Kuala Lumpur, BPost
Badan Perserikatan Bangsa Bangsa yang mengurusi anak-anak (UNICEF) mengakui adanya
penjualan bayi dan anak yatim piatu korban gempa dan tsunami di Nangroe Aceh Darussalam
(NAD). Diperkirakan 35 ribu anak di Aceh kini menjadi yatim piatu dan tidak lagi memiliki
rumah akibat musibah 26 Desember lalu.
John Budd, jurubicara UNICEF di Malaysia mengungkapkan, pihaknya telah menerima pesan
singkat (SMS) berisi iklan penawaran 300 anak yatim piatu asal Aceh berusia 3-10 tahun.
Budd, seperti dikutip kantor berita AFP, Rabu (5/1), menambahkan satu kasus
penjualan anak sudah dikonfirmasikan kebenarannya. Anak yang tak dirilis identitasnya itu
diselundupkan ke luar Aceh menuju Medan, kemudian diperjualbelikan.
"Ini mengindikasikan mereka telah mendapatkan anak-anak, atau mereka memiliki
jaringan yang bisa mengidentifikasikan anak-anak dan kemudian membawa mereka keluar,"
cetus pejabat UNICEF itu.
Dikatakan Budd, tindakan yang dilakukan komplotan penyelundup anak untuk
diperjualbelikan merupakan tindakan kriminal yang kejam dan bengis.
Sebelumnya, sebuah lembaga swadaya masyarakat berbasis di Medan, Aceh Sepakat,
mensinyalir 20 anak telah dijual ke Malaysia dan Bandung.
UNICEF memperkirakan satu juta anak yang selamat dari tsunami di seluruh Asia Tenggara
dan Selatan akan menghadapi bahaya yang mengintai, seperti malnutrisi, penyakit dan
perdagangan manusia.
Menurut Budd, komplotan perdagangan manusia bisa beroperasi dengan mudah di Aceh. Namun
pihaknya yakin dengan adanya tindakan cepat dari pemerintah Indonesia dan organisasi
bantuan yang ada, bisa membatasi ruang gerak komplotan tersebut.
"Apalagi adanya kehadiran militer dan polisi dalam jumlah besar. Semoga
upaya-upaya itu bisa membantu menghentikan penyelundupan anak-anak," ucap Budd.
Menyikapi hal itu, Wakil Presiden Jusuf Kalla selaku Ketua Bakornas Penanggulangan
Bencana dan Penanganan Pengungsi, kemarin, mengeluarkan surat keputusan mengenai
penanganan anak yatim/telantar korban gempa bumi tsunami di di Aceh.
SK bernomor 02 tahun 2005 yang diterima BPost, di Istana Wapres, itu mengatur
mengenai penanganan korban bencana di Aceh guna menghindari terjadinya penyelundupan anak
atau wanita dan masuknya paham-paham tertentu terhadap masyarakat Aceh yang selama ini
dikenal sangat taat beragama Islam. Dalam SK yang diteken Jusuf Kalla, Selasa (4/1) malam
itu, juga mengatur mengenai cara pengadopsian anak.
Sebelum menjadi SK, ada beberapa poin penting di antaranya menyebut, anak-anak korban
bencana ditampung dan diasuh serta dilakukan pendataan untuk mencari keluarga dekatnya di
di NAD serta dilarang keluar dari NAD sebelum pendataan dilakukan.
Bila panti asuhan di NAD tidak memadai, maka akan ditempatkan di panti asuhan
pemerintah atau panti asuhan yang dikelola yayasan Islam serta pesantren-pesantren yang
memenuhi syarat di Sumatera dan di Jawa.
Poin lainnya adalah, bila anggota masyarakat yang berkeinginan menjadi orangtua asuh,
mengingat sebagian besar anak beragama Islam, maka orangtua asuh harus beragama Islam,
berkemampuan ekonomi dan mempunyai keluarga yang kondisinya baik.
Keputusan itu ditandatangani berdasarkan hasil rapat 3 Januari 205 antara Wapres dengan
Mendiknas, Menteri Agama, Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan, Menteri Negara Komunikasi
dan Informasi, Majelis Ulama Indonesia, ormas-ormas Islam, LSM dan pemuka masyarakat Aceh
di Jakarta.
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono telah meminta Wapres Jusuf Kalla melakukan koordinasi
untuk menyelamatkan anak-anak korban bencana. "Saya meminta langkah terpadu terhadap
panti asuhan dan pesantren untuk memastikan pengambilan anak-anak yang berhak dan
sah," kata Yudhoyono.
Terbitnya SK No 1 tahun 2005 yang diteken Wapres Jusuf Kalla ternyata dikritisi oleh
mantan Presiden KH Abdurrahman Wahid. Dikatakan, sikap Kalla telah melangkahi Susilo
Bambang Yudhoyono sebagai presiden.
"Kalla telah melanggar sistem ketatanegaraan. Berdasar sistem presidensial, SK
yang biasa disebut kepres itu hanya presiden yang berhak mengeluarkan dan bertanggung
jawab, bukan wakil presiden," tandas Gus Dur, di Kantor PBNU, Jakarta, kemarin.
Audit bantuan Aceh
Sementara itu, Presiden Yudhoyono meminta Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) dan Badan
Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) memeriksa bantuan yang mengalir ke lokasi
bencana tsunami di Aceh dan Sumatera Utara.
"Saya telah meminta BPK mengaudit sumbangan yang telah mengalir ke para pengungsi.
Saya juga meminta para tim darurat, relawan yang mengurusi bantuan agar menyampaikan
bantuan itu tepat pada sasaran secara transparan dan akseptabel," kata Yudhoyono usai
meninjau persiapan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Tsunami, di Jakarta Convention
Center (JCC) Jakarta, kemarin.
Yudhoyono mengaku telah meminta bantuan lembaga-lembaga swadaya masyrakat (LSM),
seperti Indonesian Corruption Watch (ICW) dan Government Watch (Gowa) untuk
membantu pemerintah mengawasi penyaluran bantuan.
Dia berjanji akan mengambil tindakan tegas bila ditemukan adanya bukti-bukti tindak
penyelewengan bantuan. "Akan ada tindakan hukum tegas," ujarnya.
Selain itu presiden akan mengendalikan secara langsung pengawasan penerimaan dan
penyaluran bantuan-bantuan tersebut. "Sangat keterlaluan dan sangat tidak punya
hatilah, kalau ada yang sampai menyelewengkan bantuan tersebut. Karena itu bukan
haknya,"katanya.
Klarifikasi PDS
Sementara itu, Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Damai Sejahtera (PDS) dalam email-nya
yang diterima BPost, kemarin, membantah isu yang berkembang bahwa PDS sedang
melakukan upaya kristenisasi dengan bentuk mengadopsi anak-anak korban bencana di Aceh.
Dikatakan, isu itu adalah upaya penyesatan dan cenderung mendiskreditkan dan
memprovokasi kelompok masyarakat yang sedang bahu membahu membantu meringankan penderitaan
masyarakat di daerah itu.
"Upaya yang dilakukan semua pihak saat ini adalah murni kemanusiaan sebagai bentuk
kepedulian tanpa dilatarbelakangi oleh motif lainnya," tulis pernyataan parpol yang
ditandatangani ketua DPP PDS Ruyandi Hutasoit.
Pihaknya meminta semua pihak tidak terpancing dengan isu yang menyatakan bahwa adanya
organisasi yang mengimbau masyarakat untuk tidak menerima bantuan dari orang kafir.
" DPP PDS meminta semua pihak melihat masalah yang dialami masyarakat Aceh dan
Sumut dengan lebih jernih sehingga penderitaan yang mereka rasakan saat ini menjadi lebih
ringan," kata Ruyandi. JBP/ewa/yat/afp