:: Kompas Cyber Media ::

[::] Portal Berita Daerah [::]

Metro Banjar • Serambi Ummah • BëBAS • Diafragma • PASAR • INTECH

Berita Cetak
MAIN PAGE
Berita Utama
Nusantara
B O R N E O
+Trans Kalimantan
Banjarmasin Plus

Persona
BELI@
Olahraga
Keluarga & Gaya hidup
Internasional
Berita Kemarin
Info Data & Media
Banjarmasin Post
Susunan Redaksi

Pasang Iklan
Order Cetak
Berlangganan
Supporting By

Minggu, 23 Januari 2005 01:39


Jaran Dor, Menari Sampai Intrance

Jaran Dhor, sebuah pertunjukan rakyat yang tumbuh dan berkembang di Jawa. Khusunya di Jawa Tengah di belahan tengah dan timur dan Jawa Timur bagian barat. Bahkan, di luar Jawa, kelompok-kelompok kesenian ini masih banyak dijumpai. Terutama di daerah-daerah transmigrasi yang banyak dihuni orang Jawa.

Masyarakat sering pula menyebut kesenian ini dengan nama Jaran Kepang. Di kawasan Yogyakarta, Jaran Dhor biasa disebut sebagai Jathilan. Sedang masyarakat Banjar mengenal Kuda Gipang yang sebenarnya merupakan bentuk lain dari kesenian ini.

Barangkali sudah agak sulit melacak kapan dan di mana kesenian Jaran Dhor itu muncul untuk pertama kalinya. Tarian rakyat ini apabila ditelusuri latar belakang sejarahnya termasuk tarian yang paling tua di Jawa. Boleh jadi, Jaran Dhor sudah ada sejak zaman pra sejarah.

Tarian ini selalu dilengkapi dengan kuda-kudaan yang terbuat dari kepang, sehingga muncul istilah kuda atau jaran kepang.

Jaran Dhor lazimnya dipertunjukkan sampai klimaksnya yang berupa keadaan tidak sadar diri (intrance) pada salah seorang penarinya.

Bentuk penampilan Jaran Dhor sangat sederhana. Pemain mengenakan kostum pakaian ala prajurit dan iringan beberapa ricikan gamelan, antara lain saron, kempul, gong, kendang, dan ada yang ditambah angklung atau ricikan lain dan seruling.

Dari penampilannya yang demikian, dapatlah diketahui bahwa Jaran Dhor hanya hidup di lingkungan masyarakat kelas bawah. Jaran Dhor memiliki ciri-ciri kerakyatan yang begitu kental.

Sampai pada dekade tahun enampuluhan, masih banyak kelompok Jaran Dhor yang menggembara dari kampung ke kampung sekedar mencari nafkah dengan pertunjukan kemampuan bermain Jaran Dhor.

Tetapi, pertunjukan keliling seperti itu saat ini sudah hampir tak kelihatan lagi. Meskipun begitu, kelompok-kelompok kesenian Jaran Dhor masih banyak kita jumpai hingga sekarang.

Kelompok-kelompok ini biasanya tampil dalam acara-acara tertentu. Seperti, tampil di tempat orang punya hajatan, acara bersih desa, menyambut tanggal 1 Suro atau diundang dalam acara peringatan hari-hari besar nasional.

Di Gunung Kemukus, Kabupaten Sragen, atau sekitar 25 kilometer utara Solo, Jawa Tengah, misalnya, setiap tanggal 1 Sura ada tradisi ritual labuhan sekaligus penyucian kelambu makam Pangeran Samudra, keturunan Majapahit yang dimakamkan di tempat itu.

Dalam ritual itu, salah satunya, digelar pertunjukkan Jaran Dhor di dekat makam. Sejumlah remaja belasan tahun di kampung itu, turut berpartisipasi dalam kesenian ini.

Menari di atas kuda kepang dengan gerak-gerak yang unik dan kadang lucu, dengan hiasan suara cemeti, dibumbui dengan berbagai atraksi.

Bahkan, pertunjukkan itu selalu diakhiri dengan adegan-adegan berbau magis. Satu atau beberapa pemain, menari dan bertingkah tanpa sadarkan diri. Pertunjukan makan kaca atau beling, makan rumput, minum air kembang, adu kekebalan dan sebagainya, menjadi ciri khas dari atraksi Jaran Dhor.

Pertunjukan itu mereka lakukan tanpa sadar. Dalam kondisi sudah ndadi (intrance), pemain Jaran Dhor begitu lahapnya memakan benda-benda keras itu, tanpa mengalami cedera sedikitpun.

Mereka sepertinya telah kerasukan roh halus. Tindak-tanduk dan dengus penari yang sedang ndadi, mirip dengan tindak-tanduk kuda atau roh yang merasuki pemain.

Ada lagi pemain pria yang kerasukan makhluk halus jenis wanita yang sedang kasmaran. Seketika itu, pemain tadi menari dan bertingkah layaknya seorang wanita.

Tingkah laku yang mengerikan tidak mengakibatkan cedera suatu apapun, karena memang hanya merupakan suatu demonstrasi sihir. Mereka akhirnya kembali normal setelah seorang pawang menyadarkan kembali.

Jaran Dhor dengan segala keberadaannya tetap memiliki kekuatan tersendiri. Ia dapat menjadi atraksi yang menarik baik untuk konsumsi pariwisata maupun konsumsi masyarakatnya sendiri.

Penari Jaran Dhor pada masa dahulu dapat dilakukan dengan jumlah pemain yang lebih banyak dan dalam formasi berpasangan. Penari yang biasanya terdiri dari laki-laki dewasa itu masing-masing menunggang kuda-kudaan yang dibuat dari anyaman bambu (kepang) yang dicat dengan warna gelap (umumnya hitam) dan diberi hiasan-hiasan.palopo abdurahman

Copyright © 2003 Banjarmasin Post


SENI
BUKU - Rekaman Pengalaman Hidup Seorang Skizofrenia

SENI - Jaran Dor, Menari Sampai Intrance


DIGITAL - Mau Memformat Kartu Memori? Gampang!


HOME - Menyatu Dengan Alam


F&B - Aneka Kreasi Kue Cokelat


FASHION - Tampil Cantik Dengan Busana Muslim


TUR - Menautkan Hati Di Pantai Coko


Banjarmasin Post Group Jl Haryono MT 143/54 Banjarmasin 70111 Phone: +62-511-54370 Fax: +62-511-66123