Jakarta, BPost
100 hari sudah Jaksa Agung Abdul Rahman Saleh memimpin Kejaksaan Agung yang
terletak di kawasan Blok M, Jakarta. Sayangnya, dibalik keseriusan mantan Hakim Agung
Mahkamah Agung (MA) dalam memimpin ribuan Jaksa di seluruh Indonesia, ia mulai di gerogoti
anak buahnya sendiri.
Kekesalan Arman (panggilan Abdul Rahman Saleh) terhadap anak buahnya ini ia ungkapkan
secara blak-blakan ketika melaporkan kinerja 100 hari pertamanya. Arman marah gara-gara
dokumen disposisi lelang gula ilegal sebanyak 56 ribu ton asal Thailand mampir di DPR dan
kantor-kantor redaksi media.
Walhasil, dipenghujung 100 hari kerjanya, Arman digoyang isu tidak sedap dari gula
sitaan yang melibatkan Ketua Divisi Perdagangan Induk Koperasi Unit Desa (Inkud) Abdul
Waris Halid dan Effendi Kemek yang kini sudah menjadi terdakwa. Terlebih lagi, dalam surat
disposisi tersebut tercantum pula nama Wapres Jusuf Kalla yang menanyakan keberadaan gula
tersebut.
"Oknum ini senang. Wah hebat, bisa menyerang Wapres dan Jaksa Agung. Orang ini
harus dimintai pertanggungjawaban. Sebab ia jelas bermain politik dan berancang-ancang
yang menurut dia untuk kesempatan menghantam orang," kesal Arman.
Arman yakin oknum yang tidak lain adalah salah seorang petugas di Kejagung ini sengaja
membocorkan surat disposisi tersebut. Soalnya surat tersebut tersimpan rapat di kantornya,
namun akhirnya sampai juga ditangan anggota dewan.
"Saya buka persoalan ini karena saya bekerja bukan untuk mencari uang atau untung.
Saya hanya mau kerja di sini (Kejagung). Namun kalau ada yang mengganjal dengan cara
seperti ini, maka akan saya tertibkan," geramnya.
Ketika ditanya, apa sanksi yang akan dikenakan terhadap anak buahnya yang telah
menganjalnya ini, Arman enggan berkomentar. Namun yang jelas, dari beberapa kali
pernyataannya akan menertibkan anak buahnya yang membocorkan dokumen rahasia ini, Arman
kemungkinan besar akan serius.
Sesuai Prosedur
Pada kesempatan tersebut, Arman menjelaskan secara runut kasus gula yang menyudutkan
namanya dan Wapres Jusuf Kalla. Menurut Arman, pada bulan puasa tahun lalu, Jusuf Kalla
menemui dirinya untuk menanyakan tentang gula sitaan yang bila tidak dilelang bisa semakin
rusak.
Ketika ditanyakan apakah bila tidak Kalla tidak menanyakan gula tersebut maka tidak ada
lelang, Arman menjawab dengan santai. "Siapapun yang mengingatkan kalau ada gula yang
sudah terlalu lama disita, maka akan saya lelang. Jadi hanya kebetulan saja Wapres yang
mengingatkan saya. Kalau wartawan mengingatkan waktu itu, maka saya juga akan lelang. Dan
kalau sekarang masih ada gula yang disita tapi belum dilelang, maka akan saya
lelang," jelasnya.
Karena gula yang disita semenjak bulan Mei tahun 2004 lalu sudah mulai rusak, maka
Arman pun langsung memerintahkan JAM Pidana Umum (Pidum) untuk melakukan pelelangan gula
tersebut. Karena kasusnya ditangani Kejari Jakarta Utara (Jakut) , maka JAM PIDUM pun
memerintahkan Assiten PIDUM Kejari Jakut untuk melakukan pelelangan tersebut.JBP/yls