- Terjerembab di Toraja, Sulsel
- Radar Lanud terima sinyal emergensi
- Nasib 96 penumpang tak diketahui
- Rute Jakarta-Surabaya-Manado
Surabaya, BPost
Alam semesta makin menebar maut. Belum reda duka atas tragedi laut Mandalika yang
menenggelamkan KM Senopati, Senin (1/1), pesawat Adam Air berpenumpang 96 orang dari
Jakarta menuju Manado, terjerembab di Toraja.
Pesawat jenis Boeing 737-400 dengan nomor penerbangan KI 574 itu berada di kawasan
Makale, Kabupaten Toraja, Sulawesi Selatan (Sulsel). Meski begitu, belum diketahui nasib
96 penumpang dan 6 awak pesawat. Dari 96 penumpang, 7 di antaranya anak-anak dan 4 Balita.
Posisi pesawat yang sempat dinyatakan hilang setelah transit dan lepas landas dari
Bandara Juanda Surabaya pada pukul 12.59 WIB, diungkapkan karyawan Adam Air kepada para
keluarga penumpang di Bandara Juanda Surabaya, Senin (1/1) tengah malam.
"Petugas Adam Air menyatakan, keberadaan pesawat telah diketahui, yakni di kawasan
Makele, Toraja," tegas Eki Runeser, sepupu Benny Londong, penumpang Adam Air yang
naas itu. Manajemen Adam Air hanya menyebutkan keberadaan pesawat, tapi tidak menjelaskan
nasib penumpang.
"Mereka hanya mengatakan Tim SAR telah diterjunkan. Kalau Tim SAR diterjunkan, kan
itu tanda tandanya gawat," tandas Eki. Para kerabat penumpang meyakini pesawat dari
Jakarta tujuan Manado (transit Surabaya) itu mengalami kecelakaan.
Apalagi, radar Lanud Hasanuddin Makassar menerima Emergency Location Bagan
(Elba) atau sinyal emergensi pukul 22.00 Wita. "Sinyal impact itu berarti kemungkinan
besar pesawat jatuh," jelas Marsekal Pertama TNI Eddy Suyanto, Danlanud Hasanuddin,
semalam.
Meski begitu, kemungkinan lain bisa terjadi. Misalnya, pendaratan darurat. Lanud
menerima beberapa titik Elba. Dua titik muncul di Kabupaten Majene, Sulawesi Barat pada
posisi radial 330, 100 NM dan titik kedua pada 83 NM. Dua titik berikutnya muncul di
Rantepao, Kabupaten Toraja, Sulsel pada radial 119 pada kedua titik tersebut.
Adam Air pun minta maaf atas kejadian yang menimpa pesawat bernomor penerbangan KI 574
jurusan Jakarta-Manado. Adam Air berjanji membuka posko dan saluran hotline bagi
pencari informasi. "Kami minta maaf atas kejadian ini. Pesawat terakhir kontak dengan
titik checkpoint Endong antara Surabaya dan Makassar pukul 14.53 Wita dan pukul
15.07 Wita hilang dari radar," ujar Kapten Hartono, Direktur Keselamatan dan Keamanan
Adam Air.
Menurutnya, dalam tiga hari terakhir tak ada keluhan dari pilot tentang kondisi
pesawat. Namun, faktor cuaca diduga kuat mempengaruhi penerbangan. "Dari foto
satelit, Indonesia memang sedang tertutup awan," kata Hartono.
Adam Air membuka posko di Kantor Pusat Adam Air di Jl Kota Barat No 89 Kalideres,
Jakarta Barat untuk keluarga penumpang yang mencari informasi. Adam Air juga membuka hotline
dengan kontak Biro Hukum Adam Air Ali Leonardi di 0811 636193 dan Direktur Komersial Adam
Air Bugi di 0812 2520909.
"Untuk keluarga bisa menghubungi keluarga untuk mencari informasi,"
tandasnya. Namun saat BPost mencoba menghubungi, kedua telepon tersebut mailbox.
Pesawat Adam Air dipiloti RA Widodo dan co-pilot Yoga berangkat dari Bandara Juanda pukul
12.59 WIB dan dijadwalkan mendarat di Bandara Sam Ratulangi Manado pukul 15.14 Wita.
Namun, hingga semalam tiada kabar. Pilot Widodo sempat melakukan kontak dengan Menara
Sultan Hassanudin Makassar sekitar pukul 15.07 Wita. "Pilot cuma mengabarkan
ketinggian terbang dan menanyakan cuaca ke menara bandara di Makassar pada pukul 15.07
Wita," tutur Herman Moningka, Humas Perum Angkasa Pura Manado, kemarin petang.
TNI AL Sisir Laut
Posisi saat kehilangan kontak pesawat tersebut berada di ketinggian sekitar 35 ribu
kaki (feet) pada posisi 85 mil Barat Laut Makassar.
Cuaca diduga penyebab hilangnya kontak Adam Air, karena komunikasi dengan menara
mendadak terputus dan pesawat tak mendarat hingga semalam. Cuaca di Makassar memang sedang
tidak bersahabat.
Saat ini Selat Makassar yang masih dalam kawasan perairan Masalembu pun sedang
mengganas, laut bergelombang tinggi.
Satu kapal derek kontainer sempat terdampar di Pantai Tanjung Bayang, Makassar setelah
dihantam gelombang setinggi empat meter yang merontokkan kemudi dan baling-baling kapal.
Di atas perairan Masalembu ini juga pesawat Adam Air diduga jatuh setelah kehilangan
kontak. Pesawat dengan 96 penumpang dan 6 kru itu hanya memiliki bahan bakar untuk 4 jam
terbang, sejak lepas landas dari Bandara Juanda Surabaya.
Ketika take off, pesawat dinyatakan dalam kondisi normal sehingga kemungkinan
mengalami kecelakaan akibat cuaca buruk. "Kondisi pesawat saat start dari
Surabaya sampai transfer komunikasi dengan Ujung Pandang masih normal," tutur
Moelyono, Airport Duty Manager Juanda Surabaya. Usai take off, Bandara Juanda hanya
memantau sampai 85 mil sejak lepas landas, selanjutnya diambil alih Bandara Sultan
Hassanudin Makassar.
"Pantauan kami hanya 85 mil atau 15 menit setelah lepas landas dari bandara,"
kata Moelyono. Selepas jarak ini, pantauan jadi tanggungjawab Makassar. Beberapa bandara
terdekat sempat dikonfirmasi, tapi hasilnya nihil. Di antaranya, bandara Gorontalo,
Balikpapan, Palu dan Manado.
Kemampuan terbang pesawat hanya empat jam, sesuai jumlah bakar hanya yang tersedia.
Dugaan celaka makin menguat, manakala Dirjen Perhubungan Udara yang mengontak semua
pesawat yang sedang terbang, tak mendapat sinyal.
"Kalau ada pesawat hilang, kan biasanya ditangkap pesawat lain. Seperti
sinyal yang terpancar," tegas Ikhsan, Dirjen Perhubungan Darat. dtc/mio/kcm