JIKA ingin mencari pegulat di Kalimantan Selatan, daerah ini gudangnya. Tidak
hanya satu cabang, di sini pula terdapat beberapa peloncat indah handal. Bahkan, Bumi
Lambung Mangkurat pun memiliki klub sepakbola yang berlaga di kompetisi profesional.
Tapi, mencari atlet lempar lembing? Rasanya cukup sulit mencari komunitas para pelempar
lembing biasa berlatih. Selain itu, juga tidak ada tempat khusus untuk menggelar latihan.
Walau begitu, daerah ini tampaknya patut bersyukur. Di tengah ketiadaan secara
kuantitas, masih ada segelintir o-
rang yang bergelut dalam lempar lembing. Salah satunya adalah Apri Listiawati.
Kehadiran Apri di Kalsel memang menambah khazanah atlet daerah ini. Apalagi cukup lama
tak ada terdapat atlet potensial yang bisa berprestasi di bidang atletik. Bahkan, Kalsel
pun cukup jarang ikut serta di kejuaraan cabang ini.
Apri sendiri bukan asli urang banua. Ia lahir dan besar di Salatiga, Jawa Tengah. Walau
begitu, dara kelahiran 5 April 1984 ini berkomitmen untuk membangun daerah bersama.
Bahkan, ia mengaku tidak akan berhenti sebagai atlet sebelum memboyong medali buat Kalsel.
"Menghasilkan medali di tingkat nasional memang tidak semudah membalik telapak
tangan, terutama di ajang semacam Pekan Olahraga Nasioal. Banyak yang harus dikorbankan
untuk mencapai prestasi. Tapi, saya ingin menghasilkan sesuatu sebelum meninggalkan lempar
lembing," ungkapnya.
Kehadirannya di Kalsel boleh dibilang kebetulan. Pada awalnya, ia hanya ingin
mendatangi sang kakak yang berada di Tanah Laut. Namun, oleh kakaknya yang juga salah
seorang pelatih voli di Pelaihari, Apri dipromosikan kepada Kamarul --salah seorang
pengurus Persatuan Atletik Seluruh Indonesia Kalsel-- sebagai atlet.
Bak gayung bersambut, keinginan tersebut langsung diterima Pengda PASI Kalsel. Apalagi
Apri memiliki banyak prestasi di tingkat nasional. Sebut saja medali emas di Sirkuit
Atletik Jawa Bali 2002 dan 2003. Selain itu, ia mewakili Indonesia di Asian School 1999.
Selain prestasi, Apri juga telah dididik dengan benar di Pusat Pendidikan dan Latihan
Pelajar (PPLP) Salatiga selama lima tahun. Di sini, ia mendapat pelajaran teknik dan
penggunaan kekuatan yang benar untuk melontar lembing.
"Pada awalnya, saya tak mengerti bakal ditarik ke PPLP sebagai pelempar lembing.
Apalagi saat sekolah dasar, saya sempat menggeluti lari 10 K. Selanjutnya, kala SMP saya
malah menjadi pemain voli," cerita Apri yang memulai debut di Kalsel di Porda VI
memperkuat Banjarmasin.
Akan tetapi, ada sedikit ganjalan ketika ia mulai terpikat dengan Bumi Lambung
Mangkurat. Dara yang sering disapa Lilis ini prihatin dengan kondisi atletik Kalsel,
terutama mengenai fasilitas khusus buat atletik dan peralatan pendukung.
Untuk mencukupi latihan setiap hari, Apri rela berbagi lapangan dengan Barito Putera di
Stadion 17 Mei. Hasil latihan itu memang tidak maksimal, karena ia sering was-was saat
melemparkan lembing.
"Sebenarnya tempat khusus lempar lembing tidak harus semegah stadion. Cukup
lapangan luas dan tidak ada orang lalu lalang, sehingga para atlet bisa maksimal
melepaskan lembing tanpa rasa takut bisa melukai orang," tukas bungsu pasangan Harjo
Ratno dan Trimah ini.
Keterbatasan itu tidak hanya masalah tempat. Menjelang PON, ia harus kehilangan lembing
akibat patah saat latihan. Alhasil, lembing pun diganti dengan bola besi yang jelas sangat
berbeda dengan alat sesungguhnya.
Kendala itu menjadi masalah besar saat PON XVI. Apri yang lolos dari Pra PON, malah
tidak bisa bersaing di gelaran sesungguhnya. Ia kalah bersaing dengan pelempar lembing
dari Jawa Tengah dan Papua.
"Padahal, Dian Kartika dari Jawa Tengah yang merebut emas dalah junior saya di
Diklat Salatiga. Tapi, saya akui ia memang berlatih cukup keras dalam training center
dan dibimbing pelatih yang menangani saya dulu. Alhasil, ia mengusai teknik melempar dan
mampu memanfaatkan power dengan bagus," aku Apri.
Ia pun menyadari keterbatasan tersebut memang membuat prestasi yang pernah dibuat tidak
berlanjut. Padahal, untuk berprestasi, lanjut Apri dibutuhkan adanya fasilitas dan pelatih
yang bisa memantau kekurangan dan kemajuan atlet.
Tapi, di tengah keterbatasan yang dimiliki Kalsel, ia tidak berkeinginan untuk
meninggalkan daerah ini. Penyuka ikan patin bakar ini menyatakan tetap membela Kalsel,
sampai tidak diperlukan lagi.
"Hingga kini belum ada rencana untuk hengkang, karena saya masih akan melihat
perkembangan lebih dulu. Memang ada tawaran dan beberapa daerah, namun tidak merespon.
Saya ingin berkonsentrasi dulu menjelang PON mendatang," pungkasnya. bastian alkaf