10 Teroris Ditembak Mati
- Tanah Runtuh Poso diserbu polisi
- 25 Ditangkap, 2 di antaranya DPO
- Presiden minta tegakkan hukum
Palu, BPost
Poso membara lagi. Satu polisi dan 10 warga tewas dalam baku tembak antara
pasukan Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror dengan kelompok sipil militan. Presiden pun
langsung meminta Menkopolhukam Widodo AS menegakkan hukum di sana.
Dua hari sebelum kejadian ini terjadi, Wapres Jusuf Kalla
sudah meminta kepada polisi untuk memahami kultur masyarakat Poso dalam memburu buronan
tersangka kerusuhan Poso. Tujuannya, agar langkah yang diambil polisi tidak menyebabkan
bentrokan dengan masyarakat.
"Polisi itu kan selalu menjalankan penegakan hukum, walau bagaimanapun
sulitnya, polisi harus banyak memahami masyarakat," kata Kalla, di Gedung Negara
Cirebon, Jawa Barat, Sabtu (20/1) lalu.
Tapi rupanya situasi berbicara lain. Senin (22/1) pagi, aparat Densus 88 dengan senjata
lengkap turun ke Kelurahan Tanah Runtuh, Poso guna memburu warga sipil militan yang diduga
merupakan jaringan teroris.
Ketika polisi menggerebek beberapa rumah, warga melakukan perlawanan. Kelompok warga
itu rata-rata mengenakan sarung. Ternyata, sarung itulah yang digunakan untuk
menyembunyikan senjata M-16 dan AK-47.
Kelompok warga itu diketahui memiliki senjata setelah polisi memberikan tembakan
peringatan. Tembakan ke udara itu tak dihiraukan. Bahkan mereka membalas tembakan ke arah
polisi. Saat itulah terjadi baku tembak dan saling kejar.
Akibatnya, 10 warga tewas. Diduga mereka sebagai jaringan Mujahidin Kayamanya Tanah
Runtuh. Para korban tewas itu adalah Firmansyah alias Firman, Om Gam, Idrus Asapa, Ustad
Mahmud, Humah, Andreas alias Mohammad Sapri, Aprianto, Toto, Yusuf.
Sedangkan dari pihak polisi tiga orang mengalami luka tembak dan satu tewas, yakni
Brigadir Satu Polisi Roni Iskandar, personel BKO dari Brimo Kelapa Dua, Depok.
Tiga polisi yang mengalami luka tembak yaitu Ipda Muslihan yang tertembak paha kirinya
di Jalan Pulau Irian, Bripda I Wayan Pandi tertembak di bagian pinggul di Jalan Pulau
Madura dan Bripda Wahid tertembak di perut kiri di daerah Tanah Runtuh.
Sementara korban yang cedera karena mengalami luka tembak, antara lain Kusno (pedagang
bakso), Paijo (tukang ojek motor).
Mabes Polri menyatakan, tidak ada warga sipil yang tewas dalam baku tembak itu.
"Kami tidak akan menutup-nutupi, jika memang ada korban dari sipil," kata
Kadivhumas Mabes Polri Irjen Sisno Adi Winoto.
Selain menawaskan sembilan warga sipil bersenjata, polisi juga menangkap 25 tersangka
yang diduga kuat terkait dengan 29 nama DPO Poso yang masih diburu. Sebanyak 25 orang itu
masih diperiksa Polda Sulteng.
"Kami belum bisa menyebutkan identitas 13 tersangka itu. Apakah mereka terkait
dengan DPO yang diburu, atau masyarakat yang mendukung kelompok kriminal bersenjata, masih
dalam pemeriksaan," ujar Sisno.
"Tapi siapa pun dia, dia termasuk tersangka dalam kelompok kriminal bersenjata.
Mereka patut diduga melakukan tindak pidana karena kepemilikan senjata," lanjut
Sisno.
Kapolda Sulteng Brigjen Badrodin Haiti menambahkan, dari penggerebekkan itu polisi
menyita puluhan bom, 12 senjata api, ribuan peluru, belasan panah dan puluhan anak panah
dan bahan pembuat bom berupa potasium klorat sebanyak lima kilogram.
Menyinggung mereka yang ditangkap, Badrodin diantara yang tertangkap tersebut ada dua
nama tersangka teroris yang masuk dalam 29 nama daftar buronan, yakni Wiwin dan Tugiran.
"Dari 29 nama DPO, sudah 12 tertangkap. Sisanya, 17 orang masih dicari,"
ujarnya.
Hukum
Terjadinya penggerebekan berdarah tersebut sangat disesalkan oleh Gubernur Sulteng H
Bandjela Paliudju. "Saya sangat menyesalkan tindakan represif yang dilakukan oleh
aparat. Saya kira masih ada cara lain yang bisa dilakukan (polisi) seperti mengintesifkan
pendekatan persuasif untuk menghindari jatuhnya korban baik dari kalangan aparat maupun
warga sipil," ujar purnawirawan Mayjen TNI-AD ini.
Untuk menghindari korban jiwa yang lebih banyak lagi, Paliudju mengimbau sebagian warga
Poso yang selama ini terkesan "melindungi" para DPO menyerahkan mereka kepada
petugas berwajib.
"Kasihan masyarakat di Poso. Mereka sudah lama merindukan kedamaian pasca
kerusuhan beberapa waktu lalu, tapi kini kembali berada dalam suasana ketakutan yang tak
menentu dan kapan berakhir," ujar dia.
Bandjela Paliudju mengaku sudah melaporkan kejadian ini kepada Presiden Susilo Bambang
Yudhoyono.
Menyikapi laporan itu, Presiden Yudhoyono langsung meminta Menkopolhukam Widodo AS
menegakkan hukum di sana. "Tadi Presiden memberikan arahan pokoknya hukum harus
ditegakkan di Poso," ujar juru bicara kepresidenan Andi Mallarangeng.
Andi menjelaskan belum ada rencana Presiden memanggil pejabat-pejabat terkait yang
bertanggung jawab atas keamanan di Poso.
"Belum ada. Presiden tadi kan sudah terima laporan dari Menkopolhukam.
Beliau mengarahkan agar tindakan di Poso harus sesuai hukum," tandas Andi.
Penegakan hukum di Poso ini diamini oleh Ketua Fraksi Partai Demokrat di DPR RI, Sutan
Bathoegana.
"Jangan pandang bulu, semuanya harus tunduk terhadap hukum. Makanya, tidak bisa
ditolerir mereka (orang sipil) yang bersenjata, siapapun dia," ujarnya.
Saat terjadi baku tembak itu, aktivitas di Pasar Sentral Poso terhenti total. Pedagang
memilih pulang lebih awal untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Para pegawai
negeri sipil juga pulang ke rumah lebih awal karena alasan yang sama. Sementara anak-anak
sekolah juga menghentikan proses belajar-mengajar. Murid-murid SD kebanyakan dijemput
orangtuanya di sekolah.
Baku tembak mereda sekitar pukul 18.30 wita, bersamaan dengan berkumandangnya azan
magrib. Untuk menghidari hal-hal yang tidak diinginkan angkutan umum diminta tidak
beroperasi malam ini.
Sejumlah angkutan umum yang dilarang beroperasi, antara lain angkutan umum trayek
Luwuk-Palu-Poso, Poso-Morowali-Tentena, dan Poso-Palu. Angkutan umum dari Makassar yang
melewati Poso juga dilarang beroperasi.
Korban
Bripda Roni Iskandar (23) adalah salah seorang polisi yang tewas dalam insiden di Tanah
Runtuh, Poso Kota itu. Anggota Brimob Pelopor yang diperbantukan ke Densus 88 itu
tertembak di mata kirinya.
Jenazah Bripda, Senin (22/1), sudah dievakusi ke RS Bhayangkara Palu. Rencananya,
jenazah diterbangkan ke Jakarta, Selasa (23/1) untuk dimakamkan.
Di RS Bhayangkara Palu, jenazah Ronny langsung dimasukkan ke kamar jenazah untuk
kepentingan otopsi. Sementara itu, Inspektur Dua (Ipda) Maslikan, anggota Detasemen Khusus
88 Mabes Polri yang tertembak di bagian paha kaki kiri masih menjalani perawatan di RS
Bhayangkara Palu.
Kondisi Maslikan sudah mulai membaik setelah menjalani perawatan sekitar empat jam.
Sedangkan jenazah Firman dan Om Gam, dua warga yang tewas, dijemput anggota keluarga
masing-masing dari RSUD Poso. Firman dijemput pada Senin sore dan dibawa ke rumahnya di
Jalan Pulau Sabang Kelurahan Kayamanya, Poso Kota. Selepas Magrib, jenazah siswa Madrasah
Tsanawiah Negeri Poso yang mengalami luka tembak di bagian perut ini dikebumikan di
belakang rumah neneknya di wilayah Kayamanya.
Sementara Om Gam, disemayamkan di rumah duka di Jalan Monginsidi Keluruhan Bonesompe,
kota Poso. dtc/ant/rpo/tt |