:: Kompas Cyber Media ::

[::] Portal Berita Daerah [::]

Metro Banjar • Serambi Ummah • BëBAS • Diafragma • PASAR • INTECH

Berita Cetak
HOME
Berita Utama

Nusantara
Banjarmasin Plus
Banjarmasin Bungas
BISNIS
Sport Vaganza
Opini-Hot Line

Kalimantan Selatan
Kalimantan Timur
Kalimantan Tengah

Hiburan-Gaya Hidup
Internasional
Berita Kemarin
Info Data & Media
Banjarmasin Post
Susunan Redaksi

Pasang Iklan
Order Cetak
Berlangganan
Supporting By

Sabtu, 08 Januari 2005 01:59:21


Selat Malaka Dangkal

Jakarta, BPost
Tsunami, yang menghantam sebagian wilayah Asia Tenggara, Asia Selatan dan sebagian benua Afrika, telah menyebabkan pendangkalan hebat di Selat Malaka. Pada beberapa ruas, kedalaman alur paling sibuk di dunia yang semula memiliki 4.000 kaki itu kini hanya 100 kaki.

Kantor berita Associated Press (AP) mengutip laporan satelit intelijen mata-mata Amerika Serikat, Jumat (7/1), melaporkan kondisi alur Malaka kini sangat berbahaya bagi alur pelayaran kapal-kapal niaga.

Peter Doherty, dari Dinas Intelijen Bethesda yang bermarkas di National Geospatiale menyarankan para pelaut segera membentuk gugus tugas untuk memetakan kembali perubahan garis pantai di kawasan tersebut.

‘Kritisnya’ kondisi alur Malaka akibat tsunami itu yang menewaskan sekitar 100 ribu warga Nangroe Aceh Darussalam dan Sumatera Utara itu, menurut pengamat kelautan, Prof Dr Dimyati Hartono SH, bisa dimanfaatkan oleh Indonesia. Itu sebabnya, dia menyarankan pemerintah Indonesia dan dunia internasional mengalihkan alur pelayaran dari Selat Malaka ke Selat Sunda untuk kapal-kapal niaga yang melintasi kawasan perairan Indonesia.

Pengalihan itu, menurut Dimyati, merupakan solusi termudah untuk mengatasi potensi pendangkalan alur di Selat Malaka akibat terjangan tsunami 26 Desember 2004.

"Pilihan terbaik adalah memindahkan alur pelayaran. Kapal-kapal dari Samudera Hindia yang hendak ke Asia Timur seperti Jepang, Korea, Hongkong atau yang menuju pantai barat Amerika dan sebaliknya bisa melintasi Selat Sunda lalu menyusuri Laut Jawa terus berbelok ke utara atau terus ke timur," kata Dimyati kepada BPost, di Jakarta, Jumat (7/1).

Menurut Dimyati, secara teknis, cukup sulit melakukan pengerukan di alur Malaka. Pasalnya, material yang menumpuk di situ sangat banyak mencapai jutaan meter kubik. "Cara terbaik ya mengalihkan alur pelayaran tadi," jelasnya.

Pakar geologi dari Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI, Dr Danny H Natawidjaya membenarkan secara teknis dimungkinkan terjadi pendangkalan perairan laut karena tsunami. "Arus kuat tsunami membawa material sedimen lumpur sangat besar dari darat maupun dari pergeseran sedimen di bawah laut," jelas dia melalui ponselnya.

Diakuinya, pendangkalan alur Malaka itu menyebabkan perubahan topografi. "Karena itu perlu ada penelitian kembali mengenai topografi di kawasan itu pasca tsunami agar tidak membahayakan kapal-kapal yang berlayar," tambah Danny.

Pukul Singapura

Lebih jauh Dimyati mengatakan, untuk kepentingan ekonomi, militer dan politik, perubahan alur pelayaran itu akan sedikit merugikan Singapura. Soalnya, bisa jadi kapal-kapal niaga tak semuanya akan mau menyinggahi negara itu.

"Selama ini, Singapura menjadi negara kaya lantaran kontribusi dari Selat Malaka," katanya.

Sekadar diketahui, Selat Malaka memiliki jalur pelayaran sepanjang 621 mil menghubungkan antara laut China Selatan dengan Samudera Hindia. Selat Malaka salah satu jalur pelayaran terpenting di dunia.

Setiap tahunnya, sekitar 50 ribu kapal melintasi Selat Malaka yang memberi kontribusi sangat besar bagi negeri pulau seperti Singapura. Sekitar 80 persen keperluan minyak Jepang dariTimur tengah diangkut melalui Selat Malaka.

Jika suatu kapal hendak menghindari Selat Malaka, maka harus memutar melewati perairan dalam negeri Indonesia seperti Selat Sunda atau Selat Lombok. Artinya menambah jalur pelayaran sejauh lebih dari 900 mil, atau sekitar 3 hari perjalanan. Itu sebabnya, kapal-kapal niaga, tanker lebih memilih melalui Selat Malaka.

Padatnya arus keluar masuk kapal di Selat Malaka, menyebabkan alur itu juga berpotensi timbul masalah, di antaranya munculnya aksi pembajakan, penyelundupan. Dan, yang terakhir menjadi trend, adalah isu terorisme.

Kasus pembajakan muncul karena pembajakan sempat merajalela di kawasan ini, seiring meningkatnya lalu lintas. Para perompak tidak hanya merampok muatan kapal, bahkan kadang mencuri kapalnya sekalian dan meninggalkan awaknya di tengah laut.

Isu terorisme di alur itu, tak urung mengusik sejumlah negara besar seperti Amerika Serikat, Australia yang berusaha ikut membantu menjaga kawasan tersebut. Bahkan, Australia beberapa waktu lalu siap bersama-sama Indonesia, Singapura dan Malaysia melakukan patroli bersama di kawasan tersebut.

Di sisi lain, pasca gelombang tsunami yang menyebabkan dangkalnya Selat Malaka, menurut Dimyati sangat menguntungkan bagi Amerika Serikat. Secara geopolitik, sebut dia, negeri adidaya itu sejak lama mengincar perairan Indonesia.

"AS berusaha meningkatkan pengaruh militer di kawasan ini karena topografinya yang sangat strategis," paparnya. JBP/fin


Copyright © 2003 Banjarmasin Post


Berita Utama
Selat Malaka Dangkal

Selat Terkaya


Shalat Jumat Pertama Di Baiturrahman Ratusan Jamaah Menangis


200 Pasien RS Jiwa Kabur


Posko BPost Tembus Rp1 M


Jalur Teweh-Banjarmasin Terendam


Now Or Never


Cerita Di Balik Evakuasi Mayat Di Aceh (3-Habis) Senapan Mainan Gegerkan Relawan


GAM Serang Polisi


Sekjen PBB Syok


Anakku Kutitip ke Mobil Sampah


"Gus Dur Kan Suka Lucu"


Lagu Iwan Rp85 Juta


Masjid Asrama Terendam


Banjarmasin Post Group Jl Haryono MT 143/54 Banjarmasin 70111 Phone: +62-511-54370 Fax: +62-511-66123