- Desakan cabut mandat Yudhoyono menguat
- Hari ini massa demo depan Istana
- KAHMI bela Yudhoyono
- Andi: Mereka kebelet berkuasa
Jakarta, BPost
Gerakan menggugat kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono-Wapres Jusuf
Kalla, kian menguat. Polri pun bersikap keras. Aktivis Sri Bintang Pamungkas ditangkap
karena memasang baliho mengecam pemerintah.
Penangkapan terhadap pendiri Partai Uni Demokrasi Indonesia (PUDI) ini dilakukan oleh
Wakapolda Metro Jaya, Brigjen Polisi Rajiman Tarigan beserta sejumlah anak buahnya di
kawasan Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta, Minggu (14/1).
Saat itu Bintang dan belasan aktivis yang tergabung dalam Dewan Revolusi sedang
memasang sejumlah baliho bertuliskan, No Trust, No More Lies, No More Corruption, No
More Death, Down, di depan Hotel Indonesia, Plaza Indonesia dan Kedubes Inggris.
Semula tidak ada insiden. Polisi yang berjaga di kawasan itu hanya melihat kesibukan
para aktivis memasang baliho-baliho itu. Namun, tiba-tiba datang sebuah mobil polisi yang
dinaiki Rajiman dan sejumlah anak buahnya. Begitu keluar dari mobil, mereka langsung
berusaha merebut baliho itu.
Tarik menarik pun terjadi. Melihata ini, Bintang mendekat. Namun dia didorong dengan
keras oleh seorang polisi, sehingga terhuyung-huyung. Belum cukup, dua polisi berpakaian
preman memiting dan menyeretnya masuk ke dalam mobil. Begitu pintu ditutup, mobil itu
melaju dengan kencang ke Polres Jakarta Pusat. Aparat pun menyita seluruh baliho.
"Mereka diamankan karena memasang baliho tanpa izin. Itu saja, lainnya saya tidak
tahu," kata Rajiman.
Dihubungi via telepon, Bintang menyesalkan tindakan aparat itu. "Mereka represif,
tidak ubahnya Orde Baru. Kalau dulu Soeharto kejam dan tidak dapat memperbaiki keadaan
rakyat, sekarang ini saja.
Banyak penderitaan yang dialami rakyat. Kami akan terus berjuang," tegas laki-laki
yang dalam pemeriksaan menolak didata identitas dirinya ini dengan alasan bukan pelaku
kejahatan.
Hingga dinihari tadi, Bintang masih menjalani pemeriksaan secara tertutup.
Antipemerintah
Tindakan yang dilakukan Bintang Cs ini merupakan bagian gerakan antipemerintah yang
akhir-akhir ini kian bergaung.
Mereka tergabung dalam Dewan Revolusi yang beranggotakan sejumlah tokoh seperti mantan
Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD), Jenderal (Purn) Tyasno Sudarto, Muhammad Edwin
Ermansyah (Sekjen Partai Serikat Islam), Ridwan Saidi (budayawan/tokoh Betawi), Franky
Sahilatua (pemusik), Bintang dan sejumlah aktivis pro-demokrasi.
Awal tahun ini, mereka menggelar Kongres Rakyat Indonesia yang secara tajam mengritik
kepemimpinan Yudhoyono dan Kalla. Mereka menilai kebijakan pemerintah selalu tidak
berpihak kepada rakyat.
"Terakhir dengan keluarnya PP 37/2006 yang menaikkan tunjangan anggota dewan yang
kerjanya terhadap rakyat juga tidak jelas. PP ini hanyalah bargaining politik untuk
mengamankan kekuasaannya saja," tegas Tyasno saat itu.
Sebelumnya, sejumlah tokoh nasional yang dikoordinir mantan Wapres Try Sutrisno juga
bersuara keras. Dengan bernaung dalam lembaga Gerakan Kesatuan Indonesia Raya (GKIR)
mereka mewacanakan gerakan mencabut mandat yang diberikan kepada Yudhoyono-Kalla.
Goyangan terhadap pemerintah juga dilakukan PDIP. Ketua umumnya, Megawati Soekarnoputri
dengan lantang menilai pemerintah hanya sibuk tebar pesona, bukan tebar kinerja. Sehingga
kondisi negara ini pun tidak kunjung membaik, namun sebaliknya justru kian terpuruk.
Kabarnya, mantan KSAD Ryamizard Ryacudu pun merapat ke Mega.
Pawai Rakyat
Bahkan, hari ini tokoh Malari (Malapetaka 15 Januari 1974), Hariman Siregar berencana
mengerahkan ribuan orang untuk mengikuti Pawai Rakyat Cabut Mandat di depan istana.
Hariman yang kini aktif di Indemo menegaskan aksi ini adalah puncak ketidakpuasan rakyat
terhadap pemerintah.
"Sekarang ini, tidak ada yang untuk rakyat. Rakyat hanya dijadikan objek saja.Ini
yang mau kita coba lawan dalam aksi nanti. Kita sudah beri mandat tapi jangan dikira kita
tidak bisa berbuat apa-apa. Kalau kita tidak begini, keadaan kita tidak akan berubah
hingga 2009," tandasnya.
Mengenai tudingan aksinya itu merupakan makar, Hariman mengatakan dirinya tidak peduli.
"Saudara Presiden, saudara jangan enak-enak saja. Jangan dikira setelah mendapat
mandat kemudian tidak bisa digugat. Jelas, kita tidak puas dan kecewa dengan pemerintahan
ini, cuma wacana-wacana saja. Persetan ini dibilang makar. Makar pakai apa? Ndak
benar itu. Jika ada kekacauan saya yang bertanggung jawab," tegasnya.
Gerakan Hariman ini memancing reaksi. Keluarga Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI)
siap menandingi aksi tersebut.
"Ini peringatan saja bagi mereka yang ingin melakukan aksi besar-besaran pada 15
Januari. Kalau sekadar ingin mempromosikan jati diri silahkan, tapi kalau mereka sampai
berusaha menjatuhkan Yudhoyono, maka muncul kelompok lain jauh lebih besar yang akan
mereka hadapi," ancam Ketua Presidium Nasional KAHMI Asri Harahap di Jakarta.
Menurutnya, kinerja pemerintahan memang tidak menunjukkan perbaikan yang signifikan.
Tetapi arah perbaikan sudah terlihat.
"Menurunkan Yudhoyono-Kalla dengan impeachment atau cara di luar koridor
konstitusional bukanlah hal yang bisa dibenarkan. Kita harus memahami keadaan ini, makanya
semua pihak harus mampu menahan diri sampai Pemilu 2009," katanya.
Belum Tercapai
Menyikapi aksi-aksi ini, Yudhoyono menyangkal jika pemerintah tidak prorakyat. Kalau
ada yang bilang pemerintah tidak tahu masalah dan tidak mengembangkan kebijakan prorakyat.
Tentu itu salah dan Keliru," katanya di Istana Merdeka, Selasa kemarin.
Kendati demikian, Yudhoyono mengaku belum mencapai sasaran yang dicita-citakannya dalam
memangku jabatan sebagai presiden.
"Memang benar semua sasaran itu belum dapat kita capai dalam jangka pendek. Itu
harus saya akui. Dan memang belum semua," ujarnya.
Untuk itu, pemerintah akan berusaha dan bekerja sekuat tenaga agar kebutuhan yang
menjadi cita-cita bersama tersebut dapat dipenuhi. "Hal ini kita lakukan sambil terus
meletakkan landasan yang kokoh bagi bangunan ekonomi makro nasional kita," ujarnya.
Suara lebih keras dilontarkan Jubir Kepresidenan Andi Mallarangeng. "Kami tidak
tahu maksudnya apa, mencabut mandat dengan mengatasnamakan rakyat. Presiden tidak dapat
dicabut oleh orang atau sekelompok orang. Sesuai konstitusi, mandat hanya dapat dicabut
oleh semua rakyat lewat pemilihan umum," ujarnya.
Dia pun balik menyindir, tokoh-tokoh itu sudah kebelet ingin duduk di kursi kekuasaan.
"Ingin menjadi presiden boleh, ingin mendirikan partai politik boleh, tapi sabar
sedikit," tukas Andi. JBP/tar/dtc/ant