:: Kompas Cyber Media ::

[::] Portal Berita Daerah [::]

Metro Banjar • Serambi Ummah • BëBAS • Diafragma • PASAR • INTECH

Berita Cetak
HOME
Berita Utama

Nusantara
Banjarmasin Plus
Banjarmasin Bungas
BISNIS
Sport Vaganza
Opini-Hot Line

Kalimantan Selatan
Kalimantan Timur
Kalimantan Tengah

Hiburan-Gaya Hidup
Internasional
Berita Kemarin
Info Data & Media
Banjarmasin Post
Susunan Redaksi

Pasang Iklan
Order Cetak
Berlangganan
Supporting By

Sabtu, 29 Januari 2005 01:37:54


Belum Terima Informasi

KABAR tewasnya Dulmatin, salah satu buron paling dicari saat ini, masih belum dapat dipastikan Mabes Polri. Kapolri Jenderal Da’i Bachtiar mengaku belum menerima laporan perihal tewasnya pria yang diduga perakit bom Bali Oktober 2002, dalam serangan militer Filipina di Mindanao.

"Saya belum terima informasi itu. Sampai saat ini tidak ada staf yang melapor," kata Da’i usai shalat Jumat di Mabes Polri, Jakarta, Jumat, (28/1).

Hal senada juga dilontarkan pihak Departemen Luar Negeri (Deplu) Indonesia. Kami belum mendapat informasi itu. Kalau sudah ada, pasti kami beritahukan," kata Jubir Deplu RI Yuri Thamrin, saat ditemui di sela-sela penandatangan kerjasama RI-RRC di Hotel JW Marriott, Mega Kuningan, Jaksel, kemarin.

Meski belum mendapat informasi, Da’i menegaskan bahwa dari hasil penyelidikan Polri, diperoleh keterangan bahwa kemungkinan Dulmatin memang telah meninggalkan Indonesia. "Memang, dari hasil penyelidikan Polri, dari beberapa orang yang sudah kita tangkap, ada informasi, kemungkinan yang bersangkutan meninggalkan Indonesia sejak bom Bali. Tapi kepastiannya belum kita peroleh. Saya akan segera cek," ulangnya.

Menurut Da’i, salah satu cara yang biasa ditempuh buron untuk meloloskan diri yaitu dengan meninggalkan Indonesia melalui daerah-daerah konflik atau daerah perbatasan tradisional. Daerah-daerah yang sering dilewati misalnya daerah perbatasan antara Indonesia dengan Myanmar, atau antara Indonesia dengan Filipina.

"Itu ada lintas batas tradisional. Itu biasanya (buron) memanfaatkan seperti itu. Contohnya Ali Imron yang kita tangkap di Kalimantan Timur, itu kan dalam kaitan untuk meninggalkan Indonesia melalui Kalimantan. Kita memang sudah curigai, mereka akan melakukan pelarian melalui jalur-jalur itu," bebernya.

Da’i menambahkan, selama ini kerjasama antara Polri dengan kepolisian Filipina dalam pemberantasan terorisme cukup baik. Keduanya seringkali bertukar informasi, apalagi Polri mempunyai LO (Liason Officer/penghubung) di Manila, Filipina. "Hanya saja mungkin (tewasnya Dulmatin) belum sampai kepada saya laporannya," imbuhnya. Jika memang informasi benar, kata Da’i, itu artinya salah satu orang yang paling dicari saat ini sudah bisa ditemukan. Apalagi, jika buron teroris lainnya juga diketahui berada di Filipina, itu akan lebih memudahkan kerja Polri. "Artinya satu informasi untuk kita kembangkan dalam rangka kerjasama," ucap kapolri.

Sementara itu, Polri meningkatkan pengamanan di sejumlah kedutaan besar untuk mengantisipasi serangan balasan yang dilakukan kelompok Dulmatin sebagai bentuk balas dendam peristiwa serangan udara di Mindanao, Filipina.

"Sampai saat ini memang kita mengantisipasi kemungkinan serangan terhadap kedutaan besar, tentu pengamanan kita tingkatkan," kata Kapolri Da’i Bachtiar.

Pasalnya, menurut Da’i, dari pengalaman kasus-kasus pengeboman biasanya salah satu pengeboman selalu saja terkait dengan sasaran tertentu, seperti pengeboman di rumah Kedubes Filipina pada 1 Agustus 2000 lalu yang ada hubungannya dengan serangan pemerintah Filipina terhadap kelompok MILF di Moro, Filipina Selatan.

Masih Di Indonesia

Saat ditanya mengenai keberadaan dr Azahari dan Noordin M Top, kapolri mengatakan, tim pemburu yang dikerahkan Polri optimis, saat ini kedua buron tersebut masih berada di Indonesia.

Kesimpulan itu diperoleh dari sinyal-sinyal yang ditangkap oleh tim pemburu. "Misalnya, sudah ditemukan, kebetulan (tempat) itu semacam warnet yang pernah digunakan, tapi dalam beberapa jam setelah kita datang, mereka sudah meninggalkan dan tidak ada lagi," jelas Da’i. Yang jelas, imbuhnya, warnet tersebut berada di Jawa.

Da’i mengakui, salah satu kelemahan Polri dalam perburuan dr Azahari yaitu luasnya wilayah Indonesia. "Kelemahannya mungkin dia masih punya tempat-tempat pelarian, jadi memang begitu luas daerah kita sehingga masih saja ada orang-orang yang ditempati untuk berlindung atau bersembunyi," jelasnya. JBP/lya/yls/dtc


Copyright © 2003 Banjarmasin Post


Berita Utama
Dulmatin Tewas Dibom

Belum Terima Informasi


Pendiam Setelah Menikah


"Janji Yudhoyono Di Awang-Awang"


Faqih Diancam Dibunuh


Isak Tangis Jamaah Haji Aceh Pulang Tak Dijemput Anak Tercinta


Difitnah Gelapkan Sumbangan Aceh


Diperebutkan Skuad Elit Eropa


7 Lagi Jamaah Kalselteng Wafat


Kakek Perkosa Anak Tiri


Petani Sayur HST Dukung Sjachriel


Banjarmasin Post Group Jl Haryono MT 143/54 Banjarmasin 70111 Phone: +62-511-54370 Fax: +62-511-66123