cinta, penulis pulang ke Pekalongan.

Di Pekalongan, penulis bertemu dengan Mas Jatmiko, yang berusia 4 tahun lebih tua berasal dari keluarga terpandang. Saat itu ayahnya adalah anggota DPR pusat dari partai politik yang sedang berkuasa, sementara ibunya master ekonomi lulusan Amerika dan direktur sebuah akademi terkemuka di Semarang. Keluarga mereka sebenarnya keluarga baik-baik. Mas Jatmiko saja yang tidak baik, karena ia anak orang kaya, sehingga ia dapat melakukan banyak hal dengan uang saku yang berlebih. Sayangnya, sebagian besar uang itu untuk hal-hal negatif. Ia terlibat kenakalan remaja dan bergaul dengan teman-teman yang kecanduan narkoba.

Walaupun masih mencintai Hanafi, cinta pertamanya, tetapi penulis mendengar kabar Hanafi akan melanjutkan sekolah ke Malaysia, Merasa kehilangan Hanafi, penulis menerima cinta Mas Jatmiko. Kelas tiga SMP, penulis resmi menjadi pacar Mas Jatmiko.

Penulis menyadari perilaku buruk Mas Jatmiko dan merasa bertanggung jawab atas keselamatan dan kebaikannya. Beberapa kali ia berusaha menyembuhkan kebiasaan buruknya itu, tetapi tidak pernah berhasil, malah penulis terus-menerus menjadi sasaran nafsunya. Dari Mas Jatmikolah penulis mendapatkan ciuman bibir yang pertama dan dia pula yang pertama kali "menyentuhku", tutur penulis.

Harapan penulis untuk kembali bersama Hanafi muncul saat mendengar Hanafi telah kembali dari Malaysia. Penulis segera pergi menemui Hanafi untuk melepas rindu dan bernostalgia. Akhirnya penulis memutuskan untuk tetap mencintai Mas Jatmiko, dan menyurati Hanafi meminta agar jangan mengharapkan dirinya lagi, karena khawatir Hanafi akan menyesal apabila kelak mengetahui keadaan diri penulis yang sebenarnya. Kepada Mas Jatmiko, penulis sekuat hati berusaha mencintainya dan orangtua menyetujui akhirnya menikahkan penulis dengan Mas Jatmiko pada tahun 1992, saat itu penulis duduk di kelas dua SMA.

Karena pernikahan, dan ketiadaan pengertian dari orang-orang terdekat penulis dan juga motivasi belajar penulis sangat lemah, dengan amat terpaksa ia memutuskan berhenti sekolah.

Setelah menikah, penulis tinggald Pekalongan. Rumah besar milik mertua penulis itu terasa sangat besar, suasana hari hari di rumah tersebut begitu sepi sampai tiba saatnya tangisan bayi mungil membuat rumah tidak senyap lagi. Oleh kakeknya, anak pertama diberi nama Ririh Rahajeng.

Mas Jatmiko sering meninggalkan mereka berdua. Kegiatan rutin penulis adalah menghitung detik-detik jam dinding sambil terus berharap Mas Jatmiko segera pulang. Memikirkan Mas Jatmiko benar-benar menguras kesehatan fisik dan batin penulis sampai ibu mertua penulis meminta melanjutkan sekolah di Yogyakarta, tapi karena kesibukan mengurus Ririh sekolah penulis kembali gagal.

Enam bulan penulis hidup terpisah dengan suami. Di sela-sela waktu itu, dari Yogyakarta sekali-kali penulis berkunjung ke Semarang dan tinggal beberapa minggu, sampai seorang pembantu di sebelah rumah mertua penulis memberitahukan bahwa Mas Jatmiko selingkuh. Penulis merasa terguncang, amarah yang dipendam makin bertumpuk bercampur rasa kesal, cemburu, sedih dan perasaan nestapa lainnya.

Penulis mengaku stres, ibu mertuanya beberapa kali sempat melihat penulis melakukan tingkah-tingkah yang aneh. Penulis dalam kondisi stres merasa benar-benar ada orang yang ingin membunuhnya. Suara kipas angin terdengar seperti bisikan-bisikan yang mengancam. Penulis ketakutan, ibu mertua membawanya ke psikiater di Semarang. Karena belum sembuh, ayah penulis membawanya ke RS Sarjito Yogyakarta.

Mengetahui penulis sakit, Mas Jatmiko meminta izin untuk membawa istri dan anaknya ke Banjarmasin untuk memulai usaha kayu. Usaha kayu ternyata tidak berjalan lancar. Kalaupun ada hasilnya, keuntungan hanya cukup untuk makan. Kegagalan dalam berbisnis menyeret Mas Jatmiko kembali kepada kebiasaan jeleknya dan terlibat judi bilyar.

Penulis hamil anak kedua di Banjarmasin. Karena tidak tahan dengan kelakuan suaminya, penulis memutuskan kembali ke Jawa dan melahirkan anak laki-laki diberi nama Gibran Rahmat. Sebulan kemudian, Mas Jatmiko menyusul. Waktu itu bulan Desember 1994.

Awal tahun 1996, pertengkaran dengan Mas Jatmiko semakin sering terjadi sampai penulis pindah ke Jakarta bersama suami. Di sana pertengkaran semakin sering terjadi. Kemudian suami penulis meminta cerai dengan alasan tidak ada kecocokan lagi. Penulis merasa dunia runtuh. Harapan sirna. Yang dapat dilakukan penulis hanya menangis sampai airmata terasa tidak keluar lagi.

Penulis mulai merasa sering sakit kepala, pusing-pusing dan ingin muntah. Semua itu merupakan gejala awal penulis menaiki tangga sakit jiwa yang parah dan memasuki sebuah alam gila yang disebut dokter jiwa skizofrenia.

Bagian kedua buku ini mulai menceritakan pengalaman-pengalaman gila penulis awal kisah ia merasa amat sedih. Walau dipaksakan, mata tidak pernah bisa menangis, malah bibir yang tertawa-tawa sendirian. Penulis merasa yakin ada yang meracuninya. Tubuh melayang-layang tak tentu arah, kepala terasa berat. Tidak lama setelah itu penulis mengalami halusinasi seperti apa yang dikatakan oleh dokter RSJ Pakem.

Penulis dapat melihat hal-hal yang tidak tampak wujudnya dan dapat mendengar bunyi-bunyian yang suaranya tidak dapat didengar para tetangga. Mengerikan menyaksikan kuburan-kuburan terbongkar sendiri. "Ya Allah jeritan-jeritan itu amat memekakkan, tangisan-tangisan yang melengking itu terlalu memilukan. Oh, rupanya mereka sedang disiksa. Tubuhku bereaksi, menggigil hebat, amat berkeringat. Ketakutan sekaligus terheran-heran".

Sesaat berselang, didengarnya suara bisikan dari arah belakang, begitu menggoda. Kaget juga iya. Diputarnya tubuh menghadap datangnya suara. Dengan badan gemetar, seketika ia berhadapan dengan sesosok mahluk berwujud aneh dan menyeramkan. Entah apa itu, tapi yang pasti dia bukan manusia. Diambilnya beberapa langkah mundur, menjauh. Kuat dugaan dia setan. Itu diketahui dari matanya yang merah menyala.

Selain itu pembaca juga akan dibawa penulis melewati pengalamannya bersama Sun Go Khong, Mak Lampir, Nabi Sulaiman dan Ratu Balqis, sampai bertemu dengan Axl Rose, vokalis grup musik Gun n Roses dan masih banyak tokoh lainnya. Tentu bagi kita yang’ tidak pernah gila’ tidak dapat membayangkan kenapa hal tersebut dapat terjadi, di mana alam sadarnya? Tapi semuanya begitu nyata bagi penulis.

Awalnya pengalaman-pengalaman ini menarik banyak cerita lucu, menakutkan dan terkesan bodoh akan kita jumpai, tetapi sayangnya lama-kelamaan terasa membosankan dan monoton tidak jelas kita akan dibawa kemana membuat pembaca ingin cepat-cepat mengakhiri petualangan dan ingin mengetahui segera bagaimana penulis kembali sehat/waras. Mungkin sebaiknya editor buku ini dapat mengemasnya menjadi lebih menarik, sehingga pembaca tidak mudah bosan dengan pengalaman penulis.

Pada bagian ketiga yang menceritakan kembali kewarasan penulis terasa kurang lengkap, tidak ada benang merah yang menghubungkan kenapa bisa begitu cepat penulis sembuh, hanya dengan membaca sebuah brosur ciri-ciri skizofrenia. Bagian akhir buku ini menampilkan dua appendiks, pertama kesaksian perawat yang merawat penulis selama di RSJ Pakem Yogyakarta dan kedua surat keterangan dokter yang menerangkan bahwa penulis pernah menderita skizofrenia. Sayangnya keterangan dari ibu, keluarga dan dokter yang merawat tidak dimuat (dokter yang merawat ada ditulis tapi terlalu sedikit), padahal saya pikir keterangan mereka dapat membuat buku ini lebih menarik karena mereka yang juga langsung berhubungan dan memberikan bantuan moril kepada penulis.

Kekurangan lain buku ini ada di halaman 112 langsung ke halaman 119, tapi di belakangnya langsung dapat kita temui halaman lanjutan, walaupun ada 2 lembar halaman 119.

Sampul buku cukup menarik, karena langsung menampilkan foto penulis sehingga pembaca dibuat penasaran untuk melihat sosok asli, apalagi foto sengaja diambil dari sudut-sudut yang sulit untuk melihat jelas wajah penulis, tapi rasa penasaran pembaca terobati dengan ditampilkan penuh sosok penulis dibagian akhir berupa foto diri baik saat sehat dan sakit.

Walaupun masih banyak kekurangan dalam buku ini tapi buku ini pantas dibaca apalagi bagi mereka yang haus informasi mengenai dunia psikiatri, ataupun bagi mereka memiliki saudara, teman atau kenalan kita yang menderita gangguan jiwa. Buku ini menyajikan informasi yang cukup lengkap mengenai penyakit skizofrenia, sehingga kita sadar bahwa mereka juga manusia yang memerlukan dukungan, perhatian dan pertolongan sehingga mereka dapat menjalani hidup lebih baik. dr azma rosida

Copyright © 2003 Banjarmasin Post


BUKU
BUKU - Rekaman Pengalaman Hidup Seorang Skizofrenia

SENI - Jaran Dor, Menari Sampai Intrance


DIGITAL - Mau Memformat Kartu Memori? Gampang!


HOME - Menyatu Dengan Alam


F&B - Aneka Kreasi Kue Cokelat


FASHION - Tampil Cantik Dengan Busana Muslim


TUR - Menautkan Hati Di Pantai Coko


Banjarmasin Post Group Jl Haryono MT 143/54 Banjarmasin 70111 Phone: +62-511-54370 Fax: +62-511-66123