:: Kompas Cyber Media ::

[::] Portal Berita Daerah [::]

Metro Banjar • Serambi Ummah Spirit Kalsel • Diafragma • PASAR

Berita Cetak
HOME
Berita Utama

Nusantara
Banjarmasin Bungas
BISNIS
Sport Vaganza
Opini

Hot Line
Kalimantan Selatan
Kalimantan Timur
Kalimantan Tengah

Hiburan-Gaya Hidup
Internasional
Berita Kemarin
Info Data & Media
Banjarmasin Post
Susunan Redaksi

Pasang Iklan
Order Cetak
Berlangganan
Supporting By

Rabu, 24 Januari 2007 03:22


Jaringan Moro Pasok Senjata Poso

  • Satu angkatan dengan kakak Amrozi
  • 13 Teroris masih buron
  • FUI: Polisi menembaki warga
  • Kondisi masih mencekam

Klik memperbesar tampilanPoso, BPost
Korban tewas baku tembak di Poso mencapai 14 orang. Polisi mengklaim para korban ini alumnus kelompok militan di Moro, Filipina dan Afghanistan. Sebaliknya, Forum Umat Islam (FUI) menuding polisi telah menembaki warga yang tidak terlibat konflik.

Tambahan korban tewas ditemukan Selasa (23/1) pagi. Mereka, Duan dan Ustad Burhanudin tergeletak di jalan dalam kondisi tidak bernyawa. Penemuan mayat ini membuat suasana Poso tetap mencekam. Meski sudah tidak ada baku tembak, sebagian besar toko masih tutup, begitu juga Pasar Sentral Poso yang menjadi pusat kegiatan ekonomi. Angkutan umum memilih tidak melewati Poso. Warga juga banyak yang memilih tidak beraktivitas.

Untuk memperkuat pengamanan, Mabes Polri memberangkatkan dua Satuan Setingkat Kompi Brigade Mobil (SSK Brimob) dari Markas Brimob Kelapa Dua, Jakarta. Mereka akan memperkuat sembilan SSK Brimob yang berada di Poso. Selain itu mereka juga di-back up oleh 200 personel TNI Kodam VII Wirabuana. Mereka akan memburu 13 dari 29 orang yang masuk Daftar Pencarian Orang (DPO) Mabes Polri.

Hal ini, menurut Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Sisno Adiwinoto, karena lawan polisi dalam baku tembak itu adalah kelompok profesional. Ini terlihat dari keahlian mereka mereka menggunakan senjata api. "Mereka terindikasi pernah berlatih di Afghanistan dan Moro, Filipina. Buktinya, mereka bisa menembak sasaran dengan tepat," ujarnya di Jakarta, Selasa (23/1).

Bahkan, ada di antara mereka yang pernah satu angkatan dengan kakak terpidana Bom Bali I Amrozi, Muklas yang kini mendekam di Lapas Nusakambangan, Cilacap, Jateng. "Mereka mengembangkan pelatihannya di sini bersama anggota kelompok kriminal bersenjata Poso lainnya," ungkapnya.

Sisno pun membantah polisi telah menembaki warga sebagaimana tudingan FUI. "Tidak benar itu, tidak ada warga biasa yang terkena salah sasaran. Semua yang tewas maupun terluka memiliki senjata api dan bahan peledak di tangannya, di saku baju maupun di rumahnya yang digerebek polisi," tegas Sisno.

Dalam kesempatan ini, Sisno juga mengungkapkan tiga orang yang termasuk dalam DPO telah menyerahkan diri. "Mereka adalah Iswadi, Yasin alias Utomo dan Faizul alias Yakup," ujarnya.

Kepada anggota DPR di Jakarta, tokoh masyarakat Poso yang bergabung dalam Forum Umat Islam (FUI), Ahmad Suhardi mengatakan sembilan orang yang tewas ditembak ternyata bukanDPO Polri, tapi masyarakat sipil. "Hanya satu yang DPO yang meninggal dunia, yaitu Basri," ujarnya.

Bahkan tiga di antara korban adalah anak-anak yakni Subar (14), Firmansyah (16) dan Firsan (16). Karena itu, FUI meminta polri lebih berhati-hati, karena polisi dianggap sudah terlalu berlebihan memperlakukan umat Islam. "Anak-anak dan ibu-ibu mereka semua membantu DPO, karena polisi berlebihan," kata Suhardi.

Kemarin, sepuluh jenazah korban dimakamkan dalam satu lubang di Pekuburan Umum Pulau Tarakan, Poso Kota. Empat lainnya dimakamkan oleh keluarga masing-masing.

Di pihak polisi, sebagaimana dikemukakan Kapolda Sulawesi Tengah, Brigjen Pol Badrodin Haiti, seorang tewas yakni Bripda Roni Iskandar dan tujuh luka-luka. Jenazah Roni dimakamkan di Jakarta.

Pasokan Senjata
Baku tembak ini memunculkan pertanyaan tentang asal muasal senjata yang dimiliki kelompok sipil itu. Sisno pun menduga senjata-senjata itu dipasok dari Filipina. "Bisa saja dipasok dari Filipina," tegasnya.

Informasi lain disampaikan para tokoh masyarakat Poso sebagaimana dilansir Tempo, senjata-senjata itu berasal dari empat penjuru.

Penjuru pertama berasal dari Mindanao Filipina Selatan. Pasokan masuk melalui Pulau Sangihe. Di sini, kiriman dipecah berdasar kelompok pembeli.

Jika kelompok muslim, dimasukkan ke Poso via Palu. Tetapi kalau untuk kelompok Kristen masuk lewat Tentena.

Senjata yang diselundupkan adalah senjata laras panjang M-16 dan pistol FN-45.

Kedua berasal Jakarta-Surabaya. Selain senjata juga peluru tajam dan amunisi. Penjuru ketiga adalah senjata sisa konflik Ambon yang diselundupkan melalui jalur Pulau Banggai-Luwuk-Poso. Terakhir, adalah pasokan senjata rakitan yang dibuat di Ampana dan Poso Kota dengan harga Rp1 juta per pucuk.

Reaksi

Reaksi terhadap insiden berdarah ini beragam. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyesalkan terjadinya bentrokan itu. "Presiden sangat menyesalkan kejadian itu dan meminta aparat melakukan penyelidikan serta melakukan tindakan hukum," kata Jubir Kepresidenan Andi Mallarangeng.

Wapres Jusuf Kalla mengatakan, pemerintah bertekad untuk secepatnya menyelesaikan masalah Poso dan kasus-kasus terkait terorisme yang kembali memanas.

"Pemerintah mendukung upaya pihak kepolisian dalam menuntaskan konflik di daerah tersebut," tandasnya.

Hal senada disampaikan Sekjen Dephan Letjen TNI Sjafrie Sjamsoeddin. "Senjata itu digunakan bukan bagian dari bela negara, justru untuk melawan petugas. Apakah itu menimbulkan korban, itu implikasi dari kontak tembak," katanya.

Menurutnya, status penggunaan senjata harus dilihat sesuai aturan yang ada. Bila memang seseorang tidak kompeten untuk memegang senjata, harus ditindak tegas. Apalagi bila senjata itu digunakan untuk melawan aparat penegak hukum.

Kecaman datang dari DPR. Wakil Ketua DPR, Muhaimin Iskandar dan Zainal Maarif mengecam keras tindakan Polri yang melukai warga sipil saat memburu para tersangka kerusuhan. Mereka meminta agar Polri untuk diawasi kinerjanya agar kasus salah tembak tidak terulang lagi.

Bahkan Zainal meminta agar keberadaan Detasemen 88 Antiteror ditarik sementara dari Poso. "Ini agar pemulihan kondisi di Poso berjalan lebih cepat," tukasnya.

Sikap keras juga dilontarkan Ketua Komisi III DPR, Trimedya Pandjaitan. Dia menegaskan komisinya akan mengirim tim investigasi.

"Kita harapkan sebelum Jumat 26 Januari 2007, sudah berangkat. Agar kita dapat memperoleh informasi valid terkait penyebab baku tembak itu," ujarnya. dtc/kcm/mio/JBP/ugi


Copyright © 2003 Banjarmasin Post

Berita Utama
Jaringan Moro Pasok Senjata Poso

"Seperti Perang Palestina"


Cabut Linggis Dari Leher


Inginkan Kalsel Jadi Pusat Baja


SMPN 33 Banjarmasin Roboh Sebelum Diresmikan
Tinggal Puing-puing Dan Onggokan Seng


PUBLICFIGURE - Ulang Tahun Perjuangan


Tottenham vs arsenal - Tensi Tinggi


Rapelan Dewan Ditunda


4 WNI Terancam Dipancung


Istri Wapres Bawa Anggrek Kalimantan


Menhub Optimis Ditemukan


Simpan 60 Juta Euro Di Inggris


Lisa Face Off Adu Mulut


Bom Renggut 100 Nyawa


Hillary Calon Kuat


Hizbullah Serukan Mogok Massal


Bom Bunuh Diri Dekat Markas NATO


Gedung HJ Djok Mentaya, Jl AS Musyaffa No16 Banjarmasin 70111 Phone: +62-511-3354370 Fax: +62-511-4366123