Meulaboh, Metro
Amerika Serikat mulai menarik personel militernya dari Propinsi Nanggroe Aceh
Darussalam (NAD). Bahkan, di Meulaboh, sudah tidak lagi terlihat satu pun militer AS
melakukan aktivitas kemanusiaan, pascagempa dan tsunami, 26 Desember silam.
Pasukan dari Unit Ekspedisi Marinir Ke-15 telah ditarik ke kapal perang yang membawa
mereka, USS Bonhomme Richard. Sedangkan, frekuensi penerbangan helikopter asing pun juga
menurun drastis.
Seperti dilaporkan wartawan BPost, Machmud Mubarok dari Meulaboh, Rabu
(26/1), kapal induk USS Abraham Lincoln yang selama hampir tiga pekan buang sauh di dekat
Pulau Sabang, telah berlayar ke perairan internasional. Terlihat jet-jet tempur canggih
seperti FA-18 Super Hornet yang diangkut kapal perang raksasa itu menggelar latihan rutin.
Yang kini masih bertahan di Meulaboh adalah tentara Perancis dan Jepang. Sebagian
mereka bekerja sebagai tenaga medis bersama staf Unicef dan UNHCR.
Penampakan terakhir serdadu AS di Meulaboh pada Selasa (24/1) siang lalu ketika mereka
membersihkan jalan di wilayah Kecamatan Meureubo. Namun, sorenya mereka kembali ke kapal
perang yang buang sauh di lepas pantai.
Membaik
Sementara itu, situasi di Kota Meulaboh makin membaik. Aktivitas masyarakat dan
perdagangan mulai normal. Bahkan, suasana kota yang porak-poranda terlihat meriah dengan
lalu-lalangnya para pelajar.
Sekalipun dicanangkan sebagai hari dimulainya aktivitas belajar mengajar, namun yang
terlihat baru pendataan siswa dan konsolidasi para guru. Sejumlah sekolah yang luput dari
kerusakan masih dipakai para pengungsi.
Di Samatiga, bangunan Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) malah separo ruangan dipenuhi
pengungsi. Kepala Sekolah MIN Samatiga, Ny Saadah mengaku bingung karena tak mungkin
mengusir para pengungsi.
"Karena itu hari ini kita belum bisa mulai belajar mengajar. Mungkin baru Senin
depan semua normal. Dengan catatan para pengungsi ini sudah direlokasi ke tempat-tempat
yang disediakan," kata Saadah.
Bersamaan mulai hidupnya aktivitas warga, kegiatan evakuasi mayat dan pembersihan
puing-puing kota masih dilakukan para relawan lokal dan aparat TNI. Sebagian tentara
Perancis juga ikut membantu. Di kawasan Ujung Karang, tepatnya di bekas asrama polisi,
ditemukan mayat seorang anak. Hanya tinggal tulang dan kulit melilit kerangka mayat itu.
Para pekerja kemanusiaan dan warga setempat memperkirakan masih ada ratusan mayat yang
tertimbun reruntuhan, atau berada di tempat-tempat yang belum terjamah manusia.
Di sepanjang pesisir Meureubo, diduga ada ratusan jenazah tertimbun sampah di bekas
perkebunan sawit dan karet. Kawasan yang tadinya penuh pepohonan itu kini ludes seperti
habis disapu api.
Hingga kemarin, belum ada satupun relawan, warga atau aparat TNI/Polri menjamah lokasi
itu. Begitu juga di sepanjang pesisir Samatiga. Saat bencana terjadi, air laut menerjang
masuk daratan hingga 3 kilometer dari pantai.
Isak tangis
Sementara itu, suasana isak tangis menjadi pemandangan memilukan di hari pertama
sekolah di Aceh, atau sebulan setelah gempa dan tsunami.
Meski hari pertama itu merupakan registrasi, para guru dan murid saling berangkulan.
Mereka umumnya menjadi korban dalam musibah yang menewaskan sedikitnya 220 ribu penduduk
Aceh, dan sebagian besar di antaranya adalah anak-anak.
Tidak semua murid sekolah masuk. Hanya sebagian kecil yang masuk sekolah, terutama di
daerah-daerah yang rusak parah akibat tsunami, seperti Ulelee, Lampasee, Lampulo, atau
Krueng Raya Aceh Besar.
Misalnya, siswa SDN 49 Ulle Lheue hanya muncul dua orang dibanding jumlah murid yang
tercatat sebelum bencana alam tsunami sebanyak 205 orang.
Kepala SDN 49, Rukaiyah, tak tahu pasti ke mana sebagian besar muridnya. Pada hari
pertama Rukaiyah hanya ditemani seorang guru, karena banyak juga guru dan keluarganya
menjadi korban.
Sekolah lain yang juga hanya dihadiri sedikit murid adalah SDN 97. Pada hari pertama
itu hanya muncul 16 dari total murid 168 orang. SDN 49 dan SDN 97 serta SD Bhayangkara
pada program kembali ke sekolah menempati gedung SDN 51 di kawasan Keutapang, Aceh Besar.
Sebagaimana di sekolah-sekolah lain di semua wilayah korban tsunami, suasana haru
merebak di SDN-SDN tersebut. Deraian air mata dan saling berpelukan di antara para guru,
menjadi pemandangan yang dominan pada Rabu pagi itu.
Pada hari pertama itu kegiatan sekolah hanya mendata para murid dan guru. Para murid
umumnya belum mengenakan pakaian seragam. Sebagian hanya mengenakan sandal dan hanya
beberapa membawa perlengkapan sekolah seadanya.
Isak-tangis dan suasana memilukan juga terjadi di berbagai sekolah setingkat SMU di
Aceh. Ratusan murid Madrasah Aliyah Negeri (MAN) II Banda Aceh terlihat melakukan
registrasi ulang di gedung sekolah yang rusak parah di Jl Cut Nyak Dien.
"Saat ini kita baru mendata ulang, kemudian menyusun kursi- kursi. Besok baru kita
memulai proses belajar-mengajar," kata Teuku Ibrahim, pejabat sementara Kepala MAN II
Aceh, karena kepala sekolah menjadi korban gempa dan tsunami.
Lebih dari 50 persen siswa MAN menjadi korban tsunami, dan banyak di antaranya yang
dinyatakan hilang. Sementara guru yang jadi korban enbam orang, dan yang tersisa 45 orang.
Gedung sekolah itu terlihat rusak parah, timbunan lumpur dan bau busuk masih memenuhi
halaman sekolah, dan 15 ruangan sekolah rusak parah atau terbakar.
Serba Darurat
Sementara itu, proses belajar juga terlihat di Kamp Pengungsian Mataii. Meski masih
serba darurat, anak-anak pengungsi terlihat ada yang mengenakan seragam merah-putih, dan
ada juga yang tidak mengenakan seragam karena tidak memilikinya.
Meski kondisinya sangat memprihatinkan dan belajar di dalam tenda, anak-anak SD itu
terlihat "bersedia" diminta para guru relawan untuk baris-berbaris, atau
mengangkat kursi-kursi plastik yang digunakan dalam proses belajar tersebut.
Sejumlah warga Aceh yang ditemui mengaku tidak mengetahui jika proses registrasi
dimulai Rabu, dan tempatnya dimana untuk melakukan registrasi.
"Anak saya kelas II SMP 01 Banda Aceh. Tapi mendaftarnya ke mana, karena gedung
sekolahnya sudah rata dengan tanah," tutur Ema.
Puluhan ribu anak sekolah dasar diperkirakan menjadi korban gempa dan tsunami.
Pemerintah Indonesia menyebutkan korban tewas mencapai 210.000. Sedang yang hilang menurut
Komunikasi Informasi Satgas Bencana Alam sedikitnya 132.000 orang,
PBB sendiri menyebutkan lebih dari 50 persen korban gempa dan tsunami itu adalah
anak-anak. Menurut siaran UNICEF, di Aceh terdapat sekitar 520.000 anak sekolah, dan
puluhan ribu orang hilang, serta lebih dari 100.000 orang tidak punya tempat.
Ganti Alwi
Sejalan dengan berakhirnya masa tanggap darurat, kendali struktur operasi di lapangan
diubah. "Pak Alwi Shihab (Menko Kesejahteraan Rakyat) kini tak diperlukan lagi
kehadirannya setiap hari di sini. Saya dan Pak Joko Santoso (Wakil Kepala Staf TNI AD)
sekarang yang akan melaksanakan kerja harian," kata Kepala Staf Satuan Koordinasi
Pelaksana Khusus (Satkorlakhus) NAD Budi Atmadi Adiputro di Banda Aceh, Selasa malam.
Tepat sebulan terjadinya bencana ditandai dengan pembukaan kembali sekolah-sekolah dan
kantor-kantor, serta lembaga pemerintah. Suasana hari kerja resmi pertama itu membuat kota
Banda Aceh meriah dan kembali diwarnai dengan kehidupan kota, lengkap denyut ekonomi dan
bisnis.
Rapat koordinasi harian yang sejak sebulan terakhir dipimpin Alwi Shihab di Pendopo
(kediaman resmi gubernur), mulai Selasa malam dipimpin Joko Santoso (mewakili Panglima
TNI) dan Budi, yang mengisi kursi Menko Kesra. */si/ant