- Ombak 5 meter terjang KM Senopati
- Kapal berangkat dari Kumai Kalteng
- Keluarga serbu Adpel Tanjung Mas
Pangkalan Bun, BPost
Allahu Akbar, Allahu Akbar... Teriakan memuji kebesaran asmaAllah hanya terdengar
sekitar 30 menit. Pujian itu kemudian lenyap bersama tenggelamnya KM Senopati Nusantara
yang mengangkut 542 penumpang di perairan Mandalika, Jawa Tengah, Sabtu (30/12) dinihari.
Edi Kuncoro (28) adalah seorang yang merasakan detik-detik mencekam tersebut.
"Hanya butuh waktu 30 menit, ombak ganas menenggelamkan KM Senopati," kata Edi,
warga Temanggung, Jawa Tengah yang lolos dari maut.
Edi yang ditemui di RSUD Dr Koesma, Tuban, menceritakan, suasana saat itu sangat
menakutkan sekali. "Ada yang menangis, ada berteriak. Ada pula yang mengumandangkan
takbir Allah Akbar. Mengerikan sekali. Saya sendiri kalau mengingatnya takut
sekali," tuturnya.
Menurut karyawan PT Wana Sawit Kalteng ini, KM Senopati meninggalkan Pelabuhan Kumai,
Kalimantan Tengah, Kamis (28/12) sekitar pukul 20.30 Wita. Tujuannya, Pelabuhan Tanjung
Mas Semarang.
"Saat berangkat turun hujan deras dan gelombang lumayan besar. Empat jam kemudian
datang ombak besar dengan ketinggian berkisar 7 meter ke arah kapal. Kapal pun oleng ke
kiri," katanya.
Meski kapal sudah terombang-ambing, awak kapal masih berusaha menenteramkan penumpang
agar tetap tenang dan kembali ke tempatnya masing-masing.
"Namun, penumpang sadar kondisi kapal sudah sangat gawat. Kapal semakin oleng.
Listrik di kapal langsung padam. Ketakutan dan kepanikan pun melanda ratusan
penumpang," ujar Edi.
Upaya penyelamatan dilakukan penumpang. Sebagian besar penumpang yang bisa
menyelamatkan diri adalah mereka yang berada di dek paling atas. "Kalau yang berada
di dek bawah tidak mungkin karena semua penumpang berebut ingin keluar menyelamatkan
diri," katanya.
Dia sendiri mengaku langsung terjun bebas ke laut lepas begitu mengetahui kapal dalam
kondisi membahayakan. Nyawanya selamat karena tangannya berhasil meraih kapal sekoci yang
ternyata juga penuh penumpang.
"Hampir limabelas jam kami tak makan dan minum apa-apa selama terombang ambing di
laut lepas. Apalagi jika hujan, kita semua yang ada di sekoci kedinginan," kenangnya
terbata-bata.
Lain lagi dengan cerita Astutik (24). Niatnya merayakan Idul Adha di tanah Jawa malah
berbuntut duka. Kedua anaknya hilang. Warga Desa Mulyorejo, Kecamatan Kota Demak,
Kabupaten Demak, Jateng ini hanya bisa menangis. Wajah kedua anaknya yang hilang ditelan
ganasnya ombak perairan Jepara terus membayanginya.
Astuti mengalami syok berat. Ia tergolek lemas di RSUD Dr Koesma Tuban. Sejumlah sanak
saudaranya dengan setia mendampingi dan menghiburnya.
Duka mendalam juga dialami suami istri Misdan-Mariana. Pasangan ini kehilangan anak dan
menantunya, Risnawati (20) dan Suyitno (26)."Mereka itu pasangan yang sangat bahagia.
Mereka baru menikah seminggu yang lalu," ujar Misdan.
Putri Misdan, Risnawati menikah dengan Suyitno, seorang guru honorer di Madrasah
Aliayah Negeri, Pangkalan Bun, 23 Desember 2006 lalu. Usai melangsungkan resepsi
pernikahan di Pangkalan Bun, Suyitno mengajak istrinya sungkeman kepada kedua orangtuanya
di Solo, Jawa Tengah. Karena pada saat perayaan pernikahan, kedua orangtua Suyitno
berhalangan hadir.
"Saya yakin mereka masih bersatu. Jika selamat mereka masih bersama dan jika sudah
tiada pun mereka pasti tetap bersama," ujar Misdan.
Diserbu
Sejak berita tenggelamnya KM Senopati tersiar, hampir setiap hari puluhan warga
menyerbu Kantor Administrator Pelabuhan (Adpel) Kumai untuk melihat pengumuman korban
selamat. Pantuan BPost di Kantor Adpel Kumai, Minggu (31/12), para keluarga korban
berdesak-desakan di depan papan yang mengumumkan nama-nama penumpang yang ditemukan
selamat. "Nama sepupu saya tidak ada di pengumuman itu," keluh Helda, warga
Kelurahan Baru, Pangkalan Bun. ujarnya.
Selain di Kumai, Pelabuhan Tanjung Mas, Semarang, juga dipadati ratusan keluarga
penumpang KM Senopati. Petugas pelabuhan pun tampak sibuk.
Hingga Minggu petang, data sementara posko Pelabuhan Tanjung Mas Semarang mencatat 133
korban telah ditemukan.
"132 Korban ditemukan selamat dan 1 tewas," ujar anggota SAR.
Menurut kesaksian para korban selamat, sekitar 200 penumpang KM Senopati Nusantara
diperkirakan tenggelam bersama kapal.
"Banyak yang terjebak. Sekitar 200-an ada. Mereka tidak sempat keluar saat air
masuk ke dalam kapal," kata Tahirin (37), warga Kecamatan Ungaran, Semarang. dtc/ck6/JBP/ahf