Jakarta, BPost
Konflik di Poso harus segera diselesaikan dengan damai. Ketua PBNU KH Hasyim Muzadi
menyerukan semua pihak termasuk ormas-ormas Islam untuk bersatu dan jernih melihat akar
persoalannya. Tragisnya, Laskar Jihad dan Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) justru saling
tuding.
Seruan ini dilontarkan Hasyim setelah mengumpulkan sejumlah tokoh Islam untuk
membicarakan konflik Poso. Mereka yang hadir dalam acara di Kantor PBNU, Jakarta, Sabtu
(27/1) ini antara lain Ketua FPI Habib Rizieq, Ketua MPR Hidayat Nurwahid, Wakil Ketua MPR
AM Fatwa dan KH Noor Iskandar SQ.
"Boleh percaya boleh tidak, saya sudah keliling ke mana-mana, ngurusi yang
begini ini sampai saya disebut pemadam kebakaran. Pertikaian ini, pasti ada sesuatu yang
bisa membuat terjadinya konflik. Isu yang dipakai macam-macam, untuk legalisasi. Yang
paling murah disulut adalah konflik agama, murah meriah. Cukup gereja dibakar, mesjid
dibakar," ujarnya,
Lebih parah lagi, ada kelompok-kelompok dengan motivasi beragam ikut
menunggangi."Yang nimbrung macam-macam. Ada bisnis bencana, jual beli senjata,
menyewakan peluru, bisnis senjata rakitan dan sebagainya. Ditambah dendam akibat konflik
agama yang sengaja diciptakan, maka persoalan terus menumpuk dan mudah terbakar,"
kata Hasyim.
Lantas solusinya apa? Pengasuh Pondok Pesantren Al-Hikam, Malang ini menawarkan
persatuan dan rekonsiliasi dari pihak-pihak yang bertikai.
Solusi ini dianggap tepat karena paling kecil risikonya. "Kalau penyelesaiannya
melalui jalur hukum, semua sudah tahu, belum independen. Tidak terkecuali, pemegang
hukumnya sendiri ikut konflik," ujarnya.
Selain itu, dalam kondisi perang, jelas tidak bisa dilakukan proses hukum.
"Siapa yang mengadili? Karena saat datang, pasti sudah dibakar kantor pengadilannya.
Jadi, semuanya harus reda dulu. Semuanya harus di-clear-kan," tandas Hasyim.
Saling Serang
Seruan ini memang layak didengungkan. Pasalnya, konflik di Poso ternyata merembet pada
perpecahan antara ormas Islam, terutama Laskar Jihad yang dipimpin Ustad Jafar Umar Thalib
dengan Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) pimpinan Ustad Abu Bakar Baasyir.
Berawal dari tudingan Baasyir yang menyebut Laskar Jihad sedang dihidupkan
kembali oleh Densus 88 Antiteror Mabes Polri untuk menghadapi kekuatan umat Islam di Poso.
Serangan balik dilakukan Jafar. Secara tersirat dia menuding kerusuhan Poso dilakukan
orang-orang binaan Baasyir.
Di Poso mereka secara sistematis terus melakukan doktrinasi dan rekrutmen anggota baru.
Ini yang menyebabkan konflik terus berlarut-larut.
"Mereka melancarkan doktrinasi takfiriah. Doktrin ini dalam praktiknya mudah
mengafirkan kelompok lain yang berseberangan dengan ideologi politik mereka. Kepada
golongan Islam sendiri yang berbeda prinsip, mereka mudah mengkafirkan, begitu juga kepada
pemerintah dan aparat kepolisian," ujar Jafar kepada BPost. Dengan doktrin
itu, bisa dipahami jika mereka memiliki pandangan bahwa darah aparat itu halal (untuk
dibunuh).
Sesuai doktrinnya pula, memerangi aparat dengan senjata berarti jihad. "Sebenarnya
jumlahnya sedikit tetapi mereka sangat intens mendoktrinasi masyarakat, sehingga banyak
simpatisan," tegasnya.
Jafar pun menyatakan siap menghadapi kemarahan kelompok Baasyir terkait
pernyataannya itu. "Tergantung penawaran. Kalau ada penawaran ya kita borong
saja sekalian. Mudah-mudahan nggak ke arah kekerasan. Saya ingatkan jangan
sekali-kali memancing kami ke arah kekerasan," tandasnya.
Tibo
Malam tadi, Wapres Jusuf Kalla mengumpulkan sejumlah menteri, pejabat dari TNI dan
Polri, serta mengundang tokoh dari ormas dan partai Islam di kediamannya, Jalan
Diponegoro, Jakarta. Pertemuan ini sengaja digelar untuk mencari solusi konflik di Poso.
Dalam kesempatan ini, para tokoh Islam mendesak pemerintah bersikap adil dengan
menangkap 16 tersangka Poso yang sempat diungkap Tibo cs sebelum dieksekusi. Para
tersangka itu antara lain, Janes Simangunsong, Paulus Tungkanan, Angky Tungkanan, Lempa
Delly, Erik Rombot, Yahya Patiro, Sigilipu, Ladue, Obed, Sarjun, Herry Banibi, Guntur
Taridji, Ventje Angkaw, Theo Mandayo, Son Ruagadi dan Bate Lateka.
"Mereka-mereka itu harus diungkap juga karena yang menjadi DPO saat ini hanyalah
korban atas kejahatan yang terjadii sebelum perjanjian Malino pertama. Akar masalah
sebenarnya jangan ditutup. Tidak ada yang boleh ditutup, diputihkan. Kalau kata Wapres,
jika mereka diungkap, penjara menjadi penuh, tidak bisa itu," tegas Wakil Ketua MPR,
AM Fatwa usai pertemuan.
Hal senada dikatakan Ketua MPR Hidayat Nur Wahid. "Tidak ada salahnya bagi
pemerintah untuk memeriksa mereka bila memang berkomitmen untuk menegakkan hukum yang
seadil-adilnya. Siapapun yang disebut menjadi bagian dari masalah Poso, mengapa tidak
ditangkap?" ujarnya.
Menyikapi desakan ini, Wakadiv Humas Mabes Polri Brigjen Anton Bachrul Alam menyatakan,
yang disampaikan Tibo cs hanyalah masukan. Bukan merupakan fakta hukum karena masih perlu
diselidiki kebenarannya. "Kita telah menindaklajutinya dengan penyelidikan. Tapi kan,
polisi tidak bisa serta merta menganggap apa yang disampaikannya sebagai kebenaran dan
langsung menetapkannya sebagai tersangka. Itu baru masukan. Kalau hasil penyelidikan
positif baru kita tingkatkan ke penyidikan," kilahnya.
1.800 Peluru
Di Poso sendiri, aparat Densus 88 Antiteror terus melakukan penyisiran. Selain masih
menutup akses keluar masuk Kecamatan Tanah Runtuh terutama Desa Gebang Rejo, mereka juga
melakukan penyisiran ke wilayah-wilayah pegunungan.
Ditengarai belasan orang yang termasuk daftar pencarian orang (DPO) sembunyi di kawasan
tersebut.
Saat melakukan penggeledahan di sebuah rumah penduduk, aparat menemukan sekitar 1.800
peluru senjata jenis AK-47 dan M-16. "Amunisi-amunisi itu kami temukan di sebuah
rumah kontrakan yang penghuninya para DPO. Benda-benda itu sudah kami amankan," tegas
Kabid Humas Polda Sulawesi Tengah AKBP M Kilat.
Peluru-peluru itu ditemukan dalam dua jerigen berwarna merah berukuran besar (10 liter)
dan kecil (5 liter) dicampur oli. Peluru yang ditemukan berkaliber 5,56 milimeter yang
bisa digunakan untuk jenis senapan serbu.
Aparat juga menemukan enam butir selongsongan seukuran jempol kaki orang dewasa. Selain
itu beberapa celana loreng, celana coklat tua serta casing plastik bermerek PT
Pindad yang biasa digunakan aparat keamanan.
Meski suasana Poso kembali normal, namun anak-anak sekolah masih trauma untuk sekolah.
Dari lima sekolah yang ada di Kelurahan Gebang Rejo, baru satu sekolah yang sudah memulai
proses belajar-mengajar.
Itu pun lebih diisi dengan kegiatan bermain guna memulihkan mental murid. "Saya
masih takut kena tembakan," ujar seorang murid Afi yang saat kontak senjata lima hari
lalu sempat dievakuasi dari ruang kelas ke perpustakaan ini. JBP/yat/ade/fin/dtc/mtc