Jaringan Moro Pasok Senjata Poso
- Satu angkatan dengan kakak Amrozi
- 13 Teroris masih buron
- FUI: Polisi menembaki warga
- Kondisi masih mencekam
Poso, BPost
Korban tewas baku tembak di Poso mencapai 14 orang. Polisi mengklaim para
korban ini alumnus kelompok militan di Moro, Filipina dan Afghanistan. Sebaliknya, Forum
Umat Islam (FUI) menuding polisi telah menembaki warga yang tidak terlibat konflik.
Tambahan korban tewas ditemukan Selasa (23/1) pagi. Mereka, Duan dan Ustad Burhanudin
tergeletak di jalan dalam kondisi tidak bernyawa. Penemuan mayat ini membuat suasana Poso
tetap mencekam. Meski sudah tidak ada baku tembak, sebagian besar toko masih tutup, begitu
juga Pasar Sentral Poso yang menjadi pusat kegiatan ekonomi. Angkutan umum memilih tidak
melewati Poso. Warga juga banyak yang memilih tidak beraktivitas.
Untuk memperkuat pengamanan, Mabes Polri memberangkatkan dua Satuan Setingkat Kompi
Brigade Mobil (SSK Brimob) dari Markas Brimob Kelapa Dua, Jakarta. Mereka akan memperkuat
sembilan SSK Brimob yang berada di Poso. Selain itu mereka juga di-back up oleh 200
personel TNI Kodam VII Wirabuana. Mereka akan memburu 13 dari 29 orang yang masuk Daftar
Pencarian Orang (DPO) Mabes Polri.
Hal ini, menurut Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Sisno Adiwinoto, karena lawan polisi
dalam baku tembak itu adalah kelompok profesional. Ini terlihat dari keahlian mereka
mereka menggunakan senjata api. "Mereka terindikasi pernah berlatih di Afghanistan
dan Moro, Filipina. Buktinya, mereka bisa menembak sasaran dengan tepat," ujarnya di
Jakarta, Selasa (23/1).
Bahkan, ada di antara mereka yang pernah satu angkatan dengan kakak terpidana Bom Bali
I Amrozi, Muklas yang kini mendekam di Lapas Nusakambangan, Cilacap, Jateng. "Mereka
mengembangkan pelatihannya di sini bersama anggota kelompok kriminal bersenjata Poso
lainnya," ungkapnya.
Sisno pun membantah polisi telah menembaki warga sebagaimana tudingan FUI. "Tidak
benar itu, tidak ada warga biasa yang terkena salah sasaran. Semua yang tewas maupun
terluka memiliki senjata api dan bahan peledak di tangannya, di saku baju maupun di
rumahnya yang digerebek polisi," tegas Sisno.
Dalam kesempatan ini, Sisno juga mengungkapkan tiga orang yang termasuk dalam DPO telah
menyerahkan diri. "Mereka adalah Iswadi, Yasin alias Utomo dan Faizul alias
Yakup," ujarnya.
Kepada anggota DPR di Jakarta, tokoh masyarakat Poso yang bergabung dalam Forum Umat
Islam (FUI), Ahmad Suhardi mengatakan sembilan orang yang tewas ditembak ternyata bukanDPO
Polri, tapi masyarakat sipil. "Hanya satu yang DPO yang meninggal dunia, yaitu
Basri," ujarnya.
Bahkan tiga di antara korban adalah anak-anak yakni Subar (14), Firmansyah (16) dan
Firsan (16). Karena itu, FUI meminta polri lebih berhati-hati, karena polisi dianggap
sudah terlalu berlebihan memperlakukan umat Islam. "Anak-anak dan ibu-ibu mereka
semua membantu DPO, karena polisi berlebihan," kata Suhardi.
Kemarin, sepuluh jenazah korban dimakamkan dalam satu lubang di Pekuburan Umum Pulau
Tarakan, Poso Kota. Empat lainnya dimakamkan oleh keluarga masing-masing.
Di pihak polisi, sebagaimana dikemukakan Kapolda Sulawesi Tengah, Brigjen Pol Badrodin
Haiti, seorang tewas yakni Bripda Roni Iskandar dan tujuh luka-luka. Jenazah Roni
dimakamkan di Jakarta.
Pasokan Senjata
Baku tembak ini memunculkan pertanyaan tentang asal muasal senjata yang dimiliki
kelompok sipil itu. Sisno pun menduga senjata-senjata itu dipasok dari Filipina.
"Bisa saja dipasok dari Filipina," tegasnya.
Informasi lain disampaikan para tokoh masyarakat Poso sebagaimana dilansir Tempo,
senjata-senjata itu berasal dari empat penjuru.
Penjuru pertama berasal dari Mindanao Filipina Selatan. Pasokan masuk melalui Pulau
Sangihe. Di sini, kiriman dipecah berdasar kelompok pembeli.
Jika kelompok muslim, dimasukkan ke Poso via Palu. Tetapi kalau untuk kelompok Kristen
masuk lewat Tentena.
Senjata yang diselundupkan adalah senjata laras panjang M-16 dan pistol FN-45.
Kedua berasal Jakarta-Surabaya. Selain senjata juga peluru tajam dan amunisi. Penjuru
ketiga adalah senjata sisa konflik Ambon yang diselundupkan melalui jalur Pulau
Banggai-Luwuk-Poso. Terakhir, adalah pasokan senjata rakitan yang dibuat di Ampana dan
Poso Kota dengan harga Rp1 juta per pucuk.
Reaksi
Reaksi terhadap insiden berdarah ini beragam. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono
menyesalkan terjadinya bentrokan itu. "Presiden sangat menyesalkan kejadian itu dan
meminta aparat melakukan penyelidikan serta melakukan tindakan hukum," kata Jubir
Kepresidenan Andi Mallarangeng.
Wapres Jusuf Kalla mengatakan, pemerintah bertekad untuk secepatnya menyelesaikan
masalah Poso dan kasus-kasus terkait terorisme yang kembali memanas.
"Pemerintah mendukung upaya pihak kepolisian dalam menuntaskan konflik di daerah
tersebut," tandasnya.
Hal senada disampaikan Sekjen Dephan Letjen TNI Sjafrie Sjamsoeddin. "Senjata itu
digunakan bukan bagian dari bela negara, justru untuk melawan petugas. Apakah itu
menimbulkan korban, itu implikasi dari kontak tembak," katanya.
Menurutnya, status penggunaan senjata harus dilihat sesuai aturan yang ada. Bila memang
seseorang tidak kompeten untuk memegang senjata, harus ditindak tegas. Apalagi bila
senjata itu digunakan untuk melawan aparat penegak hukum.
Kecaman datang dari DPR. Wakil Ketua DPR, Muhaimin Iskandar dan Zainal Maarif mengecam
keras tindakan Polri yang melukai warga sipil saat memburu para tersangka kerusuhan.
Mereka meminta agar Polri untuk diawasi kinerjanya agar kasus salah tembak tidak terulang
lagi.
Bahkan Zainal meminta agar keberadaan Detasemen 88 Antiteror ditarik sementara dari
Poso. "Ini agar pemulihan kondisi di Poso berjalan lebih cepat," tukasnya.
Sikap keras juga dilontarkan Ketua Komisi III DPR, Trimedya Pandjaitan. Dia menegaskan
komisinya akan mengirim tim investigasi.
"Kita harapkan sebelum Jumat 26 Januari 2007, sudah berangkat. Agar kita dapat
memperoleh informasi valid terkait penyebab baku tembak itu," ujarnya. dtc/kcm/mio/JBP/ugi
|