Makkah, BPost
Setelah banjir lumpur, kawasan Mina dan Makkah, Minggu (23/1) dilanda badai dan hujan
debu. Akibatnya, kedua kota ini semakin kotor. Sejumlah ruas jalan di Makkah dipenuhi
lumpur dan tumpukan sampah yang terbawa arus hingga membuat membuat kemacetan lalu lintas.
Sejumlah jemaah haji asal Indonesia dilaporkan mulai terserang gangguan pernafasan dan
pilek. Sebagian dari mereka terpaksa dilarikan ke klinik dan rumah sakit terdekat.
"Jamaah yang sakit itu karena tidak sempat lagi menggunakan masker," kata
Trisnawati Nadir, jamaah keloter 33 embarkasi Makassar, yang sempat terseret banjir saat
di terowongan Mina.
"Meski banjir sudah surut, langit masih gelap. Mendung dan tiupan angin kencang
terus terjadi," tambahnya kepada BPost.
Banjir yang melanda Mina, Sabtu (22/1) lalu, cukup besar. Beberapa mobil sedan bahkan
sudah tenggelam dan terseret arus. Air juga menggenangi tempat tidur di perkemahan hingga
membuat jamaah panik.
Trisnawati mengatakan cuaca di Makkah saat ini dingin, terutama bagi orang Indonesia
yang berasal dari daerah tropis. Suhu di lokasi Masjidil Haram berkisar 15-17 derajat
celsius.
Amran Razak, jamaah keloter 59 yang juga dari embarkasi Makassar, mengatakan cukup
banyak jamaah yang menjalani perawatan kesehatan di Mina dan Makkah.
Hujan deras disertai petir di kawasan Makkah dan Mina, mengakibatkan genangan air
hingga sedengkul di berbagai tempat. Puluhan ribu jamaah yang masih berada di Mina untuk
beribadah segera bubar dan berteduh di bawah terowongan-terowongan yang ada.
Badai debu dan pasir di perkemahan Jamaah Haji di Mina, Sabtu, dan membuat besi penahan
tenda-tenda di Mina lepas dan menimbulkan suara gaduh. Para jamaah sedikit panik melihat
kondisi itu.
Jalanan mulai dari terowongan menuju jamarat juga macet total, karena itu jamaah di
perkemahan yang sedang melakukan ibadah mabit (menginap) di Mina dan akan melakukan lontar
jumroh ke arah Jamarat kesulitan, termasuk jamaah yang pulang menuju Makkah.
Hingga kemarin, banyak jamaah lebih memilih tetap berdiam di tendanya karena udara di
luar sangat dingin dan berdebu, jarak pandang juga semakin pendek.
Petugas Indonesia yang sebelumnya menahan jamaah agar tidak lontar jumroh dengan
imbauan-imbauan melalui pemancar, sudah mulai membuka maktab dan membiarkan mereka menuju
jamarat.
Sebelumnya hujan di kawasan Mina maupun Makkah pada pagi hingga siang hari sempat
membuat ratusan ribu jamaah yang masih tertidur di atas tikar dan berselimut di lapangan
terbuka Mina di sekitar area jamarat terganggu.
Situasi jamarat di hari Tasyirik kedua lontar jumroh (12
Dzulhijjah) masih dijejali ribuan manusia yang melontarkan batu-batunya ke arah tugu
jamarat yang sekarang berbentuk memanjang.
Bantah tewas
Sementara itu, Kepala Daerah Kerja (Kadaker) Haji Indonesia di Mina, Hasbu Marzuki,
membantah kabar adanya jamaah Indonesia yang tewas saat banjir melanda Mina. "Petugas
kami sudah mencek ke semua rumah sakit dan tidak ada jamaah Indonesia yang menjadi
korban," katanya.
Menurut dia, jamaah Indonesia yang melaksanakan pelontaran telah kembali ke Makkah
secara bergelombang. Sebagian besar kini berada di pemondokannya.
Hasbu mengatakan proses melontar jumrah jamaah haji Indonesia berjalan lancar dan aman.
"Prosesi melontar jumrah kali ini, tidak menimbulkan korban seperti tahun lalu,"
ujarnya.
Pemerintah Arab Saudi sendiri telah meningkatkan tindakan keamanan terhadap para
jemaah. Satu-satunya gangguan adalah musim hujan sangat deras yang jarang yang mulai
melingkari lembah yang biasanya gersang itu.
Sejumlah tempat kamp banjir sementara jemaah yang tak dapat tempat berlindung di kota
tenda terpaksa mencari tempat berteduh di tempat lain. Kemacetan lalu lintas juga
dipeburuk oleh hujan lebat, yang berlangsung sekitar satu jam.
Pemerintah Arab Saudi menghabiskan 28 juta dolar untuk memodernisasi tempat suci itu
guna memudahkan jemaah melempar batu kerikil mereka di "jumroh", atau tiga pilar
yang melambangkan setan, dan untuk menempatkan kamera tambahan guna memungkinkan aliran
besar (jemaah) bisa dimonitor.
Puluhan mobil ambulans dan pekerja bantuan dari pertahanan sipil Saudi mendekat saat
polisi menjamin ibadah haji berlangsung lancar.
Tukar riyal
Sementara itu, para haji Kalsel yang bakal pulang ke Tanah Air tidak perlu khawatir
sisa uang riyalnya sulit diuangkan. Pasalnya, di asrama haji tetap tersedia tempat
penukaran uang.
"Kami akan buka kembali di asrama haji 27 Januari sesuai jadwal kedatangan pesawat
yang membawa jamaah haji. Nilai tukarnya sekitar Rp2.600 sampai 2.650," kata Abdul
Rivai, Account Manager Bank Muamalat Indonesia (BMI) Banjarmasin.
Saat pemberangkatan lalu, BMI menjual sekitar 500 ribu riyal kepada calhaj. Meski
menurun dibandingkan tahun lalu, BMI tetap bertekad melayani jamaah.
Sedang Bank Negara Indonesia (BNI) yang juga membuka counter penukaran riyal
saat pemberangkatan, tidak membuka loketnya saat kedatangan. Pemimpin Bidang Pelayanan
Nasabah-Luar Negeri BNI Banjarmasin Sri Dadi Wibowo MM mengatakan stok riyal mereka cukup
banyak, sekitar 10.000 riyal. "Stok kami cukup banyak mas, jadi kami tidak ikut buka counter
lagi saat kepulangan jamaah nanti," ujar Dadi kepada BPost di kantornya.
Menyikapi anggapan terjadinya persaingan tidak sehat antar counter, yakni dengan
keberanian BNI menurunkan harga riyal di bawah BMI, Dadi menepisnya. Menurutnya, BNI
memberikan harga di bawah BMI seminggu terakhir masa pemberangkatan calhaj, karena riyal
mereka sudah lusuh. Atas dasar itulah, BNI terpaksa menurunkan harga satu riyal menjadi
Rp2.550 atau Rp50 di bawah harga BMI.
"Kalau kami tetap bersikeras dengar harga Rp2.600, dikhawatirkan riyal kami tidak
laku dan mengendap, padahal saat ini saja sisa uang riyal yang belum turjual masih cukup
banyak," tegas Dadi. tt/sa/m5