Jakarta, BPost
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono secara tegas menolak desakan berbagai pihak
untuk melakukan perombakan (reshuffle) Kabinet Indonesia Bersatu. Reshuflle
dilakukan kalau ada alasan kuat, seperti ada anggota kabinet tak dapat menjalankan tugas
dan melakukan kesalahan yang prinsipil, tegasnya.
Apalagi, "Bagaimana mungkin saya me-reshuffle kabinet yang baru berumur
tiga bulan lebih," tegas Yudhoyono saat diwawancarai beberapa pemimpin redaksi media
massa pada acara Meet the Press di Metro TV, Jumat (28/1) malam.
Dikatakan Yudhoyono, dirinya hanya akan meladeni desakan reshuffle dari
masyarakat apabila alasannya kuat. Mantan Menkopolkam itu menggarisbawahi dirinya baru
mengganti menteri jika skor kinerjanya berada di bawah standar penilaiannya.
Berdasarkan kontrak politik yang ditandatangani para menteri, dia akan mengevaluasi
kinerja para menteri setelah satu tahun. Itupun, menurut presiden, bukan bertujuan untuk
me-reshuffle kabinet.
"Reshuffle dilakukan jika ada anggota kabinet yang tak bisa menjalankan
tugas dan melakukan kesalahan yang prinsip seperti korupsi dan lainnya," tandasnya
lagi.
Dia sendiri tidak berharap tidak ada reshuffle kabinet, kecuali (kinerja) jauh
di bawah standar yang diinginkan. Itu sebabnya, dia mengingatkan agar kabinet dapat
bekerja secara penuh. Disinggung buruknya kinerja tim ekonomi, menurut Yudhoyono tidak
mungkin dalam 100 hari pemerintah menyulap tingkat kesejahteraan, mencapai sasaran
ekonomi, pengentasan kemiskinan, pengurangan pengangguran secara drastis. "Saya kira
tidak pernah ada di negara manapun," cetus dia.
Yang terpenting, kata presiden, landasannya sudah dimulai. Untuk mengurangi kemiskinan,
misalnya, digerakan perkebunan, pertanian, peternakan, dan ekonomi pedesaan, sehingga ke
depan akan ada perubahan. Pengangguran, kata presiden, dapat dipecahkan dengan
pengembangan sektor riil dan juga pembangunan infrastruktur besar-besaran.
Sebelumnya sejumlah ekonom menilai prestasi kerja tim ekonomi kabinet Yudhoyono-Kalla
selama 100 hari masih lembek dan belum kompak. Kalangan ekonom menilai rapor tim ekonomi
Kabinet Indonesia Bersatu dengan nilai 6.
Mendukung
Namun, pPernyataan Presiden Yudyoyono mendapat dukungan dari Partai Demokrat, partai
penyokongnya di parlemen. Wakil Sekjen Partai Demokrat, Max Sopacua, secara terpisah
mengatakan, penilaian terhadap kinerja pemerintah baru layak dilakukan minimal dalam kurun
waktu setahun. 100 hari dipandang terlalu pendek. Apalagi Yudhoyono naik ke tampuk
kekuasaan mewarisi carut-marutnya permasalahan ekonomi, politik dan hukum yang
ditinggalkan pemerintahan sebelumnya.
"Kami heran, penilaian 100 hari presiden kok cuma diekspoitasi hal-hal yang
miring saja. Jangan lupakan, banyak hal positif yang sudah dicapai. Kalau ada kekurangan,
itu karena saking beratnya warisan permasalahan yang ditinggalkan rezim sebelumnya,"
tegas Sopacua.
Oleh karena itu, Max merekomendasikan kepada presiden agar menjadikan setiap kritikan
sebagai motivasi untuk lebih memacu kinerja.
"Tapi kalau arah tuntutannya ke perombakan kabinet, kita tidak mendukungnya.
Karena itu terlalu pagi," cetus mantan penyiar TVRI itu.
Sementara Sekjen PB HMI Fajar Zulkarnaen, bersikukuh perlunya Yudhyono merombak
kabinet. Program terapi kejut (shock terapy) yang dijanjikan Presiden Yudhoyono di
awal pemerintahan, dinilanya tak terbukti. Tidak ada sebuah prestasi pemerintahan yang
mampu menghentak publik, tandasnya.
"Yang menghentakkan publik bukan prestasi kinerja, tapi bencana alam di Aceh dan
Sumut. Jadi terapi kejut untuk program antikorupsi dan semacamnya itu mana?" kata
Fajar.
Dia menambahkan, target 100 hari menangkap otak terorisme, Azahari dan Noordin Moh Top,
juga mengalami kegagalan.
Fajar menyebut contoh, dari 63 butir agenda 100 hari yang disusun Badan Perencanaan dan
Pembangunan Nasional (Bappenas), hanya sekitar 20 persen yang terlaksana. "Itupun
tidak optimal," imbuhnya.
Pjs PB HMI, Syahmud Basri Ngabalin menimpali, tim ekonomi Yudhoyono-Kalla juga belum
menunjukkan gebrakan yang berarti dalam 100 hari. Sejauh ini belum ada kebijakan yang
merangsang pergerakan usaha kecil, penciptaan lapangan kerja dan mengurangi angka
kemiskinan.
"Yang jelas tampak, tim ekonomi mengalami kegagalan memperoleh moratorium
utang," cetus Basri. JBP/abs/yat