Jakarta, BPost
Serpihan-serpihan pesawat Adam Air bernomor penerbangan KI 574 terus ditemukan Tim SAR
dibantu masyarakat. Hal ini kian memperkuat asumsi pesawat yang mengangkut 96 penumpang
dan 6 awak itu meledak.
Hingga kemarin, sudah 12 jenis barang yang diperkirakan berasal dari pesawat Adam Air,
ditemukan. Penemuan terbaru, Jumat (12/1), adalah sebuah kamera bawah air dan rambut yang
menempel di serpihan pesawat.
Menurut Koordinator Tim SAR, Marsma Eddy Suyanto, kedua barang temuan itu masih harus
diteliti oleh penyelidik dari Komisi Nasional untuk Keselamatan Transportasi (KNKT).
"Rambut dan kamera ini diduga milik seorang penumpang Adam Air jurusan
Surabaya-Manado tersebut," ujar Eddy.
Dari 12 jenis barang yang sekarang di simpan di Lanud Hasanuddin, belum ditemukan
serpihan barang-barang milik penumpang, apalagi orangnya.
"Belum ditemukan korban. Pakaiannya juga tidak," ungkap Kapolwil Parepare
Kombes Pol Genot Hariyanto.
Dari serpihan pesawat seperti kursi, meja, plafon, dan tail stabilizer ekor
pesawat, tidak ditemukan tanda-tanda bekas kebakaran.
"Meski tidak ada bekas hangus belum bisa disimpulkan apakah pesawat terbakar atau
tidak terbakar," ujarnya.
Pencarian pesawat dan korban tetap difokuskan di perairan Kabupaten Barru, Sulawesi
Selatan. "Pencarian tetap seperti yang kemarin, difokuskan di wilayah Barru dan
sekitarnya," ungkap Genot.
Penemuan serpihan pesawat yang tersebar di beberapa titik lokasi, seperti Pantai Lojie,
Pantai Mallawa dan Pantai Kupa memunculkan spekulasi Adam Air meledak di udara. Hal ini
dikemukakan oleh pakar penerbangan dari Departemen Tehnik Penerbangan ITB, Hisar M
Pasaribu.
Ada dua kemungkinan yang bisa terjadi. Pesawat itu mengalami pecah di udara atau
menghujam dengan keras ke laut.
"Saya menghindari kata meledak. Tapi saya rasa bisa jadi, dia (Adam Air) pecah di
udara," ujar Hisar.
Menurut Hisar, serpihan-serpihan pesawat itu bisa saja membuktikan kalau pesawat itu
pecah di udara. Apalagi saat last contact dengan bandara, Adam Air berada di
ketinggian 35 ribu feet.
"Mungkin saja saat di ketinggian itu, Adam Air mengalami kerusakan sistem atau
guncangan sehingga pesawat kehilangan kendali dan menukik tajam ke laut. Di saat menukik
dari ketinggian dengan kecepatan di luar batas itulah kemungkinan pesawat pecah. Sehingga
pecahannya bisa tersebar dalam radius yang sangat luas," jelas pakar yang juga
menjadi anggota Kelompok Keahlian Disain Operasi dan Perawatan Pesawat Udara ITB ini.
Hisar juga menjelaskan, tekanan udara di dalam kabin pesawat yang tiba-tiba drop
bisa juga memicu ledakan. "Tapi menurut saya depreserisasi itu kecil
kemungkinan," ujarnya.
Kapten Sri Subekti, mantan pilot Garuda, juga punya analisa yang sama dengan Hisar.
"Besar kemungkinan Adam Air meledak di udara dan serpihannya menyebar sesuai arah
angin. Karena itu pula satu serpihan dengan yang lainnya ditemukan di lokasi yang
jauh," ujarnya.
Meledak di angkasa, katanya, terjadi manakala di kargo ada bahan kimia atau bom yang
mudah meledak jika terguncang. "Kabarnya Adam Air mengangkut amunisi yang dibawa
tentara penumpangnya yang baru saja selesai menjalani out bond. Namun terlalu
tergesa kalau menyimpulkan penyebab ledakan karena amunisi," ujarnya.
Kabar tentara membawa bahan peledak tersebut dibantah oleh Kapuspen TNI Laksamana Muda
M Sunarto. "Bisa saya pastikan, itu sangat tidak mungkin," tandasnya.
TNI memiliki prosedur ketat dalam hal pengiriman senjata api, peledak maupun peralatan
militer lainnya. Prosedur itu dijalankan secara ketat. "Untuk pengiriman peralatan
militer harus menggunakan transportasi milik TNI sendiri," ujar Sunarto.
Black Box
Bagi M Soeparno, mantan Direktur Utama Garuda Indonesia, untuk mengetahui penyebab
jatuhnya Adam Air sangat mudah. Cukup dengan meneliti serpihan atau potongan pesawat yang
telah ditemukan.
Soeparno mengaku tidak bisa berspekulasi karena tidak melihat potongan pesawat tersebut
dengan mata kepala sendiri dari jarak dekat.
"Bila KNKT tidak sanggup, KNKT dapat meminta bantuan kepada pihak lain yang
memiliki kompetensi dalam hal tersebut, misalnya melalui laboratorium di PT
Dirgantara," ujar Penasihat Pemerhati Angkutan Udara Komersial Indonesia itu.
KNKT sendiri sudah melakukan langkah-langkah untuk mengetahui penyebab jatuhnya Adam
Air. Salah satunya adalah memeriksa manifes kargo pesawat Adam Air KI 574. "Kita
belum menerima (manifes kargo). Tapi kita sudah minta," kata Ketua KNKT Setyo
Raharjo.
Mengenai adanya bahan peledak di kargo, Setyo tidak menampikan hal tersebut.
"Kemungkinan adanya bahan peledak itu selalu ada. Tapi kita harus teliti dulu,"
ujar Setyo.
Menurut Setyo, barang yang disimpan di kargo pesawat terbang seharusnya diperiksa dan
melewati alat deteksi.
Dengan alat deteksi itu akan diketahui apakah ada barang berbahaya/terlarang atau
tidak.
"Namun saya tidak mengetahui apakah di Bandara Juanda, tempat transit pesawat KI
574 rute Jakarta-Surabaya-Manado, terdapat alat semacam itu. Sepengetahuan saya, di
Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng, Tangerang, alat tersebut tersedia," ujarnya.
Selain memeriksa manifes kargo, KNKT juga akan berusaha mendapatkan black box.
Kalau sistem bekerja dengan baik, baterai di dalam black box dapat bekerja selama
30 hari.
"Alat tersebut bekerja pada frekuensi 37,5 kHz akustik. Alat yang bisa menangkap
namanya ULB finder atau nama lainya Pinker," ujar Setyo.
Pihak Adam Air sendiri sangat berharap black box pesawat Adam Air yang hilang
sejak 1 Januari lalu dapat segera ditemukan. Penemuan itu dapat membantu identifikasi
penyebab hilangnya pesawat.
"Kehilangan kontak secara tiba-tiba dan serpihan pesawat yang tersebar, besar
kemungkinan Adam Air meledak di udara," kata kuasa hukum Adam Air Karle Sitanggang.
Menurut Karle, kemungkinan ledakan di udara itu bermacam-macam. "Bahkan ada
kemungkinan terdapat bahan peledak di kargo pesawat atau sabotase," ujar Karle.
Apakah ada anggota TNI yang menitipkan bahan peledak di kargo pesawat tersebut?
"Dalam manifes memang ada polisi, TNI, pastor. Kita terbangkan siapa saja. Tapi soal
itu (titipan bahan peledak) kami tidak dengar," kata Direktur Biro Hukum Adam Air Ali
Leonardi.
Leonardi mengatakan, sejak awal ada banyak kemungkinan penyebab hilangnya pesawat.
Namun pihak Adam Air masih menunggu penyelidikan KNKT.
"Kami tidak ada urusan dengan itu. Kami menunggu penyelidikan KNKT," tegas
Leonardi.
Radar Rusak
Kecelakaan nyaris menimpa pesawat Sriwijaya Air, malam tadi. Setelah sempat terbang di
udara selama 20 menit, pesawat Boeing 737-200 jurusan Jakarta-Palembang harus kembali ke
Bandara Cengkareng karena radar cuaca tidak berjalan baik.
Menurut seorang penumpang, saat terbang, pesawat terasa berguncang. "Jalannya
seperti tidak mulus, banyak guncangan. Guncangan yang saya rasakan tidak seperti biasa,
cukup keras," jelasnya. dtc/kcm/mio/ant