Cerita di dalam buku ini adalah kisah nyata yang telah dlalui oleh penulis
ceritanya menjadi istimewa karena penulis adalah mantan penghuni Rumah Sakit Jiwa (RSJ)
Pakem Yogyakarta, ia menderita skizofrenia lebih dari lima tahun, sejak 1997 dan dikatakan
sembuh oleh dokter tahun 2002.
Semua pengalamannya selama "gila" dituangkan dalam buku berupa
pengalaman yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya: lucu, unik, bodoh dan menakutkan.
Buku ini oleh editor dibagi menjadi tiga bagian, sehingga pembaca lebih memahami dan
menikmati buku ini. Bagian pertama berisi tuturan penulis tentang latar belakang cinta dan
rumah tangga sang penulis yang kandas terhempas kemudian menjadi sebab mula terampasnya
kewarasan sang penulis.
Bagian kedua berkisah tentang pengalaman-pengalaman penulis pada saat gila. Pada bagian
inilah penulis mengajak pembaca memasuki alam dunianya sebagai seorang pengidap
skizofrenia yang mengalami waham kebesaran atau dalam bahasa psikiatri dikenal sebagai delusion
of grandeur. Kisah-kisah pengembaraan penulis di suatu alam khayali tapi asli, sebuah
alam majinasi tapi nonfiksi yang sungguh berbeda dengan alam manusia biasanya. Bagian tiga
berisi proses pulihnya kewarasan sang penulis.
Penulis adalah anak kelima dari enam bersaudara dilahirkan di Probolinggo, Jawa Timur,
pada tanggal 11 September 1974. Sebelum sampai pada pengalaman tragis penulis yang
merenggut kewarasannya, penulis menceritakan rentetan kisah yang mendahuluinya. Cerita
hidupnya inilah yang memicu penulis menderita skizofrenia.
Pengalaman merajut rasa kangen dan malu sudah dirasakan penulis sejak kelas 6 SD. Cinta
pertama yang sebagian orang menyebutnya cinta monyet dialami saat menghabiskan
liburan panjang di Yogyakarta, di tempat kakak penulis. Cinta pertama dengan Hanafi, sebut
saja namanya demikian, anak seorang tokoh pimpinan organisasi keagamaan terbesar di
Yogyakarta.
Menyadari tidak lagi mudah untuk bertemu langsung dengan Hanafi, sementara rasa rindu
begitu menggebu, Hanafi mengirim surat cinta yang pertama. Penulis sangat gembira dan
segera membalas dengan gempita. Hanafi pun membalas dengan surat cinta yang kedua, tidak
kalah suka citanya. Saat itu penulis baru duduk di kelas satu SMP.
Kebahagian rupanya tidak bertahan lama. Suatu ketika penulis disesaki rasa kesal,
mangkel, dan sebal pada teman-teman dan juga Hanafi. Sederhana kata, penulis diserang api
cemburu pada teman-temannya, karena takut kehilangan Hanafi.
Sampai, suatu hari, api cemburu itu terlalu panas hingga membakar hati saat melihat
Hanafi berduaan dengan Desy. Terbesit di hati untuk membalas dendam. Tidak kuat menahan
hawa panasnya tinggal di Yogyakarta gara-gara prahara cinta, penulis pulang ke
Pekalongan.
Di Pekalongan, penulis bertemu dengan Mas Jatmiko, yang berusia 4 tahun lebih tua
berasal dari keluarga terpandang. Saat itu ayahnya adalah anggota DPR pusat dari partai
politik yang sedang berkuasa, sementara ibunya master ekonomi lulusan Amerika dan direktur
sebuah akademi terkemuka di Semarang. Keluarga mereka sebenarnya keluarga baik-baik. Mas
Jatmiko saja yang tidak baik, karena ia anak orang kaya, sehingga ia dapat melakukan
banyak hal dengan uang saku yang berlebih. Sayangnya, sebagian besar uang itu untuk
hal-hal negatif. Ia terlibat kenakalan remaja dan bergaul dengan teman-teman yang
kecanduan narkoba.
Walaupun masih mencintai Hanafi, cinta pertamanya, tetapi penulis mendengar kabar
Hanafi akan melanjutkan sekolah ke Malaysia, Merasa kehilangan Hanafi, penulis menerima
cinta Mas Jatmiko. Kelas tiga SMP, penulis resmi menjadi pacar Mas Jatmiko.
Penulis menyadari perilaku buruk Mas Jatmiko dan merasa bertanggung jawab atas
keselamatan dan kebaikannya. Beberapa kali ia berusaha menyembuhkan kebiasaan buruknya
itu, tetapi tidak pernah berhasil, malah penulis terus-menerus menjadi sasaran nafsunya.
Dari Mas Jatmikolah penulis mendapatkan ciuman bibir yang pertama dan dia pula yang
pertama kali "menyentuhku", tutur penulis.
Harapan penulis untuk kembali bersama Hanafi muncul saat mendengar Hanafi telah kembali
dari Malaysia. Penulis segera pergi menemui Hanafi untuk melepas rindu dan bernostalgia.
Akhirnya penulis memutuskan untuk tetap mencintai Mas Jatmiko, dan menyurati Hanafi
meminta agar jangan mengharapkan dirinya lagi, karena khawatir Hanafi akan menyesal
apabila kelak mengetahui keadaan diri penulis yang sebenarnya. Kepada Mas Jatmiko, penulis
sekuat hati berusaha mencintainya dan orangtua menyetujui akhirnya menikahkan penulis
dengan Mas Jatmiko pada tahun 1992, saat itu penulis duduk di kelas dua SMA.
Karena pernikahan, dan ketiadaan pengertian dari orang-orang terdekat penulis dan juga
motivasi belajar penulis sangat lemah, dengan amat terpaksa ia memutuskan berhenti
sekolah.
Setelah menikah, penulis tinggald Pekalongan. Rumah besar milik mertua penulis itu
terasa sangat besar, suasana hari hari di rumah tersebut begitu sepi sampai tiba saatnya
tangisan bayi mungil membuat rumah tidak senyap lagi. Oleh kakeknya, anak pertama diberi
nama Ririh Rahajeng.
Mas Jatmiko sering meninggalkan mereka berdua. Kegiatan rutin penulis adalah menghitung
detik-detik jam dinding sambil terus berharap Mas Jatmiko segera pulang. Memikirkan Mas
Jatmiko benar-benar menguras kesehatan fisik dan batin penulis sampai ibu mertua penulis
meminta melanjutkan sekolah di Yogyakarta, tapi karena kesibukan mengurus Ririh sekolah
penulis kembali gagal.
Enam bulan penulis hidup terpisah dengan suami. Di sela-sela waktu itu, dari Yogyakarta
sekali-kali penulis berkunjung ke Semarang dan tinggal beberapa minggu, sampai seorang
pembantu di sebelah rumah mertua penulis memberitahukan bahwa Mas Jatmiko selingkuh.
Penulis merasa terguncang, amarah yang dipendam makin bertumpuk bercampur rasa kesal,
cemburu, sedih dan perasaan nestapa lainnya.
Penulis mengaku stres, ibu mertuanya beberapa kali sempat melihat penulis melakukan
tingkah-tingkah yang aneh. Penulis dalam kondisi stres merasa benar-benar ada orang yang
ingin membunuhnya. Suara kipas angin terdengar seperti bisikan-bisikan yang mengancam.
Penulis ketakutan, ibu mertua membawanya ke psikiater di Semarang. Karena belum sembuh,
ayah penulis membawanya ke RS Sarjito Yogyakarta.
Mengetahui penulis sakit, Mas Jatmiko meminta izin untuk membawa istri dan anaknya ke
Banjarmasin untuk memulai usaha kayu. Usaha kayu ternyata tidak berjalan lancar. Kalaupun
ada hasilnya, keuntungan hanya cukup untuk makan. Kegagalan dalam berbisnis menyeret Mas
Jatmiko kembali kepada kebiasaan jeleknya dan terlibat judi bilyar.
Penulis hamil anak kedua di Banjarmasin. Karena tidak tahan dengan kelakuan suaminya,
penulis memutuskan kembali ke Jawa dan melahirkan anak laki-laki diberi nama Gibran
Rahmat. Sebulan kemudian, Mas Jatmiko menyusul. Waktu itu bulan Desember 1994.
Awal tahun 1996, pertengkaran dengan Mas Jatmiko semakin sering terjadi sampai penulis
pindah ke Jakarta bersama suami. Di sana pertengkaran semakin sering terjadi. Kemudian
suami penulis meminta cerai dengan alasan tidak ada kecocokan lagi. Penulis merasa dunia
runtuh. Harapan sirna. Yang dapat dilakukan penulis hanya menangis sampai airmata terasa
tidak keluar lagi.
Penulis mulai merasa sering sakit kepala, pusing-pusing dan ingin muntah. Semua itu
merupakan gejala awal penulis menaiki tangga sakit jiwa yang parah dan memasuki sebuah
alam gila yang disebut dokter jiwa skizofrenia.
Bagian kedua buku ini mulai menceritakan pengalaman-pengalaman gila penulis awal kisah
ia merasa amat sedih. Walau dipaksakan, mata tidak pernah bisa menangis, malah bibir yang
tertawa-tawa sendirian. Penulis merasa yakin ada yang meracuninya. Tubuh melayang-layang
tak tentu arah, kepala terasa berat. Tidak lama setelah itu penulis mengalami halusinasi
seperti apa yang dikatakan oleh dokter RSJ Pakem.
Penulis dapat melihat hal-hal yang tidak tampak wujudnya dan dapat mendengar
bunyi-bunyian yang suaranya tidak dapat didengar para tetangga. Mengerikan menyaksikan
kuburan-kuburan terbongkar sendiri. "Ya Allah jeritan-jeritan itu amat memekakkan,
tangisan-tangisan yang melengking itu terlalu memilukan. Oh, rupanya mereka sedang
disiksa. Tubuhku bereaksi, menggigil hebat, amat berkeringat. Ketakutan sekaligus
terheran-heran".
Sesaat berselang, didengarnya suara bisikan dari arah belakang, begitu menggoda. Kaget
juga iya. Diputarnya tubuh menghadap datangnya suara. Dengan badan gemetar, seketika ia
berhadapan dengan sesosok mahluk berwujud aneh dan menyeramkan. Entah apa itu, tapi yang
pasti dia bukan manusia. Diambilnya beberapa langkah mundur, menjauh. Kuat dugaan dia
setan. Itu diketahui dari matanya yang merah menyala.
Selain itu pembaca juga akan dibawa penulis melewati pengalamannya bersama Sun Go
Khong, Mak Lampir, Nabi Sulaiman dan Ratu Balqis, sampai bertemu dengan Axl Rose, vokalis
grup musik Gun n Roses dan masih banyak tokoh lainnya. Tentu bagi kita yang tidak
pernah gila tidak dapat membayangkan kenapa hal tersebut dapat terjadi, di mana alam
sadarnya? Tapi semuanya begitu nyata bagi penulis.
Awalnya pengalaman-pengalaman ini menarik banyak cerita lucu, menakutkan dan terkesan
bodoh akan kita jumpai, tetapi sayangnya lama-kelamaan terasa membosankan dan monoton
tidak jelas kita akan dibawa kemana membuat pembaca ingin cepat-cepat mengakhiri
petualangan dan ingin mengetahui segera bagaimana penulis kembali sehat/waras. Mungkin
sebaiknya editor buku ini dapat mengemasnya menjadi lebih menarik, sehingga pembaca tidak
mudah bosan dengan pengalaman penulis.
Pada bagian ketiga yang menceritakan kembali kewarasan penulis terasa kurang lengkap,
tidak ada benang merah yang menghubungkan kenapa bisa begitu cepat penulis sembuh, hanya
dengan membaca sebuah brosur ciri-ciri skizofrenia. Bagian akhir buku ini menampilkan dua
appendiks, pertama kesaksian perawat yang merawat penulis selama di RSJ Pakem Yogyakarta
dan kedua surat keterangan dokter yang menerangkan bahwa penulis pernah menderita
skizofrenia. Sayangnya keterangan dari ibu, keluarga dan dokter yang merawat tidak dimuat
(dokter yang merawat ada ditulis tapi terlalu sedikit), padahal saya pikir keterangan
mereka dapat membuat buku ini lebih menarik karena mereka yang juga langsung berhubungan
dan memberikan bantuan moril kepada penulis.
Kekurangan lain buku ini ada di halaman 112 langsung ke halaman 119, tapi di
belakangnya langsung dapat kita temui halaman lanjutan, walaupun ada 2 lembar halaman 119.
Sampul buku cukup menarik, karena langsung menampilkan foto penulis sehingga pembaca
dibuat penasaran untuk melihat sosok asli, apalagi foto sengaja diambil dari sudut-sudut
yang sulit untuk melihat jelas wajah penulis, tapi rasa penasaran pembaca terobati dengan
ditampilkan penuh sosok penulis dibagian akhir berupa foto diri baik saat sehat dan sakit.
Walaupun masih banyak kekurangan dalam buku ini tapi buku ini pantas dibaca apalagi
bagi mereka yang haus informasi mengenai dunia psikiatri, ataupun bagi mereka memiliki
saudara, teman atau kenalan kita yang menderita gangguan jiwa. Buku ini menyajikan
informasi yang cukup lengkap mengenai penyakit skizofrenia, sehingga kita sadar bahwa
mereka juga manusia yang memerlukan dukungan, perhatian dan pertolongan sehingga mereka
dapat menjalani hidup lebih baik. dr azma rosida