Bireuen, BPost
Gerakan Aceh Merdeka (GAM) mulai turun gunung. Pasca tragedi tsunami, kelompok
separatis itu menyusupkan anggotanya ke berbagai lokasi pengungsian. Sebanyak lima anggota
GAM berhasil ditangkap aparat TNI atas laporan warga, di Jeunib, Kabupaten Bireuen, Sabtu
(8/1).
Informasi yang diperoleh BPost, kelima anggota GAM ditangkap saat memaksa
sejumlah pengungsi menyerahkan sejumlah uang dan bahan logistik. "Mereka memaksa para
pengungsi menyerahkan uang dan bahan logitik untuk keperluan mereka," kata satu
anggota TNI, di Bireueun.
Selain tidak diketahui asal-usulnya, mereka mondar-mandir di posko pengungsi untuk
tujuan yang belum diketahui. "Melihat gelagat kurang baik, kami laporkan ke
TNI," ungkap satu warga.
Aparat TNI yang berposko di Keude Jeunib kemudian mengadakan pengintaian, menggiring
dan kemudian menyergap mereka. "Kelima anggota GAM kita tangkap dan dibawa ke posko
untuk pemeriksaaan," ungkap satu anggota TNI dari Yonif 300/Raider.
Bertebaran lokasi pengungsian memang sangat memungkinkan bagi GAM untuk menyusupkan
anggotanya ke tempat tersebut. Mereka bisa berbaur dengan para korban gempa dan tsunami
yang tinggal di tenda-tenda darurat.
Berjatuhan
Memasuki hari ke-14 tragedi tsunami, satu per satu anggota tim relawan yang melakukan
evakuasi mayat mulai ambruk karena kelelahan. Seorang relawan dari Kalimantan Timur, Edy
Padang (35) terpaksa dipapah karena sakit.
Anggota Pemuda Pancasila itu mengerang kesakitan dan tiba-tiba ambruk saat bersama
beberapa rekannya satu daerah mengakat mayat korban tsunami, di Desa Lampulo Kecamatan
Kuta Alam, Banda Aceh.
"Aduh.... tolong.... Tolong," teriak Edy keras kepada kawan-kawannya yang
sedang mengangkat mayat. Teriakan itu tak dipedulikan rekan-rekannya yang terus jalan.
Edy pun berteriak kepada salah seorang anggota TNI dari Jakarta yang juga sedang
mengevakuasi mayat. "Tolong Pak, tolong Pak," pinta dia kepada Jaenuddin,
anggota Marinir.
Mengetahui itu, Jaenuddin berlari mendudukkan Edy di atas tanggul. Sepatu laras lelaki
asal Balikpapan itu lalu dibuka.
Bau mayat sempat tercium. Saat Jaenuddin menggulung celana panjang korban, terlihat
bulatan sebesar telur di betis Edy.
Jaenuddin lalu mengurut kaki Edy yang hari itu mengaku baru memikul empat mayat
sepanjang sekitar empat kilometer.
Selain kelelahan para relawan juga sudah mulai terjangkit berbagai penyakit kulit
akibat terkontaminasi mayat. Beberapa tim evakuasi yang datang dari berbagai daerah di
tanah air juga sudah mulai mengendorkan program evakuasinya.
Selain semakin berkurangnya mayat-mayat yang ditemukan, mereka tidak begitu memaksakan
diri melakukan evakuasi. Mereka hanya mengevakuasi mayat-mayat yang masih memungkinkan
diangkat.
"Kami bukan tidak mau lagi mengevakuasi. Kita beristirahat sambil menunggu
peralatan lebih memadai. Peralatan kita sangat minim. Kalau kita paksakan sangat berbahaya
bagi keselamatan relawan," tutur satu koordinator tim relawan dari Jakarta ditemui BPost,
baru-baru ini.
Sikap hati-hati dan proteksi dari para pimpinan tim relawan itu karena sudah ada
beberapa kasus yang menimpa para relawan saat mengevakuasi. Ada relawan yang kaki dan
tangannya membengkak.
Bahkan, informasi yang menyebar di antara relawan, dua relawan dari Bali, Much
Chairudin (24) dan Usman Yakobi (21), tangannya terpaksa diamputasi sampai pergelangan.
Jari tangannya yang semula luka membusuk karena terkontaminasi mayat.
Sementara itu, Rumah Sakit Umum Zainoel Abidin (RSUZA) yang sebagian tenaga medisnya
ikut jadi korban, akan diisi oleh tim medis mancanegara dengan standar internasional.
Sejak kemarin, tim medis asal Australia membuka kamar operasi di RSUZA Banda Aceh.
Selain itu tim medis Spanyol aktif di seputaran RSUZA. Sementara tim medis dari Jerman,
Perancis dan Cina akan bergabung.
Koordinator Tim Medis, Prof Dr Idrus Faturrussi mengatakan, selain tim medis dari
asing, tim medis RSUZA juga diisi tenaga medis dari Makasar Sulsel dan DKI Jakarta.
"Saat ini, RS Zainoel Abidin telah menjadi fokus internasional, sejumlah negara
telah bersedia menempatkan tim medisnya di RS ini," Onny Tenri Gampa, salah satu
koordinator tim medis.
Diminta Pulang
Sementara itu, Menko Kesra Alwi Sihab meminta warga Banda Aceh yang mengungsi keluar
Aceh segera pulang menempati rumah mereka dan melanjutkan aktivitasnya sehari-hari karena
situasi sudah kondusif dan aman.
"Kita jangan larut dalam duka berkepanjangan sebab duka Aceh adalah duka seluruh
bangsa Indonesia dan dunia. Gempa dan tsunami yang melanda Aceh adalah musibah yang
terelakkan serta tak ada yang bisa menyangkalnya," kata Alwi Shihab, di Pendopo
Gubernuran, Banda Aceh.
Dijelaskan, beberapa infrastruktur kota Banda Aceh sudah mulai membaik dan pelayanan
terhadap masyarakat sudah agak normal seperti intslasi listrik, air, dan perbankan serta
roda perekonomian mulai berjalan.
"Kita sekarang sudah bisa berbicara penanganan Aceh tahap II. Karena status emergency
untuk tahap I sudah bisa dikatakan sudah lewat dan cukup berhasil meskipun tak bisa
dipungkiri masih ada kekurangan," tutur Alwi.
Pada kesempatan itu dia mengucapkan terima kasih kepada relawan yang telah membantu
masyarakat Aceh memulihkan kondisi ini secepatnya sehingga bisa cepat membaik. si/mur/aco/bie