Balikpapan, BPost
Residu yang merupakan salah satu di antara hasil pengolahan kilang Bahan Bakar Minyak
(BBM) di Balikpapan, akan dikonversi menjadi produk bernilai tinggi. Produk yang termasuk
dalam produk bernilai rendah ini, melalui proyek Residual Catalytic Cracking (RCC)
akan diproses menjadi Bahan Bakar Minyak (BBM).
Manajer Kilang PT Pertamina (Persero) Unit Pengolahan (UP) V Balikpapan, Djoko Prijono
S mengatakan, mayoritas BBM yang dihasilkan dari residu tersebut adalah premium, dengan
prosentase 40 persen. BBM dari hasil pengolahan residu tersebut akan memiliki spesifikasi
yang sama dengan BBM di Indonesia saat ini.
Djoko Prijono yang dihubungi melalui Hupmas UP-V, Jumat (28/1) menyebut sekitar 50.000
barel residu yang dihasilkan per hari, akan digunakan seluruhnya untuk proyek tersebut.
Proyek RCC yang diperkirakan dapat terealisasi akhir 2009 ini, akan dikelola oleh
perusahaan joint venture.
"Sebagian sahamnya yakni sekitar 30 persen menjadi milik Pertamina, 30 persen
berikutnya milik Petronas, dan sisanya perusahaan lain yang berminat. Karenanya realisasi
ini masih tergantung investor," kata Djoko Prijono.
Sementara, sesuai rencana pihak Pertamina menjadwalkan engginering desain pada 2006 dan
konstruksi pada 2007. Proyek RCC yang membutuhkan unit konversi baru untuk mengolah residu
tersebut, diprediksi akan menghabiskan dana sekitar 385 juta dolar AS (sekitar Rp 3,5
triliun dengan asumsi kurs Rp 9.100 per dolar AS).
Kendati demikian, pihak Pertamina sedang dalam proses menyiapkan Analisis Masalah
Dampak Lingkungan (Amdal) untuk proyek tersebut.
Hal ini mengemuka setelah berlangsung Pembahasan Amdal yang dilakukan UP V PT Pertamina
(Persero) di Ruang Rapat Dinas Bappeda Kota Balikpapan, Kamis (27/1) lalu yang dipimpin
Kabid Amdal Bapedalda Balikpapan Ir H Soufian As. ms