:: Kompas Cyber Media ::

[::] Portal Berita Daerah [::]

Metro Banjar • Serambi Ummah • BëBAS • Diafragma • PASAR • INTECH

Berita Cetak
HOME
Berita Utama

Nusantara
Banjarmasin Plus
Banjarmasin Bungas
BISNIS
Sport Vaganza
Opini-Hot Line

Kalimantan Selatan
Kalimantan Timur
Kalimantan Tengah

Hiburan-Gaya Hidup
Internasional
Berita Kemarin
Info Data & Media
Banjarmasin Post
Susunan Redaksi

Pasang Iklan
Order Cetak
Berlangganan
Supporting By

Senin, 03 Januari 2005 02:19:01


Ratusan Pengungsi Tewas

Banda Aceh, BPost
Ratusan di antara ribuan pengungsi di Aceh meninggal akibat menderita berbagai penyakit pasca gempa dan gelombang tsunami. Walau sempat mendapat perawatan medis, namun karena persediaan obat terbatas, mereka akhirnya tidak tertolong. Para pengungsi juga terancam penyakit menular seperti kolera, pneumonia, diare, disentri dan malaria.

Dokter Agung Darmawan, sukarelawan dari Semarang yang sempat menangani para korban, mengaku pasrah dan tak mampu berbuat apa-apa. "Selain tidak ada obat, beberapa peralatan kesehatan juga kurang," kata Agung di Aceh, Minggu (2/1).

Agung menjelaskan, para pengungsi berpotensi terjangkit berbagai penyakit. Penyakit tersebut ditimbulkan oleh lingkungan daerah yang tidak steril, juga masih banyaknya mayat-mayat yang belum dievakusi.

Ribuan pengungsi korban gempa bumi dan gelombang tsunami ini juga berjubel di Pangkalan TNI Angkatan Udara Sultan Iskandar Muda, Banda Aceh. Rencananya, mereka akan diberangkatkan ke erdan, Sumatera Utara.

Sampai Minggu kemarin belum ada kejelasan kapan mereka berangkat lantaran jadwal kedatangan dan keberangkatan pesawat Hercules tidak menentu. "Kami sudah dua hari menunggu Hercules," keluh Nuryati, salah satu korban.

Masih minimnya pendistribusian bantuan pangan dan obat-obatan, membuat para korban gempa bumi dan gelombang tsunami, baik yang tinggal di tenda-tenda maupun di rumah penduduk dan sanak keluarga, menjerit.

"Bantuan untuk para korban yang mengungsi ini masih sangat minim, akibatnya warga yang rumahnya ditumpangi pengungsi terpaksa harus menanggung konsumsi mereka," kata seorang warga perumahan Bukit Permai, desa Gue Gajah, Banda Aceh, kemarin.

Sebagai contoh, di rumah Udin (48) sejak 26 Desember sampai delapan hari setelah itu, menampung sebanyak 30 kepala keluarga dan baru mendapat bantuan 15 kg beras dan satu dus mie instan. "Akibatnya, ya kekurangannya terpaksa kita yang menanggung. Tapi demi kemanusiaan kami siap untuk itu," kata Udin.

Di tempat tetangga sebelah rumah Udin, dalam kurun waktu yang sama terdapat tujuh kepala keluarga ikut mengungsi. Mereka yang mengungsi itu selain hanya punya pakaian yang ada di badan, juga ada yang mengalami luka-luka dan kehilangan rumah, harta benda, hingga anggota keluarga.

Warga dan para korban mengharapkan pemerintah bertindak lebih cepat menangani masalah korban, pengungsi, penyaluran bantuan, antisipasi serangan penyakit, dan sarana listrik dan telepon.

Sementara itu, masyarakat yang tinggal di pulau-pulau kecil yang selamat dari gempa dan amukan gelombang tsunami memilih eksodus meninggalkan kampu halamannya.

Mereka kehabisan bahan makanan dan luka-luka yang diderita akibat gempa dan terseret ombak tidak ada yang mengobati. Di samping itu mereka juga takut gempa dan gelombang tsunami kembali menerjang mereka.

Menurut Hafni, salah seorang warga yang mengungsi, kampung halamannya di Pulau Aceh sudah hampir kosong. Tinggal beberapa orang, tapi mereka pun bersiap untuk bisa keluar dari sana. "Kami nggak mungkin di sana terus, sebab tak punya apa-apa lagi yang bisa di makan," katanya.

Hafni menyatakan, dirinya mengungsi karena juga ingin mendapatkan pengobatan. Tubuhnya yang penuh luka-luka goresan hanya diobati dengan seadanya. Ia mengaku belum mendapatkan perawatan dokter. Tidak ada bantuan kesehatan yang sampai sana.

Selain masyarakat dari Pulau Aceh, eksodus pengosongan kampung juga terjadi di pulau Lampuyang dan Rubiah. Tujuan masyarakat ini rata-rata ke Banda Aceh. Pilihan itu karena Banda Aceh yang paling dekat dan menurut informasi yang mereka terima di Banda Aceh banyak penampungan dan tenaga medis yang dapat membantu mereka.

Makan Mi Mentah

Dari Medan dilaporkan ratusan pengungsi Aceh yang kini berada di tempat penampungan sementara seperti di Jalan Medan Area Selatan mengaku hanya makan mi instan mentah serta minum air mineral.

"Sudah dua hari kami tidak makan nasi sejak berangkat dari Banda Aceh hingga tiba di Medan pada Minggu siang ini. Makanan yang ada seperti mi instan bantuan kami makan mentah," tutur Azwar (22), seorang pengungsi yang selamat.

Azwar menuturkan, rumahnya yang berada di Lengke, Banda Aceh telah rata dengan tanah akibat bencana tsunami 26 Desember lalu. Ia kini berada di penampungan sementara CV Mulia Tour Medan.

Para pengungsi yang umumnya kaum wanita, tampak masih berduka dan beberapa di antara mereka terlihat menangis sambil mengunyah mi instan mentah di Kantor CV Mulia Tour milik Haji Raibun dan Hj Cut Ramyas, pengusaha yang memiliki kepedulian tinggi untuk membantu mengembalikan para pengungsi ke daerah asalnya Aceh Selatan.

Sekitar 800 pengungsi korban gempa dan tsunami asal Aceh Selatan yang selama ini bekerja dan menetap di Banda Aceh sudah dikembalikan ke daerah asal di Tapak Tuan.

Masyarakat yang melihat langsung kondisi para pengungsi yang berjubel di Jalan Medan Area Selatan, mengharapkan pemerintah mulai aparat kelurahan, kecamatan, Pemko Medan dan Pemprop Sumut agar mengerahkan tenaga sukarela seperti ibu-ibu PKK untuk membuka dapur umum.

Pemerintah, kata mereka, seharusnya mengkoordinir atau mengerahkan organisasi wanita, organisasi sosial, ibu-ibu perwiritan atau mahasiswi perguruan tinggi negeri dan swasta untuk membuka dapur-dapur umum, agar para pengungsi tidak lagi makan mi mentah.

Berdasar pantauan, karung-karung beras bantuan terlihat hanya diduduki karena para pengungsi tidak memiliki peralatan dapur untuk memasak.

‘Mesin Pembunuh’

Sejumlah warga yang bertahan di Aceh maupun para pengungsi, kini dihadapkan dengan ancaman serius wabah penyakit menular, seperti kolera, pneumonia, diare, disentri dan malaria. Wabah yang diperkirakan menjadi ‘mesin pembunuh’ kedua pasca gempa tsunami di Aceh dan Sumatera Utara itu, bersumber dari buruknya sanitasi, sulitnya air bersih, serta membusuknya mayat karena belum dikubur.

Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyarankan agar para relawan yang menangani masalah pengungsian di Aceh memperhatikan masalah kebersihan air dan sanitasi. Jika hal itu tidak dilakukan maka akan menjadi gelombang kematian kedua pasca bencana.

"Bencana akan mengakibatkan kondisi yang sangat buruk bagi kehidupan orang yang selamat. Harus diusahakan agar tidak meningkat kematian yang disebabkan oleh penyakit tersebut," kata Direktur Eksekutif Sustainable Development and Healthy Environments WHO, David Nabarro, seperti yang dikutip skipnout.com.

Sebuah gelombang kematian kedua akan datang karena terjangkit kolera, pneumonia dan malaria yang terjadi secara meluas. Obat-obatan dan anti septik serta nutrisi kekebalan tubuh harus diberikan kepada para korban yang selamat.

Kondisi memburuknya lingkungan itu akan bertambah parah saat hujan mengguyur lokasi bencana. Cuaca yang dingin karen hujan makin membuat kondisi kekebalan tubuh memburuk.

Para relawan yang bekerja juga harus diberikan buku panduan dalam hal menangani masalah kesehatan pasca bencana. The American Public Health Association (APHA) seperti yang dikutip The Health pernah menerbitkan buku panduan soal manajemen kesehatan publik saat bencana. Buku semacam itu yang harusnya dibawa oleh para relawan. Selain untuk menjaga kesehatan korban juga menjaga kesehatan para relawan.

Korban bencana juga tidak hanya diberikan bantuan kesehatan secara fisik, tapi juga diberikan konseling untuk menjaga mental mereka yang jatuh akibat bencana.

Hingga kemarin, hampir semua relawan yang membantu evakuasi mayat di Banda Aceh mengaku kekurangan kantung mayat. Mereka mengaku masih banyak mayat yang belum dijamah sementara persediaan kantung mayat mulai menipis.

Padahal, evakuasi mayat tujuh hari pasca gempa dan tsunami masih terbatas pada daerah atau tempat yang mudah dijangkau. Sementara evakuasi selama ini masih lebih banyak dilakukan di tempat yang mudah dijangkau.

Asisten Koordinator Search and Reascue (SAR) Medan, Juni Antonius, menjelaskan, kantung mayat yang mereka pakai saja selama ini sebenarnya kurang representatis, karena hanya membungkus mayat saja dan tidak menutup mayat keseluruhan.

"Beda dengan kantung mayat yang memiliki resleting yang berwarna kuning atau putih. Sementara yang kami pakai ini warnanya hitam sama seperti kantung plastik biasa," ujar Juni, ketika bersama teman-temannya tengah mengevakuasi mayat di Masjid Al Huda, Kampung Laksana, Banda Aceh.

Meskipun demikian ia mengaku bersyukur kantung plastik masih tersedia setidaknya untuk melapis tubuh mayat yang sebagian besar sudah membusuk dan menimbulkan bau anyir. "Saya khawatir kalau persediaan kantung mayat tidak ditambah lagi nanti tim relawan kekurangan kantung mayat. Padahal setiap hari kami mengevakuasi ratusan mayat," katanya.

Kooordinator Palang Merah Indonesia (PMI), Edward SY, juga turut mengeluhkan mulai menipisnya kekurangan persediaan kantung mayat. Menurutnya, tugas pokok PMI sebenarnya hanya memberikan bantuan praktis berupa penyelematan korban gempa atau pertolongan medis lainnya, namun dengan melihat banyak mayat yang masih berserakan di jalan sementara tenaga evakuasi berkurang maka mereka memilih langsung mengevakuasi mayat. ti/ant/dtc/JBP/ugi/aco


Copyright © 2003 Banjarmasin Post


Berita Utama
Ratusan Pengungsi Tewas

Korban Tewas Di Indonesia Jadi 80.259 Orang


Anak Korban Tsunami Diculik


Adiguna Resmi Jadi Tersangka


KPK Minta Dewan Cermati Siring


Kisah Korban Tsunami Aceh (2-Habis) Berenang Di Antara Mayat


Bank Dijaga Ketat


Korem Buka Lowongan Relawan


Selamat Peluk Pohon Palm


Malaysia Pulangkan 6.151 TKI


Keloter 15 Terlambat 5,5 Jam


Banjarmasin Post Group Jl Haryono MT 143/54 Banjarmasin 70111 Phone: +62-511-54370 Fax: +62-511-66123