Banda Aceh, BPost
Ratusan di antara ribuan pengungsi di Aceh meninggal akibat menderita berbagai
penyakit pasca gempa dan gelombang tsunami. Walau sempat mendapat perawatan medis, namun
karena persediaan obat terbatas, mereka akhirnya tidak tertolong. Para pengungsi juga
terancam penyakit menular seperti kolera, pneumonia, diare, disentri dan malaria.
Dokter Agung Darmawan, sukarelawan dari Semarang yang sempat menangani para korban,
mengaku pasrah dan tak mampu berbuat apa-apa. "Selain tidak ada obat, beberapa
peralatan kesehatan juga kurang," kata Agung di Aceh, Minggu (2/1).
Agung menjelaskan, para pengungsi berpotensi terjangkit berbagai penyakit. Penyakit
tersebut ditimbulkan oleh lingkungan daerah yang tidak steril, juga masih banyaknya
mayat-mayat yang belum dievakusi.
Ribuan pengungsi korban gempa bumi dan gelombang tsunami ini juga berjubel di Pangkalan
TNI Angkatan Udara Sultan Iskandar Muda, Banda Aceh. Rencananya, mereka akan
diberangkatkan ke erdan, Sumatera Utara.
Sampai Minggu kemarin belum ada kejelasan kapan mereka berangkat lantaran jadwal
kedatangan dan keberangkatan pesawat Hercules tidak menentu. "Kami sudah dua hari
menunggu Hercules," keluh Nuryati, salah satu korban.
Masih minimnya pendistribusian bantuan pangan dan obat-obatan, membuat para korban
gempa bumi dan gelombang tsunami, baik yang tinggal di tenda-tenda maupun di rumah
penduduk dan sanak keluarga, menjerit.
"Bantuan untuk para korban yang mengungsi ini masih sangat minim, akibatnya warga
yang rumahnya ditumpangi pengungsi terpaksa harus menanggung konsumsi mereka," kata
seorang warga perumahan Bukit Permai, desa Gue Gajah, Banda Aceh, kemarin.
Sebagai contoh, di rumah Udin (48) sejak 26 Desember sampai delapan hari setelah itu,
menampung sebanyak 30 kepala keluarga dan baru mendapat bantuan 15 kg beras dan satu dus
mie instan. "Akibatnya, ya kekurangannya terpaksa kita yang menanggung. Tapi demi
kemanusiaan kami siap untuk itu," kata Udin.
Di tempat tetangga sebelah rumah Udin, dalam kurun waktu yang sama terdapat tujuh
kepala keluarga ikut mengungsi. Mereka yang mengungsi itu selain hanya punya pakaian yang
ada di badan, juga ada yang mengalami luka-luka dan kehilangan rumah, harta benda, hingga
anggota keluarga.
Warga dan para korban mengharapkan pemerintah bertindak lebih cepat menangani masalah
korban, pengungsi, penyaluran bantuan, antisipasi serangan penyakit, dan sarana listrik
dan telepon.
Sementara itu, masyarakat yang tinggal di pulau-pulau kecil yang selamat dari gempa dan
amukan gelombang tsunami memilih eksodus meninggalkan kampu halamannya.
Mereka kehabisan bahan makanan dan luka-luka yang diderita akibat gempa dan terseret
ombak tidak ada yang mengobati. Di samping itu mereka juga takut gempa dan gelombang
tsunami kembali menerjang mereka.
Menurut Hafni, salah seorang warga yang mengungsi, kampung halamannya di Pulau Aceh
sudah hampir kosong. Tinggal beberapa orang, tapi mereka pun bersiap untuk bisa keluar
dari sana. "Kami nggak mungkin di sana terus, sebab tak punya apa-apa lagi yang bisa
di makan," katanya.
Hafni menyatakan, dirinya mengungsi karena juga ingin mendapatkan pengobatan. Tubuhnya
yang penuh luka-luka goresan hanya diobati dengan seadanya. Ia mengaku belum mendapatkan
perawatan dokter. Tidak ada bantuan kesehatan yang sampai sana.
Selain masyarakat dari Pulau Aceh, eksodus pengosongan kampung juga terjadi di pulau
Lampuyang dan Rubiah. Tujuan masyarakat ini rata-rata ke Banda Aceh. Pilihan itu karena
Banda Aceh yang paling dekat dan menurut informasi yang mereka terima di Banda Aceh banyak
penampungan dan tenaga medis yang dapat membantu mereka.
Makan Mi Mentah
Dari Medan dilaporkan ratusan pengungsi Aceh yang kini berada di tempat penampungan
sementara seperti di Jalan Medan Area Selatan mengaku hanya makan mi instan mentah serta
minum air mineral.
"Sudah dua hari kami tidak makan nasi sejak berangkat dari Banda Aceh hingga tiba
di Medan pada Minggu siang ini. Makanan yang ada seperti mi instan bantuan kami makan
mentah," tutur Azwar (22), seorang pengungsi yang selamat.
Azwar menuturkan, rumahnya yang berada di Lengke, Banda Aceh telah rata dengan tanah
akibat bencana tsunami 26 Desember lalu. Ia kini berada di penampungan sementara CV Mulia
Tour Medan.
Para pengungsi yang umumnya kaum wanita, tampak masih berduka dan beberapa di antara
mereka terlihat menangis sambil mengunyah mi instan mentah di Kantor CV Mulia Tour milik
Haji Raibun dan Hj Cut Ramyas, pengusaha yang memiliki kepedulian tinggi untuk membantu
mengembalikan para pengungsi ke daerah asalnya Aceh Selatan.
Sekitar 800 pengungsi korban gempa dan tsunami asal Aceh Selatan yang selama ini
bekerja dan menetap di Banda Aceh sudah dikembalikan ke daerah asal di Tapak Tuan.
Masyarakat yang melihat langsung kondisi para pengungsi yang berjubel di Jalan Medan
Area Selatan, mengharapkan pemerintah mulai aparat kelurahan, kecamatan, Pemko Medan dan
Pemprop Sumut agar mengerahkan tenaga sukarela seperti ibu-ibu PKK untuk membuka dapur
umum.
Pemerintah, kata mereka, seharusnya mengkoordinir atau mengerahkan organisasi wanita,
organisasi sosial, ibu-ibu perwiritan atau mahasiswi perguruan tinggi negeri dan swasta
untuk membuka dapur-dapur umum, agar para pengungsi tidak lagi makan mi mentah.
Berdasar pantauan, karung-karung beras bantuan terlihat hanya diduduki karena para
pengungsi tidak memiliki peralatan dapur untuk memasak.
Mesin Pembunuh
Sejumlah warga yang bertahan di Aceh maupun para pengungsi, kini dihadapkan dengan
ancaman serius wabah penyakit menular, seperti kolera, pneumonia, diare, disentri dan
malaria. Wabah yang diperkirakan menjadi mesin pembunuh kedua pasca gempa
tsunami di Aceh dan Sumatera Utara itu, bersumber dari buruknya sanitasi, sulitnya air
bersih, serta membusuknya mayat karena belum dikubur.
Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyarankan agar para relawan yang menangani masalah
pengungsian di Aceh memperhatikan masalah kebersihan air dan sanitasi. Jika hal itu tidak
dilakukan maka akan menjadi gelombang kematian kedua pasca bencana.
"Bencana akan mengakibatkan kondisi yang sangat buruk bagi kehidupan orang yang
selamat. Harus diusahakan agar tidak meningkat kematian yang disebabkan oleh penyakit
tersebut," kata Direktur Eksekutif Sustainable Development and Healthy Environments
WHO, David Nabarro, seperti yang dikutip skipnout.com.
Sebuah gelombang kematian kedua akan datang karena terjangkit kolera, pneumonia dan
malaria yang terjadi secara meluas. Obat-obatan dan anti septik serta nutrisi kekebalan
tubuh harus diberikan kepada para korban yang selamat.
Kondisi memburuknya lingkungan itu akan bertambah parah saat hujan mengguyur lokasi
bencana. Cuaca yang dingin karen hujan makin membuat kondisi kekebalan tubuh memburuk.
Para relawan yang bekerja juga harus diberikan buku panduan dalam hal menangani masalah
kesehatan pasca bencana. The American Public Health Association (APHA) seperti yang
dikutip The Health pernah menerbitkan buku panduan soal manajemen kesehatan publik
saat bencana. Buku semacam itu yang harusnya dibawa oleh para relawan. Selain untuk
menjaga kesehatan korban juga menjaga kesehatan para relawan.
Korban bencana juga tidak hanya diberikan bantuan kesehatan secara fisik, tapi juga
diberikan konseling untuk menjaga mental mereka yang jatuh akibat bencana.
Hingga kemarin, hampir semua relawan yang membantu evakuasi mayat di Banda Aceh mengaku
kekurangan kantung mayat. Mereka mengaku masih banyak mayat yang belum dijamah sementara
persediaan kantung mayat mulai menipis.
Padahal, evakuasi mayat tujuh hari pasca gempa dan tsunami masih terbatas pada daerah
atau tempat yang mudah dijangkau. Sementara evakuasi selama ini masih lebih banyak
dilakukan di tempat yang mudah dijangkau.
Asisten Koordinator Search and Reascue (SAR) Medan, Juni Antonius, menjelaskan, kantung
mayat yang mereka pakai saja selama ini sebenarnya kurang representatis, karena hanya
membungkus mayat saja dan tidak menutup mayat keseluruhan.
"Beda dengan kantung mayat yang memiliki resleting yang berwarna kuning atau
putih. Sementara yang kami pakai ini warnanya hitam sama seperti kantung plastik
biasa," ujar Juni, ketika bersama teman-temannya tengah mengevakuasi mayat di Masjid
Al Huda, Kampung Laksana, Banda Aceh.
Meskipun demikian ia mengaku bersyukur kantung plastik masih tersedia setidaknya untuk
melapis tubuh mayat yang sebagian besar sudah membusuk dan menimbulkan bau anyir.
"Saya khawatir kalau persediaan kantung mayat tidak ditambah lagi nanti tim relawan
kekurangan kantung mayat. Padahal setiap hari kami mengevakuasi ratusan mayat,"
katanya.
Kooordinator Palang Merah Indonesia (PMI), Edward SY, juga turut mengeluhkan mulai
menipisnya kekurangan persediaan kantung mayat. Menurutnya, tugas pokok PMI sebenarnya
hanya memberikan bantuan praktis berupa penyelematan korban gempa atau pertolongan medis
lainnya, namun dengan melihat banyak mayat yang masih berserakan di jalan sementara tenaga
evakuasi berkurang maka mereka memilih langsung mengevakuasi mayat. ti/ant/dtc/JBP/ugi/aco