Palu, BPost
Gempa bumi berkekuatan 6,2 Skala Richter (SR) melanda Palu, Ibukota Sulawesi
Tengah, Senin (24/1) sekitar pukul 03.00 Wita. Sedikitnya dua orang tewas, empat orang
menderita luka-luka dan 100 rumah di dekat pusat gempa, Kecamatan Sigi-Biromaru Kabupaten
Donggala, porak-poranda.
Pusat gempa berada sekitar 16 kilometer arah tenggara Palu. Gempa terjadi tiga kali dan
yang terakhir paling besar.
Akibat gempa, warga di sejumlah kota seperti Palu, Donggala dan Parigi, mengalami
kepanikan luar biasa. Hal ini disebabkan adanya kabar gelombang tsunami akan menyusul.
Sebagian besar warga Palu mengungsi ke daerah dataran yang tinggi sekitar kota Palu dan
sebagian berlindung di masjid-masjid.
Ketakutan warga itu cukup beralasan. Apalagi, tragedi gempa yang diikuti oleh gelombang
tsunami di Propinsi Nangroe Aceh Darussalam (NAD), 26 Desember 2004, masih membekas di
benak warga Palu. Itu sebabnya, begitu mengetahui terjadi gempa di daerah mereka, ratusan
warga segera mengungsi ke tempat yang lebih tinggi.
Palu sendiri termasuk daerah langganan gempa. menurut catatan daerah ini dilanda gempa
pada tahun 1995, 1996, 1998.
Bahkan gempa diikuti gelombang tsunami terjadi tahun 1996 di Toli-toli dan Donggala.
Dengan tinggi gelombang 1,5 meter dan mengakibatkan genangan air ke darat sejauh 250
meter.
Terakhir gempa bumi tahun 2000 yang diikuti tsunami di Pulau Peleng, Banggai Kepulauan
yang mengakibatkan 50 orang meninggal dan kerugian ditaksir Rp350 miliar
Arus warga seusai gempa terlihat memadati jalur jalan menuju Gunung Gawalise dan
Kelurahan Donggala Kodi. Mereka menggunakan truk, mobil pribadi dan sepeda motor.
Banyaknya warga yang serentak menyingkir ke tempat yang lebih tinggi menyebabkan arus
macet mencapai 3 km.
Masyarakat ada juga yang mengungsi daearah Ngatabaru. Tampak di antara warga yang
mengungsi terlihat satu mobil ambulans membawa orang yang sakit dan sedang diinfus. Warga
yang berada di dataran tinggi tetap tenang meskipun berada di luar rumah. Mereka yang
panik adalah warga yang berada di pesisir Kota Palu.
Mereka khawatir setelah terjadi gempa, akan terjadi gelombang pasang tsunami. Akibat
gempa sebuah rumah di Jl Sungai Ogotion dan lima toko terbakar.
Arus pengungsi tampak mencari jalur-jalur yang tidak padat menuju tempat pengungsian.
Isu Tsunami
Isu adanya gelombang tsunami membuat aparat keamanan di Palu sempat kewalahan. Polisi
menyerukan agar warga yang mengungsi kembali ke rumahnya masing-masing. Polisi meyakinkan,
tidak ada gelombang pasang tsunami akibat bencana gempa tersebut.
Namun imbauan aparat kepolisian melalui satu unit mobil milik Ditlantas Polda Sulteng,
agaknya tidak dipedulikan warga yang mengungsi. Para pengungsi hanya terlihat duduk dan
sebagian berada di luar gedung atau rumah tempat pengungsian.
Sejumlah warga yang mengungsi ke Masjid Agung, Palu Barat, mengungkapkan, dirinya
melarikan diri ke masjid karena khawatir akan terjadi gelombang pasang tsunami karena
rumah mereka berada di tepi pantai.
Seorang warga bernama Sumardi yang bermukim di Kelurahan Lere, Palu Barat, mengaku
mengungsi bukan karena takut gempa tapi karena takut akan ada gelombang pasang. "Kita
sudah terbiasa gempa, yang kita takutkan kalau air laut datang seperti di Aceh,"
ungkapnya.
Kepanikan warga bisa pula dilihat dari tidak dihiraukannya penjelasan Badan Meteorologi
dan Geofisika (BMG) Palu yang menyebutkan tidak ada gelombang tsunami dan gempa susulan.
Warga diminta tenang dan tidak panik dan kembali ke rumahnya masing-masing. Meskipun
demikian sebagian warga masih berada di tempat pengungsian di dataran yang lebih tinggi.
Berdasarkan data dari BMG Palu, pusat gempa terletak di 1.03 lintang selatan dan 119.99
bujur timur. Di kota Palu, kekuatan gempa sampai IV MMI, sementara di Parigi, 82 KM
kekuatan gempa terasa sampai II MMI. Kedalaman gempa di pusat gempa 30 km dari atas
permukaan tanah.
Masyarakat di Sigi-Biromaru sempat panik. Mereka mulai mengumpulkan barang-barang yang
bisa diselamatkan. Mereka juga tampak was-was karena gempa susulan dengan kekuatan kecil
masih terus terjadi.
Menurut Ali Mudin, warga setempat, tadi malam juga terjadi letusan kecil di sumber air
panas. Hanya saja karena sudah biasa terjadi di tempat tersebut, mereka tidak merasa
khawatir. Meski begitu, sejumlah ibu-ibu sudah siap mengungsi dengan memasukkan pakaian ke
buntalan-buntalan. Selain itu ada juga yang menaikan barang-barangnya di atas gerobak dan
mobil bak terbuka.
Kerusakan
Informasi yang diperoleh BPost, dua korban tewas akibat gempa diketahui warga
Desa Kalele Kecamatan Dolo, Donggala. Satu korban berhasil diidentifikasi bernama Ambo
Tuwo, tewas tertimpa reruntuhan rumah. Satu korban lainnya belum diketahui identitasnya.
Sementara itu, di kawasan Kaleke, sedikitnya 23 rumah rusak parah, bahkan sebagian di
antaranya ambruk. Sementara, empat lainnya luka-luka akibat kecelakaan lalu lintas saat
berebut ke tempat pengungsian.
Di Kelurahan Nunu, Kecamatan Palu Barat, beberapa ruas jalan rusak parah. Di Jl Nunu,
jalan raya retak sepanjang 400 meter, sebagian di antaranya jalan turun. Air tanah muncrat
di lima titik sepanjang jalan tersebut.
Di sekitar tempat tersebut, empat rumah terbakar setelah gempa terjadi. Rumah tersebut
milik milik Haryanto, Astadi, Gary, dan Bagito. Total kerugian empat rumah tersebut
ditaksir Rp50 juta, ditambah uang tunai Rp15 juta rupiah, dan sepeda 5 buah.
Hingga tadi malam, masyarakat khawatir masuk rumah, meskipun kota Palu dinyatakan aman
oleh BMG dan polisi. tt/hr/tb