- Kepala-tulang bukan organ manusia
- Pesawat turbulensi, menukik dan pecah
- SAR sisir pulau tak berpenghuni
Jakarta, BPost
Asa yang sempat membuncah di hati keluarga korban Adam Air kembali redup.
Ketidakpastian kembali menyelimuti mereka karena Tim SAR belum juga bisa mendeteksi
keberadaan para penumpang dan kru pesawat yang raib itu.
Kegelisahan selama 18 hari inilah yang mendera Sumini (44), ibunda pramugari Ratih
Sekarsari. Dia mengaku, harapan putrinya bisa diselamatkan sempat menguat dengan penemuan
serpihan dan kepala serta tulang yang diduga tubuh penumpang pesawat yang nahas itu.
Apalagi pekan lalu, sang suami, Karyono (48) bermimpi anaknya pulang ke rumah. Sumini
pun bermimpi ada sebuah helikopter mendarat di depan rumahnya di Grobogan, Jawa Tengah.
Karena itu, mereka kian meyakini putri mereka akan selamat. "Tapi kini kami hanya
bisa berdoa saja semoga Ratih selamat," tuturnya di Jakarta, kemarin
Ya, para keluarga korban hanya bisa mengharap adanya mukjizat dari Sang
Pencipta. Pasalnnya, hingga kemarin, keberadaan badan pesawat berikut para penumpangnya
belum juga diketahui. Tim SAR telah berupaya keras namun hasilnya tetap nihil.
Bahkan, dari hasil otopsi di RS Bhayangkara Makassar, kepala dan tulang yang ditemukan
di Perairan Pangkep, Sulsel bukanlah tubuh manusia melainkan hewan. Karena itu, misteri
penumpang Adam Air pun masih belum terkuak.
Menurut Koordinator Disaster Victim Indetification (DVI) Regional Timur dr Budyo
Prasojo, ada beberapa tulang yang diperiksa yakni tulang tengkorak, dasar tulang panggul
menyerupai ekor, kemaluan, dan bahu. Selain tulang, juga ada gumpalan daging.
Setelah diperiksa menggunakan rontgen photo dan radiologi, disimpulkan struktur
susunan tulang-tulang itu tidak menyerupai manusia. "Ini binatang. Kalau bukan
anjing, ya monyet," kata Budyo.
Tiga Skenario
Misteri juga masih membelit penyebab raibnya pesawat ini. Ketua Tim Investigasi Komite
Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) Frans Wenas mengatakan ada tiga skenario yakni
faktor ledakan, cuaca dan structure failure (gangguan struktur/alat-alat
pengendali) pesawat.
Untuk skenario pertama adalah kemungkinan eksplosive atau ledakan. Penyebabnya
bisa karena bahan peledak atau bahan-bahan lain yang ikut serta dalam pesawat. Skenario
kedua adalah keadaan cuaca pada saat pesawat terbang, sedang buruk.
Keadaan ini menyebabkan pesawat tidak terbang pada posisi yang seharusnya, sehingga
kehilangan kendali. Dan skenario ketiga adalah adanya structure failure pesawat
ditambah faktor cuaca buruk. Struktur pesawat yang tidak kuat bisa menyebabkan terjadinya
kecelakaan.
Pendapat lain dikemukakan Ketua KNKT Setio Rahardjo. "Kemungkinan karena
terlepasnya struktur pesawat atau terjebak weather penetration (cuaca
ekstrem)," katanya.
Dia menilai kecil kemungkinan pesawat itu meledak di udara. "Kalau meledak di
udara, pasti sudah ada tebaran puing-puingnya. Tim investigasi AS pun sependapat dengan
analisa ini," ujarnya.
Sedang kedua faktor lain menimbulkan dampak yang sama yakni pesawat menukik tajam ke
bawah. Dari temuan-temuan yang ada selama ini, Adam Air itu dipastikan jatuh ke laut.
"Struktur yang copot itu mungkin sayapnya atau ekornya. Sedangkan analisa terjebak
cuaca ektrem, itu karena ada bukti-bukti dari BMG (Badan Meteorologi dan Geofisika),"
ujar Setio.
Namun, dia menolak memberikan penjelasan mengenai kemungkinan penyebab itu lebih rinci.
"Tidak semua harus dibuka sekarang, ini masalah reputasi. Yang jelas ini belum
kesimpulan," kilah Setio.
Spekulasi cuaca dan kerusakan struktur pesawat ini juga diamini Aminarno, anggota Dewan
Kehormatan Asosiasi Pemandu Lalu Lintas Udara Indonesia (IAC TA). "Kita lihat dari
tidak sempatnya pilot mengirim kode darurat. Dengan kecepatan turun minimal 3.500 kaki per
menit, pilot bisa jadi panik atau pingsan. Terlebih jika turbulensi," katanya.
Dia juga meyakini Adam tidak meledak di udara. Buktinya, tak banyak serpihan yang
tersebar di permukaan laut. Aminarno menduga pesawat meluncur hampir tegak lurus,
menghunjam dan merobek laut lalu menancap di dasarnya. "Karena guncangan ombak selama
10 hari, beberapa bagian pesawat itu kini mulai lepas dan muncul ke permukaan,"
tuturnya,
Dengan asumsi pesawat itu terbang dengan kecepatan 727 kilometer per jam, badan Adam
berada di perairan sebelah barat Sulawesi Selatan atau Sulawesi Barat. Radius kemungkinan
jatuhnya berjarak sekitar 121 kilometer, berpusat pada titik menghilangnya pesawat dari
radar.
Abdul Hadi Djamal, anggota Komisi Perhubungan DPR yang diberi unjuk rekaman percakapan
pilot dengan Bandara Hasanuddin, punya informasi lain. Dia mengatakan rekaman menunjukan
kecepatan pesawat saat itu mencapai 490 nautical mil per jam (setara 907,5
kilometer per jam). "Itu delapan menit sebelum hilang kontak," katanya.
Dia memperkirakan saat hilang kontak ketinggian pesawat berada di bawah 8000 kaki.
"Di bawah ketinggian itu, radar tak bisa lagi mendeteksi," tegas Djamal.
Dugaan-dugaan itu memang masih belum bisa dipastikan kebenarannya. Paling tidak sampai
kotak hitam (black box) ditemukan. "Semua akan terjawab jika kotak itu
ditemukan. Karena itu kami memfokuskan diri mencari black box," tukas Setio.
Pulau Kosong
Untuk mengintensifkan pencarian, Tim SAR dibantu TNI merambah pulau-pulau di sekitar
Selat Makassar terutama di Perairan Barru dan Parepare. Bahkan, mereka akan menginap di
pulau-pulau yang tidak berpenghuni, untuk melihat setiap perkembangan di sekitar pulau
tersebut.
Menurut Dandim 1405/Parepare Letkol Inf Pramudya AP. mereka akan mengobok-obok Pulau
Putiangin, Pulau Baki, Pulau Panikiang, Pulau Sakuala, dan pulau-pulau lain. Kecuali
Putiangin, pulau-pulau lainnya kosong alias tak berpenghuni. Serpihan yang ditemukan pun
kian banyak. Hingga kemarin sudah terkumpul 146 serpihan. mio/tic/mtc/dtc/ant