Mindanao, BPost
Dulmatin, salah satu buronan teroris Mabes Polri, dikabarkan tewas dalam serangan
udara oleh aparat keamanan Filipina di selatan pulau Mindanao, Kamis (27/1). Bahkan,
menurut sumber militer Filipina, rekan Dulmatin, Umar Patek juga tewas dalam serangan itu.
Dulmatin yang dikenal ahli perakit bom dan diduga terlibat bom Bali 2002 itu, diserang
saat melakukan pertemuan dengan kelompok Abu Sayyaf yang bermarkas di selatan Filipina,
tepatnya di Propinsi Mindanao, 900 km dari Manila.
Menurut sumber militer Filipina, jet-jet tempur menjatuhkan bom-bom hingga sasaran
hancur lebur. Serangan udara itu diklaim menewaskan 40 orang tewas, termasuk dua pimpinan
tinggi anggota kelompok Jamaah Islamiah Indonesia, Dulmatin dan Umar Patek.
Juru bicara Angkatan Darat Filipina Kolonel Franklin del Prado menuturkan pada Associated
Press (AP), Jumat, pertemuan yang digempur bom itu dihadiri pentolan Abu Sayyaf,
Khadaffy Janjalani dan anggota Jamaah Islamiyah (JI), Dulmatin, Umar Patek serta dua nama
tak terkenal Maruan dan Mauyha, juga berasal dari Indonesia.
Sementara sumber Reuters menyebut, dalam serangan udara militer di kawasan
rawa-rawa di dekat Kota Datu Piang, Propinsi Mindanao, sasarannya adalah sekumpulan
pemberontak Abu Sayyaf. Ketika serangan terjadi, pimpinan Abu Sayyaf yaitu Khadaffy
Janjalani dan Abu Sulaiman, melakukan pertemuan dengan Umar Patek dan Dulmatin.
"Operasi intelijen telah menemukan sarang pimpinan puncak Abu Sayyaf serta Jamaah
Islamiyah yang bersembunyi di sejumlah rumah," kata Komandan Angkatan Darat untuk
kawasan selatan, Letjen Alberto Braganza pada Reuters. Namun, tidak disebut
bagaimana kondisi sasaran pasca pengeboman.
Para pejabat militer mengakui, banyak gerilyawan Muslim yang menjadi sasaran dalam
serangan udara di selatan Mindanao itu telah pergi ke kota Palimbang, satu surga bagi dua
komandan pembelot MILF yang sebelumnya menyerbu satu pos luar.
Militer mengatakan, pihaknya bertindak didasarkan pada laporan-laporan intelijen ketika
helikopter dan pesawat-pesawat tempurnya menyerang pertemuan yang diduga berlangsung
antara para pimpinan Abu Sayyaf dan kelompok garis keras JI dan para anggota pembelot
Front Pembebasan Islam Moro (MILF).
Militer sebelumnya mengatakan tiga anggota JI bertemu di tempat itu, termasuk seorang
anggota bernama Dulmatin, yang dipercaya terlibat dalam pembonan di Bali Oktober 2002.
Kedua warga Indonesia lainnya adalah Maruan dan Mauyha.
MILF Meragukan
Mengenai jumlah korban tewas yang mencapai 40 orang itu, kepala militer Mindanao,
Letjen Alberto Braganza menyatakan, pihaknya mengetahui melalui penyadapan radio.
"Kami mengetahui bahwa ada 40 gerilyawan tewas, termasuk dua pejabat tinggi pimpinan
Jamaah Islamiah (Dulmatin dan Umar Patek)," katanya. Braganza mengatakan, para
gerilyawan itu telah mengumpulkan mayat-mayat para korban dan menyingkirkannya, sehingga
sulit mengatakan berapa sebenarnya korban tewas.
Namun, Kolonel Gerry Jalandoni, komandan pasukan militer di darat, mengatakan terlalu
sulit mengkonfirmasi kematian tersebut karena kondisi lapangan.
Dia menambahkan para penduduk lokal melaporkan lima orang tewas termasuk seorang pria
yang dipercaya warga negara Indonesia.
"Sangat sulit untuk diverifikasi. Kawasan itu masih sangat berbahaya. Apa yang
telah kami dapat adalah seluruhnya laporan-laporan yang datang dari para penduduk
lokal," kata Jalandoni.
Eid Kabalu, jurubicara separatis Muslim, MILF, mengatakan dia telah menerima laporan
bahwa hanya seorang mengalami cidera. Dia mengakui, beberapa rumah telah dihancurkan oleh
serangan udara itu.
Kabalu sendiri meragukan begitu banyak korban tewas yang dapat disembunyikan.
"Sangat sulit untuk menyembunyikan ini dari pengetahuan publik," katanya.
Jadi Target
Sementara itu, media negeri kangguru, The Australian, Jumat, menulis, otoritas
Filipina sebelumnya menyatakan sedikitnya 3 lusin militan Indonesia dan Malaysia
bersembunyi dan berlatih bersama sejumlah faksi MILF. Selama ini mereka menyangkal
mempunyai kaitan formal dengan JI yang diasosiasikan punya hubungan dengan Al-Qaeda.
Di awal bulan ini, Sidney Jones, Direktur International Crisis Group Asia Tenggara
mengutip sumber-sumber intelijen Indonesia, Umar Patek dan Dulmatin menjadi target
serangan udara militer Filipina di Mindanao tengah pada 18 November silam. Menurut Jones,
Dulmatin dan Umar Patek bukanlah anggota JI. Mereka tergabung dalam sebuah kelompok kecil
asal Indonesia yang disebut Banten. Kelompok ini bekerja independen.
Namun, selain dua nama itu, militer Filipina masih mencari dua tersangka terorisme asal
Indonesia lainnya yang namanya tidak disebutkan. Mereka bergabung dengan kelompok Abu
Sayyaf, yang menjadi momok bagi pemerintah Filipina.
Kelompok Abu Sayyaf secara luas diketahui melakukan aksi penculikan dan pemboman
terhadap warga Kristiani dan warga asing. Organisasi itu telah dihubungkan oleh Washington
maupun Manila memiliki hubungan dengan jaringan Al-Qaeda, pimpinan Osama bin Laden.
Kelompok itu juga disalahkan sebagai pelaku pembakaran feri yang mematikan dengan
dipicu oleh bom rakitan Februari tahun lalu, yang menewaskan lebih dari 100 orang dalam
serangan teroris yang paling buruk di negara itu. ap/afp/rtr/ant/dtc