Oleh: Taufikurrahman
"Berikan sepuluh anak muda kepadaku, niscaya aku mampu untuk mengubahnya menjadi
pemimpin dunia. Tetapi jangan kau berikan seribu orang tua kepadaku, karena aku tidak
dapat berbuat apa-apa untuk mengubah mereka."
Anak-anak adalah sosok polos dan lugu. Mereka akan mudah menyerap sesuatu yang
baru dilihat, didengar dan dirasanya. Tingkah laku mereka dibentuk melalui evolusi (secara
bertahap) dari orangtua/keluarga, masyarakat, sekolah dan media massa.
Dari situ mereka dapat mengambil semua yang ditangkapnya, baik dari segi perilaku,
kebiasaan ataupun tontonan yang mendidik serta tidak mendidik moralitas mereka, seperti
sinetron percintaan, majalah porno dan gambar seronok dari media on line (internet)
ataupun kaset VCD porno serta pornoaksi.
Banyak majalah atau buku porno yang diperdagangkan di pinggir jalan, memungkinkan
anak-anak mudah mendapatkannya dan hal itu akan membuat moralitas mereka anjlok menjadi
immoral (tidak bermoral). Tetapi kita tidak akan berbicara panjang lebar tentang faktor
yang mempengaruhi psikologi anak, melainkan tentang anak jalanan (anjal) yang ada di kota
Banjarmasin ini.
Kalau kita berjalan menyusuri kawasan Gatot Subroto, Kayu Tangi atau tempat lain di
Kota Banjarmasin, maka kita akan melihat sekumpulan anak di perempatan jalan atau di lampu
merah, entah apa yang dilakukan mereka di sana.
Mereka bukan anak sekolahan yang bermain di pinggir jalan atau anak gaul yang berkumpul
bersama teman-temannya untuk mencari sensasi. Mereka adalah anjal yang selalu menadahkan
tangan, memohon pertolongan, meminta rupiah dari pengguna jalan yang berhenti di lampu
merah.
Dari pagi hingga malam hari, dihabiskan hanya untuk mencari uang demi mengepulkan asap
dapur di rumahnya. Berbagai cara mereka lakuakan untuk mendapatkan rupiah dari pengguna
jalan. Mulai dari merintih karena kelaparan sampai menyanyi untuk menghibur orang yang
berhenti di lampu merah.
Di usia mereka adalah masa bermain dan belajar untuk meraih angan serta cita-cita.
Tetapi, mereka tidak seberuntung anak yang lain dalam menjalani hidup dengan bermain dan
menuntut ilmu pengetahuan sebagai bekal hari esok yang lebih baik.
Pemerintah daerah sendiri kurang begitu merespon nasib anjal. Padahal pemda mempunyai
tanggung jawab dan kewajiban terhadap masa depan mereka kelak. Seperti bunyi pada pasal 34
ayat (2) UUD 1945 yang berbunyi: "Fakir miskin dan anak-anak terlantar di pelihara
oleh negara". Tetapi, sudahkah pemerintah merealisasikan maksud dari pasal 34 ayat
(2) UUD 1945 itu? Belum, karena tidak ada upaya dari pemerintah untuk menampung dan
memelihara mereka secara pasti.
Tugas pemerintah tidak berhenti sampai di situ, masih banyak tanggung jawab untuk
memenuhi hak anak di negeri ini. Pasal 31 ayat (1) menetapkan, tiap warga negara berhak
mendapat pengajaran. Untuk maksud itu UUD 1945 mewajibkan pemerintah mengusahakan dan
menyelenggarakan sistem pengajaran nasional yang diatur dengan undang-undang (pasal 31
ayat 2).
Bagi anak yang bersekolah bukan suatu masalah besar, karena orangtua mereka mampu
membiayai hidup dan sekolah mereka sehingga haknya seperti kehendak isi UUD 1945 dapat
terealisasikan dengan baik. Tetapi, hak itu tidak terjadi pada anjal. Mereka harus
berusaha keras untuk mendapatkan uang dalam memenuhi hidupnya, apalagi untuk biaya sekolah
yang begitu tinggi.
Sebenarnya dari dulu sudah ada suatu program pemerintah untuk mengentaskan kemiskinan
seperti GNOTA (Gerakan Nasional Orang Tua Asuh), bantuan kepada rakyat yang tidak mampu
atau bea siswa yang untuk menunjang pendidikan anak tidak mampu. Tetapi hal itu tidak
menuai hasil maksimal, sesuai tujuannya pengentasan kemiskinan.
Masyarakat sendiri kurang antusias untuk membantu mereka dalam pengurangan beban
kebutuhan hidup sehari-hari. Masyarakat acuh tak acuh atas keberadaan anjal itu.
Menganggap sesuatu hal yang biasa terlihat dalam kehidupan sehari-hari mereka. Anjal itu
hanya sebuah tontonan. Padahal masyarakat juga memiliki kewajiban membantu pemerintah
dalam mencerdaskan kehidupan bangsa, seperti termuat dalam isi pembukaan UUD 1945 alenia
ke-4.
Iba Bencana
Indonesia berkabung! Wajah negeri ini beruntun terkena musibah bencana alam dari
banjir, kebakaran, tanah longsor hingga baru-baru ini gempa dan tsunami melumatkan kota
yang bergelar Serambi Makkah NAD (Nanggroe Aceh Darussalam) dan Sumut
(Sumatera Utara). Menyebabkan banyak nyawa terenggut, harta benda dan rumah habis tersapu
tsunami. Apakah ini suatu peringatan atau ujian yang ditimpakan kepada masyarakat Aceh dan
Sumut, atau kepada bangsa Indonesia. Dari sana kita dapat mengambil hikmah untuk lebih
memperbaiki akhlak, moral serta solodaritas dan keimanan kita kepada Sang Pencipta.
Peristiwa gempa dan tsunami yang melanda NAD dan Sumut, menorehkan luka dan duka yang
begitu dalam di bumi nusantara tercinta ini. Presiden pun langsung mengeluarkan deklarasi,
bencana tersebut sebagai bencana nasional. Masyarakat pun tergugah atas kejadian yang
tidak dapat diduga oleh manusia mana pun di dunia. Secara spontanitas dan antusias
masyarakat membuat posko kemanusiaan untuk meringankan beban warga yang masih hidup, atau
yang meninggal dunia sebagai syuhada seperti fatwa MUI beberapa pekan lalu.
Dari pakaian, obat, makanan dan materil mereka kumpulkan. Tidak ketinggalan artis
ibukota pun turut menggelar konser kemanusiaan untuk korban yang terkena bencana.
Yang mengherankan dalam masyarakat kita adalah mereka mau membantu secara suka rela
untuk terjun langsung ke NAD dan Sumut sebagai relawan berpartisipasi membantu pemerintah
mengevakuasi korban yang hilang ataupun selamat untuk diberikan pertolongan, tetapi kenapa
masyarakat negeriku seakan acuh tak acuh atas nasib yang menimpa anjal negeri
ini. Apakah nasib mereka tak sepadan dengan korban bencana alam? Atau hanya masyarakat
yang terkena bencana alam yang perlu dibantu? Padahal anak-anak tersebut adalah pewaris
peradaban untuk meneruskan perjuangan orang tua kita membangun bangsa ini.
Kalau dipikir-pikir, anjal adalah salah satu bencana nasional yang harus disikapi
bersama ke depannya. Sadar atau tidak, kita semua ikut berperan dalam menentukan arah
kehidupannya kelak. Mereka juga berperan dalam menentukan keadaan negeri ini ke depan.
Apakah ke arah kemajuan atau malah ke arah kehancuran?. Karena, bukan tidak mungkin
sepuluh tahun mendatang anak-anak yang dulunya polos dan lugu berubah menjadi anak liar
dan beringas akibat kesalahan kita tidak dapat membantu mereka keluar dari krisis ekonomi
yang berkepanjangan.
Mereka tidak dapat bersekolah. Hanya hidup dengan meminta-minta, sehingga mereka tidak
mempunyai kesempatan untuk meraih cita-cita. Kalau kita bersama dapat menyikapi anjal itu
dengan arif dan bijak untuk membantu mereka keluar dari krisis ekonomi sehingga dapat
bersekolah, maka bukan tidak mungkin dua puluh tahun akan datang mereka adalah pemimpin
negeri ini.
Mereka Enjoy
Pasal 27 ayat (2) UUD 1945 menyatakan: "Bahwa tiap-tiap warga negara berhak atas
pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan." Begitulah bunyi pasal demi
pasal UUD 1945 tentang aturan, kewajiban dan tanggung jawab pemerintah untuk rakyat
Indonesia. Entah dalam realitanya maksud UUD 1945 tersebut belum terealisasikan dengan
baik atau tidak oleh pemerintah, kita tidak dapat memperkirakannya? Pemerintah sudah
berusaha keras untuk mewujudkan maksud dari isi UUD tersebut. Setiap manusia pasti
mempunyai kelebihan dan kekurangan. Begitu juga pemerintah kita dalam membangun bangsa
ini.
Tetapi, pada saat negara ini menghadapi gejolak sosial ekonomi seperti sekarang, pemda
masih sempat untuk menghibur diri sendiri dengan berbagai acara hiburan yang dana untuk
terlaksananya acara itu tidak sedikit. Jadi, seandainya dana tersebut disalurkan membantu
anjal dengan memelihara mereka, akan lebih bijak ketimbang digunakan untuk sesuatu dengan
manfaat kecil.
Pemerintah juga tidak dapat disalahkan seratus persen terhadap permasalahan ini, karena
anjal tersebut terlihat enjoy dengan keadaan mereka selama ini. Mereka bermain
bersama di pinggir jalan menantikan pengguna jalan raya berhenti di lampu merah. Mereka
juga seakan tidak mempunyai beban mental atau beban materil.
Mungkin ini adalah pengamatan sementara dan hanya memandang sepihak. Tidak mungkin
seseorang akan senang terlilit kemiskinan yang berkepanjangan, pasti juga ingin
mendapatkan kehidupan yang layak dan pantas.
Nasib anjal tersebut bukan saja kesalahan pemerintah dan masyarakat, tetapi juga
orangtua/keluarga yang mendidik mereka. Secara turun-temurun orangtua/keluarga anjal itu
mewariskan kebiasaan meminta-minta kepada orang lain tanpa ada solusi ke depan yang lebih
baik buat anak-anak mereka.
Kesadaran yang dimilki orangtua anjal itu masih rendah, sehingga mereka menganggap
anak-anaknya dapat membantu mencari nafkah keluarga. Tanpa memikirkan nasib mereka kelak.
Apakah akan mengikuti jejak langkahnya atau menjadi lebih baik dari orangtuanya.
Semoga tulisan ini dapat membuka mata kita dalam menyikapi keberadaan anjal di Kota
Banjarmasin dengan arif dan bijak. Anak-anak adalah pewaris peradaban kita. Di tangan
anak-anaklah masa depan bangsa ini dipertaruhkan. Wallahu alam.
Reporter Sukma IAIN Antasari, tinggal di Banjarmasin