:: Kompas Cyber Media ::

[::] Portal Berita Daerah [::]

Metro Banjar • Serambi Ummah Spirit Kalsel • Diafragma • PASAR

Berita Cetak
HOME
Idul Adha
Berita Utama

Nusantara
Banjarmasin Bungas
BISNIS
Sport Vaganza
Opini

Hot Line
Kalimantan Selatan
Kalimantan Timur
Kalimantan Tengah

Hiburan-Gaya Hidup
Internasional
Berita Kemarin
Info Data & Media
Banjarmasin Post
Susunan Redaksi

Pasang Iklan
Order Cetak
Berlangganan
Supporting By

Senin, 01 Januari 2007 02:14:47


Dua Ratus Penumpang Tenggelam

  • Ombak 5 meter terjang KM Senopati
  • Kapal berangkat dari Kumai Kalteng
  • Keluarga serbu Adpel Tanjung Mas

Pangkalan Bun, BPost
Allahu Akbar, Allahu Akbar... Teriakan memuji kebesaran asmaAllah hanya terdengar sekitar 30 menit. Pujian itu kemudian lenyap bersama tenggelamnya KM Senopati Nusantara yang mengangkut 542 penumpang di perairan Mandalika, Jawa Tengah, Sabtu (30/12) dinihari.

Edi Kuncoro (28) adalah seorang yang merasakan detik-detik mencekam tersebut. "Hanya butuh waktu 30 menit, ombak ganas menenggelamkan KM Senopati," kata Edi, warga Temanggung, Jawa Tengah yang lolos dari maut.

Edi yang ditemui di RSUD Dr Koesma, Tuban, menceritakan, suasana saat itu sangat menakutkan sekali. "Ada yang menangis, ada berteriak. Ada pula yang mengumandangkan takbir Allah Akbar. Mengerikan sekali. Saya sendiri kalau mengingatnya takut sekali," tuturnya.

Menurut karyawan PT Wana Sawit Kalteng ini, KM Senopati meninggalkan Pelabuhan Kumai, Kalimantan Tengah, Kamis (28/12) sekitar pukul 20.30 Wita. Tujuannya, Pelabuhan Tanjung Mas Semarang.

"Saat berangkat turun hujan deras dan gelombang lumayan besar. Empat jam kemudian datang ombak besar dengan ketinggian berkisar 7 meter ke arah kapal. Kapal pun oleng ke kiri," katanya.

Meski kapal sudah terombang-ambing, awak kapal masih berusaha menenteramkan penumpang agar tetap tenang dan kembali ke tempatnya masing-masing.

"Namun, penumpang sadar kondisi kapal sudah sangat gawat. Kapal semakin oleng. Listrik di kapal langsung padam. Ketakutan dan kepanikan pun melanda ratusan penumpang," ujar Edi.

Upaya penyelamatan dilakukan penumpang. Sebagian besar penumpang yang bisa menyelamatkan diri adalah mereka yang berada di dek paling atas. "Kalau yang berada di dek bawah tidak mungkin karena semua penumpang berebut ingin keluar menyelamatkan diri," katanya.

Dia sendiri mengaku langsung terjun bebas ke laut lepas begitu mengetahui kapal dalam kondisi membahayakan. Nyawanya selamat karena tangannya berhasil meraih kapal sekoci yang ternyata juga penuh penumpang.

"Hampir limabelas jam kami tak makan dan minum apa-apa selama terombang ambing di laut lepas. Apalagi jika hujan, kita semua yang ada di sekoci kedinginan," kenangnya terbata-bata.

Lain lagi dengan cerita Astutik (24). Niatnya merayakan Idul Adha di tanah Jawa malah berbuntut duka. Kedua anaknya hilang. Warga Desa Mulyorejo, Kecamatan Kota Demak, Kabupaten Demak, Jateng ini hanya bisa menangis. Wajah kedua anaknya yang hilang ditelan ganasnya ombak perairan Jepara terus membayanginya.

Astuti mengalami syok berat. Ia tergolek lemas di RSUD Dr Koesma Tuban. Sejumlah sanak saudaranya dengan setia mendampingi dan menghiburnya.

Duka mendalam juga dialami suami istri Misdan-Mariana. Pasangan ini kehilangan anak dan menantunya, Risnawati (20) dan Suyitno (26)."Mereka itu pasangan yang sangat bahagia. Mereka baru menikah seminggu yang lalu," ujar Misdan.

Putri Misdan, Risnawati menikah dengan Suyitno, seorang guru honorer di Madrasah Aliayah Negeri, Pangkalan Bun, 23 Desember 2006 lalu. Usai melangsungkan resepsi pernikahan di Pangkalan Bun, Suyitno mengajak istrinya sungkeman kepada kedua orangtuanya di Solo, Jawa Tengah. Karena pada saat perayaan pernikahan, kedua orangtua Suyitno berhalangan hadir.

"Saya yakin mereka masih bersatu. Jika selamat mereka masih bersama dan jika sudah tiada pun mereka pasti tetap bersama," ujar Misdan.

Diserbu

Sejak berita tenggelamnya KM Senopati tersiar, hampir setiap hari puluhan warga menyerbu Kantor Administrator Pelabuhan (Adpel) Kumai untuk melihat pengumuman korban selamat. Pantuan BPost di Kantor Adpel Kumai, Minggu (31/12), para keluarga korban berdesak-desakan di depan papan yang mengumumkan nama-nama penumpang yang ditemukan selamat. "Nama sepupu saya tidak ada di pengumuman itu," keluh Helda, warga Kelurahan Baru, Pangkalan Bun. ujarnya.

Selain di Kumai, Pelabuhan Tanjung Mas, Semarang, juga dipadati ratusan keluarga penumpang KM Senopati. Petugas pelabuhan pun tampak sibuk.

Hingga Minggu petang, data sementara posko Pelabuhan Tanjung Mas Semarang mencatat 133 korban telah ditemukan.

"132 Korban ditemukan selamat dan 1 tewas," ujar anggota SAR.

Menurut kesaksian para korban selamat, sekitar 200 penumpang KM Senopati Nusantara diperkirakan tenggelam bersama kapal.

"Banyak yang terjebak. Sekitar 200-an ada. Mereka tidak sempat keluar saat air masuk ke dalam kapal," kata Tahirin (37), warga Kecamatan Ungaran, Semarang. dtc/ck6/JBP/ahf


Copyright © 2003 Banjarmasin Post

Berita Utama
Dua Ratus Penumpang Tenggelam

Gelombang Tak Bersahabat


Optimis Songsong 2007


Minta Nasi Malah Diusir


Belajar Dari Sejarah


SJACHRIEL DARHAM GELAR OPEN HOUSE
"Doakan Bapak Baik-baik Saja"


Tragedi Eksekusi Di Hari Raya Kurban


Sang Penantang Telah Pergi


Pengguna Telkomsel Kelimpungan


"Pemerintah Gagal Jamin Kesejahteraan"


Pertamax Naik Mulai Hari ini


BALADA TAHUN BARU SANG PEMBUAT WADAI
Tidur Pukul 20.00, Berharap Bahan Kue Tak Naik


Gedung HJ Djok Mentaya, Jl AS Musyaffa No16 Banjarmasin 70111 Phone: +62-511-3354370 Fax: +62-511-4366123