- Tak lagi bergantung pada Yudhoyono
- Rapimnas kecam pengritik presiden
- Gus Dur: Jubir presiden terlalu reaktif
Jakarta, BPost
Di saat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sibuk menghadapi gempuran kritik dari
berbagai kelompok, Partai Demokrat (PD) menyatakan ingin mandiri dengan mengurangi
ketergantungan terhadap dirinya. PD ingin berkembang tanpa terus dibayang-bayangi
kebesaran Yudhoyono.
Adalah Ketua Umum DPP PD, Hadi Utomo yang dengan lantang menyatakan partainya akan
melepaskan diri dari bayang-bayang Yudhoyono. "Kita jangan terus bergantung pada
Yudhoyono. Ketergantungan itu pelan-pelan kita hilangkan. 2-3 Tahunlah kita bisa
lepas," katanya dalam pidato pembukaan Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) di Hotel
Sheraton Media, Jakarta, Minggu (21/1).
Namun, Hadi menegaskan, melepas ketergantungan itu bukan berarti meninggalkan
Yudhoyono. "Ini lebih untuk kepentingan partai agar tidak tergantung pada seseorang.
PD akan tetap mengawal pemerintahan hingga masa jabatannya berakhir," tegasnya.
Sebelum mengeluarkan pernyataan itu, Hadi menyatakan rasa kasihannya kepada Yudhoyono
yang menurut dia sudah capek memikirkan bangsa ini. "Kasihan beliau memikirkan
republik ini, sudah capek beliau.
Bisa hadir di Rapimnas ini saja sudah sungguh berharga sekali. Jangan kita terus
bergantung pada Yudhoyono, berusaha dalam artian positif. Banyak bapak menteri yang di
kabinet yang akan bantu kita," ujar Hadi.
DalamRapimnas bertema Bersatu Membangun Negeri, Hadi yang juga ipar Yudhoyono ini
menyoroti gerakan-gerakan yang berupaya menggoyang stabilitas pemerintah seperti gerakan
cabut mandat yang dipelopori Hariman Siregar cs.
"Sikap kita tegas, gerakan itu mengarah pada tindakan inkonstitusional,"
tandas Hadi.
Marah
Di satu sisi, niat melepaskan ketergantungan ini baik untuk perkembangan partai, namun
di sisi lain menimbulkan pertanyaan soal hubungan mereka. Terlebih, dalam Rapimnas yang
dihadiri ratusan pengurus DPP dan DPD seluruh Indonesia ini beredar kabar Yudhoyono marah
terhadap partai yang didirikannya itu.
Yudhoyono menilai PD tidak mampu merespons isu-isu nasional dan mem-back up
dirinya saat menghadapi gempuran para pengritik yang berasal dari berbagai kelompok.
Bahkan, karena kemarahannya itu, Yudhoyono sempat menyatakan tidak bersedia hadir dalam
Rapimnas. "Bapak marah karena kami dianggap tidak bisa merespons isu-isu nasional
sehingga muncul kelompok-kelompok itu," ujar seorang Ketua DPP PD yang tidak bersedia
disebutkan namanya.
Ketegangan pun terlihat dari wajah para peserta Rapimnas. Betapa tidak, hingga pukul
12.00 WIB atau satu jam menjelang pembukaan, belum ada tanda-tanda kehadiran sang
presiden. Bahkan pasukan pengamanan presiden (paspampres) pun tidak terlihat mensterilkan
lokasi.
Setelah dilobi para petinggi PD, akhirnya Yudhoyono bersedia datang. Dia tiba di hotel
sekitar pukul 14.30 WIB. Setelah beristirahat sejenak, Yudhoyono langsung memberi
pengarahan secara tertutup selama tiga jam kepada para peserta yang datang dari seluruh
Indonesia itu.
Para wartawan yang mencoba ikut masuk ke dalam ruangan diusir dengan kasar oleh
paspampres dan satgas partai. Para kuli disket ini pun memilih walk out, tidak
meliput acara itu.
Informasi yang diperoleh BPost dari seorang peserta, dalam rapat itu, Yudhoyono
memang menumpahkan kekesalannya. "Kita disemprot. Biasalah...sudah untung, Yudhoyono
bersedia hadir," ujarnya.
Sekretaris Dewan Pakar DPP PD, Sutan Bhatoegana ketika dikonfirmasi menyatakan
keterlambatan Yudhoyono hanya soal teknis saja. Bukan karena marah dengan PD. "Nggak
benar itu. Semua sudah kita komunikasikan dengan baik. Kalau kita responsif, nanti diketawain
masyarakat. Gimana ini Partai Demokrat, belum-belum sudah kebakaran jenggot,"
ujarnya.
Ditegaskan Sutan, partainya selalu memantau perkembangan isu-isu nasional. Jika masih
dirasa aman, partai memilih tidak mengomentari isu-isu tersebut. "Kami sudah punya
konsep, bukan diam. Kita selalu lihat masalah dan isu-isu itu secara bijak,"
tegasnya.
Salah Jubir
Terkait dengan banyaknya kritikan terhadap pemerintah, mantan presiden KH
Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menilai hal itu tidak terlepas dari kinerja Yudhoyono yang
belum optimal dan kesalahan Jubir Kepresidenan Andi Mallarangeng yang terlalu over
reaktif menanggapi aksi-aksi masyarakat.
Kepada pers di Banjarmasin, Gus Dur menilai gerakan cabut mandat itu dinamika demokrasi
yang tidak perlu ditakuti.
"Kita harus melihat dulu maksudnya. Mereka hanya mengingatkan presidennya. Bukan
justru langsung dinilai inkonstitusional seperti Andi Mallarangeng," ujarnya.
Menurut Ketua Dewan Syuro DPP Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini, dalam era demokrasi,
aksi yang dilakukan Hariman, Eggi Sujana, Dita Indah Sari, WS Rendra, Try Sutrisno dan
Tyasno Sudarto, sah-sah saja dilakukan. "Yang salah ya Andi itu. Orang seperti
itu kok dijadikan juru bicara presiden," tukasnya.
Sebelumnya, Gus Dur menegaskan pemerintah harus segera meningkatkan kinerjanya guna
memulihkan kepercayaan rakyat. Jika kepercayaan semakin berkurang, tidak menutup
kemungkinan terjadi krisis sosial yang lebih besar. "Rakyat tinggal meledakkan
situasi saja, yang disebut Tyasno Sudarto sebagai revolusi," katanya acara Race
Against Blindness di RRI Jakarta.
Kecaman terhadap Andi Mallarangeng juga dilontarkan Hariman.
"Jubir bukan nambah beres, tapi malah nambah kisruh. Kita ini hanya menyampaikan
unek-unek atas kebuntuan dalam pemerintah. Kenapa jubir memahaminya berlebihan, seperti
inkonstitusional, menyuruh bikin partailah, atau tunggu sampai pemilu 2009. Kita ini hanya
meledek saja," katanya.
Membela rekannya, staf khusus Yudhoyono, Heru Lelono menyatakan tajuk cabut mandat bisa
salah dipahami oleh rakyat.
"Kalau ingin menjatuhkan pemerintah sekarang ini, itu kan sama juga dengan
inkonstitusional, karena pemerintah diberi kesempatan sampai 2009," kata Heru.
Heru mengingatkan, dalam demokrasi itu ada aturan yang harus ditaati bersama.
"Yang dilindungi itu freedom of speech, tidak ada freedom of action,"
ujarnya. dtc/kcm/ais