- Navigasi Adam Air diduga rusak
- KNKT: Serpihan membuktikan ledakan
- Datangkan alat deteksi khusus
- Sayap ditemukan, penumpang nihil
Makassar, BPost
Hingga hari ketigabelas, keberadaan dan penyebab raibnya pesawat Adam Air KI 571 masih
tetap misterius. Selain kian kuatnya spekulasi meledak di udara, pilot pesawat diduga
nekat menerbangkan pesawat meski alat navigasinya rusak.
Dugaan ini terkuak dari rekaman pembicaraan antara pilot dengan air traffic
controller (ATC) alias pemandu lalu-lintas udara di Bandara Hasanuddin, Makassar,
Sulawesi Selatan, beberapa menit sebelum menghilang.
"Pesawat dihantam angin samping dari arah kanan."
Itulah laporan terakhir sang pilot Refri Agustian Widodo dari ketinggian 35 ribu kaki.
Diduga, ketika itu pesawat berpenumpang 85 orang, tujuh anak-anak, dan empat bayi tersebut
berada di atas Makassar.
Analis Badan Meteorologi dan Geofisika Bandara Juanda Surabaya, Joko Sulistyo
mengatakan jalur yang ditempuh pesawat itu penuh dengan awan dengan kelembaban rendah.
"Belum lagi adanya awan cumulunimbus yang biasa disebut awan galak,"
ujarnya.
Awan ini bisa mencapai ketinggian 10 km, sebagian besar kandungannya adalah butiran es,
mengalir vertikal, angin tidak stabil disertai petir menggelegar. "Pesawat kecil
berbaling pasti tidak mampu menembus. Pesawat besar jika tidak sehat pun tidak
mampu," katanya.
Sebagaimana dikutip dari Tempo, angin yang menerjang itu berkecepatan 74 knot
atau sekitar 137 kilometer per jam. Penerima laporan, seorang air traffic controller
(ATC) alias pemandu lalu-lintas udara, di Bandara Hasanuddin, Makassar, Sulawesi Selatan,
kemudian memberi panduan menghindar dari angin. Percakapan pun ditutup.
Kisah ini dilaporkan pemandu Bandara Hasanuddin tersebut kepada Sekretaris Jenderal
Asosiasi Pemandu Lalu Lintas Udara Indonesia (IATCA). Kristanto, kemarin.
Tak sampai sepuluh menit dari kontak pertama, pilot kembali mengontak bandara. Dia
bertanya soal posisi pesawat. "Ini aneh, jika navigasi di kokpit normal, tidak perlu
pilot bingung poisinya," ujarnya.
Setelah memeriksa layar radar, si pemandu menyampaikan posisi pesawat. Sampai di situ,
tak ada yang aneh. Dari udara, sang pilot menjawab singkat: "Oke..., copy."
Percakapan ditutup.
Pemandu di Bandara Hasanuddin itu baru tersentak ketika radar di depannya tiba-tiba
cuma berbentuk garis lurus. Titik yang bergerak, tanda pesawat terbang di udara, mendadak
lenyap. Saat itu jarum jam menunjukkan pukul 15.07 Wita. Dengan nada panik, si pemandu
mencoba mengontak berulangkali. "Adam, posisi di mana?"
Tidak ada jawaban. Pemandu cemas. Dia menduga cuaca buruk merusak komunikasi udara.
Untuk membuktikan, dia mengontak sejumlah pesawat yang saat itu sedang terbang di jalur
yang hampir sama.
Salah satunya pesawat Garuda, Merpati dan Lion Air. Komunikasi tersambu_ng. Tapi
jawaban Garuda justru membuat dia kian gundah. Radar tiga pesawat itu tidak menangkap
sinyal Adam.
Sesuai dengan prosedur standar penerbangan, pemandu segera mengumumkan status inferta
kepada bandara yakni Bandara Gorontalo, Sam Ratulangi Manado, dan Bandara Juanda
Surabaya.
Namun, ketiga bandara itu juga menyatakan Adam tidak tertangkap radar. Satu jam
berselang, pemandu Bandara Hasanuddin mengumumkan status alerfa kepada semua
bandara. Ini fase kedua, jika posisi pesawat sudah tidak bisa dipastikan.
Meledak
Komisi Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) pun menyatakan kemungkinan terbesar
pesawat itu meledak di udara. "Ada dua dugaan kita. Pesawat itu meledak di udara
sebelum jatuh atau meledak ketika badan pesawat menyentuh laut," kata Ketua KNKT
Setio Rahardjo.
Indikasinya sangat kuat. "Ini berdasar serpihan-serpihan yang ditemukan. Namun,
lebih pastinya tentu harus dicari black box-nya," ujarnya.
Lain lagi pendapat Danrem 142 Taro Ada Taro Gau Parepare, Kolonel Mustofa Adi Pranoto.
Pasalnya, berdasarkan hasil penelitian terhadap sejumlah serpihan yang ditemukan di
Perairan Parepare, tak ditemukan bekas ledakan atau terbakar.
Jika terjadi ledakan seharusnya serpihan yang ditemukan berukuran sangat kecil dengan
ujungnya berbentuk runcing-runcing. "Saya kira pesawat hancur karena tekanan yang
kuat ketika menghantam laut," tukasnya.
Hingga malam tadi, Tim SAR belum berhasil menemukan bangkai pesawat maupun kotak hitam
(black box) apalagi penumpang pesawat nahas itu. Hanya saja seorang nelayan Desa
Tamanapa, Pangkep, Sulsel bernama Munthaha berhasil menemukan serpihan yang diduga bagian
sayap kiri pesawat. Potongan berukuran 1,5 m x 40 cm itu tersangkut jala laki-laki kurus
tersebut.
"Memang ada penemuan itu, Kita sudah menemukan 153 serpihan. Namun kami tetap
berupaya sekuat tenaga mencari black box karena alat inilah yang akan memberikan
petunjuk mengenai sebab musabab kecelakaan," kata SAR Mission Coordinator Adam Air,
Marsma Eddy Suyanto.
Eddy pun mengungkapkan Tim SAR akan mendatangkan sebuah alat deteksi dari AS. Alat ini
bisa mendeteksi kedalaman air hingga 1.700 meter. Rencananya alat itu akan dipakai untuk
mengecek keberadaan Adam Air di kawasan Selat Makassar.
Bonus
Menepati janji, Wapres Jusuf Kalla memberi bonus uang tunai Rp50 juta untuk nelayan
yang kali pertama menemukan serpihan pesawat, Bakri. "Saya ingin buka warung dan beli
alat-alat kapal," kata Bakri sambil mendekap amplop folio coklat berisi uang itu.
Uang itu diserahkan Eddy Suyanto yang juga Danlanud Hasanuddin di kantornya. "Saya
senang sekali atas imbalan dari Pak Wapres Jusuf Kalla. Saya akan menggunakan uang ini
untuk berjualan," lanjut Bakri dengan wajah berbinar-binar. tmp/mtc/ant/dtc/mio