:: Kompas Cyber Media ::

[::] Portal Berita Daerah [::]

Metro Banjar • Serambi Ummah • BëBAS • Diafragma • PASAR • INTECH

Berita Cetak
HOME
Berita Utama

Nusantara
Banjarmasin Plus
Banjarmasin Bungas
BISNIS
Sport Vaganza
Opini-Hot Line

Kalimantan Selatan
Kalimantan Timur
Kalimantan Tengah

Hiburan-Gaya Hidup
Internasional
Berita Kemarin
Info Data & Media
Banjarmasin Post
Susunan Redaksi

Pasang Iklan
Order Cetak
Berlangganan
Supporting By

Kamis, 27 Januari 2005 02:36:03


Tentara AS Mulai Ditarik

Meulaboh, Metro
Amerika Serikat mulai menarik personel militernya dari Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD). Bahkan, di Meulaboh, sudah tidak lagi terlihat satu pun militer AS melakukan aktivitas kemanusiaan, pascagempa dan tsunami, 26 Desember silam.

Pasukan dari Unit Ekspedisi Marinir Ke-15 telah ditarik ke kapal perang yang membawa mereka, USS Bonhomme Richard. Sedangkan, frekuensi penerbangan helikopter asing pun juga menurun drastis.

Seperti dilaporkan wartawan BPost, Machmud Mubarok dari Meulaboh, Rabu (26/1), kapal induk USS Abraham Lincoln yang selama hampir tiga pekan buang sauh di dekat Pulau Sabang, telah berlayar ke perairan internasional. Terlihat jet-jet tempur canggih seperti FA-18 Super Hornet yang diangkut kapal perang raksasa itu menggelar latihan rutin.

Yang kini masih bertahan di Meulaboh adalah tentara Perancis dan Jepang. Sebagian mereka bekerja sebagai tenaga medis bersama staf Unicef dan UNHCR.

Penampakan terakhir serdadu AS di Meulaboh pada Selasa (24/1) siang lalu ketika mereka membersihkan jalan di wilayah Kecamatan Meureubo. Namun, sorenya mereka kembali ke kapal perang yang buang sauh di lepas pantai.

Membaik

Sementara itu, situasi di Kota Meulaboh makin membaik. Aktivitas masyarakat dan perdagangan mulai normal. Bahkan, suasana kota yang porak-poranda terlihat meriah dengan lalu-lalangnya para pelajar.

Sekalipun dicanangkan sebagai hari dimulainya aktivitas belajar mengajar, namun yang terlihat baru pendataan siswa dan konsolidasi para guru. Sejumlah sekolah yang luput dari kerusakan masih dipakai para pengungsi.

Di Samatiga, bangunan Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) malah separo ruangan dipenuhi pengungsi. Kepala Sekolah MIN Samatiga, Ny Sa’adah mengaku bingung karena tak mungkin mengusir para pengungsi.

"Karena itu hari ini kita belum bisa mulai belajar mengajar. Mungkin baru Senin depan semua normal. Dengan catatan para pengungsi ini sudah direlokasi ke tempat-tempat yang disediakan," kata Sa’adah.

Bersamaan mulai hidupnya aktivitas warga, kegiatan evakuasi mayat dan pembersihan puing-puing kota masih dilakukan para relawan lokal dan aparat TNI. Sebagian tentara Perancis juga ikut membantu. Di kawasan Ujung Karang, tepatnya di bekas asrama polisi, ditemukan mayat seorang anak. Hanya tinggal tulang dan kulit melilit kerangka mayat itu.

Para pekerja kemanusiaan dan warga setempat memperkirakan masih ada ratusan mayat yang tertimbun reruntuhan, atau berada di tempat-tempat yang belum terjamah manusia.

Di sepanjang pesisir Meureubo, diduga ada ratusan jenazah tertimbun sampah di bekas perkebunan sawit dan karet. Kawasan yang tadinya penuh pepohonan itu kini ludes seperti habis disapu api.

Hingga kemarin, belum ada satupun relawan, warga atau aparat TNI/Polri menjamah lokasi itu. Begitu juga di sepanjang pesisir Samatiga. Saat bencana terjadi, air laut menerjang masuk daratan hingga 3 kilometer dari pantai.

Isak tangis

Sementara itu, suasana isak tangis menjadi pemandangan memilukan di hari pertama sekolah di Aceh, atau sebulan setelah gempa dan tsunami.

Meski hari pertama itu merupakan registrasi, para guru dan murid saling berangkulan. Mereka umumnya menjadi korban dalam musibah yang menewaskan sedikitnya 220 ribu penduduk Aceh, dan sebagian besar di antaranya adalah anak-anak.

Tidak semua murid sekolah masuk. Hanya sebagian kecil yang masuk sekolah, terutama di daerah-daerah yang rusak parah akibat tsunami, seperti Ulelee, Lampasee, Lampulo, atau Krueng Raya Aceh Besar.

Misalnya, siswa SDN 49 Ulle Lheue hanya muncul dua orang dibanding jumlah murid yang tercatat sebelum bencana alam tsunami sebanyak 205 orang.

Kepala SDN 49, Rukaiyah, tak tahu pasti ke mana sebagian besar muridnya. Pada hari pertama Rukaiyah hanya ditemani seorang guru, karena banyak juga guru dan keluarganya menjadi korban.

Sekolah lain yang juga hanya dihadiri sedikit murid adalah SDN 97. Pada hari pertama itu hanya muncul 16 dari total murid 168 orang. SDN 49 dan SDN 97 serta SD Bhayangkara pada program kembali ke sekolah menempati gedung SDN 51 di kawasan Keutapang, Aceh Besar.

Sebagaimana di sekolah-sekolah lain di semua wilayah korban tsunami, suasana haru merebak di SDN-SDN tersebut. Deraian air mata dan saling berpelukan di antara para guru, menjadi pemandangan yang dominan pada Rabu pagi itu.

Pada hari pertama itu kegiatan sekolah hanya mendata para murid dan guru. Para murid umumnya belum mengenakan pakaian seragam. Sebagian hanya mengenakan sandal dan hanya beberapa membawa perlengkapan sekolah seadanya.

Isak-tangis dan suasana memilukan juga terjadi di berbagai sekolah setingkat SMU di Aceh. Ratusan murid Madrasah Aliyah Negeri (MAN) II Banda Aceh terlihat melakukan registrasi ulang di gedung sekolah yang rusak parah di Jl Cut Nyak Dien.

"Saat ini kita baru mendata ulang, kemudian menyusun kursi- kursi. Besok baru kita memulai proses belajar-mengajar," kata Teuku Ibrahim, pejabat sementara Kepala MAN II Aceh, karena kepala sekolah menjadi korban gempa dan tsunami.

Lebih dari 50 persen siswa MAN menjadi korban tsunami, dan banyak di antaranya yang dinyatakan hilang. Sementara guru yang jadi korban enbam orang, dan yang tersisa 45 orang.

Gedung sekolah itu terlihat rusak parah, timbunan lumpur dan bau busuk masih memenuhi halaman sekolah, dan 15 ruangan sekolah rusak parah atau terbakar.

Serba Darurat

Sementara itu, proses belajar juga terlihat di Kamp Pengungsian Mataii. Meski masih serba darurat, anak-anak pengungsi terlihat ada yang mengenakan seragam merah-putih, dan ada juga yang tidak mengenakan seragam karena tidak memilikinya.

Meski kondisinya sangat memprihatinkan dan belajar di dalam tenda, anak-anak SD itu terlihat "bersedia" diminta para guru relawan untuk baris-berbaris, atau mengangkat kursi-kursi plastik yang digunakan dalam proses belajar tersebut.

Sejumlah warga Aceh yang ditemui mengaku tidak mengetahui jika proses registrasi dimulai Rabu, dan tempatnya dimana untuk melakukan registrasi.

"Anak saya kelas II SMP 01 Banda Aceh. Tapi mendaftarnya ke mana, karena gedung sekolahnya sudah rata dengan tanah," tutur Ema.

Puluhan ribu anak sekolah dasar diperkirakan menjadi korban gempa dan tsunami. Pemerintah Indonesia menyebutkan korban tewas mencapai 210.000. Sedang yang hilang menurut Komunikasi Informasi Satgas Bencana Alam sedikitnya 132.000 orang,

PBB sendiri menyebutkan lebih dari 50 persen korban gempa dan tsunami itu adalah anak-anak. Menurut siaran UNICEF, di Aceh terdapat sekitar 520.000 anak sekolah, dan puluhan ribu orang hilang, serta lebih dari 100.000 orang tidak punya tempat.

Ganti Alwi

Sejalan dengan berakhirnya masa tanggap darurat, kendali struktur operasi di lapangan diubah. "Pak Alwi Shihab (Menko Kesejahteraan Rakyat) kini tak diperlukan lagi kehadirannya setiap hari di sini. Saya dan Pak Joko Santoso (Wakil Kepala Staf TNI AD) sekarang yang akan melaksanakan kerja harian," kata Kepala Staf Satuan Koordinasi Pelaksana Khusus (Satkorlakhus) NAD Budi Atmadi Adiputro di Banda Aceh, Selasa malam.

Tepat sebulan terjadinya bencana ditandai dengan pembukaan kembali sekolah-sekolah dan kantor-kantor, serta lembaga pemerintah. Suasana hari kerja resmi pertama itu membuat kota Banda Aceh meriah dan kembali diwarnai dengan kehidupan kota, lengkap denyut ekonomi dan bisnis.

Rapat koordinasi harian yang sejak sebulan terakhir dipimpin Alwi Shihab di Pendopo (kediaman resmi gubernur), mulai Selasa malam dipimpin Joko Santoso (mewakili Panglima TNI) dan Budi, yang mengisi kursi Menko Kesra. */si/ant


Copyright © 2003 Banjarmasin Post


Berita Utama
Tentara AS Mulai Ditarik

Tiga Menteri Temui PM GAM


TNI Usut Tentara AS


Rp730 Triliun Untuk Perang


Tak Siap Sebagai Cawagub


Pemulangan Haji Terlambat


Farid Faqih Ditangkap


Memulihkan Anak Aceh Dengan Kembali Sekolah "Ingin Sekolah, Guru Tak Ada"


Yudhoyono Kehabisan Energi


DPR Takkan Evaluasi


KA Pengangkut BBM Terbakar


Zubaidi-Alwi Bakal Maju


Gusur ‘Banteng’ Tua


Banjarmasin Post Group Jl Haryono MT 143/54 Banjarmasin 70111 Phone: +62-511-54370 Fax: +62-511-66123