Jakarta, BPost
Tsunami, yang menghantam sebagian wilayah Asia Tenggara, Asia Selatan dan sebagian
benua Afrika, telah menyebabkan pendangkalan hebat di Selat Malaka. Pada beberapa ruas,
kedalaman alur paling sibuk di dunia yang semula memiliki 4.000 kaki itu kini hanya 100
kaki.
Kantor berita Associated Press (AP) mengutip laporan satelit intelijen mata-mata
Amerika Serikat, Jumat (7/1), melaporkan kondisi alur Malaka kini sangat berbahaya bagi
alur pelayaran kapal-kapal niaga.
Peter Doherty, dari Dinas Intelijen Bethesda yang bermarkas di National Geospatiale
menyarankan para pelaut segera membentuk gugus tugas untuk memetakan kembali perubahan
garis pantai di kawasan tersebut.
Kritisnya kondisi alur Malaka akibat tsunami itu yang menewaskan sekitar
100 ribu warga Nangroe Aceh Darussalam dan Sumatera Utara itu, menurut pengamat kelautan,
Prof Dr Dimyati Hartono SH, bisa dimanfaatkan oleh Indonesia. Itu sebabnya, dia
menyarankan pemerintah Indonesia dan dunia internasional mengalihkan alur pelayaran dari
Selat Malaka ke Selat Sunda untuk kapal-kapal niaga yang melintasi kawasan perairan
Indonesia.
Pengalihan itu, menurut Dimyati, merupakan solusi termudah untuk mengatasi potensi
pendangkalan alur di Selat Malaka akibat terjangan tsunami 26 Desember 2004.
"Pilihan terbaik adalah memindahkan alur pelayaran. Kapal-kapal dari Samudera
Hindia yang hendak ke Asia Timur seperti Jepang, Korea, Hongkong atau yang menuju pantai
barat Amerika dan sebaliknya bisa melintasi Selat Sunda lalu menyusuri Laut Jawa terus
berbelok ke utara atau terus ke timur," kata Dimyati kepada BPost, di Jakarta,
Jumat (7/1).
Menurut Dimyati, secara teknis, cukup sulit melakukan pengerukan di alur Malaka.
Pasalnya, material yang menumpuk di situ sangat banyak mencapai jutaan meter kubik.
"Cara terbaik ya mengalihkan alur pelayaran tadi," jelasnya.
Pakar geologi dari Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI, Dr Danny H Natawidjaya
membenarkan secara teknis dimungkinkan terjadi pendangkalan perairan laut karena tsunami.
"Arus kuat tsunami membawa material sedimen lumpur sangat besar dari darat maupun
dari pergeseran sedimen di bawah laut," jelas dia melalui ponselnya.
Diakuinya, pendangkalan alur Malaka itu menyebabkan perubahan topografi. "Karena
itu perlu ada penelitian kembali mengenai topografi di kawasan itu pasca tsunami agar
tidak membahayakan kapal-kapal yang berlayar," tambah Danny.
Pukul Singapura
Lebih jauh Dimyati mengatakan, untuk kepentingan ekonomi, militer dan politik,
perubahan alur pelayaran itu akan sedikit merugikan Singapura. Soalnya, bisa jadi
kapal-kapal niaga tak semuanya akan mau menyinggahi negara itu.
"Selama ini, Singapura menjadi negara kaya lantaran kontribusi dari Selat
Malaka," katanya.
Sekadar diketahui, Selat Malaka memiliki jalur pelayaran sepanjang 621 mil
menghubungkan antara laut China Selatan dengan Samudera Hindia. Selat Malaka salah satu
jalur pelayaran terpenting di dunia.
Setiap tahunnya, sekitar 50 ribu kapal melintasi Selat Malaka yang memberi kontribusi
sangat besar bagi negeri pulau seperti Singapura. Sekitar 80 persen keperluan minyak
Jepang dariTimur tengah diangkut melalui Selat Malaka.
Jika suatu kapal hendak menghindari Selat Malaka, maka harus memutar melewati perairan
dalam negeri Indonesia seperti Selat Sunda atau Selat Lombok. Artinya menambah jalur
pelayaran sejauh lebih dari 900 mil, atau sekitar 3 hari perjalanan. Itu sebabnya,
kapal-kapal niaga, tanker lebih memilih melalui Selat Malaka.
Padatnya arus keluar masuk kapal di Selat Malaka, menyebabkan alur itu juga berpotensi
timbul masalah, di antaranya munculnya aksi pembajakan, penyelundupan. Dan, yang terakhir
menjadi trend, adalah isu terorisme.
Kasus pembajakan muncul karena pembajakan sempat merajalela di kawasan ini, seiring
meningkatnya lalu lintas. Para perompak tidak hanya merampok muatan kapal, bahkan kadang
mencuri kapalnya sekalian dan meninggalkan awaknya di tengah laut.
Isu terorisme di alur itu, tak urung mengusik sejumlah negara besar seperti Amerika
Serikat, Australia yang berusaha ikut membantu menjaga kawasan tersebut. Bahkan, Australia
beberapa waktu lalu siap bersama-sama Indonesia, Singapura dan Malaysia melakukan patroli
bersama di kawasan tersebut.
Di sisi lain, pasca gelombang tsunami yang menyebabkan dangkalnya Selat Malaka, menurut
Dimyati sangat menguntungkan bagi Amerika Serikat. Secara geopolitik, sebut dia, negeri
adidaya itu sejak lama mengincar perairan Indonesia.
"AS berusaha meningkatkan pengaruh militer di kawasan ini karena topografinya yang
sangat strategis," paparnya. JBP/fin