KABAR tewasnya Dulmatin, salah satu buron paling dicari saat ini, masih belum
dapat dipastikan Mabes Polri. Kapolri Jenderal Dai Bachtiar mengaku belum menerima
laporan perihal tewasnya pria yang diduga perakit bom Bali Oktober 2002, dalam serangan
militer Filipina di Mindanao.
"Saya belum terima informasi itu. Sampai saat ini tidak ada staf yang
melapor," kata Dai usai shalat Jumat di Mabes Polri, Jakarta, Jumat, (28/1).
Hal senada juga dilontarkan pihak Departemen Luar Negeri (Deplu) Indonesia. Kami belum
mendapat informasi itu. Kalau sudah ada, pasti kami beritahukan," kata Jubir Deplu RI
Yuri Thamrin, saat ditemui di sela-sela penandatangan kerjasama RI-RRC di Hotel JW
Marriott, Mega Kuningan, Jaksel, kemarin.
Meski belum mendapat informasi, Dai menegaskan bahwa dari hasil penyelidikan
Polri, diperoleh keterangan bahwa kemungkinan Dulmatin memang telah meninggalkan
Indonesia. "Memang, dari hasil penyelidikan Polri, dari beberapa orang yang sudah
kita tangkap, ada informasi, kemungkinan yang bersangkutan meninggalkan Indonesia sejak
bom Bali. Tapi kepastiannya belum kita peroleh. Saya akan segera cek," ulangnya.
Menurut Dai, salah satu cara yang biasa ditempuh buron untuk meloloskan diri
yaitu dengan meninggalkan Indonesia melalui daerah-daerah konflik atau daerah perbatasan
tradisional. Daerah-daerah yang sering dilewati misalnya daerah perbatasan antara
Indonesia dengan Myanmar, atau antara Indonesia dengan Filipina.
"Itu ada lintas batas tradisional. Itu biasanya (buron) memanfaatkan seperti itu.
Contohnya Ali Imron yang kita tangkap di Kalimantan Timur, itu kan dalam kaitan untuk
meninggalkan Indonesia melalui Kalimantan. Kita memang sudah curigai, mereka akan
melakukan pelarian melalui jalur-jalur itu," bebernya.
Dai menambahkan, selama ini kerjasama antara Polri dengan kepolisian Filipina
dalam pemberantasan terorisme cukup baik. Keduanya seringkali bertukar informasi, apalagi
Polri mempunyai LO (Liason Officer/penghubung) di Manila, Filipina. "Hanya
saja mungkin (tewasnya Dulmatin) belum sampai kepada saya laporannya," imbuhnya. Jika
memang informasi benar, kata Dai, itu artinya salah satu orang yang paling dicari
saat ini sudah bisa ditemukan. Apalagi, jika buron teroris lainnya juga diketahui berada
di Filipina, itu akan lebih memudahkan kerja Polri. "Artinya satu informasi untuk
kita kembangkan dalam rangka kerjasama," ucap kapolri.
Sementara itu, Polri meningkatkan pengamanan di sejumlah kedutaan besar untuk
mengantisipasi serangan balasan yang dilakukan kelompok Dulmatin sebagai bentuk balas
dendam peristiwa serangan udara di Mindanao, Filipina.
"Sampai saat ini memang kita mengantisipasi kemungkinan serangan terhadap kedutaan
besar, tentu pengamanan kita tingkatkan," kata Kapolri Dai Bachtiar.
Pasalnya, menurut Dai, dari pengalaman kasus-kasus pengeboman biasanya salah satu
pengeboman selalu saja terkait dengan sasaran tertentu, seperti pengeboman di rumah
Kedubes Filipina pada 1 Agustus 2000 lalu yang ada hubungannya dengan serangan pemerintah
Filipina terhadap kelompok MILF di Moro, Filipina Selatan.
Masih Di Indonesia
Saat ditanya mengenai keberadaan dr Azahari dan Noordin M Top, kapolri mengatakan, tim
pemburu yang dikerahkan Polri optimis, saat ini kedua buron tersebut masih berada di
Indonesia.
Kesimpulan itu diperoleh dari sinyal-sinyal yang ditangkap oleh tim pemburu.
"Misalnya, sudah ditemukan, kebetulan (tempat) itu semacam warnet yang pernah
digunakan, tapi dalam beberapa jam setelah kita datang, mereka sudah meninggalkan dan
tidak ada lagi," jelas Dai. Yang jelas, imbuhnya, warnet tersebut berada di
Jawa.
Dai mengakui, salah satu kelemahan Polri dalam perburuan dr Azahari yaitu luasnya
wilayah Indonesia. "Kelemahannya mungkin dia masih punya tempat-tempat pelarian, jadi
memang begitu luas daerah kita sehingga masih saja ada orang-orang yang ditempati untuk
berlindung atau bersembunyi," jelasnya. JBP/lya/yls/dtc