Jakarta, BPost
Para kepala negara-negara ASEAN dan pemimpin dunia akhirnya menyepakati usulan
pembentukan sistem peringatan dini (early warning system). Sistem tersebut akan
dibangun di Samudera Hindia guna mengurangi jumlah korban apabila terjadi gelombang
tsunami.
"Kami sepakat berkomitmen mendukung korban yang terkena bencana alam. Selain itu
untuk membangun peringatan dini untuk mencegah korban yang lebih banyak pada
bencana-bencana sesudah ini," kata Presiden Susilo Bambang Yudhoyono usai penutupan
Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN Pasca Gempa Bumi dan Tsunami di Jakarta Convention
Center (JCC), Kamis (6/1).
Beberapa jam sebelum digelar KTT, sekitar pukul 07.56 WIB, sebuah gempa berkekuatan 5,7
Skala Richter kembali mengguncang Banda Aceh dan sekitarnya. Goncangan yang cukup kuat itu
kembali membuat panik masyarakat di daerah itu yang belum pulih dari trauma gempa dan
tsunami. Hal serupa juga terjadi di banyak daerah di Indonesia. Sehari sebelumnya Rabu
(5/1), gempa berkekuatan 5,1 Skala Richter juga melanda Banda Aceh.
Menurut Budi Waluyo dari Badan Metreologi dan Geofisika (BMG), pusat gempa berada pada
5.5 derajat Lintang Utara (LU) dan 94.1 derajat Bujur Timur (BT) di Samudera Hindia,
sekitar 144 Km barat Banda Aceh, dengan kedalaman 15 Km.
Budi memperkirakan serangkaian gempa susulan masih akan terus terjadi di kawasan
pesisir Aceh. Namun, kata Budi, kemungkinan munculnya kembali serangan gelombanmg tsunami.
Berdasarkan statistik, sebut Budi, gempa susulan masih berpeluang terjadi dalam
tenggang waktu 25 hari sejak gempa utama. "Umumnya memang begitu, namun ada juga
gempa susulan tetap terjadi selama berbulan-bulan," imbuh dia.
Deklarasi tsunami
KTT tsunami yang berlangsung satu hari selain dihadiri pemimpin
negara-negara ASEAN juga pejabat sejumlah negara maju. PM Singapura Lee Hsien Loong
memyatakan pemerintahkan akan memberikan bantuan bagi pemulihan Aceh sebesar 15 juta dolar
AS.
Sementara Perdana Menteri Jepang juga menghibahkan 13 miliar yen untuk program
pembangunan daerah-daerah yang rusak parah di Aceh dan Sumut.
Secara keseluruhan KTT menghasilkan deklarasi yang disebut Declaration on Action to
Strengthen Emergency Relief, Rehabilitation, and The Construction on The Aftermath of
Earthquake and Tsunami Disaster of 26 December 2004.
Hadir dalam KTT antara lain, PM Malaysia Abdullah Ahmad Badawi, Sultan Brunei Hasanal
Bolkian, PM Singapura Lee Hsien Long, PM Australia John Howard, PM Kamboja Hunsen, Menteri
Luar Negeri AS Collin Powel, PM Jepang Junichiro Khoizumi dan sejumlah pemimpin negara
lainnya
Seluruh peserta KTT juga mendukung pembentukan sistem peringatan dini di kawasan
Samudera Hindia. Presiden Yudhoyono, Ketua ASEAN yang juga PM Laos Bounnhang Vorachitch,
PM Singapura Lee Hsien Loong dan Sekjen PBB Kofi Annan menghendaki dibentuknya early
warning system di wilayah Samudera Hindia seperti yang dibangun di Samudera Pasifik.
"Dengan sistem peringatan dini diharapkan besarnya korban jiwa dapat dikurangi
jika gelombang tsunami datang," kata PM Bounnhang.
Merealisasikan pembangunan sistem peringatan, Bounnhang meminta setiap negara peserta
KTT mengirimkan ahli dan pakarnya.
Sementara PM Singapura Lee Hsien Loong meminta upaya penanganan korban tsunami
dikoordinasikan sehingga pemberian bantuan dapat menjadi lebih fokus. Menurut Lee, PBB
sebagai organisasi global bertindak sebagai koordinator pemberian bantuan.
Untuk koordinasi itu, jelasnya, ditunjuk Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) sebagai
koordinator pelaksanaan untuk menjamin kontribusi dan didistribusikannya bantuan secara
efektif dan berkelanjutan..
Rekonstruksi Aceh
Sementara itu Wapres Jusuf Kalla mengatakan, untuk membangun kembali sarana
infrastruktur dan sektor privat di wilayah bencana tsunami di Aceh dan Sumatera utara
mencapai 1,5-2 miliar dolar AS.
Kalla mengakui, Indonesia belum memiliki estimasi awal mengenai biaya sosial dan
lingkungan hidup akibat bencana tersebut. Sebelumnya, sebut dia, kebutuhan dana pemulihan
di Aceh dan Sumut yang hancur akibat gempa bumi dan gelombang tsunami membengkak menjadi
Rp23 triliun.
Dikatakan, sedikitnya 1 juta orang kehilangan pekerjaan serta seluruh harta bendanya
akibat bencana tersebut. "Satu juta orang ini dipastikan akan hidup dalam garis
kemiskinan dan sangat bergantung kepada pemberian bantuan," papar Kalla.
Kapal AS
Sementara itum Menhan Juwono Sudarsono menepis sinyalemen pengamat yang mengatakan
kehadiran kapal induk Amerika Serikat Abraham Lincoln di Aceh membahayakan rahasia
pertahanan Indonesia.Ditegaskan dia, kehadiran kapal induk itu hanya membawa misi operasi
kemanusiaan terhadap para korban tsunami.
"Tidak, nggak ada pikiran sejauh itu," tandas Juwono kepada BPost, di
sela menghadiri KTT Tsunami.
Secara terpisah, pengamat intelijen, Dynno Chressbon, mengaku sangat menyesalkan dengan
tanggapan menteri pertahanan yang dianggap menyepelekan itu.
"Yang harus diingat, yang namanya operasi kemanusiaan itu selalu diikuti operasi
intelijen. Makanya, kehadiran kapal induk Amerika di Aceh itu tentunya juga membawa misi
intelijen," kata Dynno.
Dynno mengingatkan, intelijen dari AS yang datang berbaur dalam kapal induk bisa saja
main mata dengan kelompok separatis, Gerakan Aceh Merdeka (GAM).
Namun, Sekjen PBB Kofi Annan ditemui di sela-sela KTT Tsunami mengatakan, keberadaan
militer Amerika Serikat dan negara lain di daerah konflik Nanggroe Aceh Darussalam (NAD)
hanya sekitar 1 bulan. Keberadaan mereka hanya untuk proses evakuasi korban gempa dan
badai tsunami di daerah terpencil.
"Keberadaan mereka disana untuk misi kemanusiaan, dan mereka akan tinggal selama
masih dipelukan," jelas Annan pada konfrensi pers di Jakarta Convention Center, Kamis
(6/1).
Terpisah, pihak Mabes TNI juga meyakini keberadaan militer asing dari berbagai negara
di Nanggroe Aceh Darussalam dipastikan tidak akan membantu gerakan separatis GAM.
"Mereka bekerja atas norma kemanusiaan dan untuk menolong korban di Aceh dan
Sumut," kata Kadispenum TNI Kolonel Yani Basuki, di Mabes TNI Cilangkap.JBP/ewa/fik/abs