KESEDIHAN mewarnai suasana ketika para jamaah haji Nanggroe Aceh Darussalam
(NAD) mengunjungi rumah miliknya, yang tersisa lantai, dan harta benda lainya lenyap,
akibat disapu gelombang laut dahsyat (tsunai).
Kesedihan mendalam juga tampak diraut wajah mereka, karena kepulangan mereka dari
menjalankan rukun Islam ke-lima tidak dijemput anak-anak dan keluarga tercinta mereka yang
tewas akibat disapu tsunami.
"Kami pasrah dengan kesedihan mendalam. Hanya itu yang harus kami terima. Ini
semua kehendak Yang Maha Kuasa," tutur H Amirudin saat bersama istrinya Hj Damayanti
mengunjungi rumahnya yang tersisa lantai di kawasan Blang Oy, Banda Aceh, Jumat.
Mereka meneteskan air mata, dan menengadahkan tangan untuk memanjatkan doa, saat
mengamati rumahnya yang tersisa lantai, dan nasib anak-anak mereka yang hingga kini belum
ditahui keberadaanya. Amirudin, kehilangan tiga anak kandungnya yang hilang bersama
sepuluh orang keluaganya, akibat bencana tsunami yang melanda Aceh 24 Desember lalu itu.
"Kelurga kami seluruhnya 24 orang, 13 orang diantaranya hilang termasuk tiga anak
kami," katanya lirih.
Berbagai kawasan yang disapu tsunami di Banda Aceh, sepanjang Jumat ramai ketika para
jemaah haji mengunjungi rumah mereka yang telah hancur itu. Para pemilik rumah hanya
menutup muka sebagai tanda kesedihan.
Jemaah haji lain, H Suhaemi, warga Desa Lampaseh, dengan terbata-bata mengungkapkan
kesedihanya, karena ia harus kehilangan empat anak dari lima tercintanya akibat bencana
tsuami.
Drs H Ramli M Yusuf (sosok yang sejak tahun 1999 mengisi rubrik Pelajaran Bahasa Arab
di Harian Serambi Indonesia). Kecuali harta benda di daerah Kajhu Kecamatan
Baitussalam Aceh Besar, Ramli kehilangan dua balita, dan istrinya. Ia masih ingat ketika
orang terkasihnya itu mengantarnya sampai di asrama haji (19 Desember 2004). Di tempat
inilah percakapan terakhir mereka. Setelah itu tidak berkontak suara lagi, kecuali lewat Short
Message Service (sms).
Semua tinggal kenangan. Hanya ada seorang buah hati kini, Shafwah. Pelajar kelas I SMP
di Pesantren Darul Hijrah Krueng Raya ini selamat setelah "bergumul" dengan
ganasnya stunami. Untuk dia pula, Ramli kemarin sengaja ke pengungsian Shafwah di Nurul
Huda Cot Masjid (daerah Blang Bintang, Aceh Besar). Safwah pun diboyong ke Asrama Haji di
Jalan Daud Beureueh. Entah sampai kapan personil Panitia Pelaksana Ibadah Haji (PPIH) ini
"berumah" di tempat tersebut?
Para jamaah haji Aceh yang telah tiba di daerah asal, Jumat malam, menyebutkan mereka
mengetahui kalau Nanggroe Aceh Darussalam porakporanda akibat gempa bumi dan gelombang
tsunami, dari tayangan tv Al-Jazira, saat berada di Madinah.
Jemaah haji kloter pertama hingga kloter tujuh asal Aceh yang berjumlah sekitar 2.000
orang lebih sudah berada di Tanah Suci Mekkah ketika tsunami menerjang Aceh 26 Desember
2004, sehingga sebagian besar dari mereka kemungkinan besar tidak lagi memiliki rumah dan
sanak keluarga.
Sejumlah anggota keluarga yang menjemput jamaah menuturkan bahwa pihak keluarga ada
yang memang sengaja tidak memberitahukan kondisi keluarganya agar jemaah haji bisa khusuk
menjalankan ibadahnya, sementara sebagian lagi memang mengalami kesulitan untuk mengontak
jemaah haji saat berada di Tanah Suci. Diperkirakan sekitar 150 jemaah haji telah
kehilangan tempat tinggal akibat gempa dan tsunami.
Seorang penjemput jemaah haji bernama Halimah, warga Lhoknga, Aceh Besar, mengaku
kehilangan 50 orang anggota keluarganya serta rumah tempat tinggal mereka pun hancur tak
tersisa.
Halimah yang menjemput ayah serta abangnya itu mengaku belum memberitahukan perihal
hancurnya rumah dan tewasnya sebagian anggota keluarga mereka kepada ayah dan abangnya
yang baru saja pulang dari Tanah Suci.
Hampir semua jemaah haji yang baru tiba nampak menangis meski masih berada di ruang
tunggu dan belum bertemu keluarganya. Sebagian jemaah nampak berusaha mencari keluarga
yang menjemputnya, sementar sebagian lainnya memilih duduk di kursi tunggu karena
kelelahan.ant/JBP/si/nani