Jakarta, BPost
Mantan Presiden Megawati Soekarnoputri ternyata mau juga berbicara soal mantan
bawahan yang kemudian mengalahkannya pada Pemilu 2004, Susilo Bambang Yudhoyono. Ketua
Umum PDIP ini ikut mengkritisi program 100 hari pemerintahan Yudhoyono-Jusuf Kalla dengan
mengatakan janji mereka pada saat kampanye lalu masih di awang-awang.
Saat ini, menurutnya, rakyat sudah dapat menilai berapa banyak janji yang telah
direalisasikan. "Janji-janji program kerja 100 hari bagi sebagian besar rakyat
Indonesia menjadi tolak ukur kinerja pemerintahan baru ini. Tentu saja, rakyat juga akan
melihat berapa banyak janji-janji itu dibuktikan. Saya ingatkan janji-janji kampanye
jangan berada di awang-awang," kata Megawati dengan senyum khasnya usai menjamu
Presiden Timor Leste Xanana Gusmao di kediaman Jalan Teuku Umar Jakarta Pusat, Jumat
(28/1).
Mega dan Xanana bertemu selama tiga jam membahas perkembangan pembentukan Komisi
Kebenaran dan Persahabatan yang dirintis pada masa pemerintahannya dulu. Komisi ini
merupakan wadah penyelesaian masalah pelanggaran HAM berat pada 1999 yang masih tersisa.
Sedang Amien Rais, yang juga kalah pada pemilu lalu, menilai Yudhoyono sebagai pemimpin
yang tidak berani mengambil risiko. Pemerintah Yudhoyono-Kalla sama sekali tidak melakukan
gebrakan seperti yang pernah mereka gemborkan.
"Apabila tidak mau mengambil risiko maka jangan diharapkan ada gebrakan-gebrakan
yang konkrit. Sepertinya mau maju ragu-ragu, mau mundur juga nggak enak. Ini yang nampak
selama 100 hari," kata mantan ketua MPR tersebut dalam diskusi Refleksi 100 Hari
Pemerintahan Yudhoyono-Kalla di Benteng Vredeburg Jalan A Yani Yogyakarta, Kamis malam.
Mantan ketua PAN ini menilai Yudhoyono menjadi presiden dengan popularitasnya yang
sangat besar sehingga bisa mengalami nasib serupa si goyang ngebor Inul Daratista.
"Saya khawatir apa yang terjadi di dunia hiburan bisa terjadi dalam dunia politik.
Tapi mudah-mudahan saya keliru," ujarnya.
Adapun mantan Wapres Hamzah menolak mengomentari 100 hari masa pemerintahan
Yudhoyono-Kalla.
"Nggak, nggak," kata ketua umum PPP ini singkat lalu bergegas pergi usai
meresmikan Masjid Baiturrahman Sekretariat Wakil Presiden di Istana Wapres, Jakarta Pusat,
kemarin.
Wapres Jusuf Kalla di tempat yang sama membantah pernyataan sejumlah pihak bawah
program 100 hari mereka gagal. "Seratus hari yang menilai adalah masyarakat. Tapi
kalau tidak berhasil, berarti anda takut keluar semua kan. Padahal sekarang situasi
ekonominya kan lancar-lancar aja. Harga juga tidak naik. Ukurannya di situ. Jadi tidak
berarti trennya harus naik," kata Kalla.
Kalla berargumentasi kinerja mereka tidak bisa dinilai hanya dalam 100 hari. Kendati
demikian pemberantasan korupsi sudah mulai terlihat hasilnya.
"Coba tanya gubernur dan bupati, kan lebih takut sekarang karena begitu dia ada
masalah, panggil polisi, tangkap. Jadi memberantas korupsi bukan banyaknya yang ditangkap
tetapi tren atau orang takut kepada korupsi. Itu yang paling pokok dalam keadaan
sekarang," tukasnya.
Meski Kalla membela diri, aksi demonstrasi memperingati 100 hari pemerintahannya
bersama Yudhoyono marak di mana-mana, termasuk di depan Istana Kepresidenan di Jalan Medan
Merdeka Utara. Aksi nyaris berujung bentrok saat demonstran dihalau polisi.
Seorang demonstran bernama Monang Tambunan ditangkap polisi usai melakukan orasi.
Monang ditangkap dan dibawa polisi dengan tuduhan menghina presiden.
JBP/yat/ewa/tris/son