- Diisukan tabrak gunung dan 90 tewas
- Keluarga korban merasa dipermainkan
- Pencarian dialihkan ke Tanatoraja dan Majene
Jakarta, BPost
Nasib 96 penumpang Boeing 737-400 milik Adam Air masih belum diketahui. Hingga
malam tadi, tim penolong belum menemukan tanda-tanda adanya pesawat yang jatuh di Sulawesi
Barat.
Belum ditemukannya penumpang dan bangkai pesawat yang melayani rute
Jakarta-Surabaya-Manado ini sangat mengecewakan para keluarga korban, baik di Manado,
Surabaya dan Jakarta maupun 15 keluarga korban yang sudah berada di Makassar.
Kecewaan ini bertambah lagi dengan beredar informasi yang sudah menyebutkan bangkai
pesawat ditemukan di Desa Rangoan Kecamatan Matanga, Kabupaten Polman, Sulawesi Barat,
yang disampaikan Kepala Polwil Parepare Komisaris Besar Genot Haryanto dan Komandan Lanud
Hasanuddin Marsekal Pertama Eddy Suyatno, Selasa (2/1).
Mereka mengatakan, kondisi pesawat Adam Air dengan nomor penerbangan KI 574 hancur
setelah menabrak pegunungan di desa tersebut.
"Pesawat tersebut total lost. Jadi tidak dapat digunakan karena hancur.
Tapi saya belum tahu kondisinya karena belum melihat gambarnya," kata Eddy.
Keterangan Eddy itu diperkuat dengan pernyataan Tim SAR yang sudah menemukan 90 jenazah
dari 102 penumpang dan awak pesawat Boeing 737-400 milik Adam Air.
"Jenazah belum bisa dievakuasi dan masih tergeletak di tempat kejadian, sementara
badan pesawat dilaporkan hancur berkeping-keping," ujar staf operasi Badan SAR
Nasional Suyatno.
Namun, kenyataan ketika dicek, kabar itu tidak benar, Merasa dipermainkan dengan berita
bohong itu, keluarga korban pun mengecam pemerintah dan Adam Air. "Perasaan kita
berkecamuk, ternyata itu kabarnya tidak benar," keluh Delvi, seorang keluarga korban.
Delvi meminta pemerintah melakukan check and recheck sebelum mengeluarkan
pernyataan.
Delvi juga kecewa dengan maskapai Adam Air yang dinilai tidak bertanggung jawab.
Menurut pendeta gereja GPDI Kemiri Sidoarjo ini, sejak tiba di Makassar, Sulsel, pada
pukul 22.13 Wita, keluarga sama sekali belum mendapat penjelasan dari Adam Air.
"Kita turun pesawat, langsung dinaikkan ke bus, langsung dibawa ke hotel. Tanpa
ada pemberitahuan dibawa ke mana," tutur Delvi jengkel.
Keluarga korban yang diinapkan di sebuah hotel di Makassar juga belum melihat pejabat
resmi Adam Air menemui mereka.
"Kita tidak melihat orang-orang Adam Air di hotel. Jangankan ketemu, melihat saja
tidak. Terus kita mau diapakan? Tolong kepada Adam Air dan pemerintah, kami ini adalah
keluarga yang terkena musibah, jangan dipermainkan," tandas Delvi.
Yang kecewa tidak saja keluarga korban, media elektronik, baik dalam maupun luar, yang
secara langsung menyiarkan menit demi menit perkembangan pencarian pesawat Adam Air juga
kecele berat. Bahkan, sebuah televisi terkemuka asing menyindir kabar bohong
ini dengan menyebutkan betapa buruknya sistem komunikasi di Indonesia sehingga bisa memicu
berita yang tidak benar itu.
Khawatir berita sampah itu menyebar luas, SAR Mission Coordinator, Marsekal
Pertama Eddy Suyanto menggelar jumpa pers mendadak, malam tadi, di Ruang VIP Bandara
Hasanuddin Makassar.
"Saya minta maaf atas informasi yang sudah menyebar luas. Jam 18.05 WIB tadi ada
informasi dari Wakil Kepala Polda bahwa di lokasi yang disebutkan itu tidak
diketemukan," kata Eddy.
Menhub Hatta Rajasa, yang juga hadir dalam jumpa pers juga memastikan bahwa Adam Air
hingga Selasa (2/1) pukul 19.20 WIB malam masih hilang. Lokasi jatuhnya Adam Air belum
diketahui. "Jadi 90 Korban tewas tidak benar," ujar Hatta.
Dia lantas berjanji menyampaikan perkembangan kasus ini langsung kepada presiden.
Panglima Kodam VII Wirabuana Mayjen TNI Arief Budi Sampurno juga mengaku tidak habis
pikir dengan beredarnya rumor itu.
"Saya sudah mendapat informasi dari aparat di lapangan dan mereka tidak menemukan
pesawat yang jatuh. Jadi kabar itu tidak benar sama sekali," tandasnya.
Sejumlah warga yang melakukan pencarian mengatakan hal serupa. "Dari pagi saya
mencari tapi tidak ada tanda-tanda pesawat jatuh. Kami sudah memutari desa dan hutan di
sekitarnya, tapi tetap tidak ada," jelas Butong, petani Desa Bulo Kecamatan Mapilli.
Bupati Majene Kalma Katta yang dicegat saat usai ke lokasi juga mengatakan hal sama.
"Tidak ada tanda-tanda ada pesawat jatuh. Kami sudah cari sekeliling desa tapi
tetap tidak ada," ujarnya.
Bahkan warga di Desa Rangoan Kecamatan Matanga justru bingung dengan kedatangan banyak
orang ke desa mereka. Warga mengaku tidak tahu menahu bila di desa mereka ada pesawat
jatuh.
Dengan belum ditemukannya bangkai pesawat Adam Air tersebut, puluhan ambulance
yang sudah berada di Desa Ranguan terpaksa pulang kembali ke Polewali.
Sedangkan Tim SAR bertahan di Desa Bulo, Kecamatan Mappili, Kabupaten Polman, Sulawesi
Barat. Mereka menunggu kejelasan lokasi dan baru bergerak jika titik ordinat sudah
dipastikan.
Lalu di manakah sebenarnya pesawat Adam Air nahas itu? Belum pasti. Masih misterius.
Hanya saja, radar milik Singapura menangkap pancaran emergency locator beacon
(elba) di Rantepao, Tanatoraja, Sulsel dengan titik koordinat 3.135.257 Lintang Selatan
dan 119.917 Bujur Timur.
Pesawat yang hilang sejak Senin kemarin itu, seperti disebutkan Dirjen Perhubungan
Udara Mohammad Iksan Tatang, putus kontak saat berada pada 85 mil laut (157,42 kilometer)
sebelah Barat Laut Makassar dengan ketinggian 35.000 kaki (10.668 meter).
Menurutnya, pencarian bisa saja dilakukan dengan penelusuran yang dimulai dari lokasi
saat putus kontak, atau bisa juga dengan menggunakan informasi dari radar milik Singapura
sehingga pencarian dilakukan di Tanatoraja.
"Informasi bahwa para nelayan yang melaut di perairan Majene, Sulawesi Barat,
mendengar ledakan keras nampaknya juga perlu disimak," katanya.
Oleh para nelayan, kesaksian itu sudah dilaporkan ke kepolisian setempat. Tapi, apa
benar ledakan itu datang dari pesawat Adam Air? Hingga malam tadi juga belum mendapat
kepastian.
Setelah mengetahui ketidakbenaran berita soal bangkai pesawat, Kepala Badan SAR
Nasional (Basarnas) Bambang Karnoyudho menandaskan, pencarian bangkai pesawat Adam Air
yang hilang akan dialihkan ke wilayah Kabupaten Tana Toraja dan Kabupaten Majene, Sulbar.
"Kami akan melanjutkan pencarian di perairan sekitar Majene. Lokasinya pada 83 mil
laut dan 100 mil laut dari Makassar. Ada pula tim yang akan menyisir Rantepao,
Toraja," ujar Bambang. JBP/tof/amb/dtc/tt/ant